Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
76


__ADS_3

Bisa dibilang semuanya adalah akibat perbuatannya sendiri, tidak bisa menyalahkan orang lain apalagi David.


Kalau bukan karena dia selingkuh saat itu, dan menyebabkan istrinya meninggal dalam kecelakaan mobil, mungkin sekarang dia sudah memiliki keluarga yang bahagia, dan bukan berbaring dirumah sakit tanpa ada orang yang menjenguknya.


Dia masih ingat ketika David masuk SD, dia masih memilikii keluarga yang harmonis, istrinya yang sangat cantik membuatkan kue, David kecil juga memberi satu model robot kecil yang dirakitnya sendiri, hasinya yang bagus itu tidak seperti anak kecil yang membuatnya. Disaat itu dia mengira dia adalah pria paling bahagia didunia dengan keluarga kecilnya.


Kemudian uang yang dia hasilkan semakin banyak dan berbaur dengan bermacam jenis orang sampai membuatnya mulai berubah. Suatu hari model yang dipajang dilemari tidak sengaja terjatuh dan hancur, dia sama sekali tidak perduli. Sama seperti perhatian yang palsu terhadap keluarganya dimulai. Kemudian sekarang dia tidak memiliki apapun. Bahkan orang yang mau menguburnya juga sudah tidak ada.


Jackson mengulurkan tangannya yang gemetar menutup pipi dan wajahnya sendiri, rasa malu menyesal mengalir dari hatinya. Suara tangisan terdengar dari sela sela jarinya, dia menangis tersedu sedu seperti anak kecil. "Maaf"


Ruangannya sangat sunyi, hanya terdengar isak tangisan Jackson,


David dan Julietta hanya terdiam menunduk, hanya saja tidak tahu kata maaf itu ditujukan untuk siapa.


Selama perjalanan pulang, David masih terdiam. Julietta diam diam menatapnya beberapa kali, setelah masuk kerumah dia baru bertanya.


"Kamu mau makan apa, lapar tidak"


Walaupun David tidak bicara apapun, tapi kelihatan dia sedang sedih, orang yang pendiam memang seperti ini. Walaupun dia suka makan apapun, disaat seperti ini seharusnya dia tidak nafsu makan. Julietta langsung menyesal setelah menanyakanya. Dia bisa mengerti perasaan David, yang diperlukan David sekarang hanya waktu sendirian, bagaimana mungkin memikirkan makan.


David menjawabnya "Bakmie kuah seafood"


Julietta heran "Apa"


Nada bicara David terdengar yakin "tambah dua telur"


Julietta menuruti keinginannya, mie berputar putar di air yang mendidih, dia diam menunggu mie matang, tapi tidak sadar David yang bersandar dikulkas melihatnya memasak. Julietta menambahkan tiga telur, dia tidak ada nafsu makan jadi hanya membuatkan porsi untuk David.


Makanannya sudah siap tersaji dimeja makan, David langsung memakannya dengan diam, Julietta duduk disebrangnya sambil melihat ke dapur. Dia sedang mencari topik, tapi tidak bisa menemukan yang tepat. Yang satu sibuk makan, yang satu sibuk melamun.


David makan beberapa suap lalu tiba tiba berdiri. Julietta terkejut dan bertanya.


"Kenapa, apa rasanya tidak enak"


Dibawah tatapan Julietta yang bingung, David mengambil mangkok kosong dan memindahkan sebagian mie, telur dan kuah kedalam mangkuk itu, lalu diletakan didepan Julietta.


"Makan"


Seketika Julietta tersentuh. David masih bisa berbagi makanan dengannya, benar benar sangat langka. Julietta yang sangat tersentuh sampai ingin meneteskan air mata, seketika dia ingin mencari tahu bagaimana cara memasak makanan lainnya yang lebih enak.


David bicara. "Oh ya" "makanan Ini kamu hutang sama aku, lain kali ingat kembalikan"


David menggunakan dagunya menunjuk mangkuk Julietta.


Ini maksudnya sudah jilat satu kali sudah menjadi miliknya sendiri, dasar pria busuk yang sangat aneh.


"Makanan ini aku yang buat, kamu makan beberapa suap sudah menjadi milik kamu" balas Julietta


David "Benar"


Julietta "Dasar pencuri"


David menunjuk telur yang sudah digigit Julietta "punya aku"


Lalu dia menunjuk Julietta "punya aku juga"


Julietta mengedipkan matanya kebingungan, lalu dia baru menyadari maksud perkataan David, muka dia seketika memerah dan pura pura melihatnya dengan tenang.


"Diam, jangan bicara saat makan"


Karena percakapan itu membuat suasana kembali harmonis seperti biasa dan membuat Julietta lebih rileks. Setelah makan, David merapikan semuanya lalu mencucinya. Dia meletakan mangkuk diwastafel cuci piring dan mengenakan celemek, menundukan kepalanya terdiam, tidak tahu sedang memikirkan apa, beberapa saat tidak bergerak sama sekali.


Julietta menghampirinya "Tidak mau cuci ya letakan saja, tidak apa"


David memutar badannya dan mengulurkan kedua lengannya "peluk aku"


Julietta langsung memeluk pinggangnya dan memasukan kepalanya didadanya. Pipinya menempel dibajunya yang lembut dan bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya.


David menarik tangannya lagi dan memeluknya. Mereka terdiam seperti ini dan berpelukan sangat lama, sampai Julietta merasakan kakinya kaku.


Julietta akhirnya tidak tahan dan mulai berontak "lepaskan aku"


"Tidak mau"  ucap David.

__ADS_1


Julietta "kamu lepaskan dulu"


"Aku mau ke toilet"


"Aku ikut kamu"


"Kamu mau mati ya"


Kemesraan mereka berdua cukup sampai disini. 


Kondisi Jackson sudah memburuk hari demi hari, walaupun sudah menggunakan obat yang mahal, meminta pakar untuk mengobatinya, tetap saja tidak bisa menghentikan penuaan yang cepat dibadannya. Selanjutnya yang dia perlu lakukan adalah menikmati masa masa akhir dihidupnya.


Ayahnya tidak memaksa David untuk menemaninya. Mereka berdua sudah menjauh belasan tahun, bukan satu kata maaf langsung bisa menyelesaikan semuanya. Mereka berdua sangat mengerti.


Julietta tahu, dia dan David kali ini kerumah sakit adalah pertemuan terakhirnya. David pasti tidak akan mau datang kerumah sakit ini lagi.


Julietta berbaring dikamar tidurnya sendiri, dan tidak ada rasa kantuk sama sekali, lagi lagi malam yang sulit dilewati.


Julietta menatap plafon dan berpikir dalam. Marisa mau bawa uang tapi tidak bisa, sekarang bangkrut dan harus bayar hutang. Julietta kembali teringat mimpinya. Didalam mimpi itu Marisa berbicara sesuatu dengan David, tapi David hanya diam, sampai Marisa memohon dan mulai marah, lalu ada seseorang yang datang dan menusuk badan David, lalu langsung pergi.


Dia menutup dadanya karena tidak tenang, tidak akan, jangan jangan mimpi itu adalah mimpi peringatan, agar dia bisa melihat bagaimana David mati lebih dulu. Satu kata mati ini selalu berputar dipikiran Julietta.


Saat cerita yang seperti kutukan diucapkan Sisca dulu, Julietta selalu tidak tenang. Marisa sekarang seperti bom waktu, kalau tidak tahu pergerakan dia, Julietta sama sekali tidak bisa tenang. Tok tok tok.


Kamar yang hening tiba tiba terdengar suara ketukan dipintu dan membuat Julietta gemetaran. Terdengar suara David.


"Kamu sudah tidur"


"Kamu mau apa"


"AC dikamar aku rusak, sangat tidak nyaman"


ACnya rusak, tapi musim semi sudah lewat, terlihat sudah bisa mengganti baju dengan baju kaus, bagaimana mungkin bisa dingin, apalagi ada selimut. Julietta berdiri dan membuka pintu, David berdiri dipintu sambil memeluk selimut, tampangnya terlihat ngantuk dan sedih.


"Dingin sekali"


Julietta menghalanginya dipintu lalu bicara.


"Kembali, tidak boleh pakai selimut disini"


"Bukannya sama saja"


David menunjuk ranjang "punya aku"


Lalu menunjuk Julietta "punya aku juga"


David seperti kucing yang tidak punya rumah menatap Julietta. Julietta menutup pintunya, dan meminta David untuk tidur diruang kerjanya saja. Tidak ada suara langkah kaki diluar pintu, seperti tidak ada orang yang berdiri didekat pintu, hanya menyisakan keheningan.


Julietta berpikir, mendiamkan David sebentar dia pasti akan menyerah dan tidur dikamarnya sendiri. Tiba tiba mau tidur bersama, masih merasa agak aneh. Dari kecil dia tidak pernah tidur bersama orang lain disatu .


Julietta duduk diranjang dan sengaja membesarkan suaranya "Aku tidur ya, selamat malam"


David yang masih diluar pintu sangat diam dan tidak membalasnya. Sampai lima menit berlalu, Julietta tidak bisa tidur lagi.


Dia menghela nafasnya dalam hati, tahu David pasti yakin kalau hati Julietta akan melunak, tapi Julietta tidak bisa mengeraskan hatinya membiarkan David berdiri dipintu terus.


Seperti David benar benar menjadi kucing yang kasihan dan menunggu Julietta untuk merawatnya. Julietta turun dari ranjang dan membuka pintunya. Sudah diduga David masih berdiri didepan pintu, saat pintu terbuka lebar, mata David langsung bersinar melihatnya sambil memeluk selimutnya.


Semua orang tahu wajah David yang ganteng ini setiap kali berekspresi seperti ini, memiliki kekuatan sebesar apa. Jangankan Julietta, orang yang berhati batu pun juga pasti akan takluk. Kalau bukan Julietta yang masih tahu malu sedikit, dia hampir saja mau memeluk David dan menghiburnya.


Tidak bisa, tidak boleh dibiasakan, beberapa orang selalu mengambil keuntungan dari orang yang lemah dan terus naik keatas. Tanpa ekspresi Julietta berkata.


"Kita buat peraturan dulu, aku tidur dikiri, kamu dikanan, aku 60% dan kamu sisanya, tidak boleh melebihi batas, tidak boleh berbuat yang aneh aneh, berbaring dan langsung tidur saja, ..hei hei David"


Dia belum selesai bicara, David sudah menarik tangan Julietta jalan ke arah ranjang. Julietta sedikit panik.


"Kamu mau apa"


"Tidur"


Sudah diduga dia bilang tidur maka benar benar tidrur. Mereka berdua dengan selimut masing masing menutup dirinya dengan rapat rapat sesuai larangan keras dari Julietta, ditengah tengah dua selimut itu seperti ada satu garis yang tidak boleh dilewati oleh David.


Saling berhadapan pasti canggung, kalau berbaring lurus juga terasa aneh, seperti mereka berdu benar benar melakukan sesuatu. Julietta memutar badan dan membelakangi David. Mereka berdua hening dan siap siap tidur, Julietta menutup matanya dan ekspresinya agak tegang, pipinya tegang dan seperti menahan sesuatu.

__ADS_1


"David jangan tidur menghadap aku"


Dibelakangnya terdengar suara bisikan David "Aku tidak menghadap kamu"


Julietta terus menahannya "Nafas yang kamu keluarkan itu pas kena di belakang leher aku"


Menghadapi bahaya akan dipukul, David akhirnya memutar badannya dengan lambat, Julietta juga sudah tidak merasakan hawa hangat yang mengalir kelehernya lagi.


Pasangan suami istri tidur bersama seperti ini ya, bagi orang yang syarat tidurnya tinggi seperti Julietta, tidak bisa membayangkan dua orang menngunakan satu selimut seperti lengan bertemu lengan, pergerakan orang lain akan mempengaruhi dirinya juga. Seperti ini bagaimana bisa tertidur.


Kepala Julietta penuh dengan banyak pikiran. Dia sedang berpikir apakah David sudah tidur, apakah akan terus menatap kepala belakangnya, perasaan David seperti apa, bagaimanapun dia seharusnya juga pertama kalinya tidur bersama wanita dalam satu ranjang.


"Sedikit gugup" ucap David.


"Apa" Julietta terkejut. "Bagaimana kamu tahu aku sedang memikirkan apa"


"Kamu sedang berpikir, dua orang tidur bersama kenapa terasa aneh seperti ini"


Tidak disangka tebakan David benar. Malam yang gelap, tirai jendela tertutup sangat rapat, membuat Julietta hanya bisa melihat lampu diatas kamar dengan samar samar. Dia mengira tidur bersama David akan tidak tenang dan tidak terbiasa, sekarang rasanya lumayan juga.


Julietta bertanya "Terus kamu rasanya seperti apa"


Jika dibandingkan, David seharusnya lebih tidak suka bersentuhan dengan orang lain. Menghadapi pertanyaan Julietta, David terdiam sebentar lalu bicara.


"Rasanya, awalnya memang seharusnya seperti ini"


Kalimat yang seperti mengungkapan perasaan itu membuat Julietta semakin menenggelamkan dirinya kedalam selimutnya, untung saja kamarnya gelap, jadi David tdiak bisa melihat mukanya yang merah dan membuat Julietta tdiak secanggung itu. Kamar kembali menjadi hening.


Julietta menatap langit langit "Walaupun kamu tidak membiarkan aku mengurusi ini semua, tapi, aku sedikit takut, Marisa melakukan sesuatu sama kamu"


David menoleh kearahnya dan menatap Julietta "Kamu mimpi buruk lagi"


Julietta memimpikan David, hanya beberapa kata ini saja membuat nada suara David tanpa sadar menjadi lebih senang.


"Tidak apa, hanya saja dimimpi itu aku melihat Marisa melukai kamu" Julietta bicara sangat pelan.


"Ada beberapa bagian yang mirip dengan kenyataan, jadi aku sedikit takut"


"David, kamu sudah tidur"


Julietta membelakangi David, dengan susah payah dia memutar dirinya bersama dengan selimutnya dan langsung melewati garis batas menabrak selimut David.


Julietta mengangkat kepalanya dan bibirnya hampir saja menggesek dagu David, dia langsung bergerak mundur agar menjauh sedikit dari David. Mereka berdua terlalu dekat. Dekatnya sampai sesaat dia melihat David sedang menatap dirinya, sampai mebuat detak jantungnya berdetak kencang.


Julietta tertawa geli menatap David, tiba tiba dia ingat, dia belum menyalakan AC sampai sekarang. Ada orang bilang dingin, tapi dikamar Julietta sangat tenang, pasti memiliki tujuan yang lain.


"Aku nyalakan AC dulu"


"Tidak perlu"


"Kalau begitu aku, em kalau begitu aku"


"Jangan bergerak"


Suara David sangat berat seperti sedang menahan sesuatu, nada suara belakangnya sedikit ditinggikan.


Julietta menatap David dengan terkejut. Matanya membiasakan untuk penglihatan malam, wajah David seperti dibesarkan, garis di alisnya yang tipis dan bentuk bibirnya yang bagus, yang paling penting adalah kedua matanya yang indah itu, Julietta menelan salivanya.


Wajah ini benar benar sangat ganteng, dia sama sekali tidak bisa menolaknya. Seperti ada puluhan ribu semut yang memanjat dibadannya membuat Julietta sedikit tidak tenang. Julietta perlahan mendekatinya.


Dia bisa merasakan nafas David yang sedikit berantakan. Dibawah tatapan David, Julietta mendongak dan dengan sedikit gemetar mencium bibirnya pelan pelan. Bibir David sangat dingin, Julietta menciumnya sekilas dan seperti membakar David, membuat nafasnya tidak lagi memiliki irama.


Seperti capung yang menyentuh air, bibir Julietta berhenti sebentar, lalu meninggalkan bibir David. Agar membuat dirinya terlihat tenang dan seperti orang yang handal. Julietta berkata "punya aku"


Yang tadi sudah bilang mau tidur dengan tenang, semuanya dihancurkan oleh pergerakan Julietta. Bibir Julietta tiba tiba dicium, nafas dan bibir yang panas saling memburu berpagutan, membuatnya sedikit kacau dan bingung, sesaat dia lupa untuk menolak. Gerakan David sudah tidak lembut lagi, dia menjilatnya merasakan rasanya yang nikmat. Davis sudah tidak bisa mengontrol diirnya dan menggigit bibir Julietta, membuat Julietta teriak kesakitan, lalu suaranya juga menghilang dibibir David.


Jangan jangan kali ini David benar benar mau memakannya. Julietta seperti monster kecil yang mau ditangkap, memanggil namanya dengan gemetar "David sshhh David" Nafas Julietta malah semakin membuat David semakin sulit menahan hasratnya. Julietta berpikir, malam ini mungkin akan terjadi.


Ciuman ini sangat panas dan lama, sampai Julietta lupa untuk bernafas dan kepalanya sampai pusing. Dia ingin keluar dari selimutnya, tapi dia baru sadar kalau selimutnya mengikatnya menutup rapat rapat, David juga mengulurkan lengannya untuk menekan Julietta, tapi sadar Julietta menekan selimutnya dengan kencang dan membuatnya tidak bisa bergerak bebar dari selimutnya. 


Julietta bergerak terus tapi tetap tidak bisa melepaskan selimutnya. David juga bergerak, juga tidak bisa melepaskan selimutnya. Mereka berdua tiba tiba tersadar dari ciuman itu dan saling menatap.


Julietta terlihat sangat canggung, bibirnya sudah bengkak digigit David dan agak sakit, kalau bukan karena tidak memungkinkan, mungkin dia sudah menampar David.

__ADS_1


David bertanya "Apakah tidak bisa lanjut lagi."


"Tidur, selamat malam"


__ADS_2