Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
83


__ADS_3

Julietta melihat wajah Weni yang canggung berjalan sendirian, Julietta terkejut dan melihat ke belakangnya bertanya.


"Tomy dimana"


Weni menjawabnya "hm dia dari awal lambungnya sudah tidak enak, saat selesai turun tadi dia langsung dibawa petugas ke toilet untuk muntah, dia juga bilang aku jangan mengikuti dia dan berkumpul bersama kalian saja"


Julietta benar benar tidak berani membayangkan keadaan itu betapa canggung. Kalau tidak bisa main ya sudah, malah mau coba memaksakan diri di depan orang lain, sekarang malah memalukan diri sendiri. Mereka bertiga berdiir ditempatnya tanpa bicara apa apa, keadaan benar benar canggung.


Julietta bertanya ke Weni "Kebetulan Tomy tidak ada, maka aku mau langsung tanya, kamu ada perasaan yang baik sama dia tidak, kalau karena alasan pekerjaan bisa bilang sama aku"


Ditanya langsung seperti ini, Weni membuang mukanya dan terdiam. Setelah beberapa saat berpikir baru dia mau bicara.


"Bagaimana mungkin aku punya perasaan sama dia, dia seperti itu sudah sewajarnya jadi jomblo"


Julietta tersenyum, sepertinya Tomy masih ada sedikit harapan. Tomy yang pura pura santai berjalan mendekari mereka dengan perlahan. Dia sudah tenang dan untung saja mukanya yang tebal sejak lahir menopangnya, maka dia tidak ada keinginan kabur saat melihat Weni.


Julietta tersenyum dan berkata "kebetulan sedikit lelah, kita lebih baik minum dan istirahat sebentar"


Tomy menunjukan ekspresi terima kasih. Sarapan dia pagi ini sudah dimuntahkan semuanya, sekarang perutnya kososng, dia hanya mau makan mengisi perutnya.


Mereka duduk di satu coffee shop lalu memesan makanan dengan asal. Julietta tersenyum dan memberi saran.


"Kita main wahana yang lainnya saja, aku rasa sesekali main wahana yang tidak menakutkan juga seru loh"


"Ah tidak perlu, datang ke taman niburan ya pasti main yang merangsang kan".


Tomy tidak perduli kalau dirinya adalah yang paling menyedihkan, dia memainkan matanya kepada Julietta. Tujuan dia datang kesini kali ini sudah jelas, yaitu agar Weni menyukai dirinya, bagaimana mungkin karena satu kapal bajak laut sudah menggagalkan rencananya, itu bukan gaya dia yang pantang menyerah,


Julietta "Tapi.."


"Kamu kenapa pesan kopi" ucapan Julietta dipotong oleh David. Dia terkejut dan menatap David.


David bicara lagi "Perut kamu bukannya sedang tidak enak"


"Ah iya aku lupa"


Dengan tenang dia memberikan satu gelas teh susu kepada Julietta dan bicara pelan "Lebih baik jangan minum kopi"


Didalam bayangan Tomy yang indah, bos tidak boleh terlihat lebih perhatian dan lebih lembut darinya. Disaat dia sedang bingung, minuman dia dan Weni datang di atas meja mereka. Kebetulan terbalik, Tomy memesan kopi, Weni memesan teh susu.


Tomy belajar dari bosnya "Kamu kenapa memesan teh susu"


Weni "Perut aku tidak sakit"


Tomy "Kamu bukannya mau diet"


Sambil bicara dia mengambil gelas teh susu itu kedepanya dan menukarnya dengan kopinya.


"Kamu lebih baik jangan minum teh susu"


Weni dan Julietta terbengong heran,

__ADS_1


David tertawa hahaha.


Kaki Tomy diinjak keras oleh Weni dan dia teriak kesakitan, membuat seluruh orang di dalam cafe itu melihat ke arah mereka.


Julietta berbisik "Hei kalian, pelan sedikit".


Kalau saja mereka ketahuan oleh orang lain akan gawat. Wlaupun tidak bisa dibilang orang yang terkenal, tapi kalau ketahuan oleh orang lain, mungkin mereka harus pulang. Tomy langsung menutup mulutnya agar dirinya terlihat lebih aman. Setelah makan sedikit, Tomy kembali bersemangat dan siap siap main permainan selanjutnya.


Saat ini pengunjung mulai banyak, mereka memutuskan untuk mengambil keputusan dengan cepat, mumpung orangnya masih belum banyak dan tidak perlu antri panjang, setelah mereka memainkan semua wahana yang paling sering dimainkan. 


Tomy memilih bandul raksasa, roller coaster dan bungee jumping, terakhir dia memutuskan agar wanita saja yang memilihnya untuk menunjukan kegentlemennya.


Julietta "Aku bebas mana saja"


Weni "Kalau begitu ayo bandul raksasa saja"


Tomy merasa lega. Bandul raksasa itu sama sekali terlihat tidak menakutkan, mereka duduk membentuk lingkaran, kalau takut juga ada semua orang yang akan teriak, disaat ini mau terlihat seperti apa juga tidak menakutkan.


Julietta sedikit takut David masih memiliki bayangan tidak enak di hatinya. Terakhir kali David main naik satu kali, selama perjalanan pulang dia sedikit tidak senang. Julietta takut dia malam nanti tidak akan bisa tidur karena ketakutan. Kebalikan dengan dia yang tidak tenang. David terlihat jauh lebih santai, satu tangan dimasukan ke kantong celananya, dan satu tangannya lagi memegang sosis bakar yang tidak tahu kapan sudah dibelinya.


Saat dia fokus memakannya benar benar terlihat sedikit imut, Julietta yang menatapnya sampai ingin rasanya mencubit pipi David. Bagaimana bisa didunia ini ada pria yang busuk tapi juga imut ini. Pikiran Julietta menjadi sangat rumit.


Mereka kebetulan mendapatkan beberapa kursi yang terakhir, setelah mereka duduk dan memastikan peralatannya aman, mereka menunggu petugas memulainya.


Tidak jauh dari kursi mereka ada satu pria yang sedang memainkan aplikasi  video, sepertinya sedang merekam video, dia memasang stik tongsisnya agar bisa mendapatkan seluruh mukanya. Disaat mereka sedang sabar menunggu, bandul mulai bergoyang perlahan, satu kali, dua kali, tiga kali.


Julietta diam diam memegang tangan David seperti sedang menenangkan David. David yang duduk disebelahnya memegang tangan Julietta lagi, tangannya yang hangat membuat Julietta merasa sepertinya ,main di wahana yang menegangkan adalah satu pengalaman yang manis. Bandul mulai terbang dan melayang di udara, pandangan seketika terbalik dan setiap saat seperti mau dilempar ke langit. David tiba tiba memegang tangan Julietta dengan erat.


"Jangan takut jangan takut" bisik Julietta.


Tidak tahu kenapa, mendengar suara teriakan ini tiba tiba terasa bandul raksasa tidak begitu menegangkan lagi. Ada juga orang lain yang berteriak seperti Tomy, tapi tidak ada yang sekeras Tomy, saat teriakan dia keluar dari mulutnya, semua orang langsung tertawa dan menghancurkan suasana yang menegangkan itu. Maka diatas bandul itu terdengar suara teriakan Tomy dan setelahnya suara tawa yang bertempo. Bahkan Julietta juga merasa ini benar benar memalukan.


Kalau dibandingkan kegugupan David hanyalah badannya yang tegang, mukanya memucat, jauh lebih dipendam dari luar terlihat sangat dipaksakan. Melihat David yang seperti ini, Julietta tidak tahu harus kasihan atau tertawa. Mereka turun dari bandul, Tomy bersandar di dinding dan mengulurkan semua jarinya yang gemetaran.


"Aku rasa tidak begitu seru juga" Tomy bicara pelan.


Weni marah dan juga tertawa, lalu meliriknya dengan dingin. "Kamu terlalu berisik"


"Aku tadi hanya mengungkapkan perasaan dari dalam hati aku saja"


"Diam" Weni mengucapkan isi hati mereka bertiga.


Mereka duduk di kursi panjang untuk istirahat sebentar, atau lebih tepatnya menunggu Tomy pulih kembali. Walaupun Weni juga sedikit takut dengan wahana yang menegangkan tadi, tapi dia tidak takut tinggi, kalau takut dia hanya perlu menutup matanya saja. Hanya saja suara Tomy yang membuat dia tidak tahan, benar benar hampir tidak bisa menahan rasa ingin mengejek Tomy. Tapi melihat Tomy sudah menyedihkan seperti ini, maka dia juga menahannya. Tomy belum istirahat begitu lama, dia sudah bilang mau main ke rumah hantu.


Julietta bertanya "Kamu yakin"


Tomy. "Tentu saja".


Tomy berpikir, dia tidak begitu bisa bermain di wahana yang menegangkan, tapi kalau rumah hantu, dia tidak mungkin takut dengan hantu yang jelas jelas dia tahu itu adalah manusia menyamar. Selanjutnya dia mau kasih lihat ke mereka apa namanya pria itu yang sebenarnya.


Julietta tidak bisa melupakan saat main di rumah hantu terakhir kali, David sangat ketakutan, kali ini Julietta berinisiatif menarik lengan David. 

__ADS_1


Dia berbisik "Kalau takut bilang sama aku".


Pendengaran Tomy sangat bagus, dia langsung mendekatinya sambil tersenyum "Tidak disangka bos takut dengan ini, tidak apa aku uhuk uhuk, aku tidak bilang apa apa".


David yang tadinya sedang menatap Julietta yang memegang tangannya, setelah mendengar ucapan Tomy, dia langsung menatap tajam Tomy tanpa ekspresi dan membuat Tomy terbatuk ketakutan sampai gemetar. Walaupun mau meminta bos memujinya, tapi David seperti apa, Tomy juga tahu.


Mencari masalah dengan David, hanya akan membuat dirinya tersiksa. Mereka berempat disuruh masuk oleh petugas. Pandangan di depan mereka tiba tiba menjadi gelap, Julietta bisa merasakan badan David yang tegang, walaupun tampangnya dari luar terlihat tenang.


Tomy dan Weni masih terlihat normal, Weni terlihat sedikit gugup dan melihat sekelilingnya dengan hati hati, Tomy malah menenangkannya agar jangan takut, kalau ada perlu, pelukan dia adalah tameng yang paling kuat untuknya.


Melihat keanehan mereka berempat, membuat petugas mungkin ikut tidak tahan melihatnya, baru jalan satu langkah, dari atas tiba tiba ada satu kepala orang yang turun. Mukanya menyeramkan dan penuh dengan darah, satu kepala manusia. Dua bola mata yang besar merah saling bertatapan dengan Tomy. Mereka berempat diam ditempatnya dan hening beberapa saat. Ekspresi Tomy seketika menjadi tegang.


Suara Tomy terdengat sangat lemah "Bagimanah   Akuh rasah.  satu detik lagi aku akan pingsan.."


Julietta "Tidak apa" sambil bicara dia memukul kepala hantu melayang itu dan membuat alat dan talinya itu menjauh berayun.


Tomy dan Weni menatapnya dengan bingung, Julietta mengelap pewarna yang menempel di tangannya dengan cuek dengan tisu. David diam diam pindah ke sebelah Julietta dan berusaha agar bertempelan dengan badan Julietta agar merasa aman, karena memang dia sangat ketakutan. Tomy juga diam diam pindah ke sebelah David dan menunpang dengan Julietta menjadikannya tameng, 


Karena terlalu tegang, membuat Tomy sama sekali tidak memperhatikan tatapan maut dari bosnya.


Mata Weni bersinar kagum.


"Julietta kamu hebat sekali"


Julietta sangat rendah hati "Tidak tidak, aku hanya mengetahui cara main di rumah hantu".


Dia baru selesai bicara, lagi lagi ada muncul satu tangan palsu yang terjatuh dari atas dan menakutkan Tomy, Tomy langsung memeluk lengan David dengan erat. Dua wanita itu terdiam.


David menahannya sebentar lalu menendang Tomy "Lepaskan aku"


Tomy mulai panik. Dia merasa rumah hantu ini sama sekali tidak seru . Dia melihat sekelilingnya dengan tegang dan melupakan kalau dirinya harus menunjukan keberaniannya di depan Weni. Keadan itu terlihat sangat tidak berdaya sampai Weni sudah mulai sedikit tdaik tahan.


Langkah selanjutnya, waktu terlewati dengan Tomy yang terkadang berteriak dan menangis, dan Weni yang gemetaran. Julietta dan David diam, yang satu merasa lucu menahan tawa, yang satu merasa tidak seru, yang satu terkejut dan dengan tegang berjalan di sebelah Julietta.


Melihat ekspresi David yang sedikit menyedihkan, Julietta mulai merasa kasihan. Kalau tanu dari awal seharusnya menolak ajakan Tomy saja. David sepertinya hari ini sedang merasakan lagi mimpi buruk, moodnya pun tidak bisa membaik.


Julietta bertanya pelan "David kamu tidak apa"


David terdiam beberapa saat. Kalau sehari hari, dia pasti tidak akan bicara apa apa, tapi sekarang menghadapi perhatian dari Julietta, di tengah rumah hantu yang gelap, dia mendekati Julietta dan memegang lengannya yang dingin merasakan perhatian hangat dari Julietta. Suara David terdengar sedikit sedih.


"Aku mau peluk kamu"


Mendengarnya membuat hati Julietta menjadi meleleh. Disaat Julietta mau mengulurkan kedua lengannya dan mau memeluk David, Tomy berteriak, melompat dan memeluk David. David langsung mendorong dan memukul Tomy, yang tadinya masih terlihat kasihan dan meminta dipeluk, seketika berubah menjadi pria yang galak dan membuat Tomy tidak berani seenaknya.


Setelah agak tenang sedikit, mereka melangkah maju ke depan dengan diam. David tidak berhasil memeluk Julietta, dan mulai menatap Julietta dengan tajam. Julietta tertawa kecil dan mengulurkan tangannya, disaat ini ada satu angin yang berhembus seperti ada suara nafas terdengar dari telinga, membuat Weni sangat ketakutan. Weni baru mau masuk ke pelukan Tomy, teriakan Tomy lebih keras darinya dan langsung menarik David. David lagi lagi melihat kesempatan memeluk Juliettanya hilang di tengah tengah teriakan Tomy yang berisik.


Satu pintu belum selesai sudah muncul pintu yang baru lagi, satu kerumunan orang keluar dari ruangan lainnya dan berlari ke arah mereka, dibelakangnya juga ada petugas sebagiai hantu yang terus mengejar mereka.


Ditengah kegelapan sedikit tidak bisa melihat dengan jelas, ditengah tengah kekacauan kerumunan orang itu, Tomy berteriak dan langsung menarik lengan yang dia yakin itu lengan Weni lari kedepan menjauh. Tenaga dia sangat besar dan malah menariknya ke ruangan lainnya mengikuti kerumunan orang itu. Kerumunan orang itu mulai menyebar berpencar dan ruangan itu kembali sepi tenang.


Sementara Julietta yang masih berdiri ditempatnya, disebelahnya ada Weni dengan muka kebingungan sambil memeluk lengan Julietta mereka berdua saling bertatatapan dan mulai berpikir. Jadi Tomy tadi menarik David pergi menjauh bersamanya.

__ADS_1


Julietta menenangkan emosi dirinya lalu berkata "Jangan takut, aku disini"


Mata Weni lagi lagi bersinar memujinya. Setelah beberapa saat, terdengar suara teriakan Tony dari ruangan yang tidak jauh. Julietta menarik tangan Weni berjalan ke arah suara itu. Dia membuka pintu dan mereka berdua berhenti melihat dua pria tinggi di tengah kegelapan itu diam diam. Disebelah mereka berdua ada setumpuk mainan hantu yang terlihat menakutkan, bahkan Weni juga takut melihatnya. Dua pria itu lebih ketakutan.


__ADS_2