
Marc setiap bulan mengganti dan membawa jimat keselamatan ke dalam ruangan Julietta itu, tapi tetap saja orang yang didoakannya supaya kembali tetap masih belum kembali juga setelah setengah tahun ini.
Dimalam natal, David sama seperti malam sebelumnya, ketika pekerjaannya selesai, dia duduk di ruangannya tidak tahu melamun atau berpikir keras.
Tadinya mengira David yang tanpa Julietta di sebelahnya tidak akan mementingkan kesehatannya dan tidak akan merawat dirinya sendiri. Semua karyawan tidak menyangka setiap kali turun salju, dia pasti akan mengenakan jaket yang sangat tebal, mulai makan teratur satu hari juga tiga kali terjadwal di kantin khususnya dengan ahli gizi. Dia sangat merawat kesehatannya, yang selalu pergi sendirian tetap jarang berbicara.
Sebelum bertemu dengan Julietta, David juga sebenarnya pendiam seperti ini, disaat itu dia sangat malas bicara, tapi sekarang saat menghadapi mereka sudah tidak ada kata kata yang harus diucapkannya. Terkadang mereka takut dia akan jatuh sakit.
Tapi di dunia ini tidak ada yang bisa menasihati dan mengatur David, orang yang bisa masuk ke dalam hatinya hanyalah orang yang membuat dia mematung terdiam seperti ini.
"Bos kamu tidak pulang." Tanya Andi.
Dimalam natal ini, Tomy keluar berkencan dengan Weni, Herman ke Amerika menemui Gisele, hanya dia yang sendirian disini, tapi di satu lantai yang tidak ada orang, hanya David yang masih terdiam dikursinya.
Setelah beberapa saat David baru melihatnya "iya."
"Aku tanya kamu tidak pulang e ke rumah."
Saat selesai bicara Andi sudah tahu dirinya salah bicara lagi. Bagi David rumah yang kosong tidak bisa dianggap sebagai rumah. Jangankan David, dia sendiri juga sedikit sedih dan hanya bisa meminta maaf.
David berdiri dan mengambil jaketnya lalu keluar dari ruangannya. Supir masih ada di tempat parkir menunggunya dengan setia, setiap hari pergi dan pulang bekerja seperti robot, seperti tidak perlu membuka mata juga sudah tahu langkah selanjutnya harus menginjak kemana.
Sepertinya karena terlalu kesepian dan bosan, dia pernah menghitung jarak dari ruangannya ke tempat parkir itu butuh berapa langkah, turun dari mobil sampai ke rumahnya juga butuh berapa langkah. Jarak dari surga ke neraka juga mungkin sekitar selama ini.
Sepatunya menginjak tangga, langkah demi langkah. Muka dia tidak ada ekspresi dan lambat seperti biasanya. Pada saat ini terdengar suara mati listrik dan koridor pun menjadi gelap gulita. Langkah dia berhenti. Keheningan terjadi di koridor yang gelap itu.
David memegang pegangan tangga dengan erat, jantungnya berdebar, badan dia kaku dan mukanya tidak kelihatan di kegelapan ini. Di dalam koridor tangga yang gelap ini, dia sangat gugup sampai jarinya gemetaran, dia berbisik "apakah itu kamu."
Di belakangnya tidak ada suara yang menjawab. Beberapa menit kemudian ada orang yang keluar untuk memeriksa sebenarnya ada apa, langkah kaki dan suara pintu terbuka pun mulai terdengar banyak, ada seseorang yang bilang komplek ini sedang mati listrik tapi sebentar lagi akan kembali menyala.
Tiba tiba lampu dikoridor menyala kembali. David berdiri di tempatnya beberapa saat, dia merasa dilempar ke ujung dunia, lalu dia menoleh ke belakang dengan penuh harapan. Dikoridor yang kosong tidak ada siapapun. Dia memingkamkan bibirnya, tangannya juga meregang, lalu dia jongkok dan kepalanya dimasukan ke dalam lututnya. Lampu koridor sangat terang, bahkan cahayanya sedikit menyilaukan mata.
Mereka tidak mengetahui, waktu yang berputar di dunia mereka itu tidak sama. Di dunia satunya sudah berjalan lebih dari setengah tahun, tapi disini Julietta baru melewati sekitar setengah harian saja.
Julietta melangkah masuk kedalam warnet itu dengan harapan bisa kembali. Beberapa menit kemudian. Julietta menemui masalah yang paling menyulitkan. semua orang di kehidupan, yaitu tidak ada uang sama sekali. Hp dia tidak bisa digunakan untuk membayar.
Uang sedikitpun juga tidak ada, setelah dia mencari cari di kantongnya dan menatap penjaga warnet itu, Julietta mulai berpikir apakah harus menjual antingnya. Anting peraknya setidaknya berharga sedikit.
Disaat dia terlihat sangat ragu ragu, penjaga warnet itu bicara. "Aku sudah sering bertemu dengan wanita seperti kamu, biasanya akan langsung ku usir begitu saja, bagaimanapun gaji aku juga tidak banyak."
"Tapi wanita yang terus terang seperti kamu ini, aku baru pertama kali ini bertemu." Dia menyentuh kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Jangankan satu bulan, mau satu tahun juga boleh, aku akan lasih kamu meja yang paling bagus."
Julietta agak terkejut mendengarnya, tiba tiba dia menyadari, pria ini menganggap dia sebagai gadis yang mau pakai internet gratis.
"Tunggu maksud aku."
"Tidak perlu banyak bicara, ayo."
Pria itu membelakanginya sambil melambaikan tangannya.
"Gadis cantik yang bisa hidup bernafas seperti kamu ini membuat aku tidak bisa mengendalikan diri."
Syarat yang benar benar ringan. Petugas warnet itu menyalakan satu komputer untuknya, lokasi mejanya ada di pojokan, kebetulan jaraknya jauh dengan para pria yang sedang bermain game online.
Julietta batu mau berterima kasih, perutnya tiba tiba berbunyi, kriuk kriuk, mereka berdua menjadi hening dan canggung. Julietta merasa ini benar benar bukan salah dia.
Petugas warnet itu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi memesan makanan online sambil bicara. "Bilang saja mau makan apa, yang mahal sedikit aku juga masih mampu."
"Benar benar tidak perlu, terima kasih." Julietta benar benar tidak berencana untuk minta makan dan minum gratis. Walaupun sangat letih dan sangat lapar, Julietta tetap menolaknya.
Dia benar benar tidak ada selera makan, dia sekarang hanya mau mendapatkan penjelasan yang jelas lalu pergi dari sini. Petugas warnet itu pergi meninggalkannya diam diam saat Julietta menunggu komputer menyala dan saat membaca novel itu, pria itu datang lagi membawa makanan dan minuman.
"Ah tapi ini."
"Tidak apa, tidak mahal."
Julietta menerima satu porsi nasi goreng dan minuman yang rasanya tidak enak sama sekali, saat pria itu pergi, dia langsung membuka plastik itu dan memakannya dengan lahap tidak perduli dengan rasanya karena sangat kelaparan, seperti orang yang sudah tidak makan beberapa hari.
Nasi di mulutnya belum ditelan dia sudah memasukan beberapa suap nasinya lagi ke mulutnya, sampai membuat Julietta sedikit tersedak, saat mau membuka minumannya, tiba tiba dia sadar akan kemungkinan ada obat di minuman ini.
Selanjutnya juga dia menyadari, nasi gorengnya juga mungkin tidak bersih. Berpikir seperti ini, Julietta menjadi mual dan langsung memuntahkannya di toilet. Sambil muntah, air matanya pun juga mulai mengalir.
Karena sudah terbiasa berada di sebelah David, hati waspada yang dimilikinya pun sudah tidak ada, bisa bisanya semudah itu menerima makanan dari pria asing. Julietta merutuki dirinya yang ceroboh ini, walaupun pria itu tidak terlihat memiliki maksud jahat, tapi dia bukan David, maka tidak boleh dipercayai dengan sangat mudah.
Julietta membilas wajahnya dengan air dingin agar dirinya tersadar. Tidak makan dan minum hari ini juga tidak apa, asal dia memiliki cara untuk kembali, perutnya yang kelaparan hanyalah penyiksaan yang kecil.
Julietta berdiri tegak dan melihat wajah wanita yang ada di cermin itu sangat menyedihkan, matanya merah, jambang rambut halusnya basah karena air dingin, terlihat sedikit menyedihkan. Dia mengelap wajahnya dengan tisu dan menarik nafas dalam dalam lalu baru keluar dari toilet.
Dia merasa David pasti disaat ini sudah mulai panik, mungkin saja sedang mencarinya di tengah malam, mumpung masih sempat, dia harus mendapatkan cara kembali dengan cepat.
Julietta kembali ke tempat duduknya dan mendorong sisa makanan dan minumannya ke sebelah. Dia melepaskan antingnya dan diletakkan di dalam kantongnya, agar dirinya terlihat tidak punya uang. Setelah dia selesai melihat data, dia memberikan anting itu kepada penjaga warnet, tidak perduli karena kebaikan hatinya atau karena ada tujuan tertentu, dia tetap menucapkan terima kasih karena dia memberikan makanan yang menghangatkan.
__ADS_1
Julietta membuka situs yang sudah lama tidak di bukanya, lalu masuk dengan akunnya, mencari daftar riwayat bacanya. Yang ada di baris paling terakhir adalah novel yang terakhir dia baca. Melihat judul yang tidak asing, Julietta menarik nafas dalam dalam dan langsung membaca ulang ceritanya.
Membaca pemeran wanita utama sedang mengingat kehidupan sebelumnya dan muncul nama David, hati Julietta menjadi ikut bergetar, tapi sayang sekali nama David hanya muncul beberapa kali saja di novel itu. Dari bab pertama sampai bab terakhir, cerita novel ini seperti sebuah film dengan wajah yang tidak asing dan masuk ke dalam kepala Julietta dengan cepat.
Novel yang sudah selesai salama setengah tahun ini, bab pertamanya tetap banyak orang yang memberi nilai rendah dan mengejek penulisnya dikarenakan mereka tidak suka dengan pemeran wanita utama yang tidak pantas dengan pemeran pria utama. Dia membuka profil penulisnya dan terlihat penulis ini sudah lama tidak merilis novel lagi, mungkin dia menyerah, tersinggung atau diejek sampai mencurigai dirinya sendiri.
Melihat waktu pembaharuannya, Julietta tidak tahu kenapa memiliki perasaan yang rumit. Penulis mengeluarkan pengumuman, yang bilang siapa yang mengejek novel ini pasti akan menjadi pemeran pendukung yang jahat beracun, jadi kalau dia menulis satu komentar ejekan yang panjang, apakah dia akan bisa kembali kesana. Dia membuka kolom komentar dan mulai mengetik, hanya dalam beberapa saat, satu komentar panjang penuh dengan ejekan keluar.
Setelah mengetik tanda titik terakhir, dia menghembuskan nafasnya yang panjang. Mouse berada di tombol kirim sangat lama, jari dia ragu ragu untuk mengkliknya. Julietta membaca ulang komentarnya lagi, setelah ragu ragu sebentar dia menghapus semua komentar ejekannya dan menulis ulang lagi. Didepannya dia menulis kesalahan cerita novel ini, dan juga beberapa poin yang pantas diejek. Masuk kebaris berikutnya, kecepatan mengetik dia melambat, lalu dia menulis satu baris lagi. Dan terakhir dia menulis satu kalimat.
Walaupun ada banyak yang tidak memuaskan, tapi terima kasih kamu sudah memberikan aku dunia baru. Harap jangan menyerah untuk tetap menulis karya baru. Klik dikirim. Julietta bersandar di meja komputer dan tidak bergerak.
Pemeran utama pria dan wanita dalam cerita itu sudah bukan lagi gambaran yang simpel dalam pemikiriannya, setelah menulis komentar sepanjang itu, tapi terasa seperti berkebalikan dengan maksudnya sendiri. Apalagi penulis itu mungkin sudah berhenti menulis.
Dia lebih baik memikirkan cara lain. Julietta imgin tidur sebentar di meja dan setelah nanti bangun dia ingin mencari cara untuk menghubungi penulisnya, agar dirinya bisa memiliki cara yang baru. Saat tengah malam sedang tertidur, dia bersin lalu mengusap matanya dan duduk tegak.
Layar komputer masih menyala dan masih memperlihatkan satu halaman komentar panjangnya dia itu, dia klik perbaharui halaman dan melihat ada orang yang membalas komentarnya.
Orang pertama Setuju.
Orang kedua Komentarnya itu terus terang sekali,
Orang ketiga Sedikit tersentuh, dia ini kenapa.
Julietta terus membaca kebawah, lalu melihat orang kesepuluh, penulisnya sendiri yang membalas komentar dia. Waktu menunggu pembaharuan memang selalu agak lama. Julietta awalnya terus memperbaharui halaman itu tiada henti setiap menit, lalu berubah menjadi beberapa menit perbaharui satu kali, dia sangat mengantuk dan kepalanya sesekali terjatuh.
Dalam pikirannya tiba tiba muncul wajah David dan itu membuatnya semangat. Sudah lewat waktu selama ini, tidak tahu mereka semua di dunia satunya sekarang bagaimana.
Julietta mulai merasa sedikit tidak tenang, saat dia memasuki dunia asalnya dia adalah waktu siang hari, jadi David sekarang disana tidak tahu siang hari atau sudah malam hari lagi. David seharusnya baik baik saja. Perutnya yang kosong karena kelaparan sudah mulai menyiksa dirinya lagi.
Julietta menghela nafasnya, dan hanya berharap semua berjalan sesuai dengan pemikirannya. Disaat dia sedang menantikan, akhirnya layar menunjukan penulis sudah memperbaharui tiga bab ekstra yang baru dirilis di satu menit yang lalu. Untung saja akunnya masih ada saldo, Julietta langsung masuk dan membaca tiga bab ekstra itu. Dia sangat tegang dan langsung mulai membacanya.
Bab ekstra pertama judulnya bayangan lama, ceritanya mengenai kehidupan sebelumnya pemeran utama wanita yaitu Sisca. Disini penulis menceritakan latar belakangnya sekali lagi. Sisca dan Erick adalah teman baik sejak kecil, tapi di kehidupan sebelumnya Erick hanya menganggap Sisca sebaga adiknya, kalau bukan karena usaha Sisca sendiri, Sisca juga tidak mungkn jalan sampai akhir.
Lingkungan pertumbuhan mereka berdua dari kecil membuat Sisca kekurangan rasa nyaman, emosinya sensitif, mudah mencurigai dan menyalahkan dirinya sendiri. Sisca berpikir pernikahan adalah penyelamatnya, tapi juga mudah melukai orang lain dan dirinya sendiri.
Disaat yang bersamaan, sebelum pemeran utama wanita itu hidup kembali, dia sudah mendengat kalau David ditusuk dengan pisau dan sedang diselamatkan, setelahnya Sisca menjadi cinta dan benci terhadap David, dia hanya merasa senang tapi juga menangis.
Saat membaca sampai sini, Julietta tiba tiba mengingat dengan kata kata terakhir Sisca kepadanya yang seperti kutukan itu, ternyata memang benar benar terjadi seperti itu. Mengingat David terluka di dunia yang tidak dapat disentuhnya sekarang, Julietta menjadi sedih dan sakit hati. Julietta memingkamkan bibirnya dan membuka bab berikutnya.
Bab kedua judulnya setelah dongeng. Yang diceritakan adalah kehidupan Erick dan Sisca setelah mereka menikah. Awalnya mereka sangat saling mencintai, selalu bersama kemanapun.
__ADS_1