Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
47


__ADS_3

Julietta hampir tidak mengerti dirinya memiliki pemikiran seperti apa, dia tidak bisa tegas meninggalkan David yang sedang sakit, dan juga tidak bisa menerima pernyataan perasaan dari David. Hatinya seperti ada dua orang yang sedang menariknya terombang ambing, membuat hatinya kacau berantakan.


Julietta sejak kecil ditinggalkan orangtuanya, setelah mereka membangun keluarga baru masing masing, ikut salah satu keluarga baru dengan sikap terhadap Julietta menjadi datar dan pudar. Sejak SMA dia tinggal berpisah dari orangtuanya, mencari nafkah sendiri, sangat mandiri, tidak pernah meminta uang, saat kuliah dia belajar memasak dan terbiasa hidup sendiri.


Mungkin karena David mengalami hal yang sama dengannya, membuat Julietta tanpa sadar merasakan apa yang dirasakan David, ini tidak berarti dia benar benar mau menjadi pasangan hidupnya. Bicaranya sangat santai tapi Julietta dari dulu tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan apalagi menikah.


Tomy berdiri dilorong rumah sakit dengan ekspresi serius, seperti bisa membaca pikiran Julietta.


"Nyonya ketemu masalah jangan selalu dihindari, nanti pasti akan menyesal"


Julietta mendengarnya menggaruk kepalanya dengan kesal. Perilaku dia ini seperti sedang menghindar kah, yang dikatakan Tomy sepertinya benar.


"Aku, aku pergi dulu" nada Suara Julietta sedikit panik.


"Kemana" dibelakang tiba tiba suara David yang pelan terdengar. Seperti ditusuk dari belakang, Julietta merasa gugup. Dia sedang siap siap pergi, disaat ini Tomy tersenyum dan membiarkan mereka berdua bicara dengan baik, dirinya dengan cepat masuk kamar pasien.


David berjalan sambil mendorong rak infus yang mengeluarkan suara decitan yang menusuk telinga. Jukietta berdiri tegak dan berkata.


"Kita bicara sesuai kenyataan saja, aku hanya anggap kamu sebagai teman, jadi"


"Kalau begitu kita coba saja"


Julietta agak bingung, pandangan dia yang terkejut menabrak pandangan David. Mereka berdua saling menatap, Julietta mengulanginya lagi "coba apa"


Nada bicara David pelan tapi jelas seperti sedang negoisasi bisnis.


"Kamu boleh anggap aku sebagai teman kencan buta yang sedang mencoba berhubungan dengan kamu, tanpa ada tekanan"


Julietta terkejut lagi "ini bagaimana mungkin bisa"


"Kita pernah tinggal bersama, sudah kenal lama, tahu kebiasaan kehidupan kita, dipoin ini tidak ada masalah"


"Itu memang benar sih"


"Kamu juga tidak ada masalah berhubungan dengan aku selama ini, kondisi dalam beberapa hal, aku juga lumayan"


"Sepertinya benar"


"Yang paling penting, aku sangat suka kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir pengorbanan dari pihak aku"


"Kalau begitu kenapa tidak mau coba, kalau nanti tetap merasa tidak bisa, kita bisa pisah, aku akan lepaskan kamu pergi"


David bicara panjang lebar yang bicaranya seperti sangat masuk akal, benar benar syarat yang menguntungkan Julietta. Julietta lagi lagi terbujuk hasutan oleh logika David yang aneh.


"Tapi kalau aku tetap tidak bisa suka kamu" Julietta benar benar tidak mau melukai hati David, tapi ini adalah masalah yang tidak bisa dihindari oleh mereka berdua. Nanti kalau pergi lagi meninggalkan David, sudah kasih harapan ke David, lalu buat dia putus asa lagi, ini bukannya  membuat dia lebih sakit hati.


David berkata lagi "buat aku terima, kalau setelah berusaha tetap gagal"


Julietta berpikir lagi, yang dikatakan David itu sepertinya benar, tapi dia merasa ada sesuatu yang tidak terlalu beres, dia berpikir panjang dan agak lama, berusaha mencari kata kata untuk bisa membantah menolak David, tapi dia tidak menemukannya juga. Berhhubungan seperti kencan buta didalam pernikahan, ide ini mungkin hanya David yang bisa memikirkannya.


Julietta bertanya lagi "kamu sudah memutuskannya, yakin benar benar mau seperti ini, yang sebenarnya, kalau kamu mau berkeluarga, akan ada pilihan yang lebih baik dari aku, aku bisa bantu cari"


David menjawab cepat tanpa ragu ragu "tidak akan" Dia yakin tidak akan ada pilihan yang lebih baik dari Julietta.


Julietta baru mau berpikir untuk bilang mau mempertimbangkannya, David tidak tahu kapan sudah jalan dekat kedepaannya dan menundukan kepalanya dan mengulurkan tangannya. Suara dia sangat rendah tapi terdengar lembut "pulang"

__ADS_1


Disaat ini Julietta tersentuh dengan kata pulang. Tomy yang berdiri menempel dipintu dalam kamar pasien diam diam mendengar semua pembicaraan mereka, dia sangat ingin mengenakan alat bantu dengar. Dia berharap bosnya sedikit agresif, peluk dan cium dia, setelah beberapa saat tidak mendengar pergerakan ataupun suara, Tomy menyembulkan kepalanya tapi dia langsung menabrak pandangan David dan Julietta. Ternyata mereka berdua sudah berdiri dekat pintu dan melihat Tomy yang diam diam menyembulkan kepalanya itu.


Wajah Tomy menjadi gugup "ha haa ha, kalian sudah tidak ada apa apa"


David "keluar"


Julietta setuju dengan saran dari David ini, dia juga meminta jangan mencari dia lagi kalau suatu saat dia menghilang pergi lagi nantinya, walaupun hatinya masih merasa sedikit aneh. Seperti diputar oleh logika David.


David dengan cepat memesan tiket pesawat penerbangan malam ini juga, dengan gelisah Julietta berkata "semua barangku baru beli, dan juga baru bayar uang sewa"


Kalau dari awal sudah tahu seperti ini, buat apa dia membereskan barangnya dan apartemen itu dengan lelahnya. Dia merasa benar benar gila. Dengan tenang David memberitahu kalau gedung apartemen itu sudah dia beli. Jadi bisa ditinggalkan saja.


Julietta tambah tidak tahu harus berkata apa, ada uang hebat ya, benar benar sangat hebat. David memesan tiket pesawat yang malam, dia tidak bisa menunggu satu malam, seperti takut kalau Julietta menyadari lalu berubah pikiran dan tidak mau pulang bersamanya.


"Aku harus kembali merapikan koperku dulu"


David mengangguk sambil mengenakan jaket dan berdiir disisi ranjang pasien, Julietta terkejut dan berkata "kamu tunggu disini saja"


"Baik" sambil berkata, David sudah mengikuti langkah dibelakang Julieta.


Apakah sekarang menyesal masih berguna tidak, Julietta bergumam. Julietta meminta David tidak boleh terlalu dekat dengannya, pria ini suka mengambil keuntungan, jadi Julietta mau tidak mau harus menjaga dirinya. Dia jalan didepan David yang mengikutinya dari belakang, jarak mereka terpisahkan sekitar dua meter. Selama perjalanan, Julietta tidak bisa fokus dia tidak mengerti apakah keputusan dia seperti ini benar atau tidak. Disaat dia tidak fokus, kakinya terpeleset dan terjatuh dihadapan David.


Julietta berteriak "aku benci salju licin"


David hanya diam dan setelah beberapa saat juga tidak menghampiri dan mengangkatnya, membuat Julietta merasa dibhongi. Dia berdiri dengan sedih dan menatap David dengan amarahnya "kenapa tidak bantu aku bangun"


David terlihat santai dan berkata "bukannya kamu sendiri yang bilang jangan dekati kamu, apapun yang terjadi"


Julietta berkata "ada orang yang hidup tapi sebenarnya sudah mati"


Mereka naik keapartemen untuk merapikan barang, David ikut masuk kekamar dan melihat sekelilingnya, tiba tiba dia merasa tempat ini lumayan juga. Hanya saja satu ranjang kecil itu  harus diganti dengan satu ranjang besar, dalam khayalannya sambil tersenyum sendiri menatap ranjang. Dia jalan kedapur dan membuka lemarinya, didalamnya hanya ada mangkok, sendok, garpu. Mood David tiba tiba menjadi cerah.


Julietta sedang merapikan bajunya, lalu dia melihat David yang sedang beridiri terdiam didapur yang terlihat moodnya lumayan bagus, dia meliriknya dengan kesal berkata.


"Aku tahu kamu cuma memikirkan makan"


Pria ini apa jangan jangan akting demi makan, Julietta tiba tiba merasa kemungkinan ini ada.


Apakah menyetujui ajakan David benar atau tidak, Julietta juga tidak tahu, tapi tiba tiba dia ingat yang dibilang Tomy benar, selalu menghindar juga tidak bisa.


Julietta memanggil David "ayo, masih harus naik pesawat"


Mereka berdua keluar, David membantu Julietta menarik koper, Julietta mengikuti disebelahnya, mereka terlihat sangat harmonis. Mereka naik taksi ke bandara.


Erick yang buru buru naik pesawat datang kesini melihat kejadian ini di bandara. Dia pertamanya bengong melihat mereka berdua bersama pergi menjauh, badannya kaku seperti kayu, lalu dia tertawa dan menggelengkan kepalanya, rasanya tidak tahu ada rasa apa, agak sesak didada, harapan kecil dihatinya seketika langsung dihancurkan melihat mereka berdua yang terlihat harmonis, dia menertawakan dirinya sendiri yang merasa sangat bodoh.


Dia mengeluarkan selembar tiket dari kantongnya, tiket pertandingan satu minggu lagi, tadinya dia mau kasih ke Julietta, sekarang sepertinya sudah tidak perlu. Erick diam sesaat, lalu dia langsung merobek tiket itu. Ada beberapa hal yang tidak perlu menabrak dinding, baru bisa melihat hasil, dia dari dulu bukan orang yang mau masuk ikut campur hubungan orang. Walaupun dia merasa sangat tidak rela. Tapi, karena merasa salah, maka tidak bisa dilanjutkan.


Merela duduk dikursi pesawat, masih ada beberapa menit pesawat baru lepas landas, David yang duduk disebelahnya terus menatap HP, disaat ini dia kelihatan sangat senang bersemangat, sedikitpun tidak terlihat sakit, kalau bukan karena demamnya yang belum hilang, Julietta benar benar curiga dia sedang berpura pura.


"Kamu sedang lihat apa" tanya Julietta.


 David langsung mematikan HPnya, takut kalau saat ini dia melihat HPnya pasti akan melihat ebook bagaimana cara yang sepat dan efektif membuat hati wanita tertarik antusias.


Bahasan yang paling pertama adalah orang disaat terdesak akan membuat hatinya antusias karena detak jantungnya bertambah cepat. Disarankan bisa pergi bermain permainan yang menegangkan, seperti rumah hantu. David terdiam berpikir serius. Setelah pesawat lepas landas, Julietta bersiap tidur, tiba tiba David bertanya "besok mau main ketaman hiburan tidak"

__ADS_1


"Kenapa tiba tiba mau ketaman hiburan"


"Kencan buta bukannya harus pergi kencan"


Julietta berpikir mungkin ini sepertinya masuk akal. David lanjut berkata.


"Tidak jauh dari rumah ada satu taman hiburan yang lengkap, kita bisa kesana main"


Julietta tersenyum, matanya bersinar. Dia sudah lama tidak naik rollercoaster, kapal bajak laut, bungee jumping, rumah hantu, keluar main sekali sepertinya lumayan seru. 


Tadinya Julietta masih sedikit merasa aneh dan risi, karena kali ini dia sudah bukan hanya mereka berdua hidup bersama. Tapi dengan cepat David sepertinya menganggap semua yang dikatakan dirinya sebagai angin. Sesampainya dirumah, David seperti lupa dirinya berjanji apa saja pada dirinya, dia langsung mengambil satu keripik dan mulai memakannya sambil duduk disofa.


"Semua Makanan dikulkas ini kenapa tidak dimakan, beberapa hari ini kamu makan apa saja"


David "makan angin"


"Apa kamu jangan jangan beberapa hari kemarin hanya makan sehari sekali"


"Tidak" David membantahnya dengan pelan, "masih ada satu dus mie instan" walaupun mienya belum dia makan satupun.


Julietta sama sekali tidak curiga, kalau kasih kesempatan ke David, dia pasti bisa puasa sampai naik ke surga. Mereka berdua makan pangsit rebus dengan hangat. Demam David sudah sembuh tapi masih terlihat sedikit lelah, dia minum obat dan duduk disofa lagi.


Julietta merapikan barangnya dan siap siap tidur. Mengingat selanjutnya masih harus kekantor, kegelisahan dia mulai lagi, dia merasa lubang yang dia gali, dia sendiri yang harus menutupnya dikantor nanti.


Dia kembali kekamarnya untuk istirahat. Semalaman tidurnya tidak begitu tenang, semua pikirannya memikirkan masa depannya akan disini atau didunianya sendiri. Apakah dia dan David akan ada masa depan disini, Julietta sendiri tidak berani memastikannya.


Dia memutar badannya, tidak bisa tidur, putar badan kekiri kekanan, dia merasa tenggorokannya kering, lalu dia memutuskan untuk bangun untuk ambil  air minum. Dia membuka pintu, disofa ruang tengah terlihat David yang duduk dan mengagetkan Jukietta.


"Kamu sedang apa" apa jangan jangan dia diam diam makan ditengah malam sendirian. 


David mengusap matanya, sepertinya masih belum tidur. Julietta tidak tahu kalau David takut pada tengah malam dia kabur pergi, maka David menunggu diruang tamu agar Julietta tidak bisa kabut diam diam.


"Cepat balik tidur"


David hanya mengangguk dan bergumam hmm. Julietta sudah minum segelas air, David masih tetap duduk disofa dan tidak bergerak. Julietta mengedipkan matanya dan bertanya.


"Bukannya besok kita mau ketaman hiburan, kalau tidak tidur bagaimana ada tenaga"


David menjawab dengan pelan "kamu tidur dulu"


"Baik, sleamat malam"


David melihat bayangan dia hilang dibalik pintu, pintu kamarnya ditutup dan menyisakan dia sendirian duduk disofa. Sudah tengah malam tapi tidak ada rasa mau tidur.


Diruang tengah yang gelap, David diam diam mengeluarkan HPnya dan melihat rencana besok. Rollercoaster dan kapal bajak laut adalah wahana wajib dinaiki, kalau Julietta berani masuk kerumah hantu, maka itu adalah wahana terakhir. David sudah membayangkan Julietta berteriak ketakutan lalu memeluknya dengan erat. Dia semakin tidak bisa tidur.


Setelah Julietta minum segelas air, dia langsung masuk kamar dan langsung tidur nyenyak, setelah matanya terbuka, langit sudah terang cerah.


Dia membuka pintu seperti biasa sambil menguap, tapi dia melihat David yang tidak tahu sejak kapan sudah tertidur bersandar duduk disofa.


"Kamu bisa bisanya belum bangun"


Julietta baru selesai bicara, David langsung membuka matanya, dengan pelan mengusap matanya dan berkata "tidak sengaja tertidur" sebenarnya saat Subuh dia baru ada rasa mau tidur.


"Hari ini jadi masih mau pergi ketaman hiburan tidak"

__ADS_1


David menjawab cepat dan yakin "iya pergi"


__ADS_2