
Beberapa hari ini suhu turun, angin menjadi sangat dingin, berita ramalan cuaca bilang minggu depan akan turun salju, Julietta mengingat dirinya belum memiliki jaket yang tebal, dia rapi rapi berbenah rumah sebentar lalu pergi keluar, dia pergi ke mal yang lumayan besar yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya saat ini.
Langit sore hari mendekati hampir gelap, awan berwarna abu abu gelap memenuhi langit, angin dingin juga terus berhembus, membuat daun daun layu berwarna kuning kecoklatan berterbangan terbawa angin, langsung membuat orang merasakan hawa dingin dari tulang di dalam.
Julietta memakai masker, lehernya dirapatkan dengan kerah baju, dia kedinginan dan sedikit gemetar. Sesampainya didalami mal, AC yang hangat berhembus ke badannya, kaki tangannya yang kaku pelan pelan bisa bergerak, Julietta melepas maskernya, menggaruk pipinya dengan keras, sama sekali tidak perduli dengan penampilannya, tapi terdengar suara tawa kecil yang tidak begitu jelas dari sebelahnya tapi dengan cepat ditahan tawanya oleh orang itu sendiri.
Julietta langsung menolehkan kepalanya lalu dia melihat pria yang tinggi kurus yang mengenakan kemeja dan sweater rajut, celana panjang hitam, wajahnya bersih dan lembut, terlihat sifatnya sangat bagus dengan wajah tampan itu.
Mereka berdua saling melihat, pria itu pertama agak sedikit panik gugup, lalu dia tertawa untuk meminta maaf. Tapi tawanya hanya sesaat, lalu dia kembali memingkamkan bibirnya dan terlihat murung , alisnya dikerutkan seperti memiliki banyak masalah yang berat.
Julietta mengalihkan pandangannya, tapi dia masih berpikir. Aneh suara tawa itu, kenapa sedikit kenal, apakah pernah dengar darimana.
Pintu lift terbuka, pria itu memberi jalan untuk Julietta masuk terlebih dahulu, awalnya Julietta hanya ingin mencari tempat tertutup untuk menghangatkan tangan dan kakinya saja, diberi jalan oleh pria asing, dia merasa kalau dia menolaknya akan sedikt tidak enak, oleh karena itu dia masuk dengan malu malu.
"Lantai berapa" tanya pria itu.
Julietta menatap punggung pria itu yang tinggi sambil berkata "lantai dua"
Pria itu terkejut, pria itu pertama menekan lantai dua lalu dia menekan tombol lantai Lima, lantai lima kurang lebih semuanya adalah Cafe restoran, restoran di mal ini termasuk kelas atas, harganya juga mahal, ada satu restoran Western food yang Julietta ingin coba tetapi dia tidak rela mengingat harganya itu.
"Maaf aku buat kamu repot ya" pria itu seperti menghela nafasnya tapi seperti tertawa kecil.
Julietta melambaikan tangannya "tidak kebetulan kaki aku sakit, agak sulit naik tangga"
Saat berbicara lantai dua sudah sampai, pria itu menghalangi pintu lift dengan tangannya mempersilahkan Julietta keluar dari lift, setelah melangkah keluar lalu Julietta melihat ke belakang dan menatap pintu lift yang perlahan lahan tertutup, pria itu sedikit tersenyum menatap Julietta. Pintu lift tertutup rapat.
Julietta mengerutkan alisnya, perasaan dejavu itu terus berada didalam hatinya, dia sama sekali tidak bisa mengingat suara yang bersih dan tawa seperti itu, dia mencoba mengingat pernah dengar dimana.
Kebingungan itu dengan cepat dibuang dibelakang. Karyawan toko butik masih mengingat wajah Julietta, dia menghampirinya lalu langsung memberikan rekomendasi pakaian yang paling murah, Julietta melipat tangannya di pinggang, sambil memegang tas channeelnya dia berkata "kasih aku jaket model yang terbaru, semuanya aku mau coba"
Pakaian itu harus tahu cara belinya, di musim panas boleh beli pakaian murah, tapi kalau jaket musim dingin harus beli yang terbaik paling baguslah. Toko ini tidak bisa dibilang sangat mahal, model barunya semua masih masuk dalam kemampuan beli Julietta, dari kehidupan sebelumnya juga dia sudah sangat suka dengan fashion, tapi tidak ada uang lebih, sekarang akhirnya dia bisa membelinya tanpa beban.
Julietta mencobanya satu demi satu didepan cermin, bentuk badannya yang sangat bagus membuat dia memakai apapun pasti sangat bagus. Beberapa pria didalam toko dibelakangnya yang menemani pasangannya berbelanja, duduk di sofa panjang, mereka diam diam melirik terkagum-kagum dengan penampilan julietta beberapa kali, dan mereka sama sekali tidak menyadari pasangannya itu wajahnya sudah Menggelap, mereka pun langsung mencubit prianya dengan keras "aduh sakit"
Disaat itu suara teriakan kesakitan didalam toko mulai terdengar, membuat karyawan toko tertawa. Saat keluar dari toko itu, Julietta mengenakan jaket coklat muda, sweater kashmir warna terang dan celana panjang, jalan ke manapun akan menjadi pusat perhatian banyak orang karena penampilannya yang cantik itu. Terkadang ada orang yang menggodanya mengajak berkenalan, tapi semuanya dia tolak dengan dingin,
Julietta mengenakan sepatu boots kulit coklat pendek, dia berdiri didepan jendela kaca toko yang besar dan melihat pantulan dirinya sendiri membuat hatinya sangat tenang.
Bayangan wanita dari kaca itu sangat cantik, tapi saat wajahnya menjadi dingin berubah menjadi sangat ganas, benar benar senjata untuk membuat pria mundur. Walaupun dari belakang terlihat cantik juga tetap tidak ada yang berani menggodanya.
__ADS_1
"Astaga"Tanpa ekspresi dia melihat keluar mal yang diluar itu tiba tiba hujan sangat deras. Kalau sekarang keluar pasti akan basah kuyup juga macet dijalan, baju baru juga bisa jadi basah dan menjadi kotor. Julietta berpikir sejenak, lebih baik naik pergi ke restoran Western food itu saja.
Disaat ini biasanya David seharusnya akan segera pulang. Julietta mengeluarkan HP nya dan mengirim pesan ke David.
Aku masih diluar makan sedikit, belum masak kamu cari makan sendiri yah
Kalau David tahu dia sedang sendiri menikmati makanan enak, mungkin saja dia akan tidak senang, lebih baik tidak usah bilang yang sebenarnya.
Setelah mengirim pesan, Julietta bernyanyi dengan suara kecil, sambil membawa beberapa kantong belanjaan dia melangkah berjalan ke arah restoran itu.
Sementara di kantor David yang menerima pesan itu sedang bersiap siap pulang, melihat satu baris pesan kalimat itu dilayar nya, dia langsung terdiam. Tomy dan beberapa orang di sebelahnya masih bertanya padanya "bos kamu benar benar tidak mau ikut kita bertemu dengan Erick? Kurasa dia bisa dibilang orang yang lumayan"
David menjawabnya dan bertanya dengan tenang "restoran apa"
Saat membahas ini, rekannya Herman langsung senang menjawab "di mal blok sekitar Sini Ada restoran western food yang sangat super enak Lezat, kamu pasti tidak akan kecewa" David menjawab "oh ya ok ayo"
"Aku juga ikut ya" Gisele tiba tiba menimbrung. Dia hari ini mengenakan jas dan rok, dandanannya sangat cocok elegan, saat tersenyum juga sangat cantik, membuat wajah Herman memerah menatapnya.
Tomy sambil tidak menatapnya menjawab "ini ada hubungannya dengan pekerjaan bagian divisi desain apa, kita ini sedang membahas bisnis, Gisele kamu lebih baik jangan ikut campur"
Herman langsung menjawab "diluar sedang hujan deras, dia sendirian tidak mudah pulang, nanti setelah makan aku yang akan antar Gisele pulang" Gisele tersenyum Dan dengan sopan Berkata "thanks". Hanya saja pandangan dia terus menatap mengarah ke David.
Gisele tiba tiba wajahnya bersemu memerah karena hanya menatapnya. Tomy tertawa dan berkata "ayo jalan orang itu pasti sudah menunggu kita dari tadi"
Di waktu yang bersamaan. Pelayan sedang mengatur meja Julietta untuk duduk di sebelah sekat kaca, saat dia mau duduk, dia melihat diseberanginya ada pria yang seperti dikenalnya sebelumnya. Kebetulan sekali dia adalah pria asing yang tadi ditemui saat masuk ke mal tadi di lift.
Julietta menyapanya "hai kamu sedang tunggu orang yah"
Pria itu sedikit terkejut dari lamunannya, lalu dia tersenyum dan berkata "iya sedang tunggu teman"
Dalam prinsip Julietta bahwa makan enak itu tidak boleh pelit uang. Awalnya dia hanya mau pesan beberapa makanan, melihat ini enak itu enak di buku menu, tidak terasa kalau dia sudah memesan makanan melebihi porsinya.
Pelayan membuka satu botol anggur merah dan dituangkan digelas untuk Julietta. Mata cantiknya berkeliling melihat suasana restoran sangat bagus, suara biola sangat cocok dengan suasana ini, cahaya lampu yang sedikit samar, dekorasi ruangan yang sangat indah, tamu yang mengenakan pakaian sopan dengan pantas, sedang mengangkat gelas anggur dan mengobrol dengan pelan, sangat jarang terdengar suara yang keras.
Julietta melihat kearah luar jendela kaca, bisa melihat pemandangan malam setengah kota. Mal ini berada dipinggir sungai, jarak pandangnya sangat luas, kebetulan bisa menghindari beberapa gedung tinggi, pemandangan malam hari sangat terang dan samar.
Hujan deras terus terjatuh ke bawah , tapi tidak terdengar suaranya sama sekali, sesaat membuat Julietta sedikit linglung. Dalam pikirannya David seharusnya sudah sampai rumah.
Pelayan sedang membawa makanan, Julietta mencium aroma wangi makanannya yang sangat menggoda, dia langsung melupakan David, dia berpikir kalau rasa makanan di restoran ini lezat, berikutnya dia pasti bisa mengajak David makan ke sini. Lagipula dia juga bukan orang yang tidak mau membagi makanannya.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, David dan yang lainnya sedang naik ke atas dengan lift menuju restoran itu juga. Tomy sangat bersemangat karena bosnya sudah lama tidak makan bersama mereka, ini membuat mereka kumpulan para jomblo kekurangan sesuatu.
Dia sepanjang perjalanan selalu berbicara segala hal, dengan perhatiannya dia bertanya ke David istrinya akhir akhir ini sedang melakukan apa saja, sibukkah, gamenya seru atau tidak, dia berharap istri David bisa memberikan satu kertas review jawaban tentang pengalaman bermain gamenya dan lain lain.
Gisele tentu saja tahu David menjadi topik hangat didalam game, wajah dia sedikit cemberut. Perasaan bahaya terus menyelimutinya, bisa membuat David sampai melakukan sampai seperti ini, wanita itu pasti bisa jadi saingan yang tidak mudah.
Beberapa waktu ini sebenarnya terjadi apa, Gisele mengerutkan alisnya, terlihat tidak senang. Tapi?
Malam ini adalah kesempatan yang bagus, dia harus menggunakannya dengan baik. Melihat hujan lebat diluar kaca, bibir dia sedikit tersenyum dan memiliki percaya diri. Seorang pria tidak mungkin bisa menolak wanita cantik, hanya saja David sedikit pasif, tapi dia merasa juga tidak masalah untuk inisiatif dan agresif sedikit.
Tomy batuk "keluar lift Gisele, kamu bengong mikirin apa"
Herman adalah pria lugu bodoh yang tidak pernah pacaran, sangat kaku, tidak seperti dia yang dari awal sudah tahu sepanjang perjalanan Gisele selalu melihat berharap ke David. Membuat Tomy sedikit canggung. Dia benar benar berharap Gisele tidak melakukan hal yang keterlaluan atau memalukan nya sendiri, tidak bahas yang lain, tapi kalau membuat david tidak suka, nanti kalau masih ingin bekerja dipekerjakan nya sekarang ini mungkin akan sulit,
Tomy menghela nafasnya dalam hati. Hal yang dikhawatirkannya saat ini benar benar banyak.
Meja direstoran sudah dipesan dari awal, Andy ada urusan jadi tidak ikut hadir, awalnya hanya 4 orang, sekarang tambah Gisele jadi harus pindah meja 6 orang,
"Maaf Pak, sekarang sudah tidak ada meja untuk 6 orang"
"Lalu bagaimana"
Herman berkata "aku sempit sempitan saja, tambah satu kursi saja" melihat dia yang mencari perhatian Gisele, Gisele tidak bilang apa apa, dia hanya tersenyum dan bilang terima kasih.
Erick sudah menunggu dimeja sangat lama, sambil menunggu kedatangan mereka dia melirik ke tempat Julietta duduk dan melihatnya dimeja dia penuh dengan makanan, dia tertawa kecil.
Akhir akhir ini dia merasa bertemu dengan wanita yang menarik, baik wanita didepannya ini ataupun yang terakhir ettaaaaa, mengingat nama ini dia pun langsung mengingat kenangannya dengan whisper, Erick lagi lagi memasuki moodnya yang berat.
Dia merasa dia yang melakukan sesuatu terlalu tergesa gesa, sekarang dia menerima balasannya.
Bos dari aquarius memberikan dia kesempatan untuk bertemu dan berbicara langsung, dia hanya ingin masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Dia sedang menundukkan kepalanya sambil berpikir, lalu dia melihat beberapa orang sedang melangkah berjalan ke arah mejanya, tiga pria dan satu wanita, penampilan semuanya sangat luar biasa menarik perhatian, yang pertama adalah pasti bos besar aquarius Tomy, wajahnya tersenyum kearahnya, pandangan Erick tertuju di pria yang dibelakangnya, membuat dia sedikit terkejut, sebagai sesama pria dia harus mengakui wajah pria itu sangat tampan, hanya saja pria itu terlihat seperti sangat ceroboh,
Wajah david seperti tidak ada apa apa, satu tangannya dimasukkan ke satu saku celananya, dia sedang berpikir nanti mau makan apa, tapi saat dia memutar badannya untuk duduk, dia melihat satu bayangan wanita yang sangat sangat dikenalnya.
David melihat mood wanita yang sedang duduk di sebelah kaca itu sangat bagus alisnya pun membawa senyuman. Dimeja wanita itu ada tujuh piring makanan, membuka sebotol anggur merah, ditengah meja ada satu tangkai bunga mawar merah. Wanita itu sedang pelan pelan menikmati spageti sea food, dia sama sekali tidak sadar denga keadaan sekitar juga tatapan maut David dari jarak hanya beberapa meter.
David sedang melihat Julietta yang tadi kirim pesan dirinya hanya makan sedikit, duduk disana menikmati makanan sendiri. benaknya mengatakan Hmm itu namanya makanan sedikit , dalam lamunannya dan membuatnya terdiam mematung.
__ADS_1