
Beberapa orang rekan kerjanya menasihatinya mengenal hal tersebut, untuk itu Julietta mau tidak mau menyerahkan pekerjaannya kepada rekannya dan sementara pulang istirahat.
Yang bisa memiliki cuti libur sepanjang ini, hanya dia seorang sebagai istri bos yang bisa menerima keuntungan seperti ini. Disaat sedang bosan berbaring dirumah, tidak disangka teman Marc menghubunginya.
Julietta sudah pernah menghadiri pertemuan dengan mereka beberapa kali dan sangat menghormati Enri si pria tua itu, walaupun dia temannya Marc, tapi dia tetap saja senior, jadi dia tidak berani untuk tidak sopan.
Mereka berbicara sangat lama dan Julietta baru mengerti, tidak disangka Enri itu mengajak dia untuk mengganti pekerjaan. Bukan ganti pekerjaan juga, hanya saja dari desainer game kantoran menjadi animasi rumahan. Pria tua itu memiliki satu studio dan sedang mau membuat proyek baru, dan sangat berharap Julietta bisa ikut ke dalamnya, sekarang bisa dibilang adalah kesempatan yang sangat bagus.
Julietta mengobrol dengan dia sangat lama di cafe, bicara sampai terakhir mata pria tua itu bersinar sinar dan tangan kaki bergerak gerak kecil, sama sekali tidak terlihat seperti pria umur 60an, saat membicarakan proyek dirinya seperti anak kecil yang sedang bicara dengan ibunya.
Julietta memutuskan untuk mempertimbangkannya dulu beberapa hari. David tidak ada ekspresi apa apa, dia sama sekali tidak senang kalau istrinya di ajak oleh orang lain, tapi tidak perduli Julietta mau mengambil keputusan seperti apa, dia tidak akan menghalanginya.
Seluruh badan Julietta mulai berasa sakit, badannya juga bukan badan yang sembap, sekarang setiap malam hari harus banyak minum, di hari kedua kakinya mulai sedikit membesar.
Kedua kakinya bersandar di paha David sebagai alas duduk di sofa. David di sebelahnya sedang mengupas kacang.
"Aku dengar dengar , semua ibu hamil akan ikut kelas pelatihan seorang ibu siaga, aku juga mau daftar."
David "Tentang apa saja."
"Kurang lebih seperti pengetahuan umum untuk merawat bayi."
Mendengar itu, David terdiam mematung sangat lama. Pandangan dia mengarah ke kardus di atas lemari bukunya itu dan berkata.
"Aku rasa itu tidak akan digunakan."
Julietta melihat ke arah pandangan David. Julietta menjadi tidak ada ekspresi dan bicara.
"Kamu jangan bilang sudah memutuskan untuk kasih anakku ini ke orang lain."
Pikiran David sudah mulai memikirkan ide beberapa calon orang yang diinginkannya, di saat sedang sedikit bingung dia berpikir beberapa saat lalu menjawabnya. "Belum diputuskan."
Julietta mulai merasa sangat khawatir dengan anaknya ini nanti.
Julietta sedikit ragu ragu beberapa hari dan akhirnya memutuskan mau mendaftar ke kelas pelatihan ibu hamil itu.
Kelasnya ada pilihan waktu, ada yang kelas pagi, ada yoga, ada perawatan ibu dan anak, berbagai macam pilihan kelasnya membuat Julietta sangat kebingungan. Tempat kelas pelatihan yang mau dia ikuti ini tidak begutu jauh dari rumahnya, hanya sekitar 3km, biaya kelasnya lumayan mahal juga, pesertanya juga sedikit terbatas, jadi mudah untuk Julietta mengikuti kelasnya itu.
David mau menjemputnya agar tenang, tapi ditolak olehnya. Bukan karena apa apa, tapi karena kemunculan dia sendiri saja sudah menarik perhatian banyak orang saat ini, kalau David juga ikut muncul disini pasti akan membuat fokus peserta lainnya menjadi kabur.
Dengan jarak yang tidak begitu jauh itu, paman supir selalu mengantar dan menjemputnya sudah sedikit aneh, apalagi kalau kemunculan David hanya akan membuat Julietta semakin dibicarakan oleh banyak orang disana.
Agar David mau setuju menurutinya, Julietta selalu bersikap dengan baik dan manis, dia menjadi sedikit manja dan sesekali berinisiatif untuk menciumnya. Akhirnya dia berhasil mendaftar kelas itu dan berbaur di tengah tengah kerumunan orang.
Dia mengenakan pakaian training dan rambut panjangnya diikat tinggi ke belakang. Walaupun seperti ini, saat Julietta melangkah masuk ke dalam ruangan, tetap saja menarik banyak perhatian semua orang disitu.
Dia menyapa semua orang dengan sopan sambil tersenyum hangat. Perut ibu ibu hamil di dalam ruangan ada yang kecil dan ada yang besar, Julietta memilih berdiri di baris paling belakang, beberapa ibu hamil di sebelahnya sangat penasaran melihatnya terus dan menanyakan berapa usia Julietta, sudah hamil berapa lama.
Hanya dalam satu materi pelajaran, semua orang menjadi hangat dan memanggil Julietta mama muda, dan juga dia diajak minum teh bersama mereka lain kali. Ibu hamil berusia 30an disebelahnya bertanya lagi. "Suami kamu kerjanya apa."
Julietta melamun sebentar lalu menjawabnya "Hanya programmer biasa."
"Hahaha, kamu jangan bercanda, kamu punya penampilan seperti ini, gaji karyawan biasa mana ada yang cukup memghidupi kamu."
__ADS_1
Julietta tersenyum dan tertawa kecil "Kurang lebih bisa kok, kita juga menabung sedikit."
Para ibu hamil itu datang untuk belajar dan juga untuk membangun relasi. Suami mereka setidaknya memiliki pekerjaan yang bagus dan saling kenal satu sama lain, nanti kedepannya setidaknya bisa saling membantu dan bagi semuanya adalah hal yang cari yang menguntungkan saja, tapi hanya Julietta yang bicaranya aneh, walaupun mereka penasaran, tapi Julietta menjaga rahasia pribadi dia dengan sangat baik.
Mereka melakukan meditasi dan meregangkan badan dengan pelatih, memang membuat hasil yang bagus. Akhir akhir ini Julietta menjadi lebih nyaman dengan tubuhnya, bahkan jumlah David dimarahi olehnya juga berkurang jauh.
Untungnya ibu hamil lainnya juga tahu batas, bagaimanapun juga mereka semua adalah orang berada yang berpendidikan, sebelum mengetahui jelas informasi tentang Julietta, tentu saja mereka tidak berani bicara macam macam dan takut membuat dia tersinggung atau marah, kalau seperti itu akan terlihat mereka sangat kasar.
Tapi dihari ini. Saat keluar dari rumahnya, angin dingin langsung berhembus dan membuat Julietta kedinginan. Dia menengadahkan kepalanya dan melihat cuaca yang sedang mendung, langit berwarna abu abu dan ada beberapa lapis awan hitam yang bergerak, ramalan cuaca hari ini tidak bilang hujan tapi Julietta sudah merasakan cuaca lembab sebelum hujan.
Sudah diduga, kelas baru dimulai beberapa menit, hujan sudah mulai terdengar dari jendela, tetesan air hujan mengalir di jendela. Di saat jam istirahat, pelatih meminta semua orang yang perlu untuk menghubungi mobil jemputan, atau dinperusahaan yang ada karyawan bisa mengantarkan mereka pulang.
Ibu hamil disebelahnya adalah istri bos juga, pergi dan pulang kerja ada mobil pribadi yang selalu mengantarnya, tentu saja dia tidak khawatir. Dia duduk selonjoran di atas matras yoga dan melihat Julietta yang juga sedang duduk santai lalu dia bertanya.
"Kamu nanti pulangnya bagaimana."
Julietta tidak mau menjelaskan terlalu banyak. "Nanti ada orang yang sekalian lewat kesini jemput aku pulang."
"Waduh, dia bisa diandalkan tidak, apakah perlu supir keluarga aku yang antar kamu pulang."
"Itu tidak perlu tidak perlu, makasi." Julietta melambaikan tangannya.
Ibu hamil yang duduk di baris depannya ikut bicara "Ada supir memang enak ya, walaupun suami aku adalah manajer level tengah, tapi dari dulu selalu menyetir bawa mobil sendiri."
Mereka saling berbicara dan basa basi juga sekalian memberitahu model mobil pribadi keluarganya, tentu saja mereka juga saling memuji. Julietta hanya tersenyum mendengarnya.
Semua peserta kurang lebih sudah menghubungi jemputannya, pelatih juga sudah kembali masuk ke dalam kelas dan mulai lanjut. Lalu disaat ini ada satu HP yang tiba tiba berbunyi dan menarik perhatian semua orang di kelas itu. Mereka saling melihat satu sama lain dan menanyakan HP siapa itu.
Julietta mengeluarkan HP dari tasnya dan berdiri di ujung pojokan baris belakang. Suara David dari telepon itu terdengar.
"Ya kenapa tiba tiba telepon aku."
Ruangan menjadi sangat hening, sangat jelas beberapa ibu hamil sangat penasaran dengannnya, mereka semua sudah memasang telinga dan membuat Julietta sedikit tidak nyaman.
"Aku sudah pulang kerja, sekalian mau jemput kamu."
Setelah bicara, Julietta langsung meniolak dengan menajwabnya. "Tidak perlu, bukankah sudah ada paman Edi."
"Tomy dan yang lainnya bilang mau makan bersama."
"Jadi Antar aku kesana."
Untuk menghindari banyak omongan, lebih baik kalau David jangan kesini. Tidak perduli apakah identitas bos besar Aquarius terbongkar, atau membuat mereka penasaran dengan David, semuanya hanya membuat Julietta lelah dan bosan untuk menghadapinya.
Julietta hanya ingin mengikuti kelas ini dengan tenang dan malas mengurusi urusan lainnya. Setelah telepon dimatikan, Julietta memutar badannya dan melihat ke beberapa pandangan yang menatapnya.
"Siapa itu, suami kamu yah."
"Apa jangan jangan kekasih kecil kamu ya hahaha maaf bercanda."
Julietta duduk di atas matras yoga dan menjawabnya. "Tidak ada apa apa, hanya suami aku."
"Suami kamu seperti apa, ada fotonya tidak, aku penasaran sekali."
__ADS_1
"Dengar dari suaranya sepertinya sangat muda."
Julietta melambaikan tangannya. "Dia tidak suka difoto, di HPku juga tidak ada foto dia sama sekali, masf."
"Foto bersama juga tidak ada."
"Tidak ada."
Julietta menolak dengan sangat cepat, membuat mereka sedikt kecewa dan semakin penasaran tapi juga tidak bisa bicara apa apa lagi. Setelah kelas selesai, di lobi lantai satu sudah ada beberapa pria yang berdiri sambil memegang payung. Julietta berdiri terdiam di tengah lobi utama dan langsung ada beberapa orang melihatnya. Paman Edi juga terlihat berdiri di ujung lobi memegang payung dan memanggilnya setelah melihat Julietta.
Julietta bicara "Ayo kita pulang,"
"Baik."
Paman Edi memegang payung untuknya dan diusahakan payungnya sedikit dimiringkan ke arah kepala Julietta untuk melindunginya dari air hujan, tapi juga tetap menjaga jarak dengan sopan.
Julietta tidak juga menyangka mobil Cadillac One nya itu stand by tepat di depan persis gerbang pintu utama, sebenarnya dijalur ini tidak boleh ada mobil yang berhenti disitu, tidak tahu paman supir ini bagaimana bisa mendapat izin dari penjaga pintunya. Mungkin saja mobil mewah ini akan dilihat oleh para wanita yang semuanya penasaran itu
Julietta merasa rencananya tiba tiba berantakan, dia menghela nafasnya dalam hati, tapi sekarang mau bilang apa juga sudah telat, mau tidak mau naik masuk melangkah dan duduk di kursi belakang yang dibukakan supir. Mereka yang melihat mobil itu yang stand by di depan itu adalah mobil mewah seharga miliaran, melihat Julietta yang naik masuk ke mobil itu, para wanita menjadi terkejut dan sedikit iri. Mereka ini adalah orang yang pintar, bagaimana mungkin bisa mengira paman Edi adalah senior di keluarga Julietta, saat menghubungi Julietta juga ditutup tutupi, dan juga tidak pernah mau memberitahu identitas dan penampilan suaminya, mereka jadi berpikir macam macam.
Di komunitas mereka itu membahasnya, dalam pikiran mereka suami istri itu main sendiri sendiri, ada yang selingkuh dan berbagai macam lainnya juga sangat banyak, Julietta bisa jadi dia itu selingkuhan orang penting juga karena sangat cantik dan masih muda, tapi tidak berani ditunjukkan diluar. Dipikir seperti ini, ketidakseimbangan dalam hati juga sudah menjadi seimbang. Menjadi selingkuhan atau simpanan suami orang lain, sekaya apapun juga hanyalah menjadi wanita yang tanpa status, setiap saat mungkin akan bisa dibuang.
Saat Julietta naik ke mobil, dia langsung terkejut, ternyata ada David yang sedang duduk dikursi belakang juga.
"Kamu kenapa ikut datang."
David menjawab santai "Mau lihat saja apakah ada pria lain."
Julietta "Apakah kamu kalau tidak aku pukul dan cubit satu harian aja, badan langsung tidak enak."
Julietta memang mau melihat pria dewasa lain, tapi wajah David yang ganteng seperti ini sudah dilihatnya setiap hari, bahkan artis TV juga tidak sebanding dengannya, Julietta dulu sesekali bisa tergoda sekilas, sekarang lihat pria lain seperti apapun juga tidak ada muncul perasaan apa apa. Siapa yang suruh wajah David ini benar benar ganteng.
Julietta mencubit dagu David "Pekerjaan di kantor hari ini bagaimana."
David tiba tiba menghela nafasnya "Tidak begitu bagus."
Julietta "Ada masalah apa."
David "Tumis ayam jamur di kantin, sangat tidak enak hari ini."
Kalau dia adalah koki di kantin, mungkin dia akan menangis mendengarnya. Kenapa David ini semakin pemilih makanan, jelas jelas dulu dia melewati hari hari dengan makan mie instan dan makanan ringan, sudah diduga seleranya sudah terbiasa dimanjakan oleh Julietta.
Saat berkumpul dengan Tomy dan yang lainnya di restoran, di tengah tengah Julietta merasa tidak enak badan, perutnya tiba tiba mual dan mau muntah, maka David langsung mengajaknya pulang. Di perjalanan, Julietta bersandar di bahu David dengan lemas. Mereka berdua akhir akhir ini jarang bertemu. David sangat sibuk bekerja, Julietta sibuk merawat kandungannya, sesampainya dirumah, setelah mengobrol beberapa saat, Julietta sudah mulai mengantuk, dia berbaring di ranjang dan tidak lama kemudian langsung terlelap tidur.
Bulan terus berjalan dan semenjak hamil itu, David selalu membuat Julietta khawatir, apakah dia benar benar tidak mau punya anak, apakah tidak suka anaknya. Ayah kandung siapa yang akan mempersiapkan kardus untuk anaknya dan memilih keluarga yang baik untuk anaknya. Duduk di sofa dengan kedua kaki Julietta diletakkan diatas paha David sebelahnya itu.
David bertanya "Kenapa, sabar masih beberapa bulan lagi."
"Aku sangat ingin makan masakan kamu."
Julietta "Kamu bisa pikirkan yang lain tidak, selain makanan."
Ini membuat dia selalu curiga apakah dirinya hanya dianggap sebagia koki pribadi oleh David.
__ADS_1
David "Oh iya, aku sudah hampir putuskan keluarga yang paling tepat."