Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
55


__ADS_3

Julietta yang sedang makan kue bersandar dipintu, bahunya ditekan dan didorong masuk kemobil, Julietta bingung dan bertanya.


"Kenapa tiba tiba mau naik mobil"


Walaupun diluar sedikit dingin tapi pemandangannya sangat bagus, Julietta rencana mau foto foto. David hanya mendorongnya dan memintanya naik ke mobil dia berkata "diluar dingin"


Julieta didorong masuk kemobil kebingungan, duduk dikursi belakang, David menutup pintunya dan meninggalkan Julieta sendirian didalam mobil, sepertinya David menelepon seseorang. Mungkin ada urusan penting. Julieta lanjut makan kue, mungkin karena gigitan pertamanya sangat manis, Julietta makannya sangat cepat, hanya beberapa suap kuenya habis. Setelah David menelepon dengan cepat agar kembang api yang dia pesan jangan dipasang, dia membuka pintu dan melihat Julietta sedang mengelap bibirnya dengan tisu. Dia lihat ditangan Julietta hanya satu piring kosong tanpa kue.


David terdiam kaku diluar mobil, satu tanganya memegang pintu mobil, kakinya menginjak salju dan gemetar, sangat dingin, tapi sesaat dia tidak tahu siapa yang lebih dingin. Merasakan ekspresi David seperti ada sesuatu yang tidak beres, Julietta bertanya "kenapa"


David terdiam dengan aneh, kalau dia tidak salah ingat, berdasarkan permintaanya, cincinnya seharusnya diletakan ditengah tengah krim kue, disendok dua kali krimnya maka akan terlihat cincinnya. Mereka berdua sangat hening dan sumber keheningan ini adalah David yang membuat Julietta bingung.


Julietta "sebenarnya ada apa, kenapa kamu kelihatan ada yang tidak begitu beres"


David lagi lagi terdiam, disaat Julietta sudah tidak sabar, David akhirnya bicara. "Saat makan kue kamu tidak merasakan yang tidak beres"


Ditanya seperti ini, Julietta langsung bingung


"Maksudnya apa, apa jangan jangan kue tadi sudah rusak"


"Bukan masalah kuenya"


"Jangan jangan masalah kotaknya"


"Aku letakkan cincin berlian didalam krimnya"


"Didalam kuenya"


Julietta melamun sebentar dan pikirannya kosong "maksud kamu aku makan satu cincin berlian, tunggu, harga cincinnya berapa"


"Beberapa milyar"


Julietta terkejut dan langsung melambaikan kedua tangannya.


"Ayo jalan, cepat bawa aku kerumah sakit, mumpung belum telat, mungkin saja minum obat cuci perut masih bisa dikeluarkan"


"Ayo cepat, aku dijual juga tidak seberharga cincinnya"


Julietta mengingat beberapa milyar, dia pusing hampir mau menangis. Dia meminta David cepat naik mobil, diirnya tetap duduk dikursi belakang memegang perutnya, hatinya diam diam berkata semoga masih sempat. Mobil dinyalakan, David mengendarai mobil tanpa bersuara. 


Dalam pikirannya, seharusnya hal yang romantis, disaat ini semuanya berubah. mengingat sebentar lagi cuci perut akan tidak enak, dan juga harus bayar dirumah sakit, Julietta semakin pusing, sesaat dia tidak tahu harus kasihan dengan uang atau kasihan dengan dirinya.


Sekejap mobil menjadi hening, mereka berdua satu duduk didepan dan satu duduk dibelakang, Julietta menatap belakang kepala David, tidak perlu dilihat juga bisa dibayangkan David pasti lagi pura pura tenang, tiba tiba Julietta tertawa.


"Aku benar benar salut sama kamu, kenapa bisa memikirkan ide sekuno ini"


David memegang setir mobil dengan fokus beberapa saat dan menjawabnya "belajar"


"Kamu sebenarnya belajar dari siapa"


Setelah terkejut, hati kembali menjadi tenang, Julietta sudah bersiap siap perutnya dicuci dirumah sakit. Disaat ini dia mengingat kembali perbuatan David, dan dia teringat sesuatu dan bertanya lagi.


"Jangan jangan tadi kamu mau kasih aku kejutan, jangan jangan kembang api"


David "tidak"


"Tidak disangka tebakanku benar semua"


Kejutan kembang api dan cincin berlian dalam kue, benar benar terlihat seperti bos yang keren, sayang sekali rencana gagal, dan malah harus kerumah sakit. Kejadian seperti ini mungkin Julietta tidak bisa memikirkannya. Julietta memegang perutnya, dia tertawa kecil tidak bisa berkata apa apa, 


Julietta melihat pemandangan diluar jendela suaranya tiba tiba menjadi pelan dan rendah "sebenarnya tidak perlu pakai cincin berlian atau kembang api, aku tidak cinta uang seperti yang kamu bayangkan"


Walaupun diluar terlihat omong kosong , memakai baju bermerek adan bilang ini itu mahal berharga tinggi tapi sebenarnya Julietta tidak begitu mengejar uang, uang cukup ya sudah cukup, kalau benar benar pakai cincin berlian akan selalu khawatir takut rusak dan takut bilang.


"Aku bukan berpikir seperti itu"


Sambil menyetir David berkata lagi "Kalau uang bisa membuat kamu tetap tinggal bersamaku, mungkin aku tidak akan khawatir sampai tidak bisa tidur, takut kamu kabur lagi"


Julietta terkejut menatap David.

__ADS_1


"Juga tidak akan menunggu tiap tengah malam diruang tengah dirumah, takut kamu kabur"


"Saat dikantor, selalu takut kalau pulang tidak lihat kamu, akan sendirian lagi"


"Aku bisa saja pakai cctv dan gps untuk lebih mudah, tapi aku tidak pernah memikirkannya untuk menggunakannya dikamu, disatu jam yang lalu, walaupun itu adalah pertandingan yang paling memiliki tantangan, aku juga tidak pernah memiliki emosi yang tidak tenang seperti itu" satu tangan David memegang setir mobil dan terdiam sebentar.


"Kalau menyukai seseorang bisa semudah membuat program akan sangat bagus, mungkin aku bisa menemukan bug, memecahkan firewall kamu, dan menanam virus yang membuat kamu tergerak kepadaku"


Suhu yang panas perlahan lahan membakar pipi Julietta dan panasnya mengejutkan, sampai membuat hati Julietta meleleh. Dia tidak menyangka orang seperti David ketika mengucapkan kata kata romantis, sangat menyentuh hatinya.


Dalam Mobil kembali menjadi diam, secara samar samar bisa mendengar suara roda menggilas salju diluar, seperti suara firewall Julietta yang lapis demi lapis dihancurkan.


Tadianya dia mengira di antara mereka berdua, dirinya berada ditempat yang tidak diuntungkan, takut dilukai dan tidak berani melukai, tidak berani inisiatif berkorban, Mulut bilang mau mencoba, tapi hatinya menciut, walaupun David diluar cangkangnya yang keras beberapa kali mencoba, tapi tetap berpura pura tidak tahu apa apa dan terus memperhatikan tidak tergerak, pandangan Julietta tertuju ke lututnya, dia mengepalkan tangannya dan terlihat tidak tenang.


"Sebenarnya.."


Dret dret dret HP David tiba tiba berbunyi dan ditekan olehnya. Dia menggenggam HP dengan kaku dan beberapa saat bertanya dengan seedih "Sebenarnya apa"


Sebenarnya Julietta tidak bisa menyukainya, sebenarnya Julietta sudah menyukai orang lain, sebenarnya apa.


"Kamu angkat teleponnya dulu" Julietta masih mengepalkan kedua tangannya dan menghindar dari topik.


Seperti siput yang bersembunyi dalam cangkangnya dan diam diam melihat keluar jendela, sedikit ada pergerakan, dia akan langsung masuk kedalam, diketuk seperti apa juga tidak akan mau keluar. 


Ditempat yang tidak terlihat Julietta, ekspressi David menjadi muram gelap. Walaupun seperti ini, ekspresi dimukanya dan nada suaranya tetap tenang seperti biasa. Dia menelepon balik ke penelepon yang tadi dia tolak.


Telepon itu dari manajer hotel, nada suaranya sangat sedikit panik "Bos salah ambil kue, kue itu didalamnya tidak ada cincin, hal seperti ini juga bisa salah, aku sudah meminta koki penanggung jawab untuk membereskan barangnya dan pergi"


"Cincinnya ada dikamu" David memotong pembicaraannya.


Manajer hotel menjawab "iya iya ada dihotel, anda tenang saja, aku jaga dengan baik, pasti tidak akan hilang"


Suara David yang sangat tenang dan pelan itu, membuat manajer hotel tidak tenang "Bos, anda mau hukum silahkan hukum, tidak bisa mengawasi dengan baik, juga tanggung jawab aku, aku.."


"Kamu tidak perlu pergi"


"Panggil kokinya kembali juga, bulan ini gaji dia dua kali lipat"


Yang menjawabnya hanya suara tut tut tut, bosnya sudah mematikan teleponnya. 


Didalam mobil yang sangat hening, Julietta yang duduk dibelakang mendengarnya dengan sangat jelas. Hati dia sangat rumit, tadi perut yang dipegangnya sangat berharga, sekarang sudah sama sekali tidak ada harganya, seperti hanya berharga daging yang beberapa kilo, dia tertawa sendirian.


Jadi  tidak perlu kerumah sakit untuk cuci perut, bagi Julietta sudah menjadi hal yang sangat baik. Mereka berdua duduk didalam mobil dengan suasana yang terus diam dan canggung. Suasana yang indah dihancurkan dengan utuh, disaat seperti ini kalau lanjut menyatakan perasaannya, benar benar hanya membawa bencana. Julietta melihat keluar jendela dan berkata.


"Ayo jalan, perutku sudah lapar"


"Mau pergi kerestoran itu"


"Tidak perlu"


Julietta benar benar sedikit takut, takut kalau David memberikan kejutan yang aneh lagi. Pelajaran dimalam tahun baru kemarin dia hampir naik pesawat kekota lain itu Julietta masih mengingatnya, dia merapatkan bibirnya dan berkat.


"Berikutnya hal seperti ini lebih baik bilang dulu, aku tidak berharap untuk membuang buang waktu dan tenaga lagi"


Kalau masih ada berikutnya, David menjawab dengan anggukan, tidak tahu hati David sekarang bagaimana. Mobil berjalan dengan pelan, diperjalanan saat berangkat masih mengobrol beberapa saat, diperjalanan pulang sudah berubah menjadi dua orang yang bisu, siapapun tidak ada yang bicara. Sikut Julietta bersandar dijendela mobil, langit diluar sudah gelap, dan ada beberapa bintang yang bersinar, cahaya yang tenang walaupun sedikit tapi juga terus berusaha memancarkan sinar miliknya. Bibir Julietta tanpa sadar sudah tersenyum.


Sesampainya dihotel, mereka berdua tidak ada yang membahas kejadian tadi, tamu diprasmanan hotel tidak banyak, mereka. berdua makan dengan diam, Julietta bisa merasakan dengan jelas berkurangnya porsi makan David. Tidak disangka dia hanya makan satu macam makanan utama, benar benar seperti turun hujan berwarna merah, tidak masuk akal. Mereka berdua jalan dikoridor menuju kamar dengan diam dan masuk kekamar masing masing.


Sekarang masih agak sore, masih ada beberapa jam, tahun ini benar benar akan terlewati lagi, mungkin menonton acara  hiburan diTV bukan pilihan bagus, Julietta keluar kamar dan melihat David juga sedang keluar dari kamarnya.


"Itu"


"Ini"


"Kamu bicara dulu"


"Kamu bicara dulu saja"


Julietta tersenyum "kita sejak kapan sekompak ini"

__ADS_1


David ,menolehkan mukanya dan tidak memjawabnya lalu dia berkata dengan pelan "sudah malam tidur"


Julietta maju melangkah berjalan kedepan David, kepalanya lebih pendek dari David. David tidak berbicara, dengan pandangannya dia bertanya ke Julietta mau apa. Pandangan Julietta sangat yakin, tapi telinganya memerah.


Julietta membuka kedua lengannya dan dengan malu dan canggung berkata "aku ijinkan kamu peluk aku 15detik saja, tidak boleh dito.."


Belum selesai bicara, ucapannya langsung dipotong oleh David yang memasukkan Julietta masuk kepelukan yang asing tapi terasa tidak asing juga. Kedua lengan yang bertenaga memeluknya dengan erat, seperti takut Julietta kabur, membuat Julietta merasa tidak enak dan mulai bergumul sebentar, tapi pelukannya semakin erat.


Nafas dari hidungnya adalah nafas David yang harum dan juga ada rasa dingin dari salju, tapi perlahan lahan melumer dan menyelimuti kulitnya yang panas. Pipi Julietta merona, ini membuat dai semakin menggoda dan lucu.


Julietta "Kita coba dulu, sepertinya masih ada harapan"


Hanya mungkin, Julietta tidak seharusnya menolaknya terlalu cepat, siapa yang tahu nanti akan terjadi seperti apa. Dari atas kepalanya terdengar jawaban dari David yang murung dan serak baiklah. Lagi lagi terdiam.


Julietta "sudah lewat 15detik, kamu cepat lepaskan"


"Belum"


Julietta dipeluknya semakin erat "masih ada 10detik"


Masih ada satu hari lagi baru pulang, Julietta terus merasa sedikit aneh, mengingat 15detik yang panjang kemarin makam, tiba tiba Julietta tidak berani keluar kamar bertemu David, takut David memeluknya lagi dan tidak dilepaskan.


Dia duduk dengan tenang melihat jam dimeja yang sudah hampir bergerak kesiang hari, dari pintu terdengar suara ketukan dan terdengar suara David yang lesu dari luar pintu 


"kamu mau makan tidak"


"Mau. Aku ganti baju duku"


"Koki buat pangsit daging, sebentar lagi akan diantar"


"Paham paham"


David tidak bersuara lagi, sepertinya sudah jalan jauh dari pintu, Julietta diam diam berdiri dan memegang lemari dan diam diam mengangkat bajunya seperti pencuri, walaupun juga dia tidak tahu kenapa harus diam hati hati seperti ini. Dia berdiri dengan tegak dan dengan pelan dia mengangkat celananya disaat ini terdengar suara David lagi.


"Jangan jangan kamu sedang gugup"


Gubrak, Julietta tidak berdiri stabil dan pantatnya terjatuh kelantai.


"Diam" Julietta berteriak dari dalam kamar.


Baik, dia hanya sedikit terburu buru, aslinya Julietta jomblo bertahun tahun dan tidak punya pengalaman pacaran, dia yang dari dulu kuat, takut didepan David yang terlihat lemah, sudah semalaman juga belum tahu harus bagaimana menghadapi David. Tidak berapa lama kemudian pkkiran Julietta sudah terbuka.


Julietta hanya tersentuh beberapa detik, yang memeluknya dengan erat adalah David, dirinya tidak perlu takut apapun. Setelah Julietta sikat gigi dan cuci muka dia keluar kamar. David sudah menunggu di meja makan. Dia membuka dua penutup piring dan duduk dikursi.


"Makan pangsit"


"Oh baik"


Saat makan, mereka beruda sudah lupa dengan hal lain, dengan harmonis mereka berdua makan. Julietta mencocol dengan sedikit sambal dan satu pangsit yang besar dimasukan kedalam mulutnya, kulit pangsit yang tipis dan isinya banyak, rasanya sangat enak dan membuat Julietta makan dengan lahap. David yang duduk disebrangnya makannya lebih lambat dari biasanya.


Julietta meliriknya dan bertanya "kenapa, tidak enak"


David menjawab dengan anggukan dan berkata "tidak seenak buatan kamu"


Tiba tiba dipuji dan dibandingkan dengan koki hotel, hati Julietta sedikit bahagia, selanjutnya David berkata dengan serius.


"Nanti pulang aku mau makan pangsit buatan kamu"


"Baik baik"


"100biji"


Julietta "kamu lebih baik makan amgin saja"


"80 biji juga boleh" David mulai menawr.


"Kamu bilang lagi,,aku suruh kamu makan mie instan seminggu penuh"


David lanjut menjawab "mie instan dengan lauknya pakai banyak daging"

__ADS_1


Benar benar tidak ada obat. Setelah makan, mereka berdua keluar jalan jalan. Mengingat ketakutan saat main lempar bola saju, Julietta menahan keinginan bermain bola salju, siapa tahu apakah pria ini memiliki semangat untuk berkompetisi dan membuat pertandingan jadi utama dan cinta nomor dua.


__ADS_2