Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
98


__ADS_3

David megeluarkan wajah minta dikasihaninya dan terus memanggil namanya dengan sangat lembut, sampai hati Julietta menjadi penuh kasihan. Julietta bicara lembut. "Aku sudah hitung, hari ini masih dalam periode aman, seharusnya tidak apa apa."


Sesekali juga tidak akan sampai kena. Julietta yang berinisiatif mengajaknya membuat David ragu ragu sebentar. Disaat ini, Julietta menarik leher David dengan kedua tangannya dan mencium bibirnya lalu dia berbisik.


"Kamu bisa dorong aku dan kita berdua lanjut tidur."


David menelan saliva nya dengan kesulitan, mengatur nafasnya.


Keesokan harinya, akibat dari inisiatifnya adalah, dari sekumpulan orang yang mau memetik Srobery itu, David dan Julietta berhasil izin tidak ikut. Alasan Julietta adalah tamu bulanannya di hari pertama ini jadi badannya tidak enak, hanya mau berbaring di kamar tidur untuk istirahat.


Weni datang melihatnya sekilas, Julietta sedang berbaring di dalam selimut, sementara David menuangkan air untuknya. Weni mempercayainya dan meminta dia untuk istirahat saja. Mereka pasti akan membawa buah strobery yang banyak.


Setelah Weni pergi, Julietta memukul mukul David sekuat tenaga. Tapi tenaganya yang tidak besar itu tidak berasa apa apa bagi David membuat David itu tidak kenapa kenapa dan malah bertanya nanti mau makan apa. Julietta benar benar salut dengan dia yang hanya perduli dengan makanan.


Agrowisata dua hari satu malam itu, Julietta berhasil mendapatkan dua jenis buah strobery yang sangat banyak. Yang satunya penuh di badannya dan yang satu lagi ada satu keranjang di bagasi mobil.


Mengingat besok masih harus ke kantor bekerja, mood Julietta menjadi buruk, terkadang dia menatap David dengan matanya yang tajam dan benar benar lupa kalau kemarin malam jelas jelas dia sendiri yang berinisiatif. Menerima tatapan maut selama perjalanan, ekspresi muka David terlihat tidak bersalah,


Setelh beberapa hari, Julietta sama sekali tidak merasakan badannya kenapa kenapa, lalu hal ini sudah dilupakannya. Disaat dia menyadari seriusnya masalah ini, semuanya sudah terlambat nantinya.


Dia mengira awalnya tekanan akhir akhir ini terlalu besar di kantor jadi sistem endokrinnya tidak lancar, Julietta pergi ke rumah sakit untuk diperiksa, tapi dokter malah melihatnya dengan bingung dan memintanya untuk memeriksa yang lainnya. Setelah hasil pemeriksaan keluar. Julietta duduk sendirian di kursi tunggu sambil melamun, sampai David datang membawa dua botol air mineral.


David bertanya "Bagaimana, badan kamu masih tidak enak ya."


Julietta menggelengkan kepalanya dan memberikan hasil pemeriksaanya kepada David. David mengambil selembar kertas itu lalu membacanya. Dia terdiam dan mematung, setelah beberapa menit, dua botol air itu terjatuh di lantai dan menggelinding sangat jauh.


Mereka berdua terlihat sangat sedih, terutama David sebagai suaminya sama sekali kelihatan tidak senang, membuat perawat mengira kehidupan suami istri mereka sangat hancur, lalu dengan sopan dia meminta mereka untuk pulang dan berpikir matang matang.


Julietta yang belum ada rencana dan berpikir menjadi seorang ibu juga terkejut, tapi untungnya perasaanya sekarang tidak begitu besar. Di perjalanan pulang, dia malah menenangkan David dan memberitahunya, kalau tidak bisa menerima anak ini, maka digugurkan juga tidak apa apa.


Saat David keluar dari rumah sakit wajahnya selalu cemberut, saat sampai di rumah juga ekspresinya masih seperti ini, bahkan saat makan malam juga hanya makan sedikit, membuat Julietta mulai khawatir dan berpikir macam macam.


David mengelus rambut Julietta tanpa bicara di kamar tidur. Satu malam ini, David memeluk erat Julietta dan tidak bisa tidur. Ketidakberesan David ini juga dirasakan oleh orang lain di kantor. Saat kerja, saat sedang rapat, tapi David terlihat seperti memikirkan hal lain, dia membiarkan Andi bicara setengah, lalu presentasinya di laptop itu beberapa saat tidak bergerak. 


David sedang menatap ponselnya dengan fokus, tidak tahu sedang melihat apa. Orang lainnya terkadang diam diam melirik ke David, semua orang berpikiran sama kalau proposal Andi ini ada masalah, bahkan Andi juga mencurigai dirinya sendiri.


Kalau mereka semua saat ini melihat ponsel David, maka mereka akan melihat beberapa judulnya diatasnya yaitu, 


Bahayanya Aborsi, 


Alur melahirkan secara normal dan operasi sesar,


Pengaruh melahirkan anak terhadap wanita, Bagaimana cara megurangi bahaya melahirkan anak terhadap wanita,


Wanita bersedia melahirkan anak atau tidak, dan masih banyak lagi lainnya, bahkan topik seperti Operasinya setelah melahirkan seperti apa, juga tidak sedikit yang sudah dibacanya selama di ruang rapat itu.


David menundukan kepalanya dan melihat sangat lama. Otak dia memikirkan ekspresi Julietta saat duduk di rumah sakit memegang hasil pemeriksaan dan melihat David dengan tidak tenang. Dia merasa kalau Julietta di belakangnya gugup, terkejut dan bingung, tidak ada rasa takut, pasti dia sangat menginginkan anak ini.

__ADS_1


Andi selesai bicara dan duduk menunggu tanggapan dari David. Dibawah tatapan banyak orang, muka David tidak ada ekspresi, dia menutup laptopnya dan badan semua orang juga ikut sedikit tegang gemetar. David terdiam beberapa saat. Seperti memutuskan satu hal yang sangat sulit, dia merubah posisi duduknya menjadi tegak lalu bicara. 


"Lahirkan."


Kalau Julietta memang mau, Orang lainnya di ruang rapat itu saling melihat heran kebingungan.


Melahirkan anak adalah hal yang besar.  Julietta tidak menyangka David akhirnya mau menerima anak ini. Dia mengelus perutnya yang masih rata dan belum merasakan jadi seorang ibu, tapi David sudah mulai melakukan persiapan untuk anaknya yang masih di dalam kandungan selama 9 bulan ini.


Dia membeli setumpuk buku dan diletakkan di dalam lemari buku dalam ruang kerjanya. Julietta bosan dan melihat lihat, lalu dia melihat di baris tengah selain ada buku ibu dan anak, ada juga beberapa buku cerita mitos dan cerita rakyat dan juga ada beberapa buku yang aneh berjudul seperti Daripada merawat anak lebih baik merawat kucing, Pendidikan Sparta, Anak itu sendiri juga harus penurut.


Julietta terdiam heran memandang judul judul buku aneh itu, lalu dia melihat David mengeluarkan satu kardus kosong besar, setelah meletakkan lipatan kain sprei di dalamnya, menutupnya lalu dia meletakkan kardus itu ke atas lemari pakaian. Julietta memiliki perasaan yang tidak enak.


"Kardus itu untuk apa."


David menutup lemari dan menjawabnya "Nanti kalau kamu menyesal masih sempat."


Julietta tidak tahu harus bicara apa. Anaknya saja belum lahir, papanya sudah siap siap mau memberikan anak ini kepada keluarga lainnya.


Saat memikirkan kardus di atas lemari itu, Julietta mulai meraba mengelus perutnya dan mulai khawatir dengan kehidupan anaknya nanti. Malam hari mereka berdua berbaring bersama, dan David mulai menyentuh mau memeluknya. Julietta langsung mendorong  menahan mukanya dan membuat David tidak bisa bergerak.


Julietta "Kamu kan sudah baca buku, tapi tidak tahu kalau hamil di 3 bulan pertama dan 3 bulan terakhir harus hati hati, jadi lebih baik tidak boleh sekamar saja ya."


David mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa kali baru tahu kalau yang dibilang Julietta itu benar. David bicara. "Aku benar benar bodoh" lalu dia menghela nafas panjangnya.


Dia merasa kalau demi keinginan sejenak dan menghancurkan kebahagiaan di kehidupan baru nantinya, ini adalah investasi yang paling merugikan yang pernah dia putuskan dibuatnya. Mata dia memantulkan penyesalan dan keputusasaan.


Julietta hampir saja mau tertawa lepas. Mulai malam ini, kehidupan dingin David akan dimulai. Dia berbaring lurus di ranjang, kalau bukan karena dadanya yang masih bergerak naik turun, Julietta hampir mengira kalau David memiliki kemampuan untuk memutuskan nadinya dan mau memukulnnya untuk bangun menyadarkannya lagi.


David "Aku mau keluar baca buku dulu."


Julietta "Kamu yakin sudah jam segini, belum ngantuk?"


Yang menjawab dia adalah bayangan punggung David yang kesepian. 


David akhir akhir ini mulai membaca beberapa buku yang aneh aneh lagi, di saat yang bersamaan moodnya juga menjadi bertambah sangat buruk, hampir bisa dibandingkan dengan 1/3 saat Julietta pergi menghilang dari dunianya.


Membuat orang lain di kantornya ketakutan dan menghindar berbuat salah. David dari dulu tidak memilki kebiasaan memarahi orang, dia hanya akan menatap tajam orang itu secara langsung beberapa detik tanpa bicara apa apa. Dengan tatapan itu saja sudah cukup membuat semua orang gemetar ketakutan. Perasaan ditatap tajam oleh bos besar David itu benar benar menakutkan mereka.


Tomy akhirnya tidak tahan dan meminta Weni untuk tanya ke Julietta ada apa sebenarnya. Julietta masih belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu yang lainnya kalau dirinya sedang hamil.


Dia minum teh sore dengan Weni dan mereka mengobrol sangat lama, dia tidak minum kopi, tidak minum soda juga softdrink dan tidak minum yang dingin, bahkan gerakannya juga jauh lebih hati hati dari biasanya dan terkadang David juga tanya dia jam berapa mau pulang ke rumah.


Weni bercanda dan bertanya "Apa kamu jangan jangan sedang hamil."


Julietta sedikit terkejut "wah kok kamu tahu."


"As...Ta....Ga..." Weni teriak dan membuat semua orang di cafe itu melihat ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Jukietta menarik tangan dia dan bicara dengan pelan "Jangan kasih tahu orang lain dulu, aku masih belum ada rencana mempublikasikannya."


Weni menganggukan kepalanya dan mengedipkan sebelah matanya.


Sampai di malam hari dirumah.


Julietta menerima pesan suara dan video ucapan selamat di ponselnya  dari Tomy, Andi, Herman, Gisele, Marc dengan istrinya. Weni mengirim beberapa pesan kepada Julietta dengan rasa tidak enak.


"Aku bersumpah, aku hanya kasih tahu Tomy seorang saja."


Julietta memang hanya takut kalau Tomy tahu maka akan berisik. Mulut dia yang besar itu cukup untuk menyebarkan berita ke seluruh dunia. Tapi karena sudah diberitahu Tomy kesemuanya, jadi Julietta tidak perlu memberitahu lagi.


Disaat yang bersamaan, semua orang juga akhirnya tahu kenapa David tidak senang. Bagi orang lain, melahirkan anak adalah hal yang paling membahagiakan tapi bagi David, kesehatan tubuh Julietta yang paling penting.


David sudah menyewa seorang asisten pribadi khusus untuk Julietta, agar saat perut Julietta membesar nantinya, ada yang membantu dia merawatnya.


Julietta sedikit keberatan "Sebenarnya tidak separah itu."


David menjawabnya "Kamu sudah tidak ada orang tua, aku juga tidak punya, jadi ada banyak pengalaman yang harus diajari oleh orang yang lebih senior ke kita."


Sebenarnya yang David bilang itu benar, Julietta akhir akhir ini sudah mulai tidak mau melihat makanan. Makanan yang berminyak tidak bagus untuk badannya, dia sesekali membuatkan mie kuah untuk David, tapi kebanyakan David makan di kantin khususnya, dan tidak disangka dia juga meminta pakar nutrisi untuk bekerja di kantornya untuk membuatkan makanan sehat khusus untuk Julietta, satu gram kacang pun tidak boleh kurang. Ini membuat Julietta yang tidak ingin makan, malah menjadi makan yang banyak.


Setelah berdiri diatas timbangan, melihat angka diatasnya itu dia sangat tidak percaya. Dia mencubit daging di pipinya dan membesarkan matanya, dia sadar dirinya akan menghadapi krisis gemuk yang paling penting nantinya.


Julietta mulai menolak setiap hari untuk makan sebanyak itu, dan memberitahu David kalau ibu hamil yang gendut akan kesulitan saat mau melahirkan. David memberitahunya kalau makan makanan yang bergizi tinggi, kaya akan nutrisi itu tidak akan membuatnya gemuk.


Julietta bertanya "Aku seperti ini, kamu tidak merasa kalau aku sangat gemuk."


David "Gemuk sedikit juga tidak apa."


Satu detik kemudian pinggang David dicubit seperti biasa. Melihat Julietta yang sedang marah menghilang, David mulai berpikir. Apakah ini merupakan emosi yang ditunjukkan pada saat masa masa awal kehamilannya, sudah diduga, setelah bamil emosi Julietta menjadi semakin tidak normal. Yang David tidak tahu adalah, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hamil atau tidak.


Semua orang wanita yang bertanya seperti itu, maka hanya berharap pria menjawab kamu sama sekali tidak gemuk, dan bukan menenangkannya kalau gemuk sedikit itu tidak apa. David pasti tidak akan mengerti dengan perasaan Julietta ini. Oleh karena itu, dia juga tidak akan menyadari kalau dia sudah salah bicara.


Setelah lewat beberapa hari. Istri Marc mengajak Julietta bertemu, dia tersenyum melihat ke arah Julietta dan berkata "Kecepatan pertumbuhan anak ini sepertinya sangat cepat, kamu lihat perut kamu sudah mulai membesar."


Julietta mengelus perutnya dengan tenang dan pelan. "Ini sebenarnya adalah timbunan lemak."


Perutnya yang mulai membesar, mood Julietta setiap hari juga terus memburuk. Dia selalu merasa perutnya sangat besar, dan saat tidur juga tidak berani memutar badan, sesekali mau minta David memeluknya juga tidak bisa, ini semua membuat dia selalu kesal.


Hari harinya selalu dilalui dengan berjalan di ujung moodnya yang buruk setiap wakti dan akhirnya lumayan baik. David menunggu 3 bulan pertama ini terlewati, setelah jam 12 tengah malam, dia langsung mengulurkan lengannya dan memeluk Julietta dan mulai mencium dahinya, pipinya.


Julietta yang sedang tertidur bicara pelan "Ya, sedang apa."


David menjawabnya "Sudah lewat 3 bulan."


Julietta setengah bangun. "Aku tidak tertarik."

__ADS_1


David sedang menundukkan kepalanya dan duduk di ranjang sendirian, menghela nafas panjangnya.


Julietta baru mau memasuki masa kehamilan bulan ke empatnya, mood David juga ikut memburuk. Ibu hamil harus berusaha mengurangi efek radiasi, tentu saja harus mengurangi menyentuh komputer dan HP.


__ADS_2