
Hati Julietta menjadi tegang dan gugup setelah mendengar itu. Habis sudah, walaupun foto David sudah tidak tersebar di luar, tapi hampir semua petinggi dikantornya pernah bertemu dengan David.
Julietta baru mau menarik David keluar ruangan, tapi dia melihat ada satu pasangan yang baru masuk, seorang calon mama menggandeng suaminya, hubungan mereka berdua terlihat sangat mesra. Langsung ada peserta lain yang menyapa mereka, semuanya dijawab dengan sopan. Julietta baru mau menarik David jalan keluar, tapi dia dipanggil oleh ibu hamil yang tadi ketemu saat turun dari mobil.
"Kalian mau kemana, kelasnya sudah mau dimulai ini."
Suasana menjadi hening. Lalu, mereka melihat petinggi Aquarius itu menatap mereka berdua sambil tercengang. Setelah beberapa saat dia melangkah mendekati mereka, membungkuk memberi hormat dan menyapanya dengan sedikit gugup, perkataan dia membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Pak direktur, Nyonya, anda juga ikut kelas disini."
David dan Julietta hanya terdiam lalu menjawabnya dengan sedikit tersenyum.
Julietta berkata pelan ke David dengan putus asa.
"Aku salah perhitungan, aku dari awal tidak seharusnya mendaftar kelas yang isinya banyak orang, maka tidak akan terjadi keadaan canggung seperti ini dan identitas kita juga tidak akan terbongkar, dan juga kehamilan aku tidak akan diketahui oleh orang lain."
David yang duduk di kursi sebelah sedang memainkan boneka bayi plastik dengan sangat senang, dia mencubit perut silikonnya, tangan kecilmya dan mengabaikan semua pandangan orang lain. Julietta menarik lengan baju dia dan bertanya dengan pelan.
"Menurut kamu, apakah besok semua orang di kantor akan tahu kalau aku sedang hamil."
David "Aku kasih tahu kamu satu trik."
Julietta "Apa."
"Ancam saja dia kalau dia menyebarkannya maka dia akan langsung dipecat."
Mereka berdua saling menatap, Julietta tidak ada ekspresi, David masih mencubit cubit kaki kecil boneka bayi plastik itu.
"Kamu serius, kasihan."
"Bercanda."
Pelatih sedang mengajari semua orang kalau bayi tersedak, bagaimana cara mengeluarkan benda dari mulutnya dengan cepat dan aman. Sesuai dengan pengajaran dari pelatih, Julietta meletakkan boneka bayi secara tengkurap di atas pahanya dan menepuk nepuk pelan punggung boneka bayi dengan sedikit menggunakan tenaga. David melihatnya dengan serius.
Disaat sampai giliran pria yang mempraktekannya, David mengambil boneka bayi itu dan diletakkan di atas pahanya, lalu dia menepuk nepuknya dengan sangat pelan. Plakk.
Kepala boneka bayi dinpangkuannya itu copot dan langsung terjatuh di lantai dan menggelinding sangat jauh, sangat mengenaskan, membuat beberapa ibu hamul lainnya langsung terkejut berteriak. Julietta juga terkejut, dia langsung jalan mengambil kepala bayi boneka itu sambil meminta maaf ke semua.
Keadaan ini benar benar tragis, membuat Julietta merasakan bayi dalam perutnya menendangnya dengan keras seperti mau keluar dari kurungan menyesakkan ini. Julietta menatap tajam ke David.
"Kamu menggunakan tenaga sebesar ini mau buat dia mati."
"Sempat juga berpikiran seperti itu."
__ADS_1
Walaupun pelajaran kelas saat ini tidak sampai satu jam, tapi Julietta merasa ini sangat lama, setelah kelas selesai, Julietta langsung menarik David keluar sebelum orang lain datang biicara dengannya. David mengikutinya dari belakang dan berkata.
"Ganti pelatihnya saja."
"Aku tahu, aku yang dari awal tidak berpikir terlalu banyak, selalu berpikiran untuk tidak melepaskan diri dari kehidupan orang biasa."
Tapi Julietta selalu lupa kalau dia bukan orang biasa, orang lain yang mau bicara dengan dia saja harus berpikir pikir dulu. Dahulu kegiatannya hanya setiap hari pergi bekerja seperti biasa, setelah kerja pulang ke apartemen biasa yang tidak begitu besar, kalau butuh mereka akan beli sayur ke supermarket dan tidak akan mengeluarkan uang yang banyak. Angka selangit di dalam rekening banknya hanyalah angka bagi Julietta, karena seumur hidup ini dia juga mungkin tidak akan bisa menghabiskan satu angka nolnya, belum dipakai saja sudah bertambah terus angkanya.
Perut istrinya Erick jauh lebih besar dari perut Julietta, dengar dengar dia sedang hamil anak kembar, Julieta melihatnya merasa iri tapi juga takut. Berpikiran di dalam perutnya terdapat dua bayi, Julietta langsung berpikiran macam macam, mendengar suara ledakan balon diari TV, saat malam hari dia akan langsung memimpikan perut dia yang semakin membesar dan setiap saat akan meledak.
Ada orang yang sudah berpengalaman melihat perut hamil dia dan bilang pasti bayinya perempuan. Julietta tidak mengerti bagaimana menentukan anaknya pria atau perempuan dengan hanya melihat dari bentuknperutnya saja, tapi mendengar orang lain bicara seperti itu, hati dia jadi sedikit mengharapkan dan berharap bisa melahirkan bayi perempuan yang imut cantik.
Dia merasa kalau saja melahirkan anak laki laki yang mirip dengan David, maka setiap hari dia pasti akan sangat kesal. Lebih baik anak perempuan, jadi ada mereka berdua yang akan menyayangi David, David juga pasti akan lebih sabar dengan anak perempuan.
Julietta sudah membayangkan David yang menggendong anaknya dengan pandangan yang lembut sambil mengelus pipi bulatnya. Berpikiran seperti ini, setiap malam dia memimpikan seorang gadis kecil yang sangat imut cantik, membuka kedua mata bulatnya dan mengeluarkan suara lucunya. Di pagi hari Julietta berbaring manja di pangkuan David dan berkata.
"Nanti kita belanja belikan baju untuk bayi, beki baju warna pink yang lebih banyak."
David tidak perduli mau beli baju bayi warna apa, dia sendiri tidak perduli dengan penampilan dirinya, apalagi dengan anaknya. Asal tidak telanjang bagi dia sudah cukup. David hanya menjawab dengan anggukan.
Julietta bicara lagi "Kamu sudah memikirkan namanya belum.?"
David mengucek matanya yang masih mengantuk "iya, nama siapa."
"Untung saja aku sudah membuat banyak pilihan nama, nanti kalau kamu masih belum tahu namanya siapa, maka kita bisa pilih salah satu saja."
David menjawabnya asal "Bebi saja."
Julietta menatapnya dengan kesal "Jangan mimpi."
Setelah di ceramahi oleh Julietta, David berpikir dalam dalam, dia merasa ada satu anak gadis kecil juga sepertinya adalah hal yang sangat bagus, jauh lebih bagus daripada anak laki laki. Diia akhirnya merasa tidak lagi bingung dengan masalah kardus di atas lemari itu harus dilapisi berapa banyak koran sebagai alasnya, kalau anak perempuan seprtinya tidak perlu digunakan.
Sampai minggu akhir mau melahirkan, masih belum diputuskan nama anak mereka. Julietta semakin kesal, ditambah lagi perutnya yang setiap hari membesar dan badannya tambah berat, seluruh tubuh dia terasa tidak enak setiap harinya, dia juga tidak bisa makan dan tidak bisa todur dengan lelap, maka setiap hari dia selalu marah marah.
Walaupun dia sudah mulai menggambar untuk Enri, tapi hatinya tetap saja selalu kesal, terkadang kalau amarahnya memuncak, dalam satu hari dia bisa menggambar puluhan lembar gambar, tapi dirinya sendiri tidak tahu dia sedang menggambar apa. Dia tiba tiba merasa kalau badannya tidak seberat ini adalah satu hal yang sangat nyaman dan bahagia.
David kasihan melihatnya, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa apa, hanya mengelus punggungnya, memijat kakinya setiap malam. Dia berpikir, setelah anak ini lahir dia langsung mau vasektomi saja, dia tidak mau punya anak lagi, satu saja sudah cukup. Setelah ditunggu tunggu, akhirnya sampai ke masa masa tanggal kelahirannya, Julietta setiap malam selalu menangis setiap melihat kalender, terasa seperti pelaku kriminal yang sudah dipenjara selama belasan tahun dan menunggu untuk dibebaskan, dia juga mau melepaskan barang bawaanya agar seluruh badannya terasa nyaman. Julietta dari dulu tidak pernah menyarankan untuk cepat cepat pergi ke rumah sakit bersalin. Beberapa pembantu dan ahli gizi yang datang setiap hari merawat Julietta dan membuatnya sama sekali tidak pernah repot dengan apapun,
Julietta masih ingat di kehidupan sebelumya saat dia masih kecil, mamanya masih sangat lembut dengannya, sesekali pernah membahas saat mamanya sedang mengandung dia, dia masak, bebenah dan mencuci baju dengan perut besarnya, bahkan sebelum melahirkan juga dia memasak sup dan lauk. Mengingat hal ini, Julietta mengelus perut buncithya.
Seketika, Julietta tiba tiba tidak lagi membenci dengan mamanya yang menelantarkan dia. Dia juga pernah merasakan kesakitan melahirkan, juga pernah menjadi istri dan mama yang baik untuk nya saat Julietta masih kecil, kasih sayang mamanya terhadap dirinya itu sangat terasa nyata. Seprertinya perasaan antar orang dalam kehidupan ini tidak bisa dirangkum dengan menggunakan cinta dan tidak cinta. Julietta menutup matanya sambil mengelus pelan perutnya. Dia akan berusaha menjadi seorang ibu yang sempurna untuk anaknya.
Tiba tiba perutnya terasa sangat sakit, Julietta yang sudah mengalaminya beberapa kali hari ini sama sekali tidak panik, walaupun rasa sakitnya itu langsung membuat muka dia pucat dan punggungnya berkeringat dingin. David baru selesai mandi, sambil mengelap rambutnya dia melihat muka Julietta yang sedang kesakitan berbaring di ranjang. David langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, perutnya sakit."
"Tidak apa apa, sehrusnya hanya rasa sakit sesaat aaarrrgh." Julietta bicara pelan sambil melambaikan tangannya dengan paksa.
Seharusnya masih ada satu minggu sampai tanggal kelahirannya, sepertinya hanyalah rasa panik dia. Rasa sakit itu makin terasa setiap saat dengan sangat ekstrim, Julietta seperti disiksa sampai berteriak, rasanya sepertinya badannya terbelah menjadi dua dan juga rasanya seperti ada satu palu besar berat yang memukul perutnya keras keras, yang membuat seluruh badannya berkeringat dingin.
"Aku sudah tidak tahan, tidak kiat lagi."
Suara Julietta sudah terdengar menangis. "Sepertinya sepertinya benar benar bayinya mau keluar."
David segera berpakaian dan membawanya ke rumah sakit, Julietta berbaring di ranjang pasien dan sudah kesakitan sampai tidak bisa bicara. Dokter memeriksanya beberapa saat lalu dia menggelengkan kepalanya dan berkata "Belum lengkap, masih harus tunggu sebentar."
Mereka harus menunggu dua jam lagi. Julietta sudah sangat tidak tahan dan dia menangis terus. Dia tidak bisa mengendalikan diriny, seluruh hatinya dipenuhi ras takut dan sedih. Belum melahirkan saka sudah sakit seperti ini, kalau benar benar saat melahirkan akan sesakit apa.
David berdiri di samping ranang sambil menenangkannya, mengusap rambutnya dan menyuapinya makanan dan minuman hangat, agar Julietta memiliki tenaga untuk melahirkan anaknya. Julietta berusaha menahan sakit dengan mengunyah makanan yang disuapi David.
Setelah makan beberapa saat, dia tiba tiba menggigit jari David, walaupun sedang sakit, tapi dia juga tidak berani menggigit keras keras karena takut merusak jari David. Julietta bicara sambil menangis tersedu sedu.
"Aduh sakit sekali ini, aku sudah tidak kuat, aku tidak mau melahirkan anak lagi."
Tidak pernah melihat Julietta yang sakit seperti ini, David hanya terdiam, dia mengulurkan jarinya ke dalam mulut Julietta.
"Gigit saja beberapa kali supaya ada tenaga."
Julietta menangis semakin keras, air matanya mengalir terjtuh ke tangan David sambil bicara.
"Aku gak tega hu hu hu."
Dia lagi lagi merasa amat lesakitan, akhirnya dia menerima instruksi dokter untuk siap siap melahirkan. Julietta sekarang hanya ingin cepat cepat melahirkan bayinya. David yang diminta keluar berdiri didepan pintu ruangan sambil mendengar suara perawar yang menyemangati Julietta dan suara Julietta yang menangis kesakitan.
Setelah Tomy dan yang lainnya datang setelah mendengar berita ini dari David, mereka melihat David berdiri sendirian di koridor tanpa ekspresi. Sementara Julietta yang berada di dalam ruangan masih berusaha untuk melahirkan bayinya, mendengar suaranya saja sudah membuat orang merasa takut dan kasihan. Tomy benar benar salut dengan David, disaat seperti ini masih bisa menunggu istrinya melahirkan dengn tenang.
Tomy memberikan satu botol air mineral kepada David untuk diminumnya. David mengulurkan tangannya menggenggam botol air itu. Disaat ini, Tomy baru bisa melihat dengan jelas kalau air di dalam botol platik itu terus bergerak. Yang ternyata adalah,saat sedang sangat panik dan khawatir, jari David akan gemetaran dengan hebat.
Tomy bicara dengan hati hati "Bos jangan terlalu gugup khawatir, pasti tidak akan ada masalah."
Sejak kenal David dari pertama kali, ini adalah pertama kalinya Tomy yang menasihti David, jangankan David, dia sendiri saja sudah merasa aneh. Apakah David bisa merasa gugup, khawatir, yang benar saja, itu tidak mungkin. Bercanda. Muka David terlihat tidak ada ekspresi.
"Aku tidak gugup." Walaupun bicara seperti itu, tapi botol air di tangannya sudah mau meledak.
Tomy berpkir, sudah belasan tahun kenal, akhirnya ada alasan untuk bisa menertawakan David. Tapi alasan ini malah membuat dia jadi iri lagi. Tidak tahu kapan dirinya juga bisa menjadi seorang ayah, tapi sekarang dia harus menikah dulu baru bisa lanjut ke jenjang berikutnya. Mereka semua terdiam menunggu di koridor.
Julietta baru mengetahui kalau melahirkan itu adalah satu ringangan tersulit bagi wanita, berjuang untuk dua nyawa. Walaupun teknologi di zaman modern ini sudah sangat maju, tapi tetap tidak bisa pasti menghindari rasa sakit dan berbagai efek bawaan. Sebelum ini dia sempat mempertimbangkan untuk melahirkan tanpa rasa sakit dan melahirkan di dalam air, tapi karena dia alergi dengan obat tertentu dan masalah di badannya, maka dia membuang pemikiran semuanya itu. Kalau bukan karena takut efek bawaan jangka panjang setelah operasai sesar, maka dia lebih memilih untuk melahirkan dengan sesar.
__ADS_1
Dia sudah sangat lelah sampai seluruh kepkeringat, suster masih memintanya untuk mengatur nafas mengeluarkan tenaga.