
Untungnya masih ada saus kari ayam yang tersisa dikulkas, Julieta memasaknya lalu menanak nasi di rice cooker. Dia memberikan porsi besar kepada David untuk meminta maaf karena bekas noda lipstiknya.
David makan dengan perlahan, entah itu hanya perasaan Julietta atau bukan, tapi David sepertinya lebih diam dari biasanya. Julietta terus berbicara tapi pada akhirnya dia tidak merespon mengatakan apapun sampai selesai makan.
Julietta duduk disofa sambil menonton TV dia menekan tombol remot sembarangan kebetulan saluran itu sedang menyiarkan film legenda ular putih, dia tidak terlalu mengikutinya jadi Julietta menonton sambil mengupas pisang. Film itu menceritakan tentang siluman ular putih yang ditahan digua dan berpisah dengan pasangannya yang seorang manusia, mereka menangis sangat kasihan dan berusaha saling menggapai satu sama lain namun mereka tidak bisa berbuat apa apa.
Film drama lama selalu menyentuh nati, meskipun sudah mengetahui alur ceritanya, Julietta masih saja menontonnya sambil berlinang airmata. Dia mengambil tisu untuk menyeka air matanya. David yang sedang lewat melihat pemandangan ini.
Julietta yang disofa itu menangis sambil menghadap ke TV dan adegan percintaan antara manusia dan siluman itu hampir mencapai perpisahan di cerita akhirnya.
David tiba tiba melangkah maju dan mematikan TV. Julietta sedang menonton dengan tersentuh, tiba tiba melihat layar menjadi gelap membuatnya tertegun. Dia bertanya dengan mata berkaca kaca "Ada apa denganmu mengapa mematikan TVnya"
David menatapnya dan diam tidak bicara apapun. Dengan tatapan ragu, David berjalan perlahan mendekatinya. Dia berlutut menatapnya.
"Aku masih belum bertanya apa yang kamu mohon ditempat tadi"
Julietta berpikir bahwa ingin membicarakan sesuatu yang penting, sarafnya kencang dan sedang menunggu omong kosong dari David. Tidak disangka kalau David menanyakan hal sepele seperti ini. Dia menjawabnya dengan bingung.
"Aku pikir ada masalah apa, aku berharap kamu selalu sehat dan berharap semua orang berada dalam keadaan baik, itu saja"
"Apakah semua harapanmu itu akan menjadi kenyataan"
"Menurutku itu akan menjadi kenyataan, mereka akan menjalani nidup ini dengan damai dan bahagia"
"Kalau begitu apakah kamu tau apa harapanku" David bertanya.
"Hmm apa harapanmu" Julietta tiba tiba menyadari.
"Kamu tidak membuat permohonan berharap aku membuatkanmu hidangan kerajaan bukan"
David menggeleng "Bukan"
"Kalau begitu apa"
David memandanginya dan berkata "Harapanku adalah kamu tidak akan pernah meninggalkanku selamanya"
Seketika ruangan itu menjadi sunyi senyap beberapa menit. Julietta tertegun menatap David yang berlutut dilantai seperti seekor kucing yang akan ditinggalkan. Dia tidak berani mendekati Julietta, karena takut Julietta akan menjauhinya. Bahkan dia menundukan pandangannya sesaat setelah mengatakan itu.
Untuk waktu yang lama Julietta menghela nafasnya dengan lembut, sikunya bersandar dilututnya, punggungnya sedikit membungkuk memperpendek jaraknya dari David. Julietta bertanya dengan suara lembut.
"Mengapa kamu berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu"
"Karena"
Apakah karena dia tahu kalau dia bukan berasal dari dunia ini dan bukan Julietta yang sebenarnya.
Waktu kembali pada saat David pulang membawa surat perjanjian cerai kerumah. Ketika membuka pintu dan melihat Julietta. David segera tahu bahwa wanita ini bukanlah Julietta yang dulu. Baik itu dari bahasa, ekspresi dan semua tindakannya, semua terasa jauh berbeda dari biasanya seperti dia sedang berhadapan dengan orang asing.
Setelah menghilangkan kecurigaan atas kepribadian ganda Julietta, David memastikan bahwa Julietta yang tinggal dengannya sekarang itu hanya bisa dijelaskan dengan alasan yang tidak ilmiah.
David tidak pernah perduli dengan orang lain. Dia bahkan tidak perduli dengan dirinya sendiri. Dia merasa yang sedang tinggal bersamanya sekarang adalah arwah roh. Baginya tidak ada perbedaan sama sekali. Terlebih lagi Julietta memiliki kemampuan memasak dan bertindak seperti manusia normal sehari hari.
Dia tidak pernah menunjukan pendapatnya mengenai perubahan Julietta malam itu, perbedaan yang dulu dan sekarang. Sebelumnya dia terlalu malas untuk perhitungan, namun kemudian dia tidak bisa menunjukan perbedaan, karena dia takut Julietta menemukan bahwa dirinya bukanlah istri David yang dulu.
Dia takut akan cerita legenda arwah gadis yang menghilang tanpa jejak setelah orang lain menyadari perbedaan pada dirinya dan hanya menyisakannya kenangan, lalu tidak mau makan, dia membalas kebaikannya dan meninggalkan sepotong kain yang berkibar setelah ditemukan oleh seorang baik hati. Mengenai asal usul Julietta yang ini, dia benar benar tidak tahu.
Jika dia menunjukan bahwa sejak awal dia tahu kalau Julietta adalah roh atau siluman merupakan keberadaan yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, apakah Julietta akan menghilang dan tidak akan pernah terlihat lagi seperti yang dikatakan dilegenda itu. Bisa juga Julietta tidak akan pergi, namun dia tidak bisa menerima kemungkinan lainnya. Sebelum memasuki tempat sakral tadi dia takut seandainya Julietta tiba tiba menghilang.
Juga tiba tiba ada peramal yang mengatakan bahwa dia ingin mengusir arwah roh. Julietta tidak mengambil hati perkataan peramal itu, tapi David benar benar marah. Jika bukan karena ketakutan misterius ini dia akan terus berpura pura tidak tahu apa apa supaya Julietta tetap disini.
"Karena"
__ADS_1
"Aku selalu membuatmu kesal marah" David menelan lagi kata katanya.
Untuk sesaat, Julietta hampir berpikir bahwa David ingin mengatakan yang mengejutkan, sarafnya mulai rileks. Dia menghela nafas dan bicara pelan.
"Kamu tahu kalau kamu selalu membuatku kesal, untungnya aku sudah mulai terbiasa"
Terkadang dia merasa bahwa sikap pria dingin ini cukup sediikit lucu. Julietta berbikir kalau mungkin dia sudah gila. Julietta paling suka membujuk tapi dia tidak suka dipaksa. Melihat ekspresi David yang menyedihkan itu, hatinya melunak. Dia tersenyum sambil mengelus rambut David seperti sedang menenangkannya.
"Aku tidak akan pergi"
"Apa kamu yakin"
"Aku tidak akan berbohong padamu"
Setelah bicara kalau dia akan berjanji mencoba untuk hidup bersamanya. Julietta lambat laun tidak pernah berpikir untuk meninggalkan David lagi. Mungkin terdengar aneh namun dalam waktu lebih dari setahun ini dia telah melebur kedalam kehidupan didunia ini dan telah memiliki hubungan yang cukup dalam.
Terlalu banyak hal yang terjadi ditahun ini. Bahkan Julietta juga tidak dapat menjamin apa yang akan terjadi dimasa depan.
Hari berikutnya, David kembali bersikap normal ketika berangkat kerja. Dia lambat seperti biasa dan menjadi pria dingin yang membuat Julietta gemas ingin menghajarnya.
"Jangan mencuri jamurku, jelas jelas kamu sudah memiliki porsi sebesar itu"
"Makanan dipiringmu lebih enak" David menjawab dengan santai.
Semuanya dimasak dalm panci yang sama, bagaimana bisa ada perbedaan rasa, Julietta benar benar curiga David sedang mencari alasan supaya bisa makan beberapa suap lagi. Ternyata pikirannya benar. Saat Julietta tidak memperhatikannya. David mengambil potongan steak daging miliknya.
"Ini potongan steak aku, kembalikan segera"
"Sesuap saja"
Julietta ragu ragu sejenak menjawabnya.
"Baiklah kalau begitu kamu makan sesuap saja, ah hei apa yang kamu lakukan"
Kedua pipi David membengkak saat dia mengunyah, semarahnya Julietta dia tidak akan melepaskannya dan segera menelannya.
Julietta putus asa dan kembali duduk dikursinya. Dia benar benar merasa bodoh, sungguh dia tahu kalau David sangat pandai makan dan tidak menyadari arti dari sesuap yang dikatakannya adalah sebesar itu.
David mengambil jamur dimangkuknya dan menuangkannya ke mangkuk Julietta "Ini gantinya"
Julietta mencibir "Menurutmu aku bodoh"
David hampir saja mengangguk. Dia diam setelah dihajar olehnya.
Julietta mengatakan bahwa dia benar benar menderita karena lemak, jadi mereka sepakat untuk makan bersama dan sesekali bekerja bersama diruangan David. Setelah makan siang dia masih kesal karena dia hanya makan separuh dari porsinya. Ketika dia menegok dia menemukan David yang sedang tertidur entah sejak kapan,
Dia duduk dikursi dan menyandarkan kepalanya kesandaran kursi. Bahkan dia mengerutkan kening dalam tidurnya, seperti sedang mengalami mimpi yang serius. Bibirnya terbuka, Julietta mendengarnya dengan samar dia bilang jangan.
Julietta mendekat, begitu dekat sehingga dia hampir bisa menghitung berapa banyak bulu mata milik David. Wajah ini benar benar tampan. Jika dia menjadi seorang aktor, pasti akan terkenal hanya dengan memanfaatkan ketampanannya. Disaat perhatian Julietta tidak fokus, kedua mata David tiba tiba terbuka, sepasang bola mata hitam itu memantulkan wajah Julietta yang hampir saja menyerangnya.
Julietta melambaikan tangannya sambil mundur bicara "Aku hanya ingin membangunkanmu" sebelum dia selesai menyelesaikan ucapannya David memotongnya.
"Kamu tidak mungkin sedang berusaha untuk menciumku diam diam"
Julietta terkejut merona "Cih itu hanya harapanmu saja"
Mereka sudah sering berciuman, tapi Julietta menganggap hal itu sebagai rutinitas sehari hari. Karena tiba tiba diingatkan oleh David, pikirannya kembali saat David yang menciumnya ditengah malam hujan, kedua bibir lembut yang saling bersentuhan, dia menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan imajinasinya. Tidak mereka semua salah, David memiliki kelainan, Julietta diam diam mensugesti dirinya sendiri.
Semenjak David selalu merebut makanannya, Julietta memutuskan untuk kembali keruangannya untuk lanjut bekerja. Saat ini dia tidak tega membiarkan David makan angin. Julietta benar benar berterima kasih atas kebaikannya.
Terdengar suara ketukan, ternyata adalah Marc. Dia masuk dan memindahkan kursi untuk mengobrol dengan Julietta. Marc mengatakan bahwa taman bunga didepan kantor sudah mulai bermekaran. Julietta tiba tiba mengingat saat dia pergi bersama David lalu dia menyebutkan beberapa hal ditempat sakral itu dengan santai.
__ADS_1
Marc bertanya dengan serius "Aku juga pernah pergi ketempat itu, cukup sakral disana, dulu aku membeli beberapa jimat dari peramal tua didepan gerbang, kamu jangan bilang siapa siapa ya, ada masalah besar, beberapa hari kemudian aku hampir mengalami kecelkaan mobil, jika saja terlambat beberapa detik, maka istriku akan menjadi seorang janda"
Julietta menenangkannya "Bagus jika kamu tidak mengapa"
Marc bicara sambil tersenyum "Tidak apa apa, aku memiliki beberapa jimat keberuntungan dan penangkal arwah roh gentayangan aku akan membawa satu untukmu"
Marc memberikan satu ornamen kepada Julietta dan juga menggantung sebuah jimat penangkal roh didinding ruangan Julietta. "Jangan lihat idelaisme atau materialisme nya itu semua hanya untuk keberuntungan, jangan keberatan ya"
"Aku sudah terlambat berterima kasih bagaimana mungkin aku merasa keberatan"
Marc berniat baik, Julietta menerimanya dengan penuh rasa hormat dan terima kasih. Marc lanjut berbincang sebentar. Jika bukan karena pekerjaanya hari ini belum selesai, mungkin dia akan terus ngobrol diruangan Julietta. Tak berapa lama setelah Marc keluar, pintunya didorong terbuka, itu adalah David.
"Kenapa kamu kemari"
"Hari ini kerjaanku tidak terlalu banyak"
Bilang kerjaan tidak banyak dengan wajah lelah seperti itu, Julietta bergumam diam diam. Tidak tahu apakah David bergadang bekerja, main game atau makan demilan namun hal itu bukanlah hal baik.
"Apa yang dilakukan Marc tadi disini"
"Kenapa kamu memeriksaku"
Julietta menghela nafas dengan sengaja, lalu lanjut menjelaskan "Marc kemari memberiku beberapa barang penangkal arwah roh hanya untuk keberuntunganku"
David terdiam. Dalam pikirannya Julietta itu bisa jadi arwah roh siluman. Mengapa dia ingin mengusir dirinya sendiri, bukankah itu namanya mencari masalah.
"Kenapa kamu melamun"
"Tidak apa apa"
Sebelum jam pulang kerja, Marc datang lagi keruangannya. Kali ini dia langsung mengambil kedua barang tadi. Marc berbisik dalam hatinya bos besar ternyata datang mencarinya hanya untuk masalah sepele seperti ini. Dia benar benar sayang istrinya, dia bahkan mengatakan kalau Julietta itu sangat lemah, takut barang ini jatuh menimpanya.
Julietta terkejut "Loh Marc kenapa kamu mengambilnya"
Marc menjawab "Kudengar barang ini kurang cocok dipajang didalam ruangan, itu akan menghancurkan rezekimu, lain kali aku akan memberikan jimat kedamaian untukmu"
Julietta tidak tahu apa apa mengenai hal ini, jadi dia berkata dengan bingung "Masih ada kepercayaan semacam itukah"
Marc sedikit ragu, dalam hatinya berkata, bukan aku, bos besar yang memiliki kepercayaan seperti itu.
Dirumah, mereka makan malam dengan harmonis. Setelah makan Julietta ingin menonton legenda siluman ular putih lagi, tapi tiba tiba David memindahkan saluran ke siaran pemindahan hantu.
Julietta "Aku tidak menyangka kamu memiliki selera seperti ini, kamu kan penakut"
David menjawab dengan tenang "Ini adalah realisme magis yang menggunakan metode berlebihan dan ironis untuk mengubur kesedihan.."
"Cukup cukup stop" Julietta tertawa.
Disore hari, hujan gerimis diluar, angin dingin yang lembab itu terus menyusup disepanjang celah pintu. Julietta menonton TV sambil mengenakan mantel sambil terus berbicara mengenai cerita hantu mau menakuti David. David mendengarnya dengan diam disebelahnya. Saat ini ponsel Julietta berdering, terlihat ada pesan dari Tomy.
Tomy Kaka ipar, aku ingin memberitahumu sesuatu, apakah bos tidak ada disampingmu.
Tanpa sadar Julietta melirik David yang sedang makan buah denagn perlahan, tanpa memperhatikan gerakan kecil Julietta.
Julietta Katakan saja.
Tomy Kaka ipar, aku hanya mengatakannya ya, akhir akhir ini, kondisi mental bos tidak terlalu baik, apakah kalian, kalian bertengkar lagi
Julietta Tidak
Tomy Seharusnya tidak kan hehe, kaka ipar kau harus cukup istirahat, jangan terlalu banyak melakukan hiburan ditengah malam jaga baik baik ginjalmu.
__ADS_1
Tomy membuat dugaan yang membuat Julietta terdiam melongo membaca pesannya itu.