
Julietta yang dipandang merasa aneh juga "Hei, kenapa kamu menatapku begitu"
Dia segera menyadari kalau saat begini, biasanya pria akan memuji wanitanya dengan bilang dia lebih cantik daripada bunga ini, mungkn David sedang memikirkan kata katanya. Untuk pengambilan foto cantik hari ini, dia sengaja untuk berdandan lebih cantik. Meskipun David sedikit dingin, namun tidak berarti bahwa dia tidak mengerti tentang nilai estetika.
David berkata perlahan "Ada sesuatu diwajahmu"
Saat ini, Julietta merasa ragu. "Dibagian mana, bantu aku untuk membersihkannya, seharusnya bukan riasan mataku kan"
David mengulurkan tangannya dan mulai menyeka pelan ujung mata kirinya sampai bersih. Julietta menyadari ada sesuatu yang tidak beres, lalu dia segera mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera depan. David menjelaskan kalau dia sudah menyeka dengan sangat bersih tanpa meninggalkan jejak.
Julietta menatapnya dengan kesal "kenapa kamu menghapus tahi lalat yang aku gambar"
Dia bekerja dengan sangat keras untuk menemukan tempat yang tepat, hanya untuk pemotretan ini. David dihajar sebelum dia mulai memotret untuk Julietta. Tanpa tahi lalat buatannya, suasana hati Julietta sangat tidak menyenangkan. Terutama dihadapan juru kamera yang tidak bisa diandalkan seperti David. Julietta mengarahkannya cara untuk menemukan sudut foto yang baik sambil menjaga posenya dan menunggu David untuk memotretnya.
Foto itu diambil satu demi satu dengan berbagai pose. Setelah David memberi tanda bahwa dia telah selesai mengambil foto, Julietta segera berlari kearahnya untuk melihat hasil yang diambil David. Tanpa diduga ternyata hasilnya sangat bagus.
Keindahan dalam foto itu bagaikan bunga yang terpisahkan dengan awan. Senyuman kecil didahan yang gelap, bagaikan sesosok peri bunga didalam hutan, murni dan alami. Pengambilan pemandangan yang sangat bagus, sudut yang tepat. Tingkat fokus baik, bisa dikatakan semua fotonya adalah cukup baik sehingga tidak perlu lagi mengedit gambar.
Julietta terkejut "Apa yang terjadi padamu, mengapa tiba tiba kemampuanmu melonjak seperti ini"
David menjawabnya dengan pelan "Aku telah belajar sedikit, itu sangat mudah"
Julietta berpikir, mengapa dia merasa kalau IQnya sedang direndahkan saat ini. David telah mengambil beberapa foto Julietta sesuai arahannya. Julietta mengambil kamera dan ingin memotret David, tapi dia menolaknya, katanya dia tidak suka difoto.
Julietta hanya mengangguk dan memeluk kameranya lalu bicara "tadinya kupikir ingin mengambil beberapa foto bersama, lupakan saja, tunggu kesempatan lain kali saja"
"Kalau foto bersama, tidak apa apa"
Karena David telah berkata itu, Julietta mengambil kamera dengan senang dan mengarahkannya ke arah mereka. Satu tangannya memegang leher David dan bersandar dengan ekspresi penuh kasih sayang dibahu David. Pria disampingnya itu tiba tiba menjadi kaku, meskipun demikian, ekspresi wajahnya masih saja terlihat tenang.
Pemandangan saat itu telah diabadikan dengan cepat. Julietta menarik tangannya lalu melihat hasil foto dikamera. Dia mengedipkan matanya dan bertanya.
"Kenapa wajahmu tiba tiba semerah ini"
Ketika dia mengangkat kepalanya, wajah David telah kembali normal. Menghadapi pertanyaan Julietta, dia menjawabnya dengan tenang.
"Pakaianku terlalu tebal"
Selesai bicara dia meraih tangan Julietta "Ayo kita pergi melihat bunga yang lain"
David tidak melepaskan tangannya disepanjang jalan. Telapak tangannya lebar dan hangat. Dia terus menggandeng Julietta. Keduanya berjalan berdampingan harmonis. Pemandangan ini membuat Julietta merasa sangat cantik. Seperti diberi minum sesendok madu, hatinya sangat manis, seolah-olah udara disekitarnya telah berubah menjadi aroma manis. David menatapnya.
"Ada penjual kue manis didepan, aku akan membeli beberapa potong"
Ternyata aroma manis itu bukan hanya imajinasinya saja, namun benar benar ada kios kecil yang menjual kue. Kios itu menyajikan berbagai macam kue hangat yang kelihatan ezat di etalasenya. Julietta melirik ke beberapa kue itu "Aku mau beberapa kue chery ini"
Pastry yang lembut itu nampaknya meleleh didalam mulutnya, rasanya sangat manis dan lengket dimulut. David melambai dengan tangan besarnya "masing masing lima"
"Hei apa kamu bisa menghabiskannya"
Setelah mengatakan itu, Julietta sadar kalau dia salah bertanya. David hanya selalu menemui kondisi tidak cukup makan. Bagaimanapun juga dia tidak akan pernah menyisakan makanan. Merasakan kedatangan pasangan muda, tukang kue itu mengemas dengan bahagia dan memberikan beberapa potong kue lain sebagai bonus. Dia memberikan kamtung kue kepada mereka berdua dan bertanya "Apakah kalian juga akan pergi kepameran di kuil itu"
"Kuil apakah ada kuil didekat sini"
__ADS_1
"Benar kudengar bahwa kuil itu telah disembah sejak jaman kerajaan hingga sekarang, tempat itu sangat sakral, sangat baik untuk memohon jodoh maupun karir. Kalian adalah pasangan muda, tidak ada salahnya pergi kesana melihat sebentar, namun jika kalian tidak mempercayainya, anggap saja aku tidak mengatakan apa apa hehe"
Julietta sejak dulu tidak percya pada hantu dan dewa. Dia lebih suka kenyataan yang ada, namun dia mengalami hal konyol yang membuatnya memasuki dunia ini. Bagaimana mungkin dia tidak percaya bahwa tidak ada yang mengaturnya didunia ini. Jika dipikir pikir lagi itu cukup menakjubkan. Bertahun lamanya dia tinggal dikota kecil sendirian dan berpikir bahwa dia akan hidup sendirian selamanya. Dan sekarang. Tangannya dipegang erat oleh David. Ujung jari mereka saling bersentuhan. David yang memegang erat erat dan tidak berniat untuk melonggarkannya sama sekali.
"Kebetulan kita sudah sampai dekat kuil, ayo kita pergi jalan dan lihat lihat kedalam"
Semua hal terasa luar biasa terjadi hari ini. Julietta hanya ingin berdoa untuk dirinya dan David, berharap hidup mereka dan jalannya akan lebih lancar dan berharap David dijauhkan dari bencana. David memegangi kantong kue dengan satu tangan. Tangan lainnya masih menggandeng jari Julietta.
Mendengar bibir Julietta yang seperti berucap itu dia pun mulai memandanginya. Kelopak mata yang selalu diturunkanya dihari hari biasa itu saat ini menatap Julietta serius dengan sedikit bingung. Ketika ingin bertanya padanya David bilang lupakan saja.
Julietta memohon "Kebetulan sejalan, ayo kita pergi dan melihat lihat saja sebentar, sudah lama aku tidak jalan keluar, maukah kamu menemaniku masuk"
David terdiam selama beberapa menit, akhirnya dia tidak bisa menolaknya, sambil mengangguk bilang baiklah. Sepanjang jalan, David tidak hanya tidak makan cemilan seperti biasanya, namun dia juga tetap diam tenang dan memegang erat tangan Julietta. Sejak dulu sudah biasa bagi mereka berjalan bersama tanpa berbicara, namun Julietta merasa sedikit canggung saat ini.
Alasannya adalah karena David kelihatan tidak memiliki aura yang sama seperti dulu. Seluruh tubuhnya memancarkan aura yang membuat orang kesulitan untuk bernafas. Julietta mengalihkan pandangannya menatapnya serius, wajah David terlihat sangat tampan dari samping. Garis rahangnya menegang tajam. Hidungnya mancung, ketika dia mengerutkan bibirnya yang tipis itu melengkung dan membentuk satu garis lurus.
"Kenapa, apa kamu tidak suka, tidak mau ikut masuk" Julietta bertanya.
David "Bukan"
"Terus kenapa wajahmu menunjukan ekspresi tidak bahagia, apa kamu lapar" Julietta hanya bisa memikirkan alasan yang berkaitan dengan makanan.
"Sepertinya" David menjawab.
"Sudah kuduga, setelah dari sini, kita akan mencari restoran enak untuk makan, aku ingat ada restoran seafood yang cukup enak didekat taman ini"
David mengangguk, tapi wajahnya masih menunjukan perasan tidak senang meskipun sudah mendengar tentang makanan. Jadi Mengganggu perhatian Julietta. Mereka melintasi jalan setapak bebatuan, dan nampak sebuah kuil di ujung batu itu, tempat itu sangat sunyi, tidak ada suara orang disekitarnya, hanya terdengar suara angin yang menggoyangkan dedaunan.
Tempatnya tidak terlalu luas, kalau dilihat lihat bangunan itu nampak sudah berumur, dindingnya berbintik dan mengelupas, membuatnya terlihat agak kumuh. Tapi tangga didepan pintu terlihat sangat bersih terawat, tidak ada debu dan kotoran sama sekali.
Julietta berjalan maju selangkah, namun lengannya tiba tiba ditarikk oleh David.
David "Lupakan saja"
Julietta benar benar tidak mengerti apa yang dipikirkan David dia berkata dengan wajah sedih.
"Baiklah, jika kamu benar benar tidak menyukai tempat ini, biarkan aku saja yang masuk, kamu berdiri di gerbang pintu ini menungguku"
"Kalau begitu aku ikut masuk"
Julietta merasa sedang dipermainkannya. Julietta benar benar tidak bisa menebak isi hati David. Melihat wajahnya yang malas bicara itu, Julietta juga tidak ingin mengajaknya bicara. Dia hanya bisa membawa David ikut masuk kedalam.
Bagian dalam Kuil itu nampak sangat modern dan mengikuti perkembangan zaman Julietta sedikit khawatir karena dia tidak membawa uang kecil untuk membeli bunga, tiket juga kotak sumbangan. Master kecil yang menggemaskan itu dengan cepat mengeluarkan QR coce untuk pembayaran dan bicara "Anda bisa membayar dengan ini"
Julietta memindainya sambil tersenyum merasa lucu. David menyeret pergelangan Julietta sepanjang jalan, seolah olah dia takut Julietta akan kabur. Master kecil itu melihat mereka sambil tersenyum dan membuat Julietta merasa sedikit malu.
"Lepaskan tanganmu, bagaimana kita masuk kalau kamu terus seperti ini"
David sedikit ragu, lalu melepaskan tangannya, tetapi ketika sudah melewati ambang pintu, dia segera menarik ujung lengan baju Julietta.
Julietta menatapnya agak bingung. David tidak menunjukan ekspresi apapun diwajahnya, dia bicara dengan hangat tenang seperti biasanya "tidak apa apa"
Itu tidak terlihat seperti tidak ada masalah sama sekali. Saat ini tidak leluasa untuk berbicara, jadi Julietta menahannya dalam hatinya. Dia melihat banyak dupa ditancapkan ditempatnya. Sejak dia kecil sampai sekarang, Julietta belum pernah merasakan letenangan jiwa seperti yang dirasakannya saat ini. Julietta menyatukan kedua tangannya, menutup matanya dan menggumamkan sesuatu dibibir mungilnya. Dia mengira David akan mengikutinya. Tapi tidak disangka David terus menatapnya dalam dalam dari sampingnya. Julietta mengakui kalau dia serakah, karena dia membuat banyak permohonan.
Dia berharap David bisa selalu aman damai, Tomy dan kawanannya menemukan jodohnya dan memasuki pernikahan yang indah. Berharap Marc bisa berumur panjang, Erick bisa memiliki kehidupan yang bahagia bersama pasangannya nanti dan banyak permohonan lainnya agak lama bergumam, sampai sampai lupa memohon untuk dirinya sendiri. Ketika Julietta membuka matanya perlahan dia menatap sepasang mata gelap didepannya persis itu adalah mata David.
__ADS_1
Julietta terkejut "Kenapa kamu berada sedekat itu denganku"
"Aku punya pertanyaan untukmu"
"Katakan saja"
"Apakah makanan yang disajikan itu boleh dimakan"
"Tentu saja tidak boleh"
Julietta menarik tangan David keluar, keduanya berjalan dengan enerjik dan berhasil menarik perhatian beberapa orang yang sedang berada disana. Julietta menyuruh David segera mengenakan kacamata hitamnya dan lebih baik keluar dengan sedikit berhati hati.
"Kamu masih belum mengatakan, mengapa kamu bersikap aneh tadi. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan" Julietta bertanya serius.
Sebelum David membuka mulutnya mau bicara, tiba tiba muncul sosok dan perlahan mendatangi mereka. Sepertinya sosok orang sangat tua. Dengan postur yang berwibawa, orang tua itu memandangi mereka berdua sambil tersenyum ramah.
"Nona apakah kamu berminat untuk melihat ramalan nasibmu, nampaknya kamu sedikit tertarik"
Julietta melambaikan tangannya "Tidak terima kasih"
Jika dia bisa meramalkan hidupnya, Julietta takut peramal tua itu akan pergi ketakutan.
"Nona jarak alis didahimu itu memikiki awan gelap yang mengambang, apakah belakangan ini kamu tidak beristirahat dengan baik"
"Sepertinya ada sesuatu yang menjerat pikiranmu didunia ini, kamu harus menangkal aura roh jahat, aku memiliki jimat penangkal arwah dan roh, kamu"
Peramal tua itu bicara tiada henti sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Julietta berniat untuk menolaknya, tapi David bergerak lebih cepat darinya. Dia menghalangi Julietta dan meraih lengan peramal tua itu.
Tubuh tinggi David memunggungi Julietta, sehinga dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tubuhnya berdiri tegak, melepaskan kacamata hitamnya memegang tangan peramal tua itu dengan tenang dan berkata perlahan.
"Dia tidak membutuhkannya jadi anda bisa menyimpannya kembali"
Julietta terkejut, suara David seperti marah, hanya karena seorang peramal tua yang mau membohonginya. Julietta melihat dengan jelas wajah tidak puas peramal itu. Dia memperlihatkan sebagian gigi emasnya. Lipatan diwajahnya itu hampir bisa menjepit serangga. Saat menghadapi David dia sedikit ragu ragu dan secara tidak sadar memasukan kembali jimatnya kedalam tasnya.
"Baiklah, maaf mengganggu kalian"
Setelah itu peramal tua itu melarikan diri. Dia melangkah dengan cepat sama sekali tidak terkihat seperti orang tua. Julietta berdiri dibelakang David sambil terpana.
"David apakah kamu salah minum obat, kenapa seharian ini kamu terlihat tidak bahagia dan bahkan marah seperti ini"
Sebelum Julietta menyelesaikan ucapannya, David berbalik dan memeluk Julietta dengan erat. Lengannya dikaitkan dipunggung Julietta sehingga membuatnya mendekat kedadanya. Pipi Julietta tenggelam ke dalam pakaian David. Jantungnya berdetak sangat kencang dan pipinya memerah,
"Ada apa denganmu sebenarnya" Julietta bicara pelan lembut.
David mengubur wajahnya dibahu Julietta. Setelah beberapa menit, dia bicara agak sedih "Jangan pergi"
"Aku pasti tidak akan pergi, kapan aku bilang akan pergi" Julietta merasa sedikit lucu.
Mengapa David bisa berpikir kalau Julietta ingin pergi, apakah karena dia datang memohon disini, Julietta bingung tapi untuk menenangkan David dia mengusap punggungnya dengan perlahan.
David memeluknya cukup lama, Julietta hampir bisa merasakan tatapan mengkritik setiap orang yang melewati mereka. Meskipun tidak berada didalam, tapi tetap tidak pantas berpelukan ditempat sakral ini. Julietta mengisyaratkan David untuk melepaskan pelukannya supaya mereka bisa segera pergi dari sini.
David enggan melepaskannya, setelah beberapa saat dia baru melepaskannya. Mereka saling bertatapan menciptakan suasana ambigu tapi hangat. Kemudian. Julietta melihat sweater abu abu David itu memiliki bekas lipstiknya.
Tanda lispstik itu sangat jelas dan membuat Julietta sedikit canggung. Dia berusaha keras untuk membersihkannya dengan tisue, tapi tetap saja tidak bisa hilang, malahan berubah menjadi setumpuk warna pink buram melebar.
__ADS_1
David tidak perduli dengan noda pink itu, dia tetap berjalan sambil menenteng kantung cemilan yang sudah keras pulang kerumah. Mereka tidak jadi makan diluar.