Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
seven


__ADS_3

Keesokan harinya.


Julietta merenggangkan badan di ranjangnya, dan tidak bersedia turun dari ranjangnya itu.


Akhir akhir ini dia sudah terbiasa menjadi seperti kepompong, dia hampir lupa sebelum dia memasuki dunia ini dia adalah pegawai kantoran yang kerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, terkadang dia harus lembur tanpa uang bayaran. Disaat itu hobinya dari kecil hanyalah menggambar, dia bisa duduk di kursi sangat lama sambil menggambar.


Kebetulan akhir akhir ini tangannya gatal, lebih baik beli satu papan meja gambar yang baru.


Tung tung, HP nya ada pesan baru masuk, Julietta mengucak matanya, lalu dia tengkurap di atas bantal dan menyalakan HPnya. Nama dalam kontak pengirim pesan adalah Marissa, isi pesannya juga sangat singkat.


( Siang ajak David makan bareng, tempatnya nanti aku kasih info ke kamu)


Julietta gemetaran, dia langsung duduk. Namanya Marissa, tidak ada keterangan hubungan lainnya, Julietta sama sekali tidak pernah dengar nama ini, dia coba mengingat dalam kisah novel itu, tetap tidak bisa mengingat informasi apapun, jadi dia sebenarnya siapa? Dia juga mencari profil dengan nama ini, tetap tidak ditemukan, riwayat pesan juga sepertinya sudah dihapus, tidak ada yang tersisa.


Satu satunya riwayat telepon ada di sebulan lebih yang lalu, di saat itu Julietta belum memasuki dunia ini, yang juga berarti Marissa pernah telepon dengan tokoh asli sebelum cerai.


Marissa itu siapa?


Julietta langsung duduk dengan tegak diranjang dan mengirim pesan ke David, 


(kamu dimana, aku mau tanya kamu sesuatu )


(Dapur) David membalas pesan dengan cepat seketika itu.


Julietta berbicara sendiri "Oh"


David sedang mengambil susu dari dalam kulkas.


Julietta tidak pernah melihat pria seusia seperti dia masih suka minum susu. Di kulkas rumahnya selalu terisi banyak susu, awalnya masih ada minuman bersoda, tapi soda itu sudah diganti oleh Julietta menjadi Yakult.


Julietta melangkah keluar kamar, David tidak menolehkan kepalanya, dia sedang membuka plastik sedotan dengan sabar.


"Emm itu"


David menjawab dengan pelan "uang habis?"


"Bukan"


Dia juga bukan wanita yang sangat boros, baru beberapa hari di transfer David lagi, mana mungkin uang sudah habis.


Julietta berkata lagi "hari ini kamu tidak ada acara apa apakan"


"Ya"


"Ada undangan ....makan siang, ......kamu tahu..... marissa"  Julietta berbicara dengan patah patah juga berjeda, dia mengira Marissa mungkin adalah teman atau saudara, dia masih khawatir, identitas dirinya akan terbongkar.


Mendengar perkataan dari Julietta itu David langsung menatapnya, David seperti sedang memikirkan sesuatu dalam pandangannya itu, membuat Julietta gugup gemetaran.


"Kenapa"


"Tidak apa"


Siang hari setelah ganti baju, dia bersama dengan David pergi ke restoran yang dekorasinya sangat mewah. Dari luar dia menaik naikkan dagunya, auranya tidak kalah dengan David yang berjalan di sebelahnya.


Pelayan membawa mereka ke meja yang sudah dipesan. Pandangan Julietta tertuju ke kursi di samping jendela. Lalu dia terkejut.


Pria dan wanita yang duduk di samping jendela itu umurnya sekitar 50an, perilakunya sangat elegan. Yang paling penting adalah dari umur mereka terlihat jelas mereka adalah orang tua, apakah mereka orangtua David. Julietta berpikir sendiri.


"Anak tidak sopan, ketemu aku tidak panggil papa ya?"


ternyata itu papanya, Papa David terlihat marah, matanya yang tebal itu sangat menakutkan orang. Julietta menjadi bingung.

__ADS_1


Pria ini adalah papanya, berarti mungkin Marissa adalah mamanya? Pantas saja dia memandang dirinya dengan tatapan aneh, langsung memanggil mamanya dengan namanya, David tidak marah saja sudah bagus tadi.


Tapi wajah David dan mereka berdua tidak terlalu mirip. Dan juga kalau itu memang mamanya David, kenapa tokoh asli menandai kontaknya dengan namanya langsung, sangat sembarangan. Untung saja mereka langsung mengeluarkan membahas statusnya.


"Walaupun Marissa adalah mama tiri kamu, tapi dia juga sangat perhatian dengan kamu, dengar dengar kalian berdua akhir akhir ini tidak harmonis, jadi dia minta untuk diajak makan siang bersama."


Ucapan Jackson papanya ini membuat Julietta sedikit mengerutkan alisnya. Menurutnya ucapannya ini sangat tidak enak didengar. Walaupun David tidak bisa menerima mama tirinya juga masih bisa dimengerti, memaksa anak mengakui seperti ini, hanya membuat hubungan papa dan anak semakin menjauh renggang.


David hanya diam seperti mematung, tidak menjawab sama sekali, membuat Jackson mengganti topik.


"Julie, akhir akhir ini kabar kamu bagaimana nak"


"Emm" Julietta tidak ingin memanggil mereka papa mama, dia hanya tersenyum lalu menjawabnya.


"Sangat baik, kita berdua hidup sangat baik, kalian mungkin salah paham"


Mendengar perkataan itu, pandangan Marissa langsung tertuju ke Julietta, ekspresi di wajahnya sedikit gelap.


"Bagus kalau begitu, pria muda ini seharian hanya bisa makan dan menunggu mati, benar benar tidak berguna, membuat kamu tidak nyaman" ucap Jackson lagi.


Julietta melirik ke arah David karena bingung.


Dibandingkan dengan mereka yang duduknya tegak, David adalah satu satunya orang yang duduk dengan santai. Punggungnya melengkung, ekspresi diwajahnya seperti orang malas yang duduk diatas kursinya, dia juga tidak perduli dengan kata kata Jackson.


Jarinya yang panjang sedang memainkan tisu dibawah piring, pandangan matanya ditundukkan, seperti tidak perduli dengan apa apa sama sekali.


Tapi Julietta tiba tiba merasakan kegelisahan mengalir kedalam hatinya. Kenapa seorang papa bicara seperti ini dengan anaknya, apakah ini adil untuk David.


Apakah dia melihat David sebagai anaknya yang punya harga diri dan sebagai orang dewasa yang punya keluarga.


Julietta menarik nafasnya dalam dalam, dia memutuskan untuk berbicara sedikit "aku"??


"Aku lapar" tanpa mengangkat kepalanya itu David memotong perkataan Julietta, dengan pelan dan lembut dia berkata lagi "minta menu"


Tidak tahu apakah ini hanya dalam pikiran dia, David sepertinya tahu dia ingin bicara apa, kebetulan disaat  seperti ini dia memotongnya. Dia menghela nafasnya, dia tahu di keadaan seperti ini, bicara apapun pasti akan aneh, mungkin lebih baik bersabar dulu untuk melihat keadaan.


Tangan kiri David sedang terluka, makan makanan berat sedikit tidak nyaman, maka akan sering terdengar suara kecil persentuhan pisau garpu dengan piring. Tampangnya yang seperti ini membuat Jackson tidak suka melihatnya, wajahnya terus cemberut.


Satu makan siang yang canggung ini membuat Julietta tidak nyaman, sangat canggung dan tidak tahu harus bicara apa, dan dia juga takut rahasianya terbongkar.


Makanannya lumayan enak, tapi porsinya tidak banyak, malah lebih baik makan pasta di mangkok di rumah, di saat ini ujung kaki tiba tiba ada yang menendangnya.


Julietta terkejut, dia melihat Marisa yang duduk diseberanginya. Perawatan kulitnya dia itu sangat bagus, dia tersenyum melihat pandangan Julietta yang kaget.


"Aku mau Touch up riasan, mau ikut tidak"


Julietta menguatkan genggaman jarinya  dipisau dan garpu itu, dia sadar keadaannya tidak semudah yang dibayangkan.


Dia menganggukkan kepalanya dan membawa tasnya "baik"


Sesampainya di toilet, wajah Julietta langsung berubah, senyuman di bibirnya menjadi dingin, tatapan matanya sepeti mengintimidasi, dia menatap Julietta dengan dingin lalu berkata ketus.


"Kamu kenapa, tidak jadi cerai sih, mau minta naik harga dengan aku heh"


Julietta terkejut, tapi dia langsung mengerti maksud Marissa.


Sepertinya tokoh asli cerai itu ada kontribusi dari mama tirinya.


"Apakah kamu lagi lagi menginginkan rumah dia itu lagi? Aku bukannya sudah bilang ke kamu dulu, kamu ambil saham, nanti kamu kasih ke aku, aku akan kasih kamu 2 unit rumah, areanya kamu yang pilih, kalau kamu masih tidak puas, hati hati kamu bisa jadi tidak akan mendapatkan apa apa loh"


Julietta menarik nafasnya dalam dalam, di dalam hatinya sangat terkejut tapi di luar tidak terlihat terkejut sama sekali.

__ADS_1


Dia menolehkan wajahnya dan berkata "aku belum menentukannya lagi"


Marissa sedikit terburu buru, dia menarik lengan Julietta , kuku dengan kutex dia yang berwarna hijau itu menusuk dikulit Julietta yang putih membuat dia sedikit meringis kesakitan. Wajahnya Julietta sangat pucat.


"Kamu jangan main main dengan aku, kamu harus ingat, kamu tidak punya orangtua, kamu tidak punya siapa siapa disamping kamu yang bisa kamu andalkan, saat itu kalau bukan karena aku, kamu juga tidak akan bisa menikah dengan David, jangan jangan kamu bodoh sampai mengira dia itu suka dengan kamu ya, aku kasih tahu kamu yah, awalnya itu karena rumah itu dia baru setuju menikahi kamu"


"Rumah itu adalah warisan satu satunya yang ditinggalkan mamanya David saat meninggal, jadi kamu jangan terlalu berharap."


Cengkraman kuku itu membuat kulit Julietta yang putih terasa sedikit perih..


Mendengar penjelasan keadaan yang sebenarnya dari dia, akhirnya Julietta mulai mengerti kenapa David mau menikahi tokoh asli wanita pendukung itu.


"Pokoknya kamu harus tahu keadaan dengan jelas, dan jangan bodoh lagi"


Julietta menjawab samar samar dan pelan " ya" 


Marissa menatap dia dengan kesal. Demi saham David ini, dia sudah merencanakan bertahun tahun, hanya untuk menunggu hari ini, bagaimana mungkin bisa dihancurkan rencana itu oleh Julietta.


Lengannya yang sakit perih itu membuat hati Julietta lelah. Dia sadar dirinya ingin menjadi wanita pendukung yang berperilaku baik juga tidak akan semudah itu. Saat ini didepan ada serigala, dibelakang ada harimau, semuanya harus diselesaikan dengan cepat, baru bisa hidup bahagia dengan tenang sendirian.


Satu makan siang yang canggung selesai, seperti biasa Julietta dan David pulang naik taxi. Angin dingin menghembus ke rambut panjang Julietta, mereka berdua sepanjang perjalanan hanya terdiam sampai masuk ke gedung rumahnya, sampai Julietta menginjak menaiki anak tangga, dia tiba tiba memutar badannya dan menatap mata David. Mereka berdua berdiri terdiam.


Julietta tidak ingin membahas ucapan dari Jackson hari ini. Dipandangan bingung David itu Julietta menggaruk kepalanya dengan gelisah. Dilihat dari sifat David seperti ini dia bersifat pasrah pasti tidak mau berebut aset keluarga, mungkin saja suatu hari dia dijebak oleh mama tirinya, dia akan sepenuhnya menjadi orang miskin selamanya.


Julietta tiba tiba merasa ada tekanan beban yang sangat besar. Sudah saatnya dia membawa beban berat keluarga kecilnya ini.


David juga lumayan baik dengan dia, dia bukan orang yang kejam.


"Tidak apa, aku juga punya uang, walaupun bukan sangat banyak, maka kalau kamu mau membalasnya, ya balas saja, jangan menahan marah dan tidak bersuara ke mereka" ucap Julietta.


Dibayangan Julietta itu kalau David tidak bicara apa apa tadi itu demi tidak memutus sumber keuangan dari Jackson.


Mamanya meninggal, papanya tidak sayang, mama tirinya setiap saat menatap uang, aneh kalau david tidak murung, Julietta berpikir seperti itu dan juga sudah mulai mengerti alasan dia menghindar dari kenyataan juga dirinya,


David terbengong. Satu tangannya dimasukann ke kantong, ekspresinya sangat serius menatap Julietta. Dibawah cahaya lampu yang samar samar di gedung tua itu, garis pipi dia sangat lembut, kedua matanya yang panjang sangat indah, bola matanya terlihat sangat hangat.


Julietta yang ditatapnya sedikit tidak nyaman lalu berkata lagi "baiklah aku tahu kamu sangat tersentuh tapi"


"Tunggu"


Badan David sedikit condong miring maju kedepan, jarak mereka berdua semakin mendekat.


Julietta bertanya dengan waspada "kamu mau apa, aku tahu aku sangat cantik dan baik"


Dalam hatinya dia berpikir kalau pria ini mau menciumnya itu adalah kesalahan yang sangat besar, dia tidak punya perasaan hanya sedikit hati untuk melindungi wanita kecil ini saja.


"Terima kasih, tidak perlu bahas perasaan"


"Kamu"


"Ya"


"Belek mata kamu kenapa bersinar?" Pandangan David terlukis dengan penuh keseriusan sambil menatapnya.


Julietta  kebingungan "???"


Sangat lama mereka berdua terdiam di sana.


"Kita sebut ini dengan kantong mata" jawab Julietta kesal dan nada ketus.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2