Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
45


__ADS_3

Mungkin supirnya merasa tidak enak, dia melihat Julietta dari kaca spion dan berkata "nona, kalau anda buru buru bisa naik kereta, sekarang hari jumat jam pulang kerja sangat macet, mungkin macet disni bisa sejam lebih"


Julietta melirik argometer dan berpikrir yang supir bilang itu benar juga. Setelah beberapa menit, taksi berhenti dipinggir jalan, Julietta turun membawa koper dan masuk ke stasiun, tiba tiba dia teringat diirnya tidak punya kartu transportasi, maka dia buru buru pergi membuat kartu itu, masalah datang lagi, dia tidak ada uang tunai, dia hanya bisa pergi keATM menarik uang setelahnya membeli kartu dan akhirnya bisa naik kereta.


Julietta terlihat sangat lelah, kepalanya penuh keringat. Tapi dia masih harus menutupi penampilannya dengan erat, dia mengenakan masker dan topi agar tidak dikenali orang. Walaupun seperti ini bentuk badannya yang indah dan matanya yang cantik tetap menarik perhatian orang, ditambah lagi pakaiannya yang bermerk, pergi kemana pasti akan dikerumuni orang ingin tahu, bahkan ada orang yang mengira dia artis dan minta tanda tangan. Julietta pusing, dia mulai menyesali seharusnya tidak mencari kerepotan demi menghemat uang. Sesampainya dihotel, Julietta memesan satu kamar standard, resepsionis melihat namanya dan tertawa "ah nama anda dan istri bos Aquarius sama persis"


Julietta berkata dengan rendah hati "tidak tidak aku tidak secantik dia"


Kalau ada orang yang mengenal Julietta mendengar dia berkata seperti ini, pasti akan terkejut dengan muka tebalnya. Hotel itu hotel biasa, untung fasilitasnya masih sedikit baru, Julietta duduk diranjang dan menyentuh perutnya yang lapar, dia memutuskan memesan makanan, ditambah diskon mie ayam sangat untung, Julietta baru makan satu suap dia langusng mengerutkan alisnya. Katanya komentar bagus sampai puluhan ribu, tidak seenak yang biasa dia buat sendiri dirumah.


Dia menghela nafasnya, tidak ada mood, dia makan beberapa suap lalu berbaring melamun. Disaat ini David seharusnya sudah menerima suratnya dan sudah menerima kenyataan, dia tidak berani mendengar suara David, jadi dia mengganti nomor hpnya dan memblok David, dari sekarang sudah tidak ada hubungan apa apa dengan David. Julietta sudah memutuskan.


Besok beli tiket keluar kota, yang dimana tidak ada orang mengenalnya sebagai istri bos Aquarius, dia ganti gaya rambut, pakai baju biasa, kalau wajahnya tidak ada kesempatan untuk dirawat, tidak berapa lama akan berubah menjadi wanita yang hanya bisa dibilang manis bukan wanita super cantik lagi, dan tenggelam ditengah lautan orang. Menyesalkah, mungkin Julietta merasa menyesal sesaat.


Julietta merasa dia juga seperti orang biasa yang mendambakan kehidupan yang nyaman, berharap dirinya tidak lelah, pemikiran seperti ini sesekali muncul. Tapi Julietta tidak bisa memaksakannya. Dia tidak bisa membalas perasaan ke David, disaat ini dia merasa kalau dia tetap membiarkan David menyukainya lebih dalam, dan membuat janji yang tidak bisa dia tepati, dia sangat takut menyakiti hatinya, dia tidak mau melukainya.


Malam itu Julietta memikirkan banyak hal, dalam hal perasaan dia memang lambat, dia gemetar saat dia memikirkan David memeluknya dengan erat, kalau dia masih bisa mengucapkan ada pria lain dan minta cerai, dia takut akan tenggelam dengan kedustaan dan menyalahkan dirinya. Julietta tidak bisa bilang cerai dihadapan David langsung, seperti itu David akan lebih terluka berkali lipat dari sekarang. Dia hanya bisa kabur pergi seperti pengecut.


Sebelum dia pergi, didalam kulkas ada pangsit beku yang banyak dan makanan yang sudah jadi cukup untuk David makan dua hari ini. Nanti David bisa mencari koki baru, kehidupan baru dan juga akan perlahan lahan melupakan hal tentangnya.


Mengingatkan Julietta pada kehidupannya juga akan sama. Dulu seperti apa, sekarang juga tetap seperti apa, hidup bertahun tahun, jauh lebih mengerti David, dia pasti bisa merawat dirinya dengan baik. Hanya saja, merawat dengan makanan cepat saji atau makanan luar itu tidak pasti.


Kalau bukan karena Tomy terlalu kreatif pintar, Julietta sangat ingin memintanya untuk merawat bosnya dalam hal makanan. Dihari kedua, Julietta pergi kesalon dibawah untuk memotong rambutnya menjadi pendek.


Tukang potong rambutnya terus memuji rambutnya yang sangat indah dan warnanya bagus, didalam salon pelanggan tidak banyak, para tukang potong rambut memperhatikannya disebelahnya, tapi tidak mudah untuk mengajaknya berbicara. Tukang potong itu membeli potongan rambut Julietta.


Julietta sedikit kebingungan, tapi melihat uang, dia akhirnya menerima kenyataan kalau rambutnya pendek. Setelah rambutnya menjadi pendek, penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya, sekarang dia terlihat seperti murid SMA yang muda imut dan tetap cantik, kalau dia diam diam masuk sekolah SMA juga tidak akan ada yang curiga.


Ada pelanggan yang baru masuk dan menebak dia dari SMA mana, Julietta sedih tapi juga senang, hatinya kacau. Setelah potong rambut, dia beli beberapa baju murah, dia langsung terlihat seperti gadis yang tidak punya uang. Melewati pria bersiul yang memakai seragam SMA, mereka meminta nomor HPnya, julietta hanya bisa memberitahu merkeka kalau dia sudah tante tante untuk menolaknya.


"Hei kamu sekolah dimana, besok pulang sekolah aku jemput kamu ya"


"SMA 1 atau 2, atau adik kelas"


Adik kelas apanya, sekolah apanya, Julietta benar benar ingin memberi mereka pelajaran. Dia melihat mereka dan pura pura tidak mendengar sambil mengeluarkan HPnya browsing mencari tiket. Selanjutnya Julietta tiba tiba kebingungan, tunggu, kenapa tidak ada tiket, saat dia melihat satu kata tanggal merah, tiba tiba dia sadar kalau sudah mau hari raya.


Harga tiket pesawat mahal, Julietta berpikir beberapa saat, lalu dia tetap memutuskan mencari tiket untuk pergi jauh. Dia membeli tiket pesawat beberapa hari kemudian, dia bersiap siap dihotel untuk merencanakan kehidupannya. Selanjutnya dia harus berbuat apa.


Julietta tidak menyangka respon David lebih besar dari yang dibayangkanya. Sejak Julietta pergi, David seperti menghilang dari bumi.


 Tomy awalnya tidak tahu, lalu setelah mengirim pesan ke Julieta tapi diblokir, telepon juga tidak aktif, beberapa orang lain dikantprnya juga mengalami hal yang sama, mereka saling menatap satu sama lain, tidak tahu ada terjadi masalah apa. Setelah dia tidak bisa menghubungi David, dia baru sadar, masalahnya lebih serius dari yang dibayangkannya.


 David merasa biasanya diwaktu ini, dirumah akan ribut, ada suara pengering rambut, suara langkah sepatu, ada asap masak, ada suara TV, walaupun mereka berdua melakukan halnya masing masing, pintu kamar tertutup tetapi hati sengat tenang. Saat dia pulang, selalu bisa melihat Julietta. Radang lambung yang sudah tidak ada mulai menyiksanya, membuatnya mual seperti cairan dilambungnya sedang akrobatik. Setelah lama tidak makan, hanya sakit yang mengingatkannya untuk merawat tubuhnya.

__ADS_1


David mengenakan baju tidur, wajahnya datar dan seperti biasa membuka kulkas, mengeluarkan pangsit yang dibekukan Julietta, lalu merebusnya.


Karena apinya terlalu besar dan sambil bengong, setengah pangsitnya bagian kulitnya pecah, isinya keluar dan menjadi satu mangkok sup daging. Dia mematikan kompornya lalu menuangnya kemangkok, dibawa makan dimeja makan. Satu sendok dan mangkok, membuat meja makan terlihat lebih besar dari biasanya, kesepian melanda hatinya. David mengangkat sendok tapi tidak fokus. Dengan cepat uap panas dari sup itu menjadi dingin dan pekat, dia seperti makan 10mangkok pangsit daging, membuatnya kenyang dan enek.


 Tok tok tok, Tomy mengetuk pintu dari luar rumahnya, seorang pria berteriak dengan suara sedih "bos cepat bicara, jangan berbuat aneh aneh"


David berjalan kepintu dengan lambat dan membuka pintu. Mata Tomy hampir merah "Julietta dimana, dia kemana, kalian ribut tidak boleh pisah seperti ini, ada masalah apa itu harus dibicarakan dengan baik baik"


Setelah terdiam sekian lama, David berbicara pada dirinya sendiri "dia sudah pergi" "tidak akan kembali lagi"


Ini kedua kalinya Tomy melihat situasi David seperti ini, terakhir kali adalah saat mama David meninggal. Tomy hampir menangis, matanya merah dan dengan gemetar bertanya. "Julietta dia em ..sudah dikubur"


Yang menjawab tomy hanyalah suara bantingan pintu yang ditutup


Sementara Julietta bersin, aneh siapa yang sedang membicarakan dia. Setiap kali pikiranya langsung memikirkan David. Julietta melamun sebentar, dia menghela nafasnya. Keluar beberapa hari selalu memikirkan David apakah makan dengan baik, sepertinya sudah terbiasa dengan identitasnya sebagai tukang masak, dia takut David tidak merawat dirinya dengan baik. Tapi Julietta percaya, Tomy yang terkadang bisa diandalkan akan merawat David dengan baik, ada dia, Julietta sedikit tenang.


Julietta naik pesawat kekota lain, ini adalah kota yang dipilihnya dengan asal, juga harga barang dikota ini lebih rendah dan transportasinya sangat praktis, bisa dibilang kota yang cocok ditinggali.


Dia sudah melihat beberapa tempat tinggal dan sudah berkomunikasi dengan pemilik rumahnya setelah itu tidak ada masalah dia tinggal menetap disana. Dia tinggal distudio apartment, seketika terlihat jauh lebih sempit. Julietta berputar sekali, dia melihat banyak kurang barang, dia duduk disofa dan mencatat daftar perabotan yang harus dibelinya, lalu dia memutuskan untuk pergi kesupermarket terdekat, setelah mengenakan jaket dia pergi keluar. Panci, mangkok, beras, minyak, bumbu dan lainnya adalah barang yang wajib ada.


Barang yang ada didaftar belum sampai setengahnya, tapi troli sudah penuh dan tidak bisa diletakan barang lagi. Dia melihat setidaknya ada belasan kilo, Julietta mau tidak mau beli ini dulu dan diletakan dirumah lalu belanja beli barang sisanya. Saat dia sedang antri bayar, tiba tiba ada orang yang memanggilnya "Julietta"


Suara pria itu terdengar jelas sangat curiga dan tidak percaya, Julietta mendengar suara yang tidak asing, tanpa sadar dia menoleh kebelakang, tapi rresponnya sangat cepat langsung menutup wajahnya dan berkata.


"Ini benar kamu" Suara Erick terdengar.


Ditangannya ada beberapa kantong buah dan menghampirinya, dia memastikan itu benar benar adalah Julietta yang memotong pendek rambutnya, penampilannya juga berbeda dari yang dulu.


"Kamu kenapa ada disini"


Pandangan Erick mengarah ketroli Julietta dan semakin tidak yakin. Julietta tahu berpura pura sudah tidak mungkin, dia melepaskan tangannya dan berkata.


"Kamu tidak perlu banyak tanya, tidak ada hubungannya dengan kamu"


"Kamu sendirian" Erick merasakan kebenaran dengan akurat.


Julietta membuang mukanya "tidak ada hubungannya dengan kamu"


Erick antri dibelakang Julietta, mereka berdua tidak berbicara, didalam supermarket yang berisik terlihat sangat canggung. Seperti ada laser yang mengenai kepala Julietta membuatnya tidak nyaman.


 Sebelum David mempublikasikannya, Julietta akan menjaga rahasia ini, dia tidak akan membiarkan orang lain tahu urusan pisah mereka berdua, termasuk Erick. Dengan cepat saatnya Erick membayar.


Barang yang dibelinya sangat banyak dan memenuhi satu troli, terlihat lebih berat dari Julietta. Dia menahan mukanya yang merah dan berpura pura mengangkat dua kantong belanja yang besar dengan ringan, belum jalan jauh, lengannya sudah gemetar.

__ADS_1


"Biar aku saja" Erick yang dibelakngnya menghampirinya dan membantu Julietta membawa kantong belanjaannya, dia memberi satu kantong buah kecil ke Julietta lalu dia mengangkat satu kantongnya lagi.


Julietta langsung berkata "sebenarnya tidak perlu"


"Anggap saja aku balas kebaikan kamu, tidak ada hubungan dengan urusan lain, boleh tidak"


Erick mengangkat semua kantong belanjanya dengan santai dan mereka keluar dari supermarket.


"Kamu tinggal dimana"


Julietta agak ragu menunjuk kearah apartemennya. Disini seharusnya adalah tempat persembunyiannya yang rahasia, tidak disangka hari pertama langsung tertangkap basah oleh Erick.


Erick tertawa "kebetulan sekali"


"Kamu kenapa ada disini" 


Apakah jangan jangan ada hubungan dialur cerita pemeran utama, membuat dia kemanapun pasti akan bertemu Erick atau Sisca.


"Ini kampung halamanku, tapi kebetulan juga, rumah aku hanya beberapa kilo dari sini, aku hanya kebetulan lewat untuk beli buah"


Ini keberuntungan apa. Pilih tempat secara asal, tidak disangka kampung halamannya Erick. Untung saja Erick tidak banyak tanya, setelah mereka berdua masuk ke apartemen, Erick meletakkan semua kantongnya dan melihat sekeliling sekilas dan berkata.


"Kamu baru datang masuk ya"


"Seorang wanita tinggal disni sendirian, harus hati hati sedikit, aku periksa dulu apakah barang disni ada masalah"


Julietta menggaruk kepalanya "sebenarnya tidak perlu"


Erick menatapnya, rambutnya yang pendek sedikit berantakan, tidak seperti wanita yang sudah menikah bertahun tahun, benar benar seperti gadis ABG. Dia menggelengkan kepalanya dan membantu Julietta memeriksa peralatan, dia mengencangkan baut yang kendor, kran air, dan setelah memastikan tidak ada masalah, dia siap siap mau pergi.


Julietta sangat berterimakasih dan mengantarnya sampai pintu, tiba tiba dia mengingat kantong buah Erick yang dimejanya.


"Oh ya buah kamu"


"Tidak apa, anggap hadiah kamu pindah rumah"


Wajah Erick tiba tiba menjadi serius dan berkata "kalau ada masalah apapun, ingat telepon aku, jangan tolak demi egomu"


"Baik, terima kasih"


Julietta menutup pintu dan bersandar dipintu, lalu perlahan dia merosot terduduk dilantai dia menghela nafasnya dan menutup wajahnya. Habis sudah, Erick pasti sudah merasa ketidakberesan mereka.. Sudah diduga.


Erick tidak menunjukannya langsung, tapi dia sering mencari alasan untuk mengirim barang kepada Julietta. 

__ADS_1


Terkadang daging, sayuran, buah buahan, awalnya Julietta mau langsung menolak, tapi dia tidak bisa menolak ketulusan dari Erick, sebenarnya dia sama seperti yang dirinya bilang, memberi barang, terkadang bicara sebentar, menanyakan kabar, setelah itu langsung pergi, tidak ada maksud lain sama sekali.


__ADS_2