
Yang masih tertinggal dipikiran Julietta adalah bayangan tentang David yang akan meninggal. Tapi latar belakang di kondisi sekarang dan cerita itu berbeda dan telah terjadi banyak sekali perubahan seakan tidak ada jejak yang bisa diperiksa.
Ketika kupu kupu itu mengembangkan sayapnya, terjadilah perubahan yang sangat banyak. Erick menatapnya dan bicara dengan tulus sambil tersenyum "Terima kasih"
Mungkin Julietta selamanya tidak akan pernah tahu bahwa dialah yang selalu mendukung dan menemani Erick melewati masa masa sulitnya, meskipun itu tidak kelihatan. Bagaimanapun, kenangan tetap saja kenangan. Sekarang mereka harus melangkah maju berjalan ke arah kehidupan mereka masing masing. Pada saat ini, sebuah tatapan halus sedang menatap mereka berdua.
Julietta tiba tiba merinding. Aneh, mengapa ada perasaan seperti sedang diperhatikan oleh hantu.
Erick berjalan kedepan dan tersenyum "David"
David berjalan mendekat dengan satu tangan berada dalam saku celananya seperti biasa dan tangan lainnya meraih menggandeng tangan Julietta. Dia melirik Erick dengan santai namun terlihat memperingatkan, lalu menarik Julietta menjauhinya.
Erick yang berada dibelakang menatap mereka pergi, itu cukup terlihat lucu. David juga bukannya orang tampan yang tidak memiliki perasaan sedikitpun. Dari tindakannya bisa terlihat dia sangat peduli terhadap Julietta.
Seberapa kuat orang itu, saat dia berhadapan dengan cinta, pasti akan menemui kelemahannya, semuanya sama saja. Erick berkata pada dirinya sendiri "Kita semua akan bahagia"
Julietta ditarik pergi secara terburu buru. Dia berjalan mengejar David sambil melambaikan tangannya ke arah Erick.
David "Tidak diizinkan untuk melihatnya dan tidak diizinkan untuk berpamitan dengannya"
Julietta "Kenapa"
David menggenggam erat lengannya tanpa menjawab sepatah katapun. Mungkin dia sedang khawatir akan keuntungan pribadinya. Namun kata kata itu telah sampai diujung bibirnya. Dia berhenti sejenak dan bicara. "Mau makan malam apa, aku lapar"
Julieta "Aku tahu itu"
Undangan Marc telah tiba sesuai yang dijanjikannya. Julietta secara khusus berdandan. Ketika dia sedang memakai maskara, David diam diam mendekatinya seperti hantu.
"Apa ini" David menunjuk maskara.
"Aduh kamu mengejutkanku"
Suara David itu yang tiba tiba terdengar dalam kamar yang hening. Jelas saja itu membuat Julietta kaget agak ketakutan. Maskara itu tercoret di kelopak matanya dan menghancurkan eye shadownya pecah menjadi dua.
"Bisakah kamu mengetuk atau menyapa dulu lain kali"
David menjawabnya dengan perlahan "Bukankah aku menyapa, bagaimana cuaca hari ini, apa yang kamu makan siang tadi dan menemukan topik pembicaraan pada sesuatu yang sedang dilakukan oleh lawan bicara, bisa membuat percakapan antara dua orang lebih mudah"
Perkataan teorinya yang panjang itu mengejutkan Julietta.
"Darimana kamu mempelajari ini, David kamu bahkan mulai memperhatikan bagaimana teknik berbicara, luar biasa, sangat luar biasa"
Pertanyaan Julietta itu membuat David mengedipkan matanya "Dari iklan"
Jika memberitahu Julietta bahwa dia telah mempelajari semua buku tentang perbedaan gender, mungkin Julietta akan menertawakannya saat itu juga. Yang perlu ditekankan adalah David mematuhi pedoman yang ketat dan mulai mempelajari banyak hal, terutama berdasarkan penilaiannya dan akhirnya dia membuat sebuah daftar wajib.
Daftar buku rahasia pamungkas. Hanya dia seorang yang memenuhi syarat untuk mengetahui konten yang spesifik.
Julietta menghapus make up nya yang ternoda dengan kapas dan lanjut bicara "kamu makan malam sendiri, aku mau pergi keluar"
"Kamu pergi kemana"
"Marc bilang bahwa akan mengajakku kesebuah pesta jamuan kecil dan mengenalkanku kepada beberapa senior. Menurutku ini adalah kesempatan yang baik, mungkin aku pulang agak malam jadi kamu urus sendiri ya"
David terdiam untuk waktu yang lama kemudian dia mengangguk dan mengiyakan Julietta, lalu berjalan keluar dari kamar Julietta.
__ADS_1
Entah mengapa dalam pikirannya selalu muncul bayangan kepala David yang dipenuhi salju. sambil menyanyikan lagu dengan santai, julietta segera mengguncangkan kepalanya dan buru buru membuang pikiran aneh itu yang tiba tiba muncul.
Dia menenteng sebuah tas kecil, menggulung rambutnya yang sebahu itu, lalu mencabut gulungannya dan melihat David yang sedang duduk di sofa.
"Jangan lupa makan, jangan pesan junk food"
David menatapnya. Julietta berdiri dipintu dan memakai sepatunya. Dia mendongak dan melihat David berjalan kearahnya. Julietta melambai kearahnya dan berkata "Aku berangkat dulu ya"
"Cepat pulang"
David berdiri kesepian didekat pintu, seolah olah Julietta telah meninggalkannya. Julietta merasa tidak nyaman karena tatapan David itu dan berpikir apakah perlu menenangkannya sebentar. Tepat pada saat ini David bicara pelan.
"Restoran ayam goreng dilantai bawah sebrang gedung itu tidak menerima pesan antar, aku sedang malas untuk turun, ketika kamu pulang tolong belikan untukku"
David "Aku mau saus pedas manis dan saus mayones, oh, tambahkan juga kentang goreng, sebotol besar cola"
David "Aku sudah selesai, kamu bisa pergi"
Julietta yang terbengong mau melemparkan dua kata ke David dasar pria busuk. "Sampai jumpa"
Marc mengendarai mobilnya sendiri dan sekalian menjemput Julietta. Julietta merasa tidak enak hati, untungnya rumah Julietta searah dengan dimana acara itu, jadi Julietta memberikan alamat rumahnya kepada Marc lebih awal.
Julietta yang berada agak jauh itu melihat mobil BMW berwarna biru safir, dikedua sisinya terdapat gambar kartun animasi, Julietta tidak tahu gambar apa tepatnya.
Mobil ini sangat menarik perhatian, orang orang yang lalu lalang itu sejenak melihatnya sampai menengok kebelakang. Ada juga beberapa orang yang mengeluarkan ponsel untuk mengambil beberapa foto untuk kenang kenangan. Marc yang sedang menyetir bicara "Aku khawatir kamu tidak akan menemukanku"
"Bagaimana mungkin tidak menemukannya" Julietta memasang sabuk pengaman duduk disebelahnya. "Mobilmu ini bagaikan sebuah aktor paling tampan yang ada diatas panggung"
Marc menerimanya sebagai pujian dan tertawa.
"Aku benar benar tidak menyangka bahwa kalian berdua tinggal digedung tua yang sangat biasa seperti ini. Sistem keamanannya tidak terlalu tinggi, jika kamu mau, kalian bisa pindah ke apartemen yang jauh lebih baik lagi, ada banyak orang jahat dizaman sekarang ini, jangan berpikir dunia ini terlalu polos"
Baagaimana Julietta bisa mengatakan bahwa menurut David, bangunan tua ini tidak hanya sekedar rumah, namun juga suatu tempat yang memberikan banyak kenangan yang tidak terlupakan.
"Nona cantik ini berpakaian dengan sangat cantik hari ini, sayangnya putraku masih sekolah, kalau tidak aku akan menyuruhnya untuk menunggumu. Jika kamu masih memiliki adik perempuan yang cantik dikeluargamu, sisakan beberapa untukku ya"
Julietta "Mengapa ucapanmu itu seperti sedang berdagang manusia"
Mereka mengobrol sepanjang jalan. Tepatnya itu adalah cara Marc memborbardirnya, mereka bicara tentang betapa menyenangkannya pameran musim semi. Julietta pusing mendengarnya. Untungnya jarak dari tempatnya keklub itu tidak terlalu jauh. Ketika dia turun dari mobil dia nampak seperti tahanan yang melarikan diri dari penjara, dia membuka tangannya menyambut udara segar yang bebas itu.
Tempat jamuan itu adalah sebuah klub pribadi. Butuh kartu keanggotaan untuk bisa masuk dan keluar. Julietta terlihat masih baru, dia mengikuti Marc sepanjang jalan dan berusaha untuk membuat dirinya tidak seperti orang kampungan.
Marc merasa terhibur dengan penampilannya yang sangat waspada itu. "Tidak apa apa, jangan gugup, mereka semua adalah sekelompok teman baik baik dengan kepribadian yang menarik"
Julietta menghela nafas panjang "Baiklah aku tahu"
Pelayan membawa mereka ke salah satu ruangan pribadi. Mereka melewati lorong yang sunyi, seakan akan tidak ada orang disana. Julietta berusaha keras untuk menahan kegugupannya.
Pelayan itu membuka pintu. Beberapa orang yang sedang duduk disofa itu menengok. Setiap orang memiliki setumpuk kertas yang menempel diwajahnya. Pemandangan itu sangat lucu. Melihat adegan itu, Julietta merasa sangat terkejut dan bingung. Dia hampir saja tertawa.
Tapi Marc tertawa terbahak bahak "Kalian bermain kartu lagi"
"Bukankah kami sedang menunggumu, yang dibelakang, itu adalah Julietta si fatbird legendaris itu bukan, mengapa gadis ini begitu cantik, cepat kemari, posisi tengah ini kami siapkan untukmu"
Beberapa orang melambaikan tangannya penuh semangat. Seperti yang dikatakan Marc, mereka mudah bergaul dengan antusias. Julietta duduk ditengah sofa, seperti sedang duduk ditengah duri. Selain Marc masih ada tiga orang lagi.
Dua orang laki laki itu paruh baya, dan seorang wanita yang sedikit lebih muda. Marc memperkenalkan mereka masing masing kepada Julietta. Tidak terlihat mencolok, namun mereka semua adalah petinggi senior di industri yang sama olehnya. Diantara mereka ada seorang yang bernama Enri yang hendak pensiun karena alasan pribadi, karya buatannya sekarang sangat langka. Setelah tahu bahwa mereka telah banyak berkontribusi, Julietta semakin hormat lagi.
__ADS_1
"Hei, jangan seperti itu, hati hati tertempel stiker ya"
Ketika Enri bicara, kertas yang tertempel diwajahnya tertiup dan terbang lepas. Julietta yang melihat itu seketika tidak bisa menahan sikap seriusnya dan menatap mereka dengan canggung. Marc tertawa lalu bicara.
"Sudah kubilang ini adalah sekelompok anak anak yang tua"
Kata katanya itu diprotes mereka "Hei, kamu yang tua, aku selalu berusia delapan belas tahun"
"Benar"
"iya"
Melihat mereka berargumen lucu, Julietta menjadi santai. Beberapa orang melihatnya dengan penuh rasa ingin tahu dan mengajukan banyak pertanyaan padanya, seperti dari mana dia lulus, siapa yang mengajarinya dan lain lain. Julietta tidak bisa menjawabnya dan hanya bisa menjawab kalau dia belajar sendiri dari kecil.
"Karyamu ini memiliki jiwa, aura, gadis kecil prospek masa depanmu sangat baik, tidak harus membuat karakter game"
"Lalu mengerjakan apa" Julietta bertanya heran.
Marc mengganti topik dan berkata "Orang tua ini sangat jahat, selalu menyarankan orang untuk berganti karir, kamu jangan dengarkan dia, hari ini kita tidak membicarakan tentang pekerjaan"
Enri juga tidak tersinggung dan mengangkat cangkir tehnya "Kalau begitu aku akan menghukum diriku sendiri dengan minuk satu gelas ini, julietta jangan marah ya"
"Tentu saja aku tidak akan marah" Julietta menjawabnya sambil tersenyum.
Setelah tiga ronde minum teh, buah buahan dipiring juga sudah hampir habis, cemilan buah kering itu cukup membuat gigi sakit, tehnya juga sudah diminum cukup banyak.
Pesta jamuan seperti ini sangat berbeda dengan harapan Julietta, tadinya dia mengira akan melewati sebuah ujian berat dan telah mempersiapkan segalanya. Sekarang hanya minum teh dan membuatnya ingin pergi ke toilet.
Saat dibilang tidak bahas pekerjaan, mereka benar benar tidak membahas pekerjaan. Mendengar mereka berbicara tentang hal hal sepele yang umum itu juga terdengar menarik. Semua orang berbicara dan topiknya pada akhirnya beralih ke Julietta.
Rani bertanya sambil tersenyum "Kamu dan suamimu itu memiliki hubungan yang sangat baik, senang menjadi orang muda"
"Benar, kapan kalian berencana memiliki anak, namun cukup bagus juga bermain duku selama beberapa tahun , ataukah kalian adalah zonk"
Julietta merasa sedikit canggung saat ditanya seperti ini. Melahirkan anak, sepertinya tidak akan ada harapan.
Menerima pertanyaan ini, Julietta tiba tiba menyadari krisis di sabuk pengamannya yang panjang. Kalau dipikir pikir, meskipun. David sedikit sepeti kucing, tapi dia adalah pria normal, tidak bisa mereproduksi tanpa hubungan badan. Jadi David pasti punya itu.
Mungkin karena David yang terlalu jinak dihadapan Julietta dan tidak seperti CEO novel lainnya yang tiba tiba menciumnya dan melemparnya keranjang, sehingga dia tidak memiliki sedikitpun keraguan saat menghadapi David. David itu benar benar sorang pria dewasa normal. Julietta tiba tiba merasa diselimuti perasaan krisis yang terdalam.
Sampai pesta berakhir, sampai Marc selesai mengantarnya kerumah, sampai Julietta membeli ayam goreng dan masuk kerumah, Julietta masih tenggelam dalam beberapa kontradiksi dalam dirinya.
Apakah sulit mengakui bahwa David adalah laki laki normal, mungkin benar. Julietta membayangkan mereka melahirkan anak. Ketika David mengajak anaknya untuk makan mie instan dan diam diam mengambil sekantong keripik dari suatu tempat ditengah malam. Julietta merasa gemas dan ingin menghajarnya.
David membuka pintu, melihat Julietta meliriknya dan memberikan sekotak ayam goreng kepadanya.
"Makan ayam gorengmu"
Bagaimana dia bisa tahu kalau Julietta membayangkan bahwa dirinya akan menjadi ayah yang menyulitkan anaknya dimasa depan. Julietta kembali dari kenyataan hidup. David membuka kantong itu, menundukan kepala untuk melihat isinya dan bertanya pelan
"mana colanya"
"upps aku lupa"
Julietta duduk dikamar dan menghapus riasannya dan berkata "Coba kamu lihat dikulkas, sepertinya masih ada minuman soda didalam kulkas, jangan minum terlalu banyak ya"
David pergi kedapur dan membuka pintu kulkas. Didalam kulkas terdapat sederetan yakull, beberapa kotak susu dan beberapa kaleng bir. Tiba tiba teringat bahwa terakhir kali dia memesan makanan, restoran itu salah mengirimkan minumannya. Mereka salah memasukan kaleng soda dan malah mengirimkan beberapa kaleng bir kemari. Kaleng bir itu langsung diletakan begitu saja didalam kulkas.
__ADS_1
Tidak ada sebotolpun soda didalam kulkas. David memeriksanya beberapa kali dan memastikan bahwa dia hanya memiliki dua pilihan bir atau Yakult, atau tidak minum keduanya.
David mengambil ayam goreng dari dalam kantong itu, berpikir sejenak kemudian mengambil dua kaleng bir. Biasanya dia sangat jarang minum bir, namun kemampuan minumnya cukup baik. Dia belum pernah mabuk sebelumnya. Tidak masalah baginya meminum dua kaleng bir sebagai minuman.