
Pengemudi yang disalip itu memakinya, orang ini benar benar sudah bosan hidup lagi. Di lampu merah yang terlihat tidak ada orang dan mobil lain, satu mobil Cadillac hitam itu sedang berjalan, tapi disaat ini ada sesuatu di luar dugaan yang terjadi, satu mobil sedan merah kecil tidak disangka juga menerobos lampu merah dan sedang mengarah ke arah mobil hitam itu dengan kecepatan tinggi. Mungkin karena tidak melihat ada mobil lain di belokan itu, mobil merah itu baru menginjak rem sesaat sudah hampir mau menabraknya.
Jalanan yang basah sangat licin, walaupun sudah ditaburi garam tetap saja tidak bisa membuat mobil benar benar langsung berhenti, dan langsung menabraknya dengan kencang dari sampingnya. Mobil hitam itu langsung berbelok dengan kencang menghindarinya, tapi agak terlambat, brakk..
Julietta sedang duduk dan ada beberapa polsi muda disebelahnya yang sangat bersemangat bicara.
"Saya sangat suka semua game dari Aquarius, astaga benar benar tidak disangka."
"Rencana game baru kalian nanti apa, dengar dengar kali ini akan ada gaya barat, dipikir pikir saja sudah terasa sangat keren."
"Tidak disangka saya bisa bertemu dengan istri bos Aquarius, benar benar beruntung."
Beberapa orang yang ribut menyanyainya membuat Julietta pusing, polisi yang membawanya kesini tidak tahan mendengarnya dan menyuruh beberapa orang itu kembali ke tempatnya. Julietta sudah menunggu sangat lama, disaat ini walaupun naik taksi juga seharusnya sudah sampai disini.
Saat dia mengangkat menerima telepon dari Tomy yang sudah hampir mau menangis, seorang pria yang bicara sambil menahan tangis terdengar sangat lucu dan membuat orang sedih. Dia bilang David sudah ada di jalan dan meminta Julietta tunggu sebentar, tapi dia sudah menunggu selama ini tetap belum melihat David. Apakah dia salah jalan.
Tidak tahu kenapa, Julietta memiliki firasat yang buruk. Hari ini salju sangat besar, kalau saja David buru buru dan terjadi kecelakaan yang menimpanya maka akan sangat gawat. Dia harus mencari cara untuk menghubungi David.
Disaat ini seorang polisi yang sedang melihat HPnya bicara agak keras. "Ada kecelakaan di jalan boulevard."
"Hah, bagaimana, parah tidak?"
"Siapa yang tahu, orang orang ini juga tidak bisa bawa mobil pelan pelan di cuaca seperti ini juga malah menerobos lampu merah."
Wajah Julietta menjadi pucat. "Yang kecelakaan itu mobilnya warna apa?"
"Sepertinya Cadilac hitam dengan sedan merah, aku lihat postingan di internet, sepertinya masih sedang dilakukan evakuasi."
"Jaraknya berapa jauh."
Julietta bertanya dengan buru buru dan membuat orang lain melihatnya.
"Tidak jauh, keluar dari gerbang sini belok kanan beberapa puluh meter sudah sampai, eh nona kamu mau kemana tunggu?"
Badan Julietta menjadi terasa lemas. Dia berharap yang kecelakaan itu bukan David. Pikiran dia sudah kosong dan hanya ingin berlari keluar, hanya ingin melihat plat mobil yang kecelakaan itu baru bisa membuatnya tenang.
"Semoga bukan, semoga bukan, semoga bukan." Julietta terus bicara pelan sambil berlari.
Dia berlari ke arah keluar, lampu jalan yang menyala membuat malam menjadi redup dan tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Tapi disaat ini mata dia tiba tiba melayang dan menabrak pria yang datang dari arah berlawanan.
Orang yang ditabraknya hampir terjatuh, mereka berdua sama sama mundur satu langkah, dan baru bisa melihat muka satu sama lain di bawah keredupan lampu malam ini. Bagi Julietta dia hanya tidak bertemu David selama satu hari.
Tapi disaat ini dia masih tidak tahu, David di dunia ini kesepian dan berharap dengan putus asa menunggu selama hampir 8 bulan lamanya. Badan David kaku dan mukanya tegang, kedua matanya melihat Julietta yang didepannya, pandangannya itu seperti sihir yang sudah tidak bisa dialihkan lagi. Mereka terdiam menatap satu sama lain agak lama. Sekelilingnya menjadi sunyi.
"Dav."
Julietta belum selesai memanggil namanya, David langsung menariknya memeluknya dengan kencang. Kencangnya sampai membuat Julietta hampir tidak bisa bernafas. Dia benar benar hampir tidak bisa bernafas, tapi dia ingin menenangkan David dulu.
__ADS_1
Dia tidak menyangka kalau David akan takut sampai seperti ini, dia terus gemetaran, tidak tahu apakah karena cuaca dingin atau karena emosinya yang sedang bergejolak.
Julietta hanya bisa mengelus punggungnya dengan pelan agar dia menjadi tenang. Pelukannya tidak asing dan hangat, ada aroma yang hanya dimiliki oleh David, membuat Julietta yang juga tegang menjadi rileks.
Julietta tidak bisa menahan tangisannya lagi. Dia menangis terisak sampai hampir mengeluarkan suara.
"Aku kira kamu kecelakaan, kamu sangat membuat aku takut, kamu tahu tidak aku sudah berpikir macam macam di kantor polisi, aku kira kamu tidak kenal aku lagi tadi."
Air mata yang terus mengalir sudah membasahi kemeja David dalam sekejap. David terus diam dan menahannya, mendengar Julietta berkeluh kesah di dalam pelukannya, kemejanya yang basah menempel ke dadanya seakan akan membakar kulitnya. Dia ingin memeluknya sekuat mungkin agar mereka berdua tidak terpisah lagi, tapi takut melukainya.
Beberapa polisi yang mengikuti Julietta keluar tadi pun tersenyum melihat dua orang yang sedang berpelukan ini. Mereka diam diam melangkah kembali ke kantor polisinya untuk memberikan mereka berdua ruang. Julietta masih terus menangis terisak.
Ada seketika dia benar benar mengira merasa akan kehilangan David. Dulu pernah bilang dengan santai agar mereka hidup sendiri sendiri saja terpisah masing masing, kalau sudah punya orang lain yang disukainya maka akan langsung bisa minta cerai dengan damai, dan juga harus saling merestui satu sama lain. Tapi sekarang, kalau David memiliki pemikiran yang seperti itu, dia benar benar imgin menghabisi pria ini.
Julietta dulu tidak pernah membayangkan, David sudah menempati posisi sebesar apa di dalam hatinya saat ini. Tiba tiba ada satu cairan yang pekat menetes ke dahi Julietta. Cairan itu lagi lagi menets.
Jantung Julietta jadi berdebar debar, dia langsung mau melepaskan David, tapi David sams sekali tidak mau melepaskannya, Julietta mulai merasa kesal, dia berontak dan langsung menarik paksa lengannya agar lepas dari pelukan David. Dibawah lampu jalan yang redup, Julietta mengelap cairan di dahinya dan dilihatnya itu ternyata adalah darah.
Dengan panik Julietta mengangkat kepalanya, dahi David tidak tahu sejak kapan sudah terluka, dahinya yang putih sudah dipenuhi darah dan menetes mengalir turun melalui matanya. Kedua pipinya penuh dengan bekas darah. Julietta ketakutan melihatnya.
"Kamu kenapa, David, David."
Disaat dia bertanya memanggilnya, badan David sudah bergoyang limbung dan terjatuh di jalanan yang basah. "David."
Julietta benar benar mau menghabiskan semua air matanya di seumur hidupnya. Untungnya beberapa polisi merespon dengan cepat dan membantu Julietta untuk membawa David ke rumah sakit terdekat dengan mobil polisi.
Sesampainya di rumah sakit, David langsung dibawa ke UGD, Julietta merasa sedang berada di ujung kehancuran. Dia menahan dirinya untuk tidak menangis, tapi air matanya tidak pernah habis habisnya mengalir. Saat Tomy dan yang lainnya tiba disana, mereka melihat Julietta mengenakan jaket polisi, tangan dan mukanya penuh dengan bekas darah sedang berjongkok di pojokan tembok sambil menangis. Pemandangan yang sangat menyedihkan untuk mereka.
"Aku, aku tidak tahu... dia mengeluarkan darah sangat banyak dari kepalanya."
Julietta terus menangis tiada henti, dia sudah membayangkan kalau David mati, dia juga ingin mati menemaninya.
"Aku, kalau dia mati, aku juga tidak mau hidup lagi."
"Kamu harus terus hidup baik baik, Julietta."
Dibelakangnya terdengar suara pria yang serak, dia adalah David. Tangisan Julietta langsung berhenti, mukanya masih terlihat bekas tangisannya dan terlihat sangat bodoh. Julietta mendongakan kepalanya dan melihat David berjalan ke hadapannya lalu jongkok melihatnya. Dahi dia diperban, darahnya sudah berhenti, kelihatannya tidak begitu serius. Dokter yang berdiri di sebelahnya berkata.
"Kecelakannya tidak begitu serius, lain kali harus ingat pakai sabuk pengaman, dan juga dia pingsan karena gula darahnya rendah dan juga sedikit kekurangan nutrisi, harus diperhatikan makanannya yah."
Tidak disangka hanya karena kekurangan nutris dia pingsan. Bisa bisanya karena alasan seperti ini. Kenapa dia jadi bisa khawatir seperti itu. Julietta mau marah dan juga mau tertawa, lalu isak tangisnya dan air matanya mulai mengalir lagi.
Dia bukanlah orang yang suia menangis, tapi tidak tahu kenapa hari ini, setiap melihat David dia selalu ingin menangis. Emosinya yang naik turun masih tidak stabil membuat dia tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.
Mereka berdua berjongkok berhadapan dan menatap satu sama lain, membuat Julietta malu dan membuang mukanya, tidak mau David melihatnya sedang menangis ini. David terus menatapnya beberapa saat, mukanya tiba tiba membesar. Di tengah suara sorakan dari Weni, dia mengulurkan lengannya dan menekan kepala belakang Julietta lalu mendekatinya dan mencium bibirnya pelan
Julietta berpikir dirinya pasti sudah gila, maka saat dicium David jantungnya berdetak sangat kencang sampai dia bergetar. Kalau bukan Tomy dan yang lainnya berada di sebelahnya mungkin Julietta akan melamun.
__ADS_1
Tomy, Weni, Andi, Herman dan Marc berdiri di koridor rumah sakit terdiam melihat mereka. Mereka semua hanya memiliki satu pertanyaan yang sama yaitu sebenarnya Julietta kemana selama ini.
Kenapa bisa tiba tiba menghilang dari dunia ini selama 8 bulan, dan tidak ada jejaknya sama sekali, mereka sudah menggunakan segala cara untuk mencarinya tapi tidak mendapatkan informasi apa pun, sekarang Julietta tiba tiba muncul di kantor polisi dan hanya mengenakan pakaian musim panas yang tipis.
Kalau bukan karena Julietta secara nyata berdiri di depan mereka sekarang, mereka mungkin akan mengira dia adalah hantu. Respon Julietta lebih besar dari mereka.
Setelah mengetahui dirinya hilang 8 bulan lamanya, dia kebingungan dan membesarkan matanya, lalu dia menyadari sesuatu, dia melihat David dengan hati hati, David berdiri di sebelahnya tanpa ekspresi, hanya tangannya terus menggenggam tangan Julietta dengan erat.
Dia hampir tidak percaya David sudah menunggu dirinya selama 8 bulan ini dengan perasaan seperti apa. Selama itu, dan Dia sendiri yang hanya melewati belum seharian saja sudah merasa hancur. Pantas saja dia merasa David agak kurusan, saat berpelukan dia bisa merasakan tulang punggungnya dengan jelas. Julietta merasa sedikit sakit hati dan sedih.
"Jadi nyonya kamu sebenarnya kemana, bos sudah mau hancur, kira kira kamu, eh, tapi uang terpenting kamu tidak kenapa kenapa sekarang sudah cukup."
Julietta menjawabnya dengan bingung."em aku aku pergi ke tempat yang sangat jauh sekali."
Setelah dia bicara, dia pertama berpikir beberapa saat, setelah dipikir pikir jawaban seperti ini lebih aman. Sudah diduga ekspresi mereka semua berubah dan mulai curiga dengan Julietta apakah dia masih normal atau tidak.
Julietta bicara lagi "Pokoknya aku tidak akan pergi lagi, kalian tenang saja,."
Terutama David. Jaminan dia seperti ini tidak bisa membuat genggaman tangan David rileks sama sekali. Mereka saling melihat satu sama lain dan ingin menanyakan yang sebenarnya kenapa, tapi Julietta terlihat tidak mau menjelaskan terlalu banyak, membuat mereka juga tidak enak untuk bertanya lagi,
"Baiklah yang penting kamu sudah kembali."
Marc menghembuskan nafas panjangnya sambil tersenyum. "Pekerjaan rumah sangat banyak, kamu tenang daja istirahat beberapa hari lalu cepat masuk kerja."
"Baik, maaf aku sudah merepotkan kalian semua, terima kasih." Julietta tersenyum ramah dan bicara tulus kepada mereka semua.
Semua orang yang datang kesini hari ini adalah orang yang sangat khawatir dengannya, dia sangat berterima kasih karena di dunia ini ada orang sebanyak ini yang memperhatikannya dengan baik.
Saat mereka semua melihatnya, pandangannya penuh dengan perhatian, kasih sayang dan kehangatan dan bukan mencurigainya, membuat Julietta yang sedang sensitif lagi lagi hampir menangis lagi.
Mereka melangkah keluar pintu rumah sakit. Tomy tiba tiba sadar dan bertanya.
"Mobil bos sudah di derek, kalain jangan panggil mobil lagi, aku yang antar kalian pulang."
Kalau tahu mobil sport Tomy yang sangat menarik perhatian seperti ini, Julietta sepertinya akan menolaknya. Orang lainnya juga membawa mobil pulang ke rumahnya masing masing.
Weni duduk di sebelah kursi pengemudi. Julietta dan David duduk di belakang. Julietta melihat Tomy memasangkan Weny sabuk pengaman, gerakan mereka berdua sangat dekat, terlihat jelas bukan hanya hubungan teman kerja saja.
Julietta terkejut dan bertanya "kalian.."
Tomy "Aku sudah bilang sebelumnya, dia pasti sangat suka sama aku, ah jangan pukul, maaf aku salah, aku salah."
Muka Weni memerah "Kalau kamu mau dihukum, kamu boleh terus bicara macam macam sana."
"Tidak tidak tidak ada." Tomy langsung melambaikan tangannya.
Kembali memasuki dunia ini dan mendengar mereka berdua beradu mulut, Julietta akhirnya memiliki perasaan kembali yang nyata. David duduk diam di sebelahnya, tangannya yang terus menggenggam tangan Julietta itu sudah panas sampai berkeringat, tapi sama sekali tidak mau dilepaskannya. Julietta mengerti dia itu tidak memiliki perasaan aman, maka dia terus menggenggam tangannya.
__ADS_1
Mobil Tomy berjalan dengan pelan di jalan aspal yang rata, lalu lagi lagi salju mulai turun di kegelapan malam. Melihat salju di luar jendela, tapi pikiran Julietta hanya ada David. David itu bagaimana bisa melihat daun yang hijau perlahan menjadi kuning dan terakhir diselimuti oleh salju. Semuanya ini, Julietta tidak tahu sama sekali dan lebih baik tidak tanya ke dia.