Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
85


__ADS_3

Julietta bermimpi David sedang duduk di sudut lantai pojokan dengan kasihan sambil memanggil namanya. Dia awalnya tidak ada beban di hati, tapi setelah melihat David yang menundukan kepalanya dan terlihat murung, membuat dai sedikit merasa bersalah. Apakah dia sangat keterlaluan terhadap David,


Julietta mulai mencurigai dirinya sendiri, mungkin dia harus jujur kenapa marah, bagaimanapun juga David sering tidak berada di satu  pemikiran yang sama dengan Julietta, kalau tidak bisa menebak dalam sesaat juga normal.


Julietta.


Julietta.


Julietta langsung membuka matanya dan mendengat panggilan David itu yang sambil mengetuk pintu.


"Sudah mau telat".


Dia langsung mandi kilat, memakai baju dan berdandan dengan cepat, David yang sedang makan buah dan sereal di meja makan melihat Julietta sesaat ada di kiri. sesaat ada di kanan, Julietta di mata David sepertinya tidak ada perubahan apa apa walaupun tidur sendirian semalam,  bisa bisanya dia menunggu Julietta setengah jam lebih menghabiskan waktu untuk bersiap siap.


Julietta akhirnya selesai siap siap dan membawa tasnya, lalu dia mengambil onigiri yang sudah diambilnya dari kulkas dan bicara.


"Ayo berangkat, supir seharusnya sudah menunggu sangat lama di bawah".


Mereka berdua duduk di dalam mobil, David mengambil onigiri, Julietta mengira dia mau makan diam diam, tidak disangka setelahh David mengambilnya dia hanya memegangnya dengan tangannya.


David bicara "Kamu pernah bilang makan makanan dingin tidak bagus buat lambung".


Seketika hati Julietta tersentuh. Julietta melihat ke arah David, mata David sedikit gelap, sepertinya karena semalam tidak tidur lelap, mengingat dirinya tidur terlalu lelap sampai kesiangan.


Julietta "Semalam itu."


David menjawabnya dengan tenang. "Walaupun tidak tahu kenapa, tapi pasti aku yang salah, maaf".


Dia bicara seperti ini malah membuat Julietta semakin merasa bersalah.


"Aku juga yang seharusnya minta maaf, hal ini seharusnya dari awal sudah harus diperjelas, jadi tidak membuat kamu terganggu juga".


Julietta memiringkan badannya dan menatapnya.


"Aku semalam itu marah, karena aku baru tahu kamu diam diam makan makanan ringan."


Ekspresinya yang serius seperti mengetahui David selingkuh, siapa yang sangka hanya karena dia diam diam makan makanan ringan. David mengedipkan matanya. David terlihat sangat teang, tapi hatinya mengatakan siapa yang memberitahu rahasia ini, dia akan memperhitungkannya nanti.


Julietta menghela nafasnya. "Kamu tidak seharusnya membohongi aku, ini membuat aku merasa diri aku selalu pakai kekerasan memaksakan dan membuat kamu menghindari aku".


David "Tidak benar".


Julietta "Kamu boleh makan makanan ringan, tapi tidak boleh terlalu banyak, ini semua juga demi kesehatan kamu sendiri".


Julietta yang mengeluh dan mengerutkan alisnya itu, tapi nada suaranya yang lembut bukan seperti sedang memarahinya atau menceramahinya, malah terdengat seperti sedang bermanja. Sambil mendengar, David menatap hanya pada bibir merahnya yang terbuka tertutup berbicara. Bibir dia itu yang penuh sangat pas untuk dicium.


David tiba tiba mendekatinya dan mencium bibirnya. Setelah itu bicara tanpa berdosa. "Maaf".


Julietta terkejut, tanpa sadari dia melihat ke supir di depan, supir sangat pengertian dan memasang papan penghalang, agar mereka berdua terpisahkan di baris belakang dan bebas. Muka Julietta langsung memerah, tadi masih memberi pelajaran dengan tegas tiada henti, sekarang setelah dicium David dia langsung diam.


Dia menatap David dengan kesal. "Jangan macam macam, aku sedang berbicara serius."


David mengangguk dan menjawab ya dengan cuek, lalu dia mendekatinya lagi dan merangkulnya. Muka David menjadi terlihat besar dan berjarak sangat dekat. Dia menatap Julietta dengan bola matanya yang hitam, sehari hari sudah terbiasa cuek, tapi saat matanya terfokuskan menatap Julietta, Julietta merasa ketakutan seperti terkunci.


David bicara.. "Ini adalah hal yang lebih serius."

__ADS_1


Saat mereka berdua turun keluar dari mobil, Julietta sedikit merapikan bajunya dan memakai masker lalu berjalan di depan tanpa ekspresi. David yang ada di belakangnya dipukul kedil didadanya, terlihat jelas sudah terbiasa dipukul, maka dia berjalan di belakang, melangkah dengan tenang. Karyawan yang melihat kejadian ini pun mulai bergosip.


Lagi lagi istri bos yang dingin seharian.


Sesampainya di ruangan David, Julietta mau memeriksa sebenarnya David menyembunyikan makanan ringan seberapa banyak. Dia melipat tangannya dan menunggu David mengeluarkan semua makanan yang disembunyikannya, melihat makan diatas meja semakin banyak menumpuk, Julietta terkejut.


"Kamu ini menyimpan makanan untuk hibernasi ya".


Disaat ini, Tomy dan yang lainnya mau masuk ke ruangan David, tapi dari beberapa meter dari ruangannya, mereka menyadari Julietta dan David sedang berdiri berseberangan dengan keadaan meja yang dipenuhi makanan ringan. Mereka langsung berhenti terdiam.


Tomy "Aku rasanya mau ikut dinas luar kota satu bulan"


Andi "Ajak aku"


Herman "Kalian tidak boleh membiarkan aku sendirian disini".


Julietta masih belum menyadari suara percakapan mereka diluar pintu. David masih terus sibuk mengeluarkan makanan satu demi satu, disaat ini HP David berbunyi dan terlihat nama Eko dilayar.


David mengangkatnya, lalu mereka mendengar suara Eko yang membuat mereka berdua terdiam.


"Bos barusan saja, pak Jackson meninggal".


Setelah mendengar berita ini, seketika Julietta langsung menatap David. David sedang memegang satu kantong plastik coklat, saat mengangkat telepon tangannya tidak sengaja bergetar, semua coklat dari dalam plastik terjatuh ke lantai bersamaan dengan suara Eko, membuat keadan menjadi lucu dan sedih bersamaan,


David melamun sekilas, wajahnya tidak ada ekspresi dan terlihat seperti tidak perduli, respon pertama dia adalah mengambil coklat yang berjatuhan di lantai dan membuangnya ke tong sampah. Layar HP masih menyala.


Eko masih menunggu jawaban dari David, dari telepon itu juga terdengar suara ribut dari rumah sakit, sepertinya ada keluarga yang sedang berdebat dengan dokter, semakin memperlihatkan ruanga kerja yang diam tanpa suara, sangat hening.


David meletakan kantong plastik coklat yang kosong itu di atas meja lalu bicara "Kremasi".


Keputusan yang dibuat dengan cepat seperti sedang memutuskan satu kontrak bisnis. Sepanjang perjalanan mereka berdua masih terdiam. Mayat Jackson dibawa ke tempatbkremasi, tempat itu tidka jauh dari kantor mereka, hanya sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil sudah sampai.


"Keponakan, kamu bilang mau kremasi ayah kamu, kenapa tidak bilang sama tante dulu." Seorang wanita yang sedikit gemuk yang mengenakan sepatu hak tinggi mengelap air matanya.


"Kasihan dia seumur hidup tidak pernah bahagia, saat sudah tua anaknya baru ada prospek, siapa yang sangka dia akan pergi secepat ini"


"Iya benar benar disayangkan"


Dari ucapan dan ekspresi mereka, Julietta merasa mereka bukan menyayangkan ayah David meninggal, tapi menyayangkan uang yang belum dinikmati mereka. David hanya menganggap mereka seperti angin dan terus melangkah ke arah pintu masuk.


Eko yang pertama keluar dari pintu dengan membawa tas dan berpenampilan resmi "Bos, Nyonya silahkan".


David menganggukan kepalanya "Ayahku sekarang".


"Sudah diatur, sebentar lagi akan dimulai".


Disebelah David ada beberapa orang yang mengikutinya dan mengobrol dengan David. Disaat Aquarius terekspos, mereka semuanya tidak bisa duduk dengan tenang mengetahui posisi David sekarang.


Belasan tahun yang lalu, mereka semua hanyalah keluarga yang biasa saja, Jackson memulai usaha bekerja keras sendirian diluar, bukan hanya menikahi seorang wanita yang cantik, lalu juga mendapatkan uang banyak dari hasil usahanya sendiri, karena sudah sukses membangun perusahaan, maka disaat susah mereka akan bisa mendapatkan bantuan dari Jackson.


Yang awalnya ada banyak komentar sindiran, sekarang ada banyak orang yang mau mendapatkan keuntungan. Tadinya Jackon masih akan menolong keluarganya terus, tapi setelah itu Jackson yang emosinya jelek pun marah besar, setelah terjadi keributan yang besar dia itu memutuskan hubungan dengan mereka.


Sudah beberapa tahun ini, diantara mereka juga ada orang yang membangun bisnis dan mendapatkan hasil tapi sedikit, juga ada yang dapat hasil banyak sekali. Mendengar anak dan istri Jackson meninggalkannya, mereka semua menertawakannya dan katanya itu semua adalah karma. Mendengar tentang perusahaan Jackson bermasalah juga mereka bilang itu semua karena Jackson sudah berbuat hal buruk terlalu banyak kepada keluarga.


Semua lelucon sudah dilihatnya dan tidak ada lagi yang memperhatikan Jackson, tapi siapa sangka tiba tiba muncul pemilik juga direktur Aquarius, tidak disangka dia adalah David yang saat itu tidak suka bicara dan putranya Jackson. Mereka semua terkejut.

__ADS_1


Mereka selalu mencari banyak kesempatan untuk berhubungan dengan David, tapi tidak tahu David tinggal dimana, kekantornya juga tidak bisa masuk, apalagi melihat orang aslinya.


Kebetulan, setelah menunggu selama ini tetap tidak bisa menghubungi David, setelah menghubungi semua saudara akhirnya bisa bertemu dengan David pada saat Jackson meninggal sekarang.


Anak kecil yang dulunya jarang bicara itu hanya memiliki wajah yang ganteng, sekarang badannya tinggi dan memilik istri yang sangat cantik. Mereka berdua mengenakan baju yang sangat sederhana berdiri dipintu rumah duka tapi terlihat seperti dua selebritis yang selalu menarik perhatian.


Keluarga mereka tidak memiliki gen perawakan yang luar biasa, bisa dibilang semuanya karena hanya Jackson saat itu  bisa menikahi seorang wanita yang sangat cantik dan membuat mereka iri dan cemburu. Ini semua membuat Julietta tidak nyaman melihatnya.


Yang berbeda dengan suasana dirumah duka sekarang adalah ekspresi mereka semua yang bersemangat, mereka semua menatap David seperti pemakan rakus yang sedang menatap satu daging sapi wagyu yang sangat mahal.


Julietta tidak pernah membayangkan beberapa orang ini masih memikirkan hal lain dalam keadaan saudaranya meninggal. David melihat Eko dan berkata "Cari kuburan yang baru dekat dengan ibuku".


Ibunya David seharusnya dikubur dikuburan leluhur keluarga, tapi keluarga tidak setuju, maka Jackson menguburnya di kuburan yang lain. Setelah itu David memindahkan kuburan ibunya ke tempa lain, awalanya Jackson selalu datang kesana melihatnya dan berdoa, setelah itu dia perlahan lahan melupakan hal ini, tentang David memindahkan kuburan ibunya juga tidak pernah dibahas dengan ayahnya.


Sekarang walaupun David bertanggung jawab dengan pemakaman Jackson, tapi tidak berarti dia bersedia menguburnya bersama dengan kuburan ibunya. David masih menggenggam tangan Julietta untuk menenangkannya, karena dia tahu Julietta itu emosian, lalu mereka berdua masuk kedalam rumah duka.


Eko tentu saja tidak ada alasan untuk menghalangi orang lain untuk ikut masuk. Dia tersenyum dan berdiri dihadapan mereka semua, lalu bicara dengan sopan.


"Hari ini adalah hari duka cita, semoga kalian semua menghormati orang yang meninggal dan jangan bahas hal yang lain apapun itu".


"Kamu ini siapa bisa menghalangi disini".


"Maaf, saya bukan siapa siapa, tentu saja". Eko membenarkan kacamatanya.


"Kalau anda nanti bagaimana baiknya  menghitung harta warisan, silahkan datang cari saya, walaupun harga tim pengacara kami lumayan mahal, tapi pekerjaanya sangat bagus".


"Kamu ini".


"Kalau pakai emosi aku yang duluan, mungkin aku akan bertanya, anda ini posisi atau statusnya apa, datang kesini untuk berbuat macam-macam".


Eko menjawabnya dengan sangat sopan. "Tapi sekarang emosi saya sudah membaik, tidak pernah pukul orang lagi, kalau tidak sekarang saya harus gantikan uang perawatan kaki anda yang patah, saya bisa rugi".


Setelah dia bicara, wajah mereka semua sedikit berubah dan terdiam.


Eko tersenyum dingin dan bicara lagi. "Sampah apapun mau dekat dekat dengan bos, dia tidak bicara bukan berarti kita adalah patung".


Julietta mengikuti langkah David masuk kerumah duka, dan melihat tidak ada orang lain yang mengikutinya, dia masih sedikit khawatir.


Dia bertanya dengan pelan "keluarga ayahmu, orang orang itu apakah akan menjadi seperti Marisa yang tidak akan melepaskan kita".


Langkah kaki David sangat stabil. Dia menjawabnya pelan "Marisa adalah Marisa, tapi tidak akan ada yang seperti Marisa lagi yang kedua".


"Marisa masih memiliki ruang untuk diurusi, orang orang itu tidak perlu dipikirkan."


Julietta "Tapi"


David menggenggam tangannya dengan erat. Tangan David sangat hangat dan membuat dia merasa tenang.


"Aku sudah pernah bilang, urusan ini kamu tidak perlu khawatir sama sekali".


Dia terkejut, dia mengangkat matanya lalu menatap pandangan David yang sedang menatap dirinya juga, Julietta tahu disaat ini tidak cocok untuk tersentuh, dia baru mau tersenyum, tapi dia langsung menyimpan senyumannya dan hanya menjawabnya. "Ok aku paham".


David tidak ingin Julietta khawatir dengan hal keluarganya ini, maka dia juga tidak perlu khawatir. Karena beberapa orang dipintu itu, Julietta menjadi mengingat keluarganya di kehidupan sebelumnya. Keadaanya sepertinya juga sama seperti ini, melihat orang tua cerai, melihat tidak ada orang yang mau dengan Julietta, juga ada orang yang berhati lunak dan kasihan dengannya, tapi mengingat dia nanti juga harus dirawat, maka semua keluarganya menarik uluran tangannya kembali.


Memikirkan hal ini Julietta bertanya. "Kenapa bisa seperti ini, apakah saling mempengaruhi, dalam keadaan seperti ini, selamanya bukan pengabaian dari satu orang saja tapi ketidakperdulian dari semua keluarga."

__ADS_1


David menatapnya dan menjawabnya. "Bukan ada beberapa ketidakperdulian terbawa sifatnya sejak lahir, ada juga yang karena terpaksa."


Kremasi itu adalah hal yang luar biasa. Orang yang masuk kedalam ada yang besar dan yang kecil, ada yang gemuk dan ada yang kurus, setelah menjadi abu, semua akan tidak ada bedanya dengan tanah.


__ADS_2