Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
74


__ADS_3

Marissa tersenyum "David dimana, aku ada urusan dengan dia"


"Bos sangat sibuk, jadi dia minta saya yang urus"


"Kalian jangan jangan mau menakuti aku seperti terakhir kali, uang sedikitpun tidak kudapat"


Marisa mengingat terakhir kali, mereka hanya mau membayar semua biaya rumah sakit Jackson, membuat dia tidak bisa mendapatkan keuntungan sedikitpun.


Eko tertawa kecil "Bagaimana bisa"


Tidak hanya tidak mau membuat dia tidak mendapatkan uang, tapi dia sendiri juga yang harus mengeluarkan uang pribadinya. Marisa tetap waspada. 


Ekspresi Eko ini membuat dia merasa dirinya mungkin tidak akan mendapatkan apa apa. Dia bicara lagi " Kamu telepon David, aku mau bicara dengannya"


"Kalau ada urusan apa langsung bilang ke saya saja, saya akan laporkan semua hal""


"Ini adalah urusan keluarga, aku adalah mama tiri dia"


Suara Marisa yang meninggi menarik perhatian orang disekelilingnya. Marisa seperti mendapatkan bantuan dan menutup perutnya. "Aku sudah punya anak, bagaimanapun juga ini adalah adiknya David, dia tidak bisa meninggalkan aku begitu sajakan"


Wajah Eko langsung berubah "anak"


Marisa menaikan dagunya "Kali ini aku punya alasan, sebagai mama tirinya, dia sebagai anak tiri bukannya seharusnya merawat aku, saat suami aku mati, aku hanya ada dia seorang saja"


"Baiklah saya mengerti" Eko menjawab.


"Aku jamin, kalian kasih aku uang,  aku tidak akan mengganggu kalian lagi"


"Saya harus lihat keadaan pak Jackson dulu, anda juga tahu, walaupun bos terlihat tidak perduli dengan ayahnya, tapi sebenarnya dia sangat perhatian dengannya, pasti hatinya akan tersentuh"


"Kalau begitu kita pergi bersama kerumah sakit, aku temani kamu"


Mengingat kata kata bosnya, Eko tertawa.


Julietta yang masih duduk diruangan David. Dia bertanya "Kamu punya rencana apa"


David memasukan tanganya ke kantong dan duduk diseberangnya. 


"Siang ini mau makan dikantin tidak, atau kita makan diluar"


"Aku sedang bicara serius sama kamu"


"Aku mau makan sushi sashimi"


Baiklah, David tidak mau bilang, dia juga tidak akan bertanya lagi. David memesan makanan dari luar, mereka makan bersama diruangannya. Dipandangan Julietta, dia tidak bisa makan sushi terlalu banyak, setelah selesai makan dia mulai makan apel.


Didalam pemikiran Marisa, David dan istrinya mungkin sedang panik dan mengurusi permintaan Marisa. Kalau dia tahu mereka berdua sedang menikmati waktu makan siangnya, dia mungkin akan kesal. Mereka tiba dirumah sakit.


Eko pertama langsung memeriksa keadaan Jackson, dan bicara dengan dokter, Marisa menunggunya dengan sabar. Setelah keluar dari ruang pasien dia bicara.


 "Karena keadaanya benar, kita tidak akan menunda lagi,,anda silahkan tes DNA dulu"


Marisa terkejut "Apa"


"Jangan anda kira bos tidak perlu bukti apa apa, karena kredibilitas anda yang tidak begitu baik, kali ini aku akan temani tes lab anda secara keseluruhan"


Marisa berkeringat dingin. Jangan jangan David tahu kalau anak yang dikandungnya bukan anak Jackson.. Tapi dia sudah memiliki persiapan, dia sudah mengatur cara kalau saja David memintanya untuk periksa janinnya. Dilihat dari luar dia sangat panik dan tidak bersedia melakukan tes.


"Aku tidak perduli, kalau mau aku tes, kalian harus tanda tangan perjanjian dulu, kasih uangnya ke aku dulu"


Eko tidak setuju, Marisa mulai ribut, membuatnya pusing dan menggaruk keningnya, dia menelepon David setelah beberapa saat, Eko menganggukan kepalanya ke Marisa.


"Bos bilang boleh"


Marisa lega, dia sudah menyogok dokternya, oleh karena itu, saat hasil tesnya keluar hasilnya akan positif anak Jackson, dia hanya perlu menunggu untuk mendapatkan uangnya saja.


Eko tersenyum "Nyonya, anda mau uang tunai atau gedung"


"Tentu saja gedung"


Teman teman Marisa sudah menyarankan satu gedung yang sedang dibangun, berada disebelahnya area perumahan orang kelas atas, pemandangannya indah, lokasinya strategis. Saat dia melihat gedung itu matanya langsung berbinar, tapi keadaan sekarang adalah semua orang saling berebutan ingin memiliki gedung itu. Marisa dari awal sudah mengincar gedung itu dan menunggu David terpancing.


Disaat ini harganya masih belum begitu mahal, tapi dengar dari temannya yang bekerja diproperti, setiap minggu harganya akan naik. Sekarang ini adalah saat terbaik untuk membelinya.

__ADS_1


Marisa sudah mulai membayangkan dirinya menjadi wanita yang kaya. Eko yang berdiri didepannya tertawa.


"Kalau begitu kita tanda tangan surat perjanjian dulu"


"Baik baik"


Saat sore sebelum pulang kantor, Julietta menerima telepon dari Diana.


"Julietta, bulan depan aku akan menikah"


"Bagus sekali"


"Kalau kamu ada waktu, kamu harus datang ya"


"Ok tidak masalah"


Waktu berlalu sangat cepat, terakhir kali Diana masih membahas masalah lamaran, sekarang sudah siap siap menikah. Diana langsung bertanya beberapa detil dan mau menerima saran dari Julietta. Julietta mana tahu acara pernikahan itu seperti apa, maka dia masuk keruangan David mencarinya.


David sedang membaca buku, saat Julietta membuka pintunya dengan cepat dia memasukan pen dan bukunya kedalam lemari lalu dikunci. Julietta yang melihat pergerakannya itu menjadi curiga.


"Kamu sedang apa"


David terlihat sangat tenang dan mengalihkan topiknya.


"Kenapa"


"Tidak ada, Diana menikah, dia tanya aku tentang detilnya dan aku tidak tahu sama sekali, jadi aku datang tanya kamu"


"Kamu pasti ingatkan"


"Tidak tahu juga"


"Waktu itu hanya tandatangan ambil akte buku nikah lalu tidak ada acara apapun"


"Oh seperti itu"


Jadi David juga sama dengannya, sebenarnya tidak ada pengalaman juga. Mereka saling menatap, Julietta benar benar tidak percaya mereka berdua sama sekali tidak tahu apa apa tentang acara pernikahan.


"Baiklah kalau begitu, aku bicara dengan Diana dulu"


David melihat Julietta sedang mencari foto wanita lain mengenakan gaun pengantin, Julietta memandanginya dengan serius dan ditunjukan ke David.


"Kamu lihat ini bagus tidak, pengantinnya cantik sekali"


Julietta dari dulu tidak pernah mengenakan gaun pengantin, tapi dia pernah menjadi pengiring pengantin. Melihat foto orang lain mengenakan gaun pengantin, tentu saja dia merasa itu sangat cantik. Tapi bagi dia, acara pernikahan sudah kuno dan tidak lagi penting. David terlihat sedang memikirkan sesuatu. Disaat ini HPnya bergetar ada pesan dari Eko yang memberitahu hasil tes sudah dilakukan Marisa.


Kehidupan tenang beberapa hari ini hampir membuat Julietta lupa dengan urusan Marisa. Marisa tidak ribut lagi mungkin David sudah menemukan cara agar dia pergi.


Julietta bertanya "Bagaimana kamu urus Marisa"


David menjawabnya "Kasih gedung"


"Oh sudah diduga"


Julietta sebenarnya tidak terima kalau Marisa mendapatkan keuntungan. Tapi dipikir pikir kalau bisa mengeluarkan uang untuk mendapatkan ketenangan, itu adalah hal yang baik. Dia masih ingat mimpi yang menakutkan itu, kalau Marisa benar benar marah dan melakukan hal aneh seperti melukai David, uang sebanyak apapun juga tidak bisa mengembalikannya.


David tidak kekurangan uang sedikit ini, yang bisa membuat mereka tenang adalah tidak ribut dengan Marisa lagi. Julietta bicara lagi.


"Baiklah, aku hargai semua keputusan kamu, asal dia tidak macam macam lagi, sudah cukup"


David duduk disofa sambil makan kacang yang dibeli Julietta, kebetulan bisa menambah nutrisi. Setiap hari makan sedikit sudah cukup, dia melihat David makan sebungkus kacang habis disaat dia tidak memperhatikannya, lalu dia langsung menghalanginya.


"Jangan makan banyak banyak"


David menjawabnya sambil menuangkan kuaci ke mulutnya. Julietta yang tidak berhasil menghalanginya bertanya.


"Oh ya kamu tahu tidak kuaci itu asalnya darimana"


David terdiam.


"Nenek tua yang tidak punya gigi melepaskannya satu demi satu dengan mulutnya, jadi kamu harus makan pelan pelan, hargai hasil jerih payah dia"


Walaupun tahu sekarang kuaci dilepaskan dengan mesin, tapi ucapan Julietta ini membuat dia merasa kesal. David meletakan kuaci ditangannya keatas meja.

__ADS_1


Julietta tertawa kecil "Ini baru benar"


Mereka berdua harmonis beberapa saat. David melihat HP dan tiba tiba bertanya.


"Kamu nanti mau hadir keacara pernikahan Diana"


Julietta terkejut karena tidak mengira kalau dia masih ingat akan hal ini, sekita dua minggu lagi acara pernikahan Diana akan dilaksanakan, Diana merasa sayang sekali karena Julietta sudah menikah, jadi tidak bisa menjadikan dia pengiring pengantin, tapi dia sangat antusias untuk mengundang Julietta menghadiri acara pernikahannya.


Julietta setiap hari selalu pergi dan pulang kekantor bersama David, teman yang berhubungan dengannya sangat sedikt, bisa memiliki teman wanita yang baik seperti Diana ini, Julietta merasa sangat senang. Dia tidak begitu bisa menjalin hubungan, untung saja orang yang ditemuinya disini semuanya sangat baik.


Julietta "iya kenapa"


David "Misi komunikasi sehari hari berhasil"


Julietta "Kamu ini anggap aku sebagai game biar kamu naik level ya"


Ditempat lain, Marisa menunggu beberapa hari dengan sabar untuk mendapatkan hasil tes yang ternyata menunjukan anak itu adalah anak Jackson. Setelah mendapatkan hasilnya, Marisa tersenyum dan memperlihatkan ke Eko, dia menerimanya dengan tidak bersedia dan bicara.


"Kalau begitu kita cari hari untuk tanda tangan perjanjian"


Marisa menjawabnya "Daripada cari hari lagi lebih baik hari ini saja bagaimana"


Marisa bilang hari ini tanda tangan kontraknya, maka Eko juga tidak ragu ragu lagi untuk langsung menghubungi pengacara, Marisa menunggu sebentar dengan sabar, pengacara datang dengan membawa kontrak. 


Agar dirinya tidak rugi, Marisa juga memanggil pengacaranya untuk mengecek apakah ada yang salah dengan komtraknya, akhirnya kontrak sudah diputuskan, Marisa mengambil kontrak itu dan menambah satu syarat.


"Kalau disaat ini bersedia kasih aku 5milyar, aku akan cerai dengan ayahnya"


Properti atas nama Jackson sudah dijual, peursahaanya bangkrut, keuntungannya juga terus minus, dia tidak ingin membayar hutang setelah Jackson mati. Dia merasa memilik ide yang sangat hebat.


Dibandingkan dengan terus mencari David untuk bayar hutang, David pasti akan mengeluarkan uang sedikit ini untuk membuatnya diam dan menjauh dari kehidupannya. Syarat yang tiba tiba ini membuat Eko sedikit kesulitan.


"Anda ini"


"Kamu bilang saja bisa atau tidak"


"Ini tisak bisa diputuskan, saya bilang bos dulu"


Eko menelepon sebentar, disaat Marisa sudah hampir tidak sabar, dia akhirnya menganggukan kepalanya. Pengacara langsung mengeluarkan laptopnya dan mengetik poin tambahan, Marisa puas melihat jumlah uang yang ditambahkannya itu.


Marisa langsung menandatanganinya dan memeluk kontraknya. Gedung yang dijanjikannya Eko bilang dalam dua hari akan bisa didapatkan, nanti dia akan langsung menghubunginya. Marisa menjadi tenang dan masuk ke kamar pasien Jackson.


Anak ini bukan anak Jackson, hanya Marisa dan kekasihnya yang tahu tapi demi uang, setelah dia berdiskusi dengan kekasihnya dia menenangkannya. Kekasihnya dulu pernah ditekan oleh Jackson dan selalu benci dengannya, kalau tahu dirinya yang menanam bibit ke Marisa, dari awal dia pasti akan langsung memberitahu Jackson tujuannya agar membuat dia kesal.


Jacson yang sakit keras dan tidak bisa bicara maka dia baru bisa menyembunyikan semuanya. Saat hamil, kebetulan saat Jackson dibawa kerumah untuk dirawat, saat informasi tentang kehamilan Marisa terbongkar, semua komentar bilang kalau Jackson sudah tua tapi masih kuat.


Sebelumnya Jackson juga pingsan karena melihat sendiri Marisa dengan kekasihnya bermesraan, maka semua penyakit lamanya juga kambuh , jangankan bicara, dia bisa buka mata saja itu sudah hal yang baik. Marisa masuk ke kamar pasien.


Jackson perlahan membuka matanya yang lelah dia melihat Marisa yang melangkah mendekatinya. Satu lembar kertas terjatuh didepan mukaanya.


Marisa tertawa "Sudah lihatkan, uang yang anak kamu kasih, gedung apartemen ini sekali naik harga bisa puluhan milyar"


Jackson langsung membuka matanya lebar dan mengeluarkan suara yang berat, tapi sama sekali tidak bisa bicara. Pipinya memerah dan seperti dibuat sangat marah sampai mau mati, ini membuat Marisa hampir tertawa.


"Kamu mati saja, setelah kamu mati, kebetulan anak kamu yang akan bayar hutang, aku cerai sama kamu, kamu main main saja sendiri"


"Oh ya anak kamu sepertinya tidak perduli dengan uang kecil ini, dia adalah bos besar dan kamu adalah orang yang tdiak berguna"


Jackson yang sudah tidak mudah diselamatkan terbatuk dan hampir saja lagi lagi dibawa keruang UGD?


Marisa yang sudah mendapatkan kontrak itu tidak perduli dengan Jackson mati atau tidak, yang harus dia lakukan sekarang adalah pergi dengan bebas. Pergi bermain main dan saat pulang ambil uang dan gedungnya, hari ini benar sangat indah.


Sesuai saran dari bosnya Eko datang mencarinya, kalau Marisa ada disini pasti akan sangta terkejut, tidak sangka mereka bisa menemukan rumah kekasihnya. Seorang pria paruh baya yang duduk dikursinya melipat kakinya dan terlihat seperti pengusaha yang sukses.


Jarinya sedang memegang rokok dan melihat kearah Eko "Kenapa, takut berita aku menyelingkuhi mama tirinya terydebar dan merepotkan dia"


Eko mendorong kacamatanya dan terlihat santai "Anda salah paham, saya lihat nyonya Marisa mau kabur, maka saya datang untuk memeperingatkan anda " Dia memberikan hasil tes DNA kepadanya.


Dibawah tatapan yang penuh kecurigaan, Eko bicara dengan sopan.


"Dokternya adalah orang kita sendiri, tidak bisa berbohong, Marisa mengandung anak anda, mengambil satu gedung apartemen, walaupun kasih dia kompensasi juga tidak ada artinya"


"Apa" Rokok ditangannya juga sudah tidak dipedulikannya lagi, pria itu memegang hasil tes itu dan wajahnya terlihat marah. 

__ADS_1


Saat dia mengingat Marisa sedang membawa uangnya untuk kabur, kemarahannya memuncak karena dianggap bodoh dan ditipu itu membuat dia tidak perduli dengan kata katanya. "Sialan"


Dia marah dan langsung bersiap mencari perhitungan dengan Marisa. Eko melihat orang itu pergi dan langsung mengirim pesan ke David meberitahunya menunggu perintah bos langkah selanjutnya.


__ADS_2