
Julietta membuka pintunya perlahan dengan amat sangat penasaran, seketika nafasnya langsung berhenti. Orang yang duduk di ranjang itu sangat cantik, sangat mirip sekali dengan mamanya, Julietta terpana, mukanya dan bibirnya yang tipis sangat menggoda.
Rambut hitamnya yang luru dan gaun yang seharusnya sampai pergelangan kaki Julietta, dipakai David hanya bisa sampai lututnya dan memperlihatkan kulitnya yang putih. Kecantikan di antara pria dan wanita ini membuat Julietta tercengang, benar benar sangat cantik sekali.
Julietta menatap heran dan melangkah perlahan ke depan David dengan sedikit gemetar. David mengangkat kedua matanya yang dipenuhi air, sebenarnya karena bosan dan menguap terus matanya berair sedikit.
Dia bertanya malas. "Sudah belum."
Julietta mencubit menarik dagu David agar mukanya menatapnya langsung. Mereka berdua saling bertatapan, Julietta menaikan alisnya dan bertanya.
"Aku mau cium bibir kamu."
"Hanya kalimat itu yang bisa mengungkapkan perasaan aku sekarang."
Sambil bicara, Julietta menurunkan badannya dan mencium ******* bibirnya. Lalu kedua kaki dia naik menekan di atas nya ke ranjang dan membaringkan David. Lalu dia lanjut mencium David penuh dengan kelembutan.
Rasa dua bibir yang saling menyentuh sangat indah, dia menggigit kecil bibir David dengan pelan lembut. Pertama kali merasakan rasanya inisiatif, membuat Julietta menjadi bersemangat tambah agresif, setelah mencium bibirnya dengan puas, dia lanjut mencium pipinya dan turun sampai dagu dan lehernya. Julietta juga menjilat jakunnya yang menonjoll.
David yang berbaring di ranjang sudah sangat berkeringat dan bergetar. Dia sangat suka dengan Julietta yang inisiatif dan berani seperti ini, maka dia menahan diri agar tidak membalikan badan Julietta dan membiarkan dia menekannya di atas ranjang.
Dihalangi oleh gaun yang lembut, Julietta menyentuh kulit kaki David dan bisa merasakan suhunya yang mulai naik panas. Julietta menjadi tambah bersemangat.
Malam ini menjadi sangat panas membara, mereka melakukannya sampai tengah malam baru tertidur. Baju sudah dilempar ke sembarang arah, rambut palsunya juga sudah dilempar ke lantai, seluruh badan Julietta agak sakit dan tidak bisa bergerak dan hanya mau tidur terus dengan nyenyak. Dia berbaring diatas pelukan David dan tertidur. Tertidur sampai langit cerah.
Malam yang tidak masuk akal semalam membuat Julietta merasa sangat lelah dihari kedua, dia tidak bisa bergerak bebas di ruangan kerjanya seharian. Marc merasa sedikit penasaran dan bertanya apakah Julietta kemarin lagi lagi begadang main game online. Mengingat kejadian semalam, Julietta masih merasa malu dan tegang.
Hari ini Tomy melihat bosnya sangat serius bekerjanya, sudah menatap layar komputer seharian, sampai sore hari masih bersemangat, seperti robot yang baterainya penuh.
Tomy bicara dalam hatinya, memang cinta bisa membuat orang bersemangat. Kalau dia saat ini bisa melihat gambar dilayar komputer David, maka dia akan melihat layar itu sedang menampilkan berbagai pakaian wanita yang berukuran besar panjang.
Julietta sampai dirumah dan masih sedikit malas, dia juga malas masak, maka dia dan David memesan makanan dari luar. Setelah makan Diana mengajaknya main game bareng lagi lalu dia bermain beberapa game berbaring di sofa dan tiba tiba sadar David sepertinya tidak bersuara sangat lama.
"David, kamu sedang apa."
Julietta masuk ke dalam kamarnya lalu dia melihat. David duduk manis diranjang Julietta dengan baik baik seperti murid yang menunggu mengambil hadiah. Setelah melihat Julietta masuk kamar, dia langsung menunjuk gaun diatas ranjang dan berkata.
"Malam ini kita lanjut."
Julietta terdiam dan menatap tajam ke David kesal. Ada beberapa orang demi kehidupan seksualnya sampai tidak perduli dengan mukanya lagi. Julietta mengucapkan satu kalimat sambil tersenyum. "Kamu genit sekali,"
Supaya dirinya tidak diusir dari kamar tidurnya lagi, ruangan yang tidak pernah diubah beberapa tahun lalu itu, diubah oleh David. Dia memanggil orang untuk mengangkat ranjang single di kamar tidurnya dan hanya menyisakan meja, lemari dan rak buku, seketika kamar itu menjadi sangat luas. David bilang mau beli satu meja lagi agar Julietta juga bisa kerja di kamarnya itu.
Julietta "Aku tidak mau."
Sekarang dirumah hanya tersisa satu ranjang besar dikamar Julietta, maka David hanya bisa pindah ke ranjang Julietta. Julietta sedang menghapus dandanannya, dia melirik David sesaat yang duduk di pinggir ranjang, sesaat berbaring di tengah ranjang lalu dia berguling guling sendiri diatas ranjang itu.
Julietta "David kamu sudah umur berapa, umur 26 masih main guling gulingan."
David berhenti bergerak dan berbaring di atas ranjang sambil membentangkan kedua tangannya, seperti sedang mengukur ukuran ranjangnya.
David "Ranjangnya sepertinya sedikit kecil, aku akan ganti yang lebih besar lagi."
Julietta melamun "itu cukup sedang"
Kalau mereka berdua tidur lurus saja masih lebih dari cukup, bagaimana mungkin tidak cukup.
David "Kalau saat putar badan sedikit sempit."
Tanpa sadar Julietta melihat ke atas ranjang dan mengingat gerakan David tadi. Setelah beberapa saat dia langsung mengerti dan mukanya memerah.
__ADS_1
"Dasar tidak tahu malu, tidak usah tukar."
Ada seseorang yang ternyata mau ranjang yang lebih besar demi guling gulingan.
"Tapi akan jatuh."
"Kalau jatuh yah tidur dilantai" ucap Julietta.
David berbaring diranjang dan berpikir dalam.
"Sepertinya lumayan juga di lantai."
Dengan seperti ini David akhirnya resmi menetap di kamar Julietta. Tidak, seharusnya bilang akhirnya berhasil melaksanakan kekuasaanya sebagai pria utama di keluarga kecil ini. Dia berbaring di ranjang sambil memeluk bantal yang empuk, lalu melihat Julietta yang masih sibuk membersihkan mukanya.
Mereka berdua dalam kamar, yang satu sedang sibuk merawat kulit, yang satunya sibuk menonton orang merawat kulit, tapi terlihat tetap harmonis.
David bicara "Kamu seperti ini seperti sedang memakai lem."
"Diam"
"Ini apa"
"Lotion"
"Yang ini apa"
"Krim essens"
"Terus ini apa"
"Krim mata"
"Ini apa lagi"
"Kamu ini mau nanya sampai kapan, mana ada pertanyaan sebanyak itu."
David yang menerima sinyal maut itu akhirnya berhenti bertanya, dia berbaring di ranjang menunggu Julietta datang. Memasuki musim panas, cuaca mulai menjadi panas, Julietta tidak mempunyai banyak baju, hanya memakai daster tidur tanpa lengan selutut dan memperlihatkan kakinya yang lurus. Julietta duduk di pinggir ranjang dan lanjut memakai krim di badannya.
Julietta bicara "Besok sabtu, kebetulan bisa pergi jalan jalan dan jemur matahari, kita sunbath"
David hanya mengangguk dan lanjut melihat Julietta yang masih memakai krim di badannya.
Julietta "Kamu bisa jangan lihat lagi tidak" Julietta dilihat David sampai tidak merasa nyaman.
Harum wangi krim di badannya sedikit manis. Seluruh badan Julietta mengeluarkan aroma yang enak dicium, David menahan badannya dengan sikutnya dan setengah duduk, lalu merangkul pinggang Julietta dari belakang lalu mulai mencium belakang lehernya. Kulit yang putih menjadi satu titik merah stroberi.
Julietta gemetar, awalnya dia mau mengeluh, tapi karena nada suaranya yang lembut jadi terdengar seperti sedang bermanja.
"Jangan banyak gerak, aku masih belum selesai pakai krimnya."
Wajah David terus menempel dileher Julietta mencium wanginya yang enak. Kulitnya lembut tapi panas, seluruh badannya memerah, bahkan jari kakinya juga ikut memerah.
"Aku bantu kamu oleskan krimnya." Ucap David agak serak.
Dihari kedua Julietta baru keluar saat sore hari untuk berjemur matahari. Pinggang dan pahanya terasa masih sakit, seluruh badanya pegal pegal dan tidak nyaman. Julietta berjalan didepan, dibelakangnya ada David yang sedang memegang payung untuknya. David melihat Julietta dan mulai berpikir.
Julietta mengenakan baju dan celana yang panjang, memakai topi dan kacamata hitam, sebelum keluar juga memakai krim tabir surya di area yang terlihat dari luar. Sekarang seluruh badannya tertutup rapat rapat dan juga pakai payung, apakah ini yang wanita sebut sebagai sunbath atau berjemur matahari. David tidak bisa berkata apa apa.
Kalau Julietta tahu saat ini David sedang berpikir macam macam, mungkin dia akan memukulinya. Matahari hari ini sangat cerah dan menghangatkan, sesekali juga ada angin kecil yang berhembus. Julietta melepaskan kacamata hitamnya dan mengangkat kepalanya, di area taman kota ini juga ditanami beberapa pohon besar, warna hijau yang segar membuat mood orang menjadi baik. Julietta menengadahkan kepalanya dan berkata. "Enak sekali."
__ADS_1
David melihat supermarket yang tidak jauh dari sana, diluar pintunya ada dua kulkas yang besar yang dipenuhi dengan es krim.
"Kita duduk disini sebentar, aku sedikit lelah."
Pinggang dan punggung Julietta yang masih sakit dan masih harus jalan kaki, sudah diduga ini bukan pilihan yang tepat, mungkin seharusnya dia memilih pergi ke tempat pijit. Julietta tiba tiba mengingat saat dia mandi ada banyak bekas bekas merah kecil di sekujur tubuhnya karya David.
Lupakan dia lebih baik diam di rumah saja. Mereka berdua duduk dikursi panjang dan kebetulan berada di bawah pohon yang sejuk, David menutup payungnya dan berkata. "Aku pergi ke toilet dulu."
Julietta hanya mengangguk, lalu, Julietta melihat seseorang yang bilang mau ke toilet tapi sebenarnya jalan ke arah supermarket. Apakah dia kira Julietta buta. Julietta melihat David yang memutar satu kali, dan terakhir berdiri di depan kulkas besar itu, tidak tahu mau memilih es krim yang mana.
Angin berhembus ke wajahnya dan membuat Julietta mengantuk. Dia mengucek matanya dan hatinya berpikir kalau ada ranjang di taman ini dia pasti akan bisa tidur dengan lelap. Tiba tiba dia mendengar ada suara yang memanggil namanya dari belakangnya, Julietta.
Julietta langsung menoleh ke belakang tapi tidak melihat apa apa, hanya ada sura pohon yang berbunyi. Ditaman yang kosong ini tidak begitu ada banyak orang, dia duduk di kursi dan melihat sekelilingnya, dia menyadari mungkin dirinya sedikit lelah dan berhalusinasi.
Julietta menggaruk garuk pipinya agar dirinya sadar sedikit. Siang bolong begini mana ada hal aneh aneh seperti itu, pasti karena dia terlalu lelah. Saat dia melihat kedepan lagi, David dan supermarket sudah tidak ada. Julietta melihat pemandangan didepannya dengan kebingungan, didepannya adalah taman bunga yang bermekaran sangat indah. Matahari di saat ini sangat cerah, tapi dia merasa dingin.
Jadi ini sebenarnya halusinasi atau kenyataan. Dibelakangnya ada suara orang yang memanggilnya lagi, Julietta. Julietta terkejut dan hampir melompat dari kursinya. Dia melihat ke belakang dengan mukanya yang pucat.
Tangan David dibelakangnya membawa dua es krim dan sedang melihat Julietta dengan kebingungan, dia bertanya "Terlalu lelah"
Julietta "a apa"
"Baru sebentar saja kamu sudah tertidur di kursi ini"
"Eh" Dia tadi tertidur. Julietta menepuk pipinya pelan agar tersadar sedikit. Pantas saja dia tadi melihat pemandangan yang aneh, ternyata semua ini adalah mimpi.
David berkata "kita pulang saja"
Pulang agar Julietta bisa tidur, tadi dia mukanya sangat pucat, matanya bulat seperti melihat sesuatu yang aneh dan tampangnya ketakutan. David mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalanya, tangannya dingin karena tadi baru memegang es krim tapi sangat hangat. Ini membuat Julietta perlahan menjadi tenang.
Julietta menghembuskan nafas panjangnya. "Semua salah kamu jadi aku tidak bisa tidur dengan lelap setiap malam."
David setengah berjongkok didepannya dan meletakkan dua es krim di tangannya.
"Kamu pilih mau makan yang mana."
Julietta mau tertawa, tapi dia berpura pura cemberut. "Kamu tadi bukannya bilang mau ke toilet."
"Iya sekalian lewat" jawab David.
Julietta tersenyum, lalu memilih es krim yang di kiri dengan rasa strawbery. "Ini saja."
Mereka berdua memegang es krim dan dimakannya sambil jalan. Es krim yang dingin masuk ke dalam mulut membuat Julietta menjadi sedikit sadar, mereka berdua sebentar lagi keluar dari taman, dia menggigit sendok kayunya dan melihat ke belakang.
Melewati jalan pepohonan ini, di seberangnya ada satu supermarket, di depan pintunya ada kulkas yang sangat menarik perhatian.
"Kamu sedang lihat apa." David juga ikut melihat ke belakang.
"Tidak ada." Julietta bicara sambil mengigit sendok. "Pulang, aku masih sangat lelah."
Mungkin karena akhir akhir ini terjadi banyak hal, pekerjaanya juga sangat sibuk dan selalu lembur dan tidak disangka bertemu dengan roh mamanya David, membuat kondisi Julietta tidak begitu baik.
Mereka berdua selesai makan es krim dan sampai di rumah, Julietta langsung mengganti baju memakai piyama dan langsung tidur. Sudah diduga badannya terlalu lelah, hanya dalam beberapa detik dia sudah tertidur.
Julietta bermimpi sedang melayang di atas awan dan membuat dia sedikit takut. Dia memeluk dirinya sendiri erat erat, lalu dia melihat cahaya dari kamar yang gelap. Ada seseorang yang sedang berada di dalam selimut dan sedang bermain HP dengan serius.
Kamarnya tidak terlalu besar dan dipenuhi dengan mainan kecil, ditemboknya juga ada beberapa poster yang sudah lama, tapi itu semua sangat dikenali oleh Julietta. Wanita yang berbaring di dalam selimut itu tiba tiba memutar badannya dan bicara.
"Apa ini, cerita apa ini, astaga, penulisnya sebenarnya sedang berpikir apa."
__ADS_1
Suara dia, dia sangat yakin seperti pernah didengarnya. Julietta berjalan mendekati wanita itu lalu berhenti. Layar HP menyinari wajah wanita itu, dua mata yang cantik sedang melihat HP dengan serius, tidak tahu melihat cerita seperti apa, tapi dia seperti ada kata kata yang tidak bisa di ucapkan.
"payah benar benar mau mengomentarinya, sudahlah besok pagi saja."