
Berpikir sampai sini, julieta tiba tiba kepikiran sesuatu. Dia menggoyangkan lengan David dengan bahunya.
"Hei apa kamu dulu belum pernah pacaran"
David melirik dia dan malas menjawab. Julieta tidak menyerah dan terus bertanya.
"Kalau ada wanita yang kamu suka, pasti pernah ada kan, tidak ada masa muda kamu"
David balik bertanya "kamu punya"
Julieta langsung berekspresi wajahnya yang dulu polos karena cinta.
"Saat aku kuliah, ada siswa yang suara nyanyiannya sangat bagus, sangat ganteng, semua siswi satu jurusan terpikat dengannya...eh eh kamu pelan sedikit jalannya, hey David tunggu aku"
Langkah kaki David tiba tiba dipercepat, membuat Julieta langsung lupa dirinya sedang berkata apa, jadi dia berlari kecil langsung mengejarnya. Dia sangat takut gelap jadi dia tidak mungkin meninggalkan David lebih dari dua meter. Kehidupan David bagi Julieta masih sangat misteri.
Tidak tahu dia dulu pernah mengalami apa sampai bisa membuat dia bersifat pasif seperti sekarang, pasti bukan kenangan yang indah. Dari kata kata yang keluar dari Marisa dulu, membuat Julieta kurang lebih bisa yakin, satu satunya kenangan yang indah dihati David hanyalah mamanya yang sudah meninggal.
Dia berpikir mungkin David yang sifatnya lambat dan pasif disekolahnya dulu dibuli oleh murid pria lain dan dicemburui. Pernah saat makan siang mengobrol santai, Tomy membocorkan rahasia yang penting.
"David itu teman sekolah aku, satu SMA, kuliah aku keluar negeri, tapi masih tetap jalin komunikasi sedikit dengan dia"
"Teman SMA"
Julieta terkejut "berarti kamu tahu dia saat SMA seperti apa, jangan jangan dia dibuli seperti yang aku bayangkan"
Ucapan yang Tomy mau keluarkan tiba tiba tersedak karena kaget. Dia melihat wajah polos dari Julieta, jadi dia berpikir dan memutuskan untuk menelan kembali cerita yang sebenarnya.
Wanita itu orang yang paling pakai perasaan, paling suka mengasihani orang lemah, paling mudah tersentuh oleh pria, kalau istrinya baik dengan bos, kehidupan bos juga akan bahagia.
Tomy lanjut berkata dengan nada khawatir.
"Tidak, sangat kasihan, hari hari dia sulit dilewati"
Sulit dilewati apanya, siapa yang tidak tahu dengan orang nomor satu yang berpengaruh besar di masa tahun itu. Tomy lanjut berkata lagi.
"Akhir akhir ini pendiri sekolah dan alumni akan kembali kesekolah karena ada acara hari jadi sekolah, kita semua akan hadir, David juga sepertinya akan datang hadir"
Setelah SMA, David hidupnya semakin tidak seperti orang, jelas jelas dulu masih ada sedikit perasaan orang normal, Tomy melihatnya sangat khawatir, dan dia juga khawatir dengan hubungan mereka suami istri yang perkembanganya sangat lambat, dia berharap Julieta bisa lebih memahami David, agar David bisa lebih mudah keluar dari egonya sendiri. Kata kata Tomy ini membuat perhatian Julieta bertambah banyak ke David.
Sesampainya dirumah, Julieta melihat David sedang duduk disofa tiba tiba dia menjadi hati hati. Dia menepuk bahu David dan bertanya dengan lembut.
"Kamu mau makan apa, hari ini lelah tidak, mau bicara tentang kehidupan tidak"
David terdiam sebentar lalu tiba tiba dia berdiri. Julieta mengira dia tersentuh oleh ucapannya. Tidak disangka dia berjalan menuju temapat yang tidak asing, mengambil barang yang tidak asing, sebuah termometer.
David "coba ukur suhunya"
Dipagi harinya seperti biasa, Julieta bangun pagi dan siap siap untuk berangkat kerja. Dia sudah membuat sarapan, satu dimasukan kedalam tas dan yang satunya dimasukan kedalam kulkas.
Tidak menyadari kalau David sudah keluar dari kamar tidurnya, sambil mengantuk dia mengusap matanya, satutangganya dimasukan kedalam kantong celana piyama dan berjalan kekulkas mengambil sebotol yakull, setelah itu pandangan dia mengikut pergerakan Julieta dan melihat talenan dikirinya, setelah itu dia mengikutinya lagi dan melihat kotak makanan di kanannya, terlihat sangat santai.
Pandangan Julieta tertuju ke David yang tidak melakukan apa apa dirumah, tiba tiba sedikit muram. Terasa seperti dia keeja keras pergi pagi pulang malam untuk menghasilkan uang dan merawat suaminya, dan David seperti istri muda yang dirawat, setiap hari hanya makan minum dan membuang uang,
Tapi membuang uang untuk David yang sangat tampan seperti ini, tidak bisa dibilang rugi juga, kalau kepintaran emosional dia lebih tinggi sedikit saja, pasti akan lebih bagus.
Saat mengingat dengan kotoran kambingnya, eh batu bulat kecil hitam, Julieta langsung penuh dengan dendam melihatnya.
David menatapnya tanpa rasa bersalah, tidak mengerti pagi pagi seperti ini, Julieta marah besar kenapa.
__ADS_1
"Aku mau kerja, kamu dirumah tunggu aku baik baik"
David sangat penurut menjawabnya "baik"
Dia melihat Julieta mengganti sepatu dan keluar rumah dengan bersemangat. Pintu tertutup didalam rumah menjadi sangat sepi, David duduk sendirian dimeja makan, tiba tiba dia merasa kalau menyembunyikan identitasnya benar benar bukan cara yang baik. Rumahnya akan kosong lagi seharian. David meminum satu teguk yakull, matanya ditundukan. Setelah beberapa saat terdengar suara dia menghela nafas "dingin sekali" seharusnya dikeluarkan dan didiamkan dulu sebentar sebelum meminumnya.
Julieta seperti biasa naik taksi menuju kantornya. Dia dafi dulu tidak pernah belajar naik mobil, akhir akhir ini karena repoat harus kerja mengejar waktu, membuat Julieta harus mempertimbangkan apakah dia harus tes mendapatkan SIM dan beli satu mobil.
Dulu dia tidak belajar mobil karena takut kecelakaan, sekarang dia ingin coba belajar, hidup atau mati semua Tuhan yang menentukan, kalau mau hidup panjang juga bukan diri sendiri yang bisa menetukan.
Hari ini dia berangkat sedikit telat, jalanan macet, walaupun supir sudah berusaha menghindari jalanan macet dan berputar putar, tetap saja tidak bisa membuat Julieta mengejar jam waktu kerja. Julieta bilang ijin ke Marc diawal, telat sudah pasti telat, gaji dipotong juga sudah seharusnya.
Marc sangat baik, dia mengirim satu pesan suara, dengan tertawa ringan dia meminta Julieta jangan terburu buru, kalau tadi belum sarapan, lebih baik sarapan dulu baru berangkat. Julieta berpikir, senior dikantor benar benar sangat ramah baik hati, pengertian.
Sesampainya dikantor, Julieta langsung berlari dan tidak peeduki dengan penampilannya. Belok dari gedung besar, tidak jauh disana adalah gedung kantor Aquarius, dia menenteng kotak makannannya sambil berlari.
Setelah itu ada orang yang hampir menabrak Julieta. Julieta langsung berkata "maaf, maaf"
Orang itu memanggilnya lalu dia menarik Julieta dengan tidak percaya.
"Kamu kenapa bisa ada disini"
Ternyata dia adalah Sisca. Arah ini adalah arah ke kantor Aquarius, Sisca langsung terkejut sesaat, tidak mengerti bagaiamana mungkin Julieta bisa masuk ke Aquarius.
Julieta juga bingung "aku kenapa tidak boleh ada disini"
Tangan Sisca sangat dingin, dia menariknya dengan sangat kuat, Julieta berusaha untuk melepaskannya baru bisa dilepaskan. Dia mengerutkan alisnya, benar benar tidak suka dengan perilaku Sisca yang tidak sopan ini.
"Aku sudah telat masuk kerja, tolong kasih lewat sebentar"
"Kerja"sisca semakin tidak percaya "kamu"
Sisca tersenyum dingin
"Pantas saja kamu mengubah dandanan kamu, ternyata kamu masuk dengan mengandalkan penampilan"
Julieta pertama terkejut, lalu dia marah dan tersenyum. Setelah berpikir Sisca bicara seperti ini karena mengakui dirinya benar benar cantik, dia menjadi tidak marah lagi.
Pernah suatu saat, Julieta juga berharap suatu hari ada orang yang memaknya seperti ini.
Kamu ada uang sudah hebat
Wajah cantik tentu saja hebat
Julieta menyatakan dirinya memang benar benar hebat. Dia tersenyum dan berkata.
"Ya aku memang mengandalkan wajahku, kamu mau coba juga"
Sebagai wanita yang paling cantik, Julieta memang orang yang tidak tahu malu. Candaan dia dianggap serius oleh Sisca.
Sisca menggigit giginya "aku tidak lebih buruk dari kamu"
Dari kehidupan sebelumnya, Sisca terus diam diam membandingkan dirinya dengan Julieta, kalau membandingkan penampilan dan badan pasti kalah, jika dia membandingkan sifatnya dan kemampuannya, Sisca mendapatkan kesimpulan yang memuaskan, Julieta hanya cantik diluar tapi hancur didalam, jauh lebih buruk dibandingkan dengan dia. Sekarang, kesukitan yang Sisca rasakan membuat dia sangat marah.
Sisca melihat dengan matanya sendiri kalau Julieta dengan seluruh badannya yang elok melewati dia, dia melihat Julieta masuk kegedung Aquarius dengan percaya diri, bahkan security juga sangat sopan dengan dia, lalu dia menghilang ditempat yang tidak dapat diinjak Sisca selamanya.
Tiba tiba tangannya sudah dikepalkan dengan erat. Sisca pertama kali cemburu seperti ini dengan Julieta. Dia terus menempel disisi Erick dengan cara apapun, hanya untuk membuat Erick bisa masuk ke Aquarius suatu hari, dan menyambut masa keemasan dihidupnya disana. Tapi sekarang Julieta bisa masuk dengan mudah membuat Sisca sedikit tidak bisa menahan diri.
Sisca yang linglung sudah sampai dirumahnya, dan berjanjian untuk bertemu dengan Erick. Dia duduk dikursi didalam cafe, melihat Erick yang eksprsinya sedikit pucat. Tangan kanannya diperban belum dilepas, jenggotnya belum dicukur. Tampangnya yang sangat menyedihkan saat ini, sama sekali tidak seperti pahlawannya, dia adalah matahari yang terbenam, sebentar lagi akan tenggelam ke air laut yang dingin, selamanya tidak akan bertemu dengan langit.
__ADS_1
Sisca mengepalkan tangannya "kak Erick, aku berharap kamu bangkit"
Erick memingkamkan bibirnya dan mengedipkan matanya sambil berkata "terima kasih"
Hati Sisca sangat terluka melihat dia yang murung, emosiny yang negatif sangat mengganggu dia, membuat dia sulit bernafas. Dia semakin curiga juga ragu apakah Erick benar benar bisa bangkit, bagaimanapun juga, dunia sebelumnya dan dunia sekarang mengalami perubahan yang sangat besar, dan kesempatan munculnya istri masa depan Erick sudah dicekik olehnya didalam keranjangnya. Angin yang dihembuskan olehnseekor kupu kupu sudah bisa merubah banyak hal.
Sisca menatap dia dan berkata dengan pelan.
"Kalau kamu seperti ini terus, mungkin aku juga akan meninggalkan kamu"
Erick hanya mengedipkan matanya dan tidak bergerak.Sisca sangat marah dengan kedinginan dia, tanpa berpikir dia berkata lagi.
"Baik, sangat bagus, kalau kamu mau menjadi sampah, kamu coba saja, seumur hidup kamu juga hanya bisa seperti ini, aku benar benar salah menilai orang sampai aku bisa mengira kamu akan sukses"
Setelah bicara itu, Sisca langsung menyesal, karena teman masa kecilnya yang didepannya ini yang sudah dikenalnya puluhan tahun, kedua matanya yang selalu lembut, saat Erick melihatnya akhirnya dia kehilangan harapan terakhirnya..
Erick mentapnya, seperti menatap satu orang asing yang tidak dikenalnya., lalu berkata.
"Kalau kamu mau beli saham, maaf saham ini sudah turun sampai batas rendah dan dijual rugi, dan tidak akan ada keajaiban yang akan terjadi"
Sisca langsung menjelaskan dengan terpatah patah
"Bukan, maksud aku bukan itu, aku mm
Erick dengan dingin mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Kalau hanya sukses itu bukan aku yang sebenarnya, lebih baik kamu cari pria lain"
Setelah itu, dia langsung meninggalkan tempat duduknya tanpa melihat kebelakang meninggalkan Sisca sendirian.
Waktu sangat cepat berlalu, tiba tiba dua minggu sudah lewat lagi, Julieta pelan pelan sudah terbiasa dengan kehidupan kantornya selama total sebulan ini, dan juga terlihat bahagia. Selain banyak karyawan pria yang mencari kesempatan menggodanya, yang lainnya sangat lancar.
Julieta menghitung waktu dan gaji pertamanya dengan senang, lalu dia berpikir nanti dia bisa menjadi wanita kaya, lalu kalau mau menikah lagi bisa menikah, kalau tidak mau menikah dia hanya bertugas pacaran saja menikmati hidup, ini adalah kehidupan indah yang diimpikannya dahulu.
Akhhir akhirnini Tomy sering dinas keluar kota, dikantor hanya ada Marc yang bisa diajak berbincang, Marc adalah paman yang hidupndidunia fiksi, kalau bicara tentang sejarah perkembangan animasi Jepang itu dia bisa membicarakannya dengan lengkap, dia juga pamer tangannya pernah tidak dicuci selama seminggu, karena tangan itu pernah bersalaman dengan Hayao Mizayaki senior animator Jepang, dia tidak rela untuk mencucinya.
Setelah dia betpikir, Marc afalah seorang pria, dan pria kalau pipis, iyuww, maaf mengganggu, dipikirannya Julieta kalau Marc tiba tiba berubah menjadi paman tua yang jorok.
Marc bergumam dia tidak mau ada adegan mesra antara Haibara dengan Conan, embuat Julieta yang mendengar, otaknya menjadi mati rasa, dia mencari alasan untuk keluar, agar bisa menghindari otaknya dicuci oleh Marc.
Petang hari masih ada pekerjaan yang tidak sediiikit, Julieta hanya ingin keluar mencari angin sebentar lalu kembali lanjut kerja. Matahari diluar sedang bagus, Julieta menyipitkan matanya, lalu dia melihat bayangan pria yang tidak asing, ternyata adalah Erick. Dia berdiri diluar pintu gedung kantor, badannya agak kurusan, ekspresinya yang kebingungan seepertinya tidak melihat keberadaan Julieta. Julieta terkejut.
Aneh, dua pemeran utama ini kenapa datang bergantian, yang satu datang dan yang satu pergi, semuanya hanya bengong didepan pintu Aquarius.
Julieta berjalan menghampirinya dan menyapanya "erick"
Mata Erick yang tadinya kebingungan sekejap menjadi kaku, dia menegakan badannya dan menolehkan kepalanya, lalu dia melihat Julieta yang tersenyum sudah berdiri disebelahnya.
"Kamu ini"
Julieta menjawabnya dengan anggukan, lalu dia menunjuk gedung dibelakangnya.
"Aku kerja disini, menggambar"
Dia sedikit tidak menyangka, lalu dia memperbaiki ekspresinya dan berkata.
"Pengumpulan gambar karakter sketsa terakhir itu peringkat pertama itu adalah milik kamu ternyata"
"Kamu masih ingat yah, ini suatu kehormatan untukku" ucap Julieta sambil selalu tersenyum ramah.
__ADS_1