Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
48


__ADS_3


Julietta mengangguk, melihat tampang David, sepertinya dia lebih menantikan pergi ketaman hiburan. Mereka berdua setelah sarapan, keluar bersama, naik taksi menuju taman hiburan. Musim dingin orang tidak begitu banyak, akhir kahir ini juga sedang masa ujian sekolah, dan juga merupakan hari kerja, orang ditaman hiburan sangat sedikit, mereka berdua mengenakan masker dan topi yang membuat satpam setiap saat menatap mereka berdua dengan serius seperti menatap dua orang penjahat.


"Kamu tunggu disini"


Julietta "mau apa"


Julietta memegang tiket, dia melihat daftar wahana didalam taman hiburan ini, tidak berapa lama David kembali dengan memegang dua es krim.


Julietta bertanya "kamu buat apa beli ini"


David menjawab dengan yakin "diTV semuanya seperti ini kalau di taman hiburan"


Julietta, "tapi sekarang bulan januari dan musim dingin, kamu mau flu"


Tidak berapa lama kemudian, es krim ditangannya sudah hampir beku, Juletta menjilat dan menggigitnya, eskrim beku itu membuat giginya ngilu,, dia menggigit giginya sendiri dan membuat David melihatnya.


"Terlalu dingin" tanya David dengan tulus.


Julietta tertawa dingin "aku kasih tahu kamu baik baik"


Julietta menjilat eskrim dengan sangat lama, disaat itu David juga makan beberapa sosis karena es krimnya sudah habis dan menunggu Julietta menghabiskan eskrimnya dengan sabar,  Akhirnya Julietta berhasil menghabiskan eskrimnya, otak Julietta yang membeku sudah sedikit tersadar, David disebelahnya bertanya dengan pelan.


"Mau main apa, rollercoaster"


"Boleh" suara Julietta terdengar gemetaran, seperti sedang menahan takut tapi tetap memaksakan. Sebenarnya dia hanya kedinginan karena angin dingin jadi sedikit gemetar, ditambah gemetar karena bersemangat. Tapi David mengira sebaliknya, dia salah paham.


Mereka naik tanpa antri, mereka masuk naik dan duduk dibarisan pertama. David mau menahan badan Julietta supaya duduk dibarisan tengah, tapi siapa sangka Julietta terlalu memaksakannya, akhirnya mereka duduk baris pertama. Mereka berdua mengenakan sabuk pengaman.


David berkata "kalau takut, bisa bilang ke aku"


Julietta "kamu juga"


David heran, tiba tiba keragu-raguan menyelimuti hatinya.


Julietta berkata dengan semangat "kamu tahu tidak, aku pernah dalam satu hari naik rollercoaster belasan kali bersama teman sekolahku, kami sangat sangat senang menikmatinya."


Dia belum selesai bicara, rollercoaster mulai bergerak maju. Julietta berteriak, tapi sangat beda dengan teriakan ketakutan yang diharapkan David, walaupun juga sama sama berteriak. Julietta senang sekali melihat mereka naik ketitik teratas, dia membuka tangannya keatas, matanya bersinar dan tertawa bahagia. Rollercoaster meluncur turun dengan sangat cepat. Pemandangan yang dilewati bergerak dengan cepat seperti sebuah bayangan, mata mereka tidak bisa melihat pemandangan dengan jelas.


Jantung Julietta berdetak kencang, ini membuat dai merasa rileks dan bebas, dia merasakan darah diseluruh tubuhnya sedang membara. Mukanya merah karena terlalu bersemangat, saat rollercoaster mulai agak melambat, dia melihat David yang duduk disebelahnya mukanya itu tidak ada ekspresi. Rambutnya berantakan tertiup angin, badan dia sepertinya sedikit kaku, mulutnya juga dimingkamkan.


Julietta berkata dengan keras "jangan jangan kamu takut.


David menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya. Rollercoaster lagi lagi meluncur dengan cepat, telinga Julietta hanya bisa mendengar suara angin, sama sekali tidak mendengar dengan jelas David berkata tidak takut. Julietta sangat bersemangat selalu tersenyum bahagia, sampai rollercoaster perlahan berhenti digaris awal.


"Kita main sekali lagi"


David "boleh tapi pindak duduk ditengah"


David tidak pernah naik rollercoaster sama sekali, jadi hari ini adalah pertama kalinya seumur hidupnya itu, naik rollercoaster yang meluncur naik turun belok berputar dengan sangat cepat sekali, angin dingin seperti tamparan yang menampar wajahnya agak membuat sakit dan membuat dia tersadar, kalau dirinya ternyata takut akan ketinggian. Julietta disebelahnya sedang tertawa lepas, disaat ini David tetap tenang, walaupun cia sadar kalau takut ketinggian tapi tidak mau ketahuan olehnya.


David melirik Julietta. Rambut pendeknya menjadi berantakan tertiup angin, matanya mengecil karena tertawa dan sangat bersinar. David menjadi berdebar debar, dia berpikir, dia ini sedang takut atau antusias. 


Dia menatap terus ke Julietta, dia lupa akan angin dingin yang lewat dan pemandangan yang sekilas itu, dia hanya menatapnya dengan diam. Akhirnya rollercoaster berhenti total, wajah Julietta merah, dia menggaruk pipinya dan melihat ke David yang tidak ada ekspresi sama sekali, hanya saja sedikit pucat dari biasanya.


"Kamu tidak apa" Julietta akhirnya menyadarinya "mau istirahat sebentar"


Saat begini bagaimana mungkin dia mau terlihat takut, jadi David berkata tidak apa dengan datar.


"Bagus kalau begitu"


David berdiri dan mengeluarkan kakinya untuk turun tangga, gerakannya kaku seperti robot. Julietta memastikannya lagi.


"Kamu benar tidak apa, kamu boleh istirahat sebentar disini, aku sendiri yang lanjut main"


David tetap bersikeras kalau dirinya tidak apa. Julietta berkata lagi.


"Aku selanjutnya mau naik kapal bajak laut, kamu mau ikut tidak"

__ADS_1


David yang duduk dikursi taman diam beberapa menit lalu berdiri sambil berkata "baik"


Akibat dari memaksakan diri adalah, David seperti kucing mati ditarik naik keatas kapal bajak laut.


Ditaman hiburan itu sangat sedikit sekali pengunjungnya, yang paling bersemangat mungkin hanya Julietta.  Setelah main beberapa wahana menegangkan, pipinya semakin memerah, tapi matanya sangat bersinar bahagia sekali, walaupun rambutnya sedikit berantakan. Julietta terlihat masih bekum main dengan puas, dia melihat sekelilingnya mencari wahana lain yang menarik.


"Kamu masih mau main apa" 


Julietta berkata sambil menyenggol David.


David yang duduk dikursi panjang, agak melamun, bola matanya tidak bergerak sama sekali, lagi lagi membuat Julietta seperti melihat patung manekin ganteng, ketika matanya berkedip sekali, menandakan dia masih hidup.


"David, kamu bagaimana, badan tidak enak"


David tetap diam beberapa saat "masih tidak apa"


"Wahana yang itu kelihatannya seru, mau coba tidak"


David berkata "yang lain saja"


"Mau main apa"


"Rumah hantu"


David mengira, kalau Julietta tidak takut ketinggian dan suka main yang menegangkan, memicu adrenalin, maka rumah hantu pasti takut. Wanita saat lihat hantu pastinya akan teriak menangis dan berlari masuk kepelukan pasangannya, David tersenyum sendiri membayangkan ini. Membuatnya kembali bersemangat.


Julietta mendengar kata rumah hantu jadi terdiam berpikir serius. Pemilih seperti Julietta, biasanya rumah hantu ditaman hiburan dia tidak suka masuk, karena pembuatan peralatannya jelek, karyawannya juga tidak cukup inisiatif, membuat suasana dirumah hantu tidak mengagetkan apalagi menakutkan.


Terkadang beberapa karyawan lebih takut daripada pengunjungnya, tidak disangka malah dikagetkan dan ditakuti oleh Julietta, oleh karena ini juga Julietta masuk kedaftar hitam semua rumah hantu di kotanya.


Julietta masih ingat terakhir kali dulu sekali dia masuk kerumah hantu dengan tema rumah sakit yang terbengkalai, suasana terus sangat menakutkan sampai Julietta merasa ketakutan, lalu didepan dia ada pasangan, tidak disangka prianya yang selalu teriak kaget. Suasana menjadi sangat canggung. Tidak perduli bagaimana dia tidak bisa masuk kedalam suasana itu, dan setiap saat dia hanya jalan dibelakang mereka dengan muka datar sampai selesai keluar rumah hantu.


"Tapi tidak tahu apakah rumah hantu ini akan menakutkan atau tidak"


Melihat Julietta yang ragu ragu, David menjadi tenang. Dia berdiri dan dengan pelan berkata "ayo coba saja"


Julietta menyetujuinya dengan anggukan santai, asalkan kalau dia benar benar akan takut.


Sambil bicara didalam kegelapan tiba tiba ada sebuah tangan yang pucat turun dari atas, jarinya ada bekas darah, melayang layang hampir mengenai wajah Julietta. Julietta sedikit terkejut dan berkata.


"Efeknya sangat bagus, kreatif, suasana juga memuaskan, melebihi ekspetasi ku, harus kasih nilai tinggi"


David tidak mendengar suara Julietta itu, tanpa sadar dia melihat kebelakang nya, selanjutnya dia saling menatap dengan hantu wanita yang bergantungan diatas, karyawati yang menjadi hantu itu sepertinya tidak pernah melihat pria seganteng ini, seketika mukanya memerah, kantong darah terbuka dan mengalir bercampur dengan mukanya sendiri.


Julietta berbisik "sedikit menakutkan ya"


David melihat kebelakang dengan kaku dan berusaha tetap tenang, akhirnya dia berhasil menunggu kata kata yang diharapkannya, saat dia mau memberikan bahunya ke Julietta untuk bersandar, Julietta tiba tiba berbisik lagi.


"Sangat bagus"


David merasa ada firasat buruk. 


"Ayo jalan kita keruangan yang lebih seru lagi" kata Julietta sambil menarik tangan David.


Lengan David berhasil dipegang Julietta sesuai harapannya, tapi hasilnya bukan seperti yang dia mau, Julietta masuk keruangan yang kelihatan sangat menakutkan, dia main sendiri dengan sangat bersemangat seperti anak kecil, tiba tiba buka pintu, buka lemari, menemukan pintu baru, dia terlihat sangat suka dengan kejutan dan bukan ketakutan. Bahkan Julietta berhasil mengambil gergaji seorang hantu dan mengejar hantunya dengan gergaji itu. David melihat Julietta semakin heboh, dia berlari kecil sana sini,  sudah tidak bisa dihalangi dan sudah melupakan keberadaanya.


Para karyawan mendengar ada sepasang pengunjung yang sangat ganteng dan sangat cantik, mereka semua langsung bersemangat, bahkan karyawan yang sedang istirahat juga langsung memakai kostum hantunya dan mengagetkan orang, para hantu wanita datang mengerumuni David.


Julietta merasa bersemangat, dia merasa ini benar benar membuatnya bahagia benar benar setimpal. Tiba tiba dia sadar kalau David tidak ada disebelahnya. "David, kamu dimana" dia berteriak kecil.


"Disini" David dengan sulit keluar dari kerumunan hantu wanita yang menakutinya, mukanya tidak ada ekspresi, terlihat tidak tenang.


Julietta berbisik "jangan jangan kamu takut"


David "tidak mungkin"


"Ah dibelakang kamu" Julietta tiba tiba menunjuk kearah belakang David berteriak.


Dengan cepat David menarik lengan Julietta dan mundur beberapa langkah, lalu dia melihat kebelakang yang ternyata tidak ada apa apa, Julietta sengaja mengagetkannya. julietta menertawainya sampai berjongkok. Dia baru tahu, David ternyata memiliki sisi yang lucu juga.

__ADS_1


"Jangan takut, tenang aku akan lindungi kamu" Julietta berkata sambil tersenyum dan meminta David menggandengnya.


"Ayo kita sudah tidak jauh dari pintu keluar"


Seharusnya Julietta akan teriak ketakutan dan memeluknya, tapi kenapa sekarang terjadi yang sebaliknya. Julietta seperti sangat memiliki keberanian melindungi David. David memegang erat lengan Julietta, tidak tahu dari kapan, jarinya perlahan lahan turun dan terakhir memegang erat jari Julietta mereka bergandengan. Julietta hanya fokus bermain lupa ada orang disebelahnya, tidak merasakannya sama sekali. David jadi tidak fokus. Didalam ruangan yang gelap gulita, jantung David berdebar dengan cepat, semua fokusnya ada di jari tangan Julietta yang halus lembut.


Sudah diduga kalau ketakutan akan berilusi membuat detak jantungnya lebih cepat, bagaimana dengan Julietta.


"Wah kamu lihat, wanita yang mulutnya retak itu" Julietta menunjuk kesatu arah. 


Terlihat satu hantu wnita yang mulutnya retak sampai ketelinga tersenyum kearah David.


Setelah keluar dari rumah hantu, dia masih tidak rela, tapi ditarik oleh David keluar. Tidak terasa sudah lewat sore, langit mulai gelap, awan tebal juga mulai bergerak. Julietta menyentuh perutnya yang terasa lapar, akhirnya dia ingat mereka belum makan malam.


"Kita cari makan"


Diluar taman hiburan ada banyak gerobak pedagang makanan, ada yang jual sate bakar, sate goreng, sate seafood, cumi bakar dan banyak makanan ringan. Mereka berdua saling menatap, saling mengerti memikirkan apa. Julietta mengikuti dibelakang David dan makan dengan lahap, bibirnya penuh dengan minyak, David makan satu porsi bakso gurita bakar, Julietta mendekatinya dan mengambil satu.


"Enak sekali" mulut Julietta penuh dengan makanan, hanya bisa memberikan komentar dengan samar samar. Ekspresi David tetap tenang santai.


Asap tebal dan cahaya redup mengenai mereka, membuat kening David lebih bagus dari biasanya, sampai orang yang melewati dia berhenti menatapnya sejenak. David menatap Julietta disebelahnya sambil tersenyum, yang imut dan matanya gesit, membuat pandangan David menjadi lembut. Terdengar orang berbisik disebelahnya.


"Kaka tampan bawa adiknya miain, gadis itu kelihatannya masih sangat muda sekali, mungkin siswi SMA"


"Mungkin juga pasangan muda, seperti beda 10tahunan atau lebih"


"Mungkin saja paman dan keponakan, prianya babybface jadi tidak jelas usianya"


"Salah itu pasti papa muda dengan anak gadisnya"


David agak cemberut dan terdiam selama perjalanan pulang. Dia tidak berbicara apa apa, Julietta melihat David disebelahnya.


"Kamu sedang memikirkan masalah umur"


Julietta sebenarnya memang lebih muda beberapa tahun dari David, sekarang Julietta memotong rambutnya jadi terlihat jauh lebih muda, jadi pantas saja orang lain bicara seperti itu. Tampang David sangat muda, hanya saja Julietta yang tubuhnya mungil, maka orang lain bisa salah paham.


"Julietta" nada suaranya tenang tapi tampangnya sulit bicara, membuat Julietta agak gugup.


"Kenapa"


"Aku mau bilang"


"Bilang apa" Julietta tambah gugup.


"Digigi kamu ada cabai.


Julietta langsung marah besar, dia langsung mengambil salju, digulungnya dan dilempar ke David.


"Kamu kenapa tidak bilang dari tadi" dia berteriak kencang.


David yang dilempar bola salju hanya diam. Sebenarnya dia hanya bercanda. Gigi Julietta bersih putih,tidak ada apa apa. Julietta sibuk bercermin dengan HPnya, David tiba tiba memutar badannya dan melempar Julietta dengan bola salju yang tepat mengenai kepalanya.


Amarahnya semakin menjadi, dihatinya David sudah dingin, ingin sekali balas dendam ke David jadi dia langsung melempar salju bertubi tubi ke David, tapi tidak ada yang mengenainya, dia melemparnya terus.


Mereka berdua saling lempar bola salju sangat lama, Julietta akhirnya berteriak karena sudah tidak tahan.


"Kamu kenapa tidak mau mengalah sama aku"


David terkejut, sampai suaranya menjadi sangat pelan "kita bukannya sedang bertanding"


Julietta langsung mendekatinya, dibawah tatapan tajam Julietta, David sedikit membungkukan pinggangnya, kedua tangannya diletakkan dipahanya dan mengarahkan mukanya kearah bola salju ditangan Julietta "kamu lempar aku"


Julietta memegang erat salju digenggamannya, tiba tiba hatinya menjadi iba.


"Lupakan" dia membuang saljunya dan berkata "ayo pulang"


Mereka berdua berjalan dengan harmonis, menyambut angin dingin, Julietta bersin, David juga bersin. Gawat, jangan flu.


__ADS_1


__ADS_2