Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
59


__ADS_3


Dengan perasaan ragu, Julietta melihat David yang keluar bersama dengan polisi itu, mereka berdua berdiri dikoridor. Polisi itu lanjut bicara. "Anggota keluarga tersangka berharap untuk berdamaii diluar pengadilan karena mental putrinya  dan mengatakan bahwa mereka akan melakukan segalanya untuk menebusnya, tuan, apakah.."


"Tidak perlu" David menyela polisi itu dengan tiba tiba. Nada bicara David terdengar sangat santai, namun membuat orang yang mendengarnya sedikit emosi karena terkesan tidak acuh.


"Jangan sampai mereka berlagak pintar"


"Baik saya mengerti tuan, saya akan menyampaikan pendapat anda"


Setelah polisi itu pergi, koridor itu kembali berada dalam suasana hening, Julietta duduk menundukan kepalanya, rambutnya tergerai berantakan. David berjalan masuk keruangan. Ekspresi wajahnya kembali normal, dia memegang tangan Julietta dan bertanya. "Apakah masih sakit"


"Ya lumayan"


Jika bukan karena tangan David yang memegang tangannya dengan erat dengan kedua tangannya seperti meremasnya, Julietta hampir mengira bahwa David lebih tenang. Telapak tangannya berkeringat. Telapak sedikit basah itu membuat Julietta menjadi canggung. Namun saat ini dia tidak ingin melepaskannya, sepertinya saat ini dia ingin menghibur David membiarkannya mengelus tangannya. Padahal yang terluka adalah Julietta, namun reaksi kepanikan David lebih terlihat jelas.


"Sebenarnya, saat itu aku takut aku akan mati"


Mereka saling menatap. "Aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi"


Julietta yang berterus terang dan nampak menyedihkan membuat hati David menjadi tenang. Penantian panjangnya akhirnya mendapatkan jawaban, bagaimana mungkin dia tidak merasa bahagia perasaannya terbalaskan. Tanpa meunggu reaksi Julietta, dia memeluknya dengan erat dan hangat sambil berbisik " tidak akan, tidak akan pernah"


Tok tok tok, pintu bangsal itu diketuk dengan cepat, lalu diikuti denga orang yang langsung masuk kedalam.


"Kaka ipar, kaka ipar, kamu baik baik saja kan"


Gerakan Tomy sangat cepat, setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia segera bergegas menuju rumah sakit. Meskipun supir telah menjelaskan padanya bahwa Julietta hanya menderita luka ringan, namun ekspresi wajah dan reaksi David saat bersamanya dijalan tadi itu benar benar membuat Tomy sulit untuk melupakannya. Dia terkejut, dan langsung menjenguk datang melihat keadaan Julietta. "Kaka ipar?"


Tomy yang mendorong pintu dengan tergesa gesa, namun yang terihat pertama adalah bosnya yang sedang memeluk Julietta dalam pelukannya yang erat kelihatan sangat hangat mesra. David menatap tajam ke Tomy, tatapan yang mengerikan, Tomy merasa bahwa mungkin, setiap waktu kedatangannya sangat tidak tepat waktu.


Tomy menggaruk kepalanya dengan canggung "Bagus jika kaka ipar tidak apa apa"


Suasananya hancur, Julietta tidak bisa melanjutkan kata katanya lagi. Namun waktu mereka masih panjang, tidak perlu terburu buru. Julietta melihat ke arah Tomy dan berterima kasih atas kedatangannya. Meskipun Tomy sedikit ceroboh, namun kekhawatirannya itu datang karena sangat memikirkan keselamatan Julietta juga. Rasanya cukup menyenangkan untuk diingat.


Julietta berkata dengan serius agak dingin "Terima kasih"


Tomy sedikit terkejut, lalu wajahnya memerah, dia berkata dengan malu "mengapa kaka ipar tiba tiba begitu serius, aku sangat tidak terbiasa, bagus jika kamu tidak ada yang parah, bagus"


Julietta tertawa kecil melihat Tomy yang begitu pemalu saat ini. Wajah Tomy merona lalu memuji Julietta "kaka ipar kamu sangat cantik, kamu tetap cantik dengan luka didahimu itu"


Biasanya juga seperti itu. Entah kenapa setiap kali memujinya, kata kata yang diucapkan Tomy semakin berubah seperti sindiran artinya. Tomy menyadari bahwa situasinya semakin tidak nyaman. Dia batuk sekali lalu mengganti topik dengan buru buru.


"Oh ya urusan berikutanya dengan pers dan polisi bisa diserahkan kepada Andy dan saya, kami akan melakukan yang seharusnya dilakukan dan tidak akan membiarkan sipelakunya lolos dari hukuman"


"Terima kasih banyak"


Saat mereka bicara terdengar lagi suara ketukan pintu dan pintunya terdorong di buka dan terlihat Erick masuk kedalam.


Dia juga datang dari kantor Aquarius dengan tergesa gesa, juga untuk menghindari kejaran wartawan. Pakaianya berantakan, terlihat sangat kelelahan. Dia masuk dengan langkah besarnya.


Pandangannya langsung menatap ke arah Julietta saja untuk memastikan keadaannya. Setelah memastikan bahwa dia baik baik saja, akhirnya dia bisa meregangkan sarafnya yang telah tegang selama perjalanan menuju rumah sakit ini.


Erick tersenyum kecut dan mengungkapkan rasa malu dimatanya. "Maaf sudah terlambat meminta maaf sekarang, ini adalah masalahku dan telah berdampak memberikan banyak masalah kepadamu, setelah masalah ini selesai, aku akan datang keruangan HRD untuk menyerahkan surat pengunduran diri, aku bersumpah bahwa Sisca tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk menyakitimu lagi"

__ADS_1


"Tolong jangan berkata seperti itu" Julietta berkata lalu minum segelas air.


Erick selalu terbiasa untuk menanggung semua masalah sendirian, melihat bahwa dia sampai mengorbankan pekerjaaanya, Julietta langsung memotong perkataanya dengan tergesa gesa.


"Ada beberapa kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan Sisca, namun hal hal ini semua sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu, kamu harus tetap di Aquarius, dan juga tidak ada hubungannya dengan orang lain, jadi tolong jangan menyalahkan diri sendiri"


Erick terkejut mendengarnya, dia mengira kalau Julietta sedang menghiburnya, lalu dia terlihat menarik bibirnya dan menunjukan senyuman pahit.


"Meskipun demikian, semua langkah dan perbuatannya sampai hari ini masih merupakan tanggung jawabku, aku seharusnya tidak marah dan meninggalkannya, sehingga menyebabkan dia berada dijalan yang salah tanpa arah kembali sekarang"


Mendengar ucapan Erick, Julietta semakin mengerutkan alisnya.


Julietta "Aku tidak menyangka kamu berpikir seperti itu"


Erick "aku.."


Julietta "Apa kamu pernah menghasutnya, apakah pernah memberikan isyarat yang salah kepadanya"


Ketika Erick membuka mulutnya mau bicara menjelaskan, Julietta memotongnya lagi dan berkata.


"Setiap orang dewasa harus siap atas segala konsekuensi dari tindakan perbuatannya, sat tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, dia pergi menyalahkan dan melukai orang lain. Apakah kamu yang mengajarkan cara pandang seperti ini kepadanya, jika tidak, mengapa kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan orang lain, seberapa baik dan sucinya dirimu"


Erick tercengang mendengar serangkaian ucapan Julietta. Julietta turun dari ranjangnya dan berdiri tegak, dengan ekspresi yang sangat serius yang belum pernah terlihat oleh siapapun sebelumnya, bahkan sedikit terlihat marah. Dia menatap langsung ke mata Erick yang menghindar lau bertanya dengan tegas. 


"Karena kamu ingin selalu bertanggung jawab atas kesalahannya, sehingga dia bisa memikiki pikiran untuk mempercayakan segalanya kepada keberuntungan dan mengandalkanmu, membuatnya berpikir bahwa akan selalu ada orang lain yang bertanggung jawab atas segala perbuatannya"


"Erick kita semua sudah dewasa, setiap orang adalah pribadi yang mandiri, ada banyak hal yang tidak ada kaitannya dengan dirimu, seperti saat ini"


Ruangan rawat Julietta hening sejenak, mereka berempat terdiam. Erick masih terkejut dan berdiri diam ditempat. Tiba tiba diam tidak tahu harus bicara apa lagi. Disaat yang begitu serius dan hening, Tomy tidak bisa menahan suaranya dan berkata pelan agak berbisik "kaka ipar sangat keren"


"Terima kasih, meskipun mungkin aku masih belum bisa melakukannya, namun aku akan bertanggung jawab untuk diriku sendiri"


"Bagus" Julietta berlagak seperti bos dan berkata lagi sambil tersenyum  "Kembalilah bekerja besok, kalau tidak bonusmu akan dipotong"


Erick ikut tersenyum.


" oh ya Sisca"


Erick berkata "Tidak tahu, aku masih belum sempat menjenguknya"


Sesampainya dirumah sakit itu Erick langsung mencari dan berlari kearah ruangan rawat Julietta. Dia baru bisa tenang setelah memastikan bahwa dia baik baik saja.


Melihat tangan Julietta dan David yang selalu terus berpegangan tangan dengan erat, Erick berkedip beberapa kali. Bohong jika dikatakan bahwa hatinya tidak hancur, namun dia telah mulai menerimanya, menyesuaikan suasana hatinya dan meminta dirinya untuk segera bisa mengatasi perasaan ini.


Selanjutnya, masuk petugas polisi yang sedang membuat catatan tadi. Saat melihat ada beberapa orang yang baru datang dikamar tersebut, dia sedikit terkejut dan berkata "Nona Sisca sudah sadar, apa kalian akan menjenguknya"


"Kalau begitu aku akan pergi melihat Sisca" ujar Erick


"Oh ya, dia juga berharap nona Jullietta bisa hadir saat dia membuat catatan kepolisian"


Setelah polisi itu selesai bicara, beberapa orang nampak saling memandang. Tanpa sadar Julietta dan David juga saling menatap, David langsung memegang tangannya dengan erat, menandakan supaya dia tenang. Julieta menggenggam balik tangan David sambil tersenyum.


"Kalau begitu juga aku ikut, supaya sekalian menyelesaikan urusannya dengan Sisca"

__ADS_1


Sisca yang terbaring di ranjang telah kembali tenang. Disampingnya berdiri seorang polisi dan beberapa anggota keluarga Sisca. Saat melihat Julietta, mata mereka mulai berair, lalu mulai bersimpuh memohon maaf dan meminta Julietta untuk memaafkan segala perbuatan Sisca.


Melihat hal ini Julietta merasa seakan akan dirinya telah mengganggu orang lain dengan memanfaatkan kekuasaanya dan mereka menganggap Sisca sebagai korban disini. Mereka melihat Erick dan langsung maju mendekatinya seperti melihat anak sendiri.


Erick tiba tiba sibuk mengurusi mereka, dan menyarankan mereka untuk kembali tenang. Mata mereka berair dan tidak mau mendengarkan Erick.  Sisca yang terbaring lemah diranjang, wajahnya terasa mati rasa, seolah olah tidak perduli dengan perilaku keluarganya.


Dokter mulai melerai mereka dan berkata "jangan membuat keributan disini, ruangan pasien harus tenang, pasien ini baru diselamatkan, akan buruk bagi komdisi tubuhnya jika harus ribut seperti ini"


Erick lalu menambahkan "Kalian tenang dulu, kita bicarakan lagi diluar, sekarang kita akan membuat catatan kepolisian"


Saat mendengar akan membuat catatan kepolisian, wanita paruh baya yang nampak seperti ibu dari Sisca itu menangis lebih kencang "Sisca adalah putri kami yang lugu, polos dan baik, Erick tolong kamu jangan salah paham, dia hanya mengalami sedikit masalah dengan emosinya, namun dia pasti tidak akan melakukan kejahatan yang akan mencelakai orang"


"Silahkan keluar" suara David tidak keras, namun terdengar sangat jelas tegas. Setelah dia mengatakan itu, ruangan rawat Sisca itu langsung sunyi sekejap.


Wajah ibu Sisca terlihat sedikit tidak bahagia, namun ingin mencoba menggunakan cara merendahkan diri untuk menenangkan amarah dari pemilik perusahaan Aquarius itu.


"Saya adalah ibu dari Sisca ini, hatiku.."


Mata David langsung menatap tajam ke arah ibu Sisca dan membuatnya langsung terdiam. Tomy maju selangkah dan tersenyum dingin lalu bicara.


"Bibi ini sepertinya anda masih belum mengerti bahwa putrimu telah melakukan beberapa kesalahan yang serius. Aku menyarankanmu untuk keluar dan menghirup udara segar dan menenangkan diri, supaya putrimu tidak menjadi semakin sulit karena ucapanmu. Dipenjara selama beberapa tahun, bukankah itu tidak menyenangkan"


"Saya,,saya,,hix" Dia mana pernah bertemu dengan keadaan seperti ini, dia tampak ragu ragu saat menatap pandangan dingin mereka.


Erick menghela nafas "Bibi, jika kamu masih terus begini, kamu akan merugikan Sisca"


Tanpa menunggu lama, ruangan itu kembali sunyi hening. Sisca yang terbaring diranjang melamun, saat ini kondisi mentalnya cukup baik, namun matanya penuh dengan tatapan kebencian saat memandangi semua orang di ruangan itu. Terlebih saat dia melihat Julietta dia tidak sabar untuk melompat dan menamparnya.


"Kamu datang" ujar Sisca dengan suara serak dan lemah.


Julietta berdiri diujung ranjang, menatapnya dingin dan berkata "kamu ingin menemui ku"


"Iya, ada yang ingin kusampaikan secara empat mata denganmu"


Setelah selesai mengucapkan itu, semua orang otomatis menjaga Julietta menjauhinya, seolah olah orang yang sedang terbaring diranjang ini adalah seorang yang sangat berbahaya. Sisca mencibir dan tersenyum dingin berkata.


"Aku telah mengakui kesalahanku, apalagi yang kalian takutkan, aku tidak akan memakannya"


Seakan sudah mengetahui hasilnya, Erick berkata sambil menunjukan kesedihan diwajahnya "Sisca seharusnya tidak begini, kamu benar benar terlalu bodoh"


Mata Sisca mulai memerah. Dia terbangun dari koma dan berhasil menghindari kematian. Setelah mengetahui bahwa Julietta hanya mengalami luka ringan, hatinya merasa sangat tidak rela dan sangat lelah.


Kemudian dokter dengan sangat menyesal memberi tahu kalau anak dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan. Reaksi pertama Sisca adalah kesedihan yang mendalam, dia tidak menyangka bahwa dia bisa hamil. Dia hanya beberapa kali berhubungan dengan Charlie dan setiap kali adalah kenangan buruk baginya. Dia tidak menyangka bahwa hubungannya itu bisa menghasilkan sebuah kehidupan baru yang bahkan telah meninggalkannya tanpa sempat diketahui olehnya.


Sisca mengelus perutnya dan menutupi pipinya dengan satu tangan, dia tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa saat ini. Mengapa nasibnya sangat tragis. Dia benar benar tidak mengerti. Charlie masih dirawat dirumah sakit lain, kondisinya sudah stabil. Dipertemuan berikutnya mungkin akan berada didalam pengadilan.


Sisca bicara dengan suara serak "Aku mengaku kalah, aku kurang beruntung, aku tidak cukup hati hati, aku harus membayar mahal atas semua perbuatanku, tidak perduli bagaimana cara kalian menyiksaku, aku akan mengakui itu"


"Apakah kamu masih belum mengerti" Julietta menghela nafas pelan. "Tidak ada orang yang menginginkan nyawamu dan tidak ada orang yang sengaja ingin menyakitimu"


"Tidak ada orang yang sengaja ingin menyakitiku, namun hanya mengambil segala sesuatu kepunyaanku" Sisca berkata sambil menatap tajam Julietta dan lanjut berkata "Kamu telah mendapatkan cukup banyak, jadi jangan lagi berpura pura menjadi orang yang baik dihadapanku"


"Apa yang telah kuambil darimu" tanya Julietta.

__ADS_1


"Erick, David, kamu telah mengambil mereka semua dariku, mengambilnya" Sisca menjerit, air matanya mulai mengalir dari sudut matanya "Seharusnya mereka semua adalah milikku"


__ADS_2