
Setelah berhasil mendorong David masuk ke kamarnya, Julietta segera menutup pintunya dengan agak membantingnya, BUM pintu itu ditutup oleh Julietta dari luar. Dibalik pintu. Dia diam diam bicara "Jika aku menemukan bahwa cemilan diatas meja itu lenyap, besok kamu seharian akan makan angin"
Julietta tidak bisa tidur nyenyak, dia berguling kiri kanan diranjang, mimpinya mengerikan. Sebentar mimpi tentang masalah dunianya, sebentar mimpi tentang ingatan Sisca dari kehidupan sebelumnya. Keduanya tumpang tindih dalam mimpinya dan berakhir berantakan.
Dia membalikan badannya dan agak berkeringat, mengerutkan kening dalam mimpinya. Nampak dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia memukul dinding ranjang, menendang ranjang yang menimbulkan suara gaduh.
Diruang tamu yang gelap itu, sebuah sosok yang bergerak lambat itu berhenti saat mendengar suara yang muncul dari kamar tidur Julietta. Ternyata itu adalah David, ditengah malam yang gelap, dia keluar ke ruang tamu untuk makan cemilan diam diam.
Setelah beberapa saat dia tidak mendengar suara Julietta lagi, David pun lanjut bergerak diam diam menuju dapur. Minuman soda didalam kulkas sudah hilang, begitupun juga dengan mie instan didalam lemari sudah hilang, entah kemana. David melihat sekeliling, namun tidak menemukan apa apa. Jangankan sosis, bahkan plastik pembungkusnya pun sudah tidak ada disana.
Akhirnya dia bergerak diam diam lagi menuju ruang tamu lagi dan duduk disofa. Cemilan dan manisan buah kering terletak di atas meja. David mengulurkan tangannya dan mengambil sekantong daging dendeng kering seperti biasanya. Saat dia bersiap untuk merobek bungkusnya, tiba tiba muncul peringatan Julietta didalam benaknya. David terdiam sesaat.
Mengorbankan makan siang hanya demi sekantong cemilan, bagaimana pun juga itu tidak menguntungkan. Dia harus pergi ke kantin untuk makan nasi kari. Untungnya ada tempat penyimpanan rahasia. Julietta pasti tidak ingat ada sesuatu yang tersimpan dibawah sofa. David membentangkan kakinya, membungkuk dan mengulurkan tangannya ke kolong sofa, namun dia tidak merasakan apa apa disana.
Ketika dia berpikir bahwa semua makanan itu telah diamankan Julietta, dia menyentuh sebuah kantong makanan kembung diujung jarinya, David pun segera menarik bungkusan tersebut sambil tersenyum, tapi ternyata ini hanya plastik cemilan kosong, dia menunduk heran. Dia mengarahkan lampu senter kekolong sofa, ternyata dia tidak menemukan apa apa.
Kantong kosong yang tersisa itu tampaknya menjadi bukti bahwa Julietta sedang menertawakannya. Satu sisi untuk memperingatkannya, sisi lain untuk membuatnya menyerah, Julietta memang cerdik.
David kembali duduk di sofa dan diam tak bergerak. Di ruang tamu yang gelap, dia menggenggam tangannya sendiri, menatap kantong kosong itu dan mengeluh, menghela nafasnya
Dikantor, Tomy merasa bahwa rutinitas harian bosnya sedikit berbeda belakangan ini. Dia yang sering bergadang lembur dan mengirim beberapa laporan kerja kepada David dimalam hari itu akan mendapatkan balasan dari David di keesokan harinya. Cemilan di laci bosnya juga sudah tidak ada.
Semua minuman bosnya diganti menjadi air mineral. Suatu hari, saat Tomy mengirimkan pesan kepada bosnya, David berkata bahwa dia bersiap untuk lari pagi dan tidak punya waktu untuk melihatnya, Tomy menggaruk kepalanya dan bergumam lari pagi heh.
Benarkah bahwa dia adalah orang dewasa yang sudah bekerja normal sekarang, dan bukan seorang siswa SMA yang sedang dihukum. Rasa terkejut yang dialami oleh Tomy itu segera menyebar dengan cepat di teman dekatnya. Setiap kali David tidak bisa membalas pesan tepat waktu, Tomy, Herman dan Andy berbicara serius di grup obroalan mereka.
Dia pergi lari pagi lagi.
Tidsk sekarang sudah tidak pagi lagi, mungkin sedang tidur siang.
Makan makanan sehat yang tidak mengandung lemak berlebih.
Hahaha bos kita benar benar bekerja keras.
Tomy Andy Herman dikeluarkan dari grup, grup terhapus.
Yang paling mengejutkan tentang Tomy adalah dia dan David telah berteman sejak masa sekolah. Saat itu David sangat terkenal disekolahnya dan susah diatur, tidak suka dihentikan.
Hampir setiap hari tidak bisa menemuinya. Bahkan saat guru kelasnya membujuknya untuk berpartisipasi dalam berbagai lomba, dia tetap bersikeras tidak mau ikut. Dia tidak menghargai siapapun. Meskipun demikian, David terus menempati peringkat pertama disekolahnya dari kelas satu sampai lulus, yang selalu berada diatas Tomy yang menempati peringkat kedua.
Tomy juga pernah bertanya padanya, jika tidak ingin menjadi pusat perhatian, mengapa tidak asal asalan saja setiap mengerjakan ujian. David yang memegang buku dengan satu tangan meliriknya, seperti bicara sangat merepotkan. David akan dimarahi jika salah menjawab soal, dan dipanggil keruang buru, akan mendapat hukuman menulis dan akan dimarahi dengan sangat tidak menyenangkan, mungkin juga guru akan memanggil orang tuanya.
Siswa dengan nilai yang sangat sempurna akan memiliki hak istimewa. Bisa dikatakan bahwa Tomy tidak berusaha dan dirinya memang tidak memiliki kemampuan untuk menduduki peringkat pertama.
Saat itu David yang selalu menjadi pusat perhatian dambaan para guru dan murid lain itu tiba tiba mendongak dan bicara serius dengan sangat pelan "Pertanyaan semudah ini, bagaimana mungkin kamu bisa salah menjawabnya"
__ADS_1
Tomy menendang tembok dan bergumam sial. Tomy merasa tertekan. Tomy adalah orang yang selalu dipuji oleh semua orang disekolahnya juga.
Sejak saat itu dia jadi pengikut David, dia mengikuti petunjuk David, lalu berpura pura hebat didalam kelompoknya, sebagai akibatnya Tomy mengikuti David pergi ke universitas yang sama, sambil kuliah mereka memulai usaha bersama, membuka perusahaan bersama dan menyaksikan perusahaan kecil mereka naik dengan kecepatan yang mengejutkan ditingkat industri game online.
Dia benar benar yakin terhadap David dan memutuskan setelah lulus kuliah bahwa karirnya dimasa depan harus terikat sepihak dengan David. Bahkan ketika menemukan kesempatan yang baik, dia tidak pernah berpikir untuk membangun bisnis sendiri.
Tomy bertekad hatinya rela untuk terus mengikuti David. Menjilat atau apapun itu, jika dia bilang seumur hidup maka dia akan melakukannya seumur hidup setia. Sekarang menyaksikan David yang dilarang ini itu seperti anak sekolahan yang benar benar tertutup.
Tomy tadinya sedikit khawatir, dia takut David tidak tahan, takut dia bertengkar dengan Julietta, meskipun dia masih belum bisa membayangkan seperti apa jika David bertengkar nanti, Saat makan siang nanti, Tomy berencana untuk pergi melihat kondisi David. Saat berjalan ditikungan koridor dia melihat Julietta sedang berdiri berhadapan dengan David diujung lorong.
Julietta mengangkat kepalanya dan bicara "Apakah kamu melakukan apa yang kukatakan"
David "Aku ingin em"
Julietta "Tidak kamu tidak boleh"
David terdiam. Seharusnya disaat seperti ini David tidak mengatakan sepatah katapun dan malas untuk mengurusinya. tomy mencondongkan kepalanya dengan hati hati menguping.
Dibandingkan dengan tubuh Julietta yang relatif lebih mungil, David lebih tinggi sedikit. Dia menyelipkan kedua tangannya dalam saku sambil mendengarkan ucapan Julietta. Ekspresi wajahnya datar. Dia mencoba melawan perlakuan diktator fasisme Julietta dengan terdiam.
Saat ini, Tomy benar benar melihat ekspresi David dengan jelas. Dimata orang yang tidak mengenal mereka, penampilan David yang seperti ini terlihat sedang tidak bahagia. Namun Tomy sudah mengenali David selama bertahun tahun dan dia juga cukup mengenal David.
Wajah David tidak menunjukan bahwa dia tidak setuju, dia menurut sekali, seperti sedang dikendalikan oleh Julietta sebagai robot. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukan bahwa dia tidak senang, malah bisa dibilang suasana hatinya sedang sangat baik.
Tomy terakhir kali melihat ekspresi wajah David yang seperti ini ketika game perdana online direlease perusahaan yang sangat sukses dipasaran. Tomy terdiam. Menggunakan kata yang sedikit tidak penting, tetapi sangat tepat untuk menggambarkan kalau David saat ini, dia diam diam bahagia, iya pasti itu. Tidak mungkin David sedang diatur seperti ini, hal apa yang membuatnya terlihat bahagia.
Pikirannya kembali teringat saat sekolah dulu, wajah David yang sangat tampan dan hangat itu tanpa ekspresi menunjuk Tomy untuk mengerjakan soal matematika yang awalnya ingin dia tanyakan kepada David.
Kamu bahkan tidak bisa mengerjakan ini.
Tidak bisa mengerjakan ini.
Tidak bisa, benar benar tidak bisa.
Pertanyaan ini terlalu sulit untuk seorang jomblo, tidak bisa mengerjakannya"
Julietta yang duduk didalam ruangannya itu tiba tiba menengok dan melihat kebelakang dengan kebingungan, "Aneh kenapa aku seperti mendengar suara kucing kecil, bukankah didalam kantor tidak boleh memelihara kucing"
David menjawabnya dengan tenang sambil memakan roti bakarnya "kamu salah dengar" "mungkin"
Akhir akhir ini, Julietta menuntut David untuk diet dan berolahraga, tadinya dia tidak bermaksud akan seketat ini. Dia hanya berharap untuk menaikan sedikit standardnya, supaya bisa melakukan tawar menawar dengan David.
Tanpa diduga, sudah berlalu beberapa hari dan David kelihatan menurutinya. Jika Julietta melarangnya makan, maka dia tidak akan melakukannya. Akibatnya, Julietta merasa sedikit tidak enak hati.
"Sebenarnya, tidak apa apa jika kamu makan sedikit cemilan sesekali, tapi usahakan untuk banyak minum air putih dan mengurang minum air soda"
__ADS_1
David mencuri sepotong ayam dari kotak makan siang Julietta dengan tenang dan berkata "baiklah"
Julietta "apakah menurutmu aku buta"
Untuk memuji kerja keras dan kepatuhan David, Julietta memutuskan untuk membelikannya beberapa kue. Sebagai kejutan, tentu saja Julietta tidak akan mengatakannya, dia sudah memikirkannya, setelah istirahat siang dia akan mencari alasan untuk keluar.
Tidak tahu sejak kapan, David maju diam diam mendekat dari belakang. Hari ini dia mengenakan mantel tipis berwarna hitam dengan sweater didalamnya jarinya terasa sangat dingin. Julietta yang kepalanya bersandar dimeja itu sedang tertidur dengan nyenyak.
David berdiri diam dibelakangnya sejenak, perlahan mengulurkan tangannya dan bermaksud mengelus rambutnya dengan lembut. Cahaya matahari dari luar jendela masuk kedalam, menyinari bagian belakang tubuh mereka berdua dan memberikan lapisan cahaya lembut disana, membuat pemandangan itu semakin indah. Sedetik kemudian.
Kulit dilehernya bersentuhan dengan jari jari yang dingin, seperti bola salju yang dilemparkan ke kerah baju saat musim dingin. Rasa dingin itu sontak membuat Julietta terkejut dan hampir saja melompat dari kursi.
"Apa yang kamu lakukan" Julietta agak berteriak.
David "maaf, aku membangunkanmu"
Pria bodoh ini lebih baik makan junk food sampai dia mati saja. David keluar dari ruangan Julietta setelah dicubit olehnya. Julietta benar benar tidak mengerti David selalu saja mencari masalah.
David berpapasan dengan Erick yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Keduanya saling bertukar pandang Erick tersenyum memberi hormat dengan sedikit canggung dan mencoba untuk mencari topik pembicaraan untuk memecahkan keheningan.
"Aku datang untuk mencari pa Tomy"
David menyelipkan satu tangannya kedalam saku dan melewatinya begitu saja, dengan ekspresi wajah yang nampak malas untuk mendengarkannya bicara. Sepertinya dia diabaikan lagi.
Pekerjaan disore hari itu cukup padat. Julietta tidak memiliki waktu untuk pergi keluar. Sampai ketika waktunya pulang, dia melihat ponselnya dan merasa bahwa saat ini masih keburu untuk membeli kue. Jadi dia meminta David menunggunya didepan kantor supaya bisa makan malam bersama direstoran dekat situ.
Dimusim dingin ini, hampir setiap hari bertiup angin kencang. Tiupan angin itu membuat Julietta gemetar kedinginan. Dia berjalan masuk ke toko kue sambil mengenakan jaket hoodienya dan syal, lalu membeli sepotong kue krim mus, sepotong kue keju dan sepotong kue lapis seribu. Setelah pelayan toko membungkusnya. Julietta menenteng kue yang barusan dibelinya itu, lalu berjalan sambil bersenandung kecil dengan gembira ke arah kantor.
Tiba tiba dia mendengar suara kerumunan dari kejauhan, tepatnya di sebrang depan pintu loby utama gedung Aquarius, ada beberapa pejalan kaki yang berada disana berkerumun. Dari jarak beberapa meter nampak sebuah mobil sedan menabrak lampu jalan, bagian depan mobil itu penyok, kacanya pecah dan mobil itu nampak hancur berantakan. Julietta langsung teringat akan ketakutan saat kecelakaan mobil dimalam itu.
Detak jantungnya semakin cepat, entah mengapa kepanikan menyelimuti hatinya. Dia mempercepat langkah kakinya tanpa sadar. Semakin berjalan semakin panik, sampai akhirnya dia langsung berlari kearah kerumunan itu, dan mendengar orang berbicara.
"Mengerikan tertabrak sampai seperti ini, jika tidak mati, minimal dia pasti akan kehilangan sepatuh nyawanya atau lumpuh"
"Itu bukan karyawan perusahaan Aquarius yang sedang berdiri didepan kantor yang tertabrak mobil kan"
"Sepertinya dia itu pria yang masih sangat muda"
"Benar"
Mendengarnya, kaki Julietta melemas, dia berlari menerobos masuk dan akhirnya bisa melihat pemandangan mengerikan itu dengan jelas.
Sesosok pria terbaring dijalan dengan kondisi koma. Tubuhnya berlumuran darah. Sweaternya jadi berwarna merah kena darahnya, mantel hitamnya nampak berlubang, kemeja putihnya terhimpit keluar. Tubuhnya tinggi dan kurus, kulit pucat, rambutnya yang berwarna hitam dan ikal itu berantakan, menutupi wajahnya.
Julietta tidak mungkin lupa kalau David hari ini berpakaian seperti itu datang kekantor bersamanya. Dia berlutut duduk lemas dilantai jalan, dan dengan cepat mengeluarkan ponselnya untuk menghubung nomor ambulans. Hatinya sangat panik, bahkan jari jarinya gemetaran.
__ADS_1
Kesedihan, kepiluan tiba tiba muncul dari dada, menyesakkan dan membuat tangannya mati rasa. Dia tidak bisa berkata kata dan air matanya mulai mengalir dipinya. Ketika panggilannya tersambung, Julietta mulai menangis.
Dia menangis sesegukan sambil menjelaskan lokasi tabrakan ini ke petugas yang menerima teleponnya, dan memohon kepada mereka untuk datang lebih cepat karena korbannya terlihat sangat parah kondisinya.