Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
102


__ADS_3

Julietta merasa benar benar sudah mengeluarkan seluruh tenaganya, bahkan jari kaki dia juga sudah mengeluarkan tenaganya sampai hampir keram. Akhirnya Julietta mendengar suara suster yang senang.


"Sudah kelihatan, sudah keluar, ayo ibu pakai tenaga sekali lagi dorong."


Hanya dalam beberapa detik, Julietta merasa seperti benda yang beberapa ton dari perutnya sudah keluar. Julietta tergeletak di atas ranjang kelelahan sambil mendengar ucapan selamat dari mereka semua.


Beberapa saat diperiksa kemarin kalau posisi janinnya masih tidak lurus, Julietta benar benar takut kaki anaknya yang keluar terlebih dahulu, untung saja semuanya lancar. Dia sekarang sudah sangat lelah sampai matanya hampir tidak bisa dibuka dan mau tidur saja dengan lelap. Tapi disaat ini Julietta memerlukan jawaban yang lebih penting. Dia berusaha membuka matanya dan bertanya pelan.


"Apakah bayi perempuan."


"Pangeran kecil yang tampan seperti ayahnya, selamat ya."


Dalam pikirannya, pangeran kecil, berarti anak laki, satu pria busuk lagi di masa depannya. Dia merasa seperti tersambar petir dan menangis.


Terdengar suara tawa dari suster dan dokter di sebelahnya.


"Lihat mama kamu sangat bersemangat sampai menangis."


David yang baru menjadi ayah yang seharusnya melihat anaknya terlebih dahulu, dia langsung berlari kedepan Julietta dan menggenggam tangannya sambil mengusap air matanya. Julietta yang sudah hampir tertidur, gemetar setelah disentuh oleh jari David yang dingin.


Tangan David kenapa bisa dingin seperti es begini. Julietta membuka matanya dengan sulit, dia menatap David sedang menatapnya dengan mukanya yang pucat dan matanya yang merah. Julietta merasa sedih tapi juga lucu, dia berusaha mengulurkan tangannya untuk menyentuh dia.


David langsung mendekatinya agar jari Julietta bisa menyentuh pipinya. Jari dia yang basah menyentuh pipi David. Bahkan suaranya sangat rendah sampai hampir tidak terdengar.


"Kamu sudah jadi seorang ayah, jangan menangis."


Dia hanya pernah melihat David yang hampir mau menangis, semuanya itu karena dia. David menggenggam tangannya dan bertanya.


"Apakah kamu masih merasa sakit, perlu minum air sedikit tidak, apakah badan kamu ada yang terasa tidak enak, jangan takut, ada dokter disini, pasti bisa memulihkan tubuh kamu seperti semula."


"Bayinya laki laki."


David terkejut mendengar itu. Walaupun mereka berdua menginginkan anak perempuan, tapi sekarang Julietta yang lebih penting. Dia bicara dengan lembut.


"Kamu tidak suka dengan anak laki laki."


"Bukan itu, aku sudah beli banyak sekali baju warna pink."


Julietta juga sudah membeli banyak ikat rambut, jepitan rambut, rok, dress serba pink yang cukup dipakai sampai anaknya ini lulus dari TK.


David merasa anak laki laki atau perempuan sama saja, tapi karena mengira dia akan seorang puteri kecil, maka dia sudah membuat banyak persiapam, tapi hasilnya malah kebalikan.


David bicara pelan tapi sangat serius.


"Kardusnya sudah siap."


Setelah mendengar itu, Julietta hampir saja terkejut dan langsung mencoba bangun duduk. Dia mengira David dulu hanya asal bicara, tapi tidak disangka dia benar benar mau memberikan anak ini kepada orang lain.


Julietta langsung berkata.


"Tidak bisa, tidak boleh."


David mengelus kepala Julietta dan tersenyum "Bercanda kok."


Kalau bukan karena sudah tidak ada tenaga,  Julietta pasti sudah memukulnya dan mencubitnya. Setelah bicara beberapa saat, Julietta sudah sangat lelah sampai tidak mau bicara lagi dia istirahat tertidur lelap di ranjangnya, kalau bukan karena dokter yang mengingatkn kalau ibu hamil perlu istirahat dengan tenang, David ini hampir saja lupa dengan anaknya yang baru lahir.


Tomy dan yang lainnya mengelilingi bayi yang di kotak ruangan kaca sambil tersenyum.


David jalan ke depan anaknya dan baru melihat anaknya yang baru lahir itu lalu menggendongnya.


Tomy "Akhirnya kamu jadi seorang ayah juga, kalian lihat bos setenang apa, pandangannya juga sangat lembut ke anaknya."

__ADS_1


Setelah Tomy bicara.


David langsung mengerutkan alisnya dan bicara.


"Apa aku salah gendong anak, kenapa jelek seperti ini."


Semua orang yang mengelilinginya terkejut. Lebih baik jangan mau punya ayah yang seperti ini. Bayinya ini sedang tertidur dengan tenang dan tidak mendengar komentar ayahnya itu.


David berpikir beberapa saat sambil terus memandanginya dan merasa setelah dilihat beberapa saat anak ini enak dilihat juga, tidak sampai membuat dia ingin pulang dan mengeluarkan kardus yang sudah disimpannya sangat lama ini. Disaat ini, bayi yang tadinya masih tertidur dengan tenang itu tiba tiba berteriak owa owa, dibawah tatapan David yang tenang bayinya menangis keras.


David hanya tercengang, mungkin orang lain yang baik adalah tempat tinggal dia yang terakhir.


Julietta akhirnya bangun dari tidurnya dan merasa jauh lebih bersemangat. Suster membawa bayinya ke Julietta. Bayinya baru menangis dan sekarang sedang tertidur lelap di dekapannya, Julietta mengelus pipi anaknya dengan jari telunjuknya, pipi halus bayi yang sedang tertidur sambil mengoyang goyangkan tangannya ini. 


Beberapa orang yang melihatnya disitu pun semuanya tertawa bahagia dan tersenyum.


Julietta melihat David sekilas dan bertanya.


"Akhirnya tidak jadi rencana kasih ke orang lain."


David menjawabnya dengan tenang "Masih dipertimbangkan."


"Apanya yang mau dikasih orang lain" tanya Andi.


"David tadinya tidak mau punya anak, setelah anak ini lahir dia mau kasih ke orang liain, dia juga sedang memilih dari tiga kandidat."


Membahas hal ini Julietta juga merasa lucu. Pemikiran orang lainnya seketika langsung pikir yang aneh aneh.


Tomy menepuk dadanya. "Pasti ada aku, tidak perlu ditanya, tidak apa saat kalian mau pergi kemana saja, aku ini pasti bersedia kapanpun mengorbankan waktu aku untuk merawat anak ini."


Julietta langsung terdiam mematung.


Tomy bicara lagi.


Dilihat dari pemahaman Julietta terhadap David, kandidat itu ada kemungkinan siapa saja, tapi pasti tidak ada Tomy. Tomy pasti adalah orang pertama yang dibuang dari pilihan David. Tomy terus bicara panjang lebar dan menunggu jawaban dari David, tapi tidak disangka sudah menunggu sangat lama masih tidak mendapat jawaban dari David.


Eksresi Tomy seperti mau patah hati dia bertanya dengan sedih. "Apa jangan jangan, benar benar aku bukan salah satu kandidat."


Muka David tidak ada ekspresi dia hanya melirik Tomy sekilas. Arti dari pandangannya itu sangat jelas, bagaimana mungkin ada dia.


Tomy langsung menangis "Astaga kenapa masa muda aku habiskan dengan pria busuk ini."


Kalau bukan karena Weni menendangnya, mungkin Tomy benar benar bisa berpura pura mengeluarkan air matanya, bahkan Julietta juga sudah tidak tahan melihatnya.


Andi bicara dengan bangganya "Tidak usah di bilang pasti ada aku, Tomy kamu pikirkan dulu kenapa kamu tidak ada di daftar kandidat itu, jangan kira kamu sudah hebat memiliki pacar, benar kan bos."


David menggunakan pandangan yang sama melirik dia. Andi jadi menunduk ditatap seperti itu.


Herman "Kalau begitu seharusnya aku kandidatnya."


David juga hanya melirik sekilas. Mereka bertiga menunduk hampir saja mau menangis, mereka bertiga sangat tidak terima ini, mereka terus menanyakan sebenarnya David memilih siapa, keributan mereka membuat bayi itu terbangun dan menangis lagi.


Pandangan David yang tajam tertuju kepada mereka bertiga. Tomy, Andi dan Herman langsung cengar cengir.


"Anggap aku tidak bilang apa apa ok bos."


Julietta tinggal di rumah sakit beberapa hari ditemani David, setelah tubuhnya sudah pulih dia sudah pulang kerumah. Memang dirumah sendiri lebih nyaman, bahkan kualitas tidurnya jauh lebih baik.


Hari pertama dia pulang kerumah, semua orang datang kerumahnya membawa hadiah suplemen kesehatan menjenguknya, karena di dalam lemari sudah tidak muat, maka semua barang barang itu diletakkan di pojok ruang tamu sampai menumpuk.


Ada perawat yang berpengalaman dibawa David untuk merawat anaknya, jadi Julietta tidak perlu kelelahan, setiap hari bisa tidur dengan baik maka air susunya juga cukup melimpah.

__ADS_1


Baru melahirkan anak, dada dia juga jauh terasa lebih padat dari biasanya, bahkan ukuran branya juga membesar, Julietta sama sekali tidak nyaman. Awalnya sudah gemuk sedikit, sekarang dadanya lebih besar malah membuat seluruh badan dia seperti membengkak lagi, dia sudah memikirkan setelah bayinya besar dia harus mulai diet.


Walaupun David sudah setuju, tapi saat Julietta memberikan susu kepada anaknya, David selalu mencari alasan untuk duduk disebelahnya melihat dia menyusui anaknya. Julietta melihatnya sekilas lalu menutupi dadanya dengan handuk kecil.


"Kamu masih belum kasih nama anak ini, jadi kamu mau aku yang putuskan saja."


David menjawabnya cepat "Aku rasa bebi sangat bagus."


Julietta tertawa dingin sambil menggoyangkan anaknya pelan.


"Kamu lebih baik jangan buat aku mendengar  itu lagi."


David yang menerima sinyal ancaman dari tatapan mautnya langsung terdiam.


Anak ini sangat penurut, setiap malam tidur di box nya sendiri, siang hari juga jarang ribut, jika diajak main maka dia akan langsung tertawa, terlihat semakin imut, semua orang sangat senang melihatnya. 


Pengasuh datang setiap harinya dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore membantu menjaganya, malam hari cukup Julietta yang menjaganya saja. 


Sebulan lebih sudah berlalu anak ini tidur dengan lelap seperti biasanya, Julietta berbaring di ranjang perlahan lahan mulai mengantuk.


David berbaring disebelahnya sambil merangkul pinggangnya dan mengelus perutnya. tangan dia naik ke lehernya lalu mencium bibirnya. tubuh Julietta masih terasa aroma susu, kulitnya sangat putiih. mungkin karena sudah menjadi mama, dia pun jadi jauh lebih lembut, ditambah lagi sudah sangat lama tidak berhubungan badan dengan David, maka dia pun tanpa sadar ikut bergerak dan mengeluarkan desahannya. mencium aroma susu, David menelan kasar saliva nya dan suaranya jadi sedikit serak.


'sudah boleh kan sayang."


Muka Julietta memerah, telinganya yang kecil juga memerah dan terlihat sangat imut dia yang  berbisik "Boleh."


Tidak menunggu dia selesai bicara, David langsung menekan Julietta diatas ranjang. Tiba tiba anaknya yang tadinya tertidur lelap di box ranjang bayi sebelahnya itu menangis keras. Tangisannya ini terdengar sangat keras ditengah heningnya malam, David masih mau mencumbu Julietta, tapi ditahan oleh Julietta. Julietta kembali mengancingkan piyamanya lalu menggendong dan menggoyang goyangkan anaknya disebelah David.


Julietta sangat sabar, dia sambil bersenandung menyanyikan lagu lullaby untuk anaknya sampai dia berhenti menangis, mulutnya sedikit terbuka lalu anak nya tertidur lagi. David mengambil anaknya dan diletakkan kembali ke ranjang bayi disebelahnya sambil digoyangkan.


David bertanya dengan serius "Masih bisa lanjut tidak."


Muka Julietta langsung memerah lagi "Urusan itu tidak perlu ditanyakan lagi."


Mendapatkan izin dari Julietta, David langsung memeluk Julietta dan menciumnya lagi, mereka berdua berciuman dan kembali bergumul di ranjang. Diisaat suasana sedang panas, pakaian Julietta sudah hampir terlepas semuanya, tapi tiba tiba anaknya menangis berteriak lagi dan kembali ribut. Seketika membuat mereka terdiam mematung.


Julietta langsung mendorong David dan memakai bajunya lagi, dia mengambil dan menggendong anaknya untuk menenangkannya lagi. Biasanya anak ini hampir tidak pernah  menangis di malam hari, hari ini tidak tahu kenapa selalu ribut dan menangis, maka Julietta mau tidak mau menyanyikan lagu lagi untuknya. Hanya saja setelah digendong oleh Julietta beberapa saat, anak ini kembali tidur.


Julietta menghembuskan nafas panjangnya lalu meletakkan anaknya di dalam keranjang goyangnya. David menatap anaknya di dalam keranjang goyang ini, seperti mencoba menggunakan tatapan mautnya agar anak ini jangan berisik lagi.


Setelah mereka berdua menunggu dengan sabar beberapa menit, anak ini terlihat tidur dengan lelap, sama sekali tidak terlihat ingin bangun lagi. Julietta lega, disaat dia mau minum air, David memeluknya dari belakang dan bertanya. 


"Kamu lelah tidak."


"Tidak lelah."


Julietta sudah jauh lebih santai, hanya saja anak ini terkadang sekali kali menangis di tengah malam, tapi bukan masalah besar juga. David mencium pipinya. "Terima kasih ya."


Julietta merangkul leher David dan mencium bibirnya. Dia sangat jarang melihat David dengan tatapan yang sangat lembut, ciumannya membuat David berdebar debar dan kemballi menekan Julietta di atas ranjang untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai tadi.


Tapi tiba tiba suara tangisan seperti mimpi buruk itu terdengar lagi.


Anak nya kembali menangis keras, tapi kali ini David yang mengambil menggendong anaknya sambil mengusap pelan pungungnya. Kali ini tangisan anak itu tidak bisa berhenti sama sekali,.


Julietta menngendong anaknya tapi anak itu tetap tidak bisa diam, disusui juga tidak mau menghisap, popoknya juga masih bersih, tidak ada demam, tidak ada situasi aneh yang lainya, maka Julietta langsung mau menelepon dokter untuk menanyakan kenapa.


David kembali menggendongnya dan masuk ke dalam ruang kerjanya, sambil menggendong anaknya dia mengambil kardus besar yang sudah dilapisi koran, selimut, sprei dan bantal bayi dari atas lemari. Julietta yang mengikutinya dari belakang, melihat itu jadi terkejut.


"Kamu mau apa tengah malam seperti ini."


David "Aku tidak mau dia lagi."

__ADS_1


Anak nya masih menangis keras sampai seluruh muka dan badannya memerah, air matanya terus mengalir dan membuat Julietta ikut sedih melihatnya. Dalam kardus itu sudah tertata, bantal bayi, sprei, handuk dan selimut, David menekan nekan alasnya, merapikannya lalu meletakkan pelan anaknya yang terus menangis itu dibaringkan ke dalamnya.


Kejadian yang ajaib terjadi. Bayi yang tadi masih menangis sangat keras ini langsung berhenti menangis dan terlihat tidur dengan lelap. Julietta tercengang melihatnya. Bisa bisanya tidak menangis lagi dan tidur lelap dalam kardus. Ada apa ini.


__ADS_2