Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
86


__ADS_3

Eko sudah menghubungi dan mengatur pihak pemakaman Penguburan kotak abu Jackson tidak perlu ada upacara, oleh karena iti prosesnya sangat diam dan cepat. Disore hari, matahari mulai turun dan menyinari batu nisan di kuburan.


Julietta berdiri ditempatnya dan melihat proses penguburan dengan diam. David melihat tanah ditutup kembali dan batu nisan yang berdiri. Tulisan di batu nisan itu sangat sederhana, dan tidak ada nama Jackson dan nama mamanya yang tertulis.


Ucapan Eko tadi berhasil memundurkan niat beberapa orang, tapi tetap ada beberapa yang tidak menyerah dan mengikuti terus ke kuburan, lalu meletakan seikat bunga dengan penuh kepalsuan.


David dan Julietta sama sekali tidak perduli, wajah David yang tidak ada ekspresi berhasil membatalkan niat orang yang mau berbicara dengannya. Disaat David sedang berbicara di telepon agak menjauh dari mereka, ada satu pria paruh baya yang kurus tinggi bicara pelan.


"Mereka masih terlalu muda, tidak mengerti apa yang namanya saudara, kamu lihat sekarang David pasti menyesal, banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kemauan kita, David sekarang belum dewasa, masih menahan amarahnya, diantara saudara ada beberapa seberapa banyak dendam, kamu juga harus melihat dan mengerti dia, jangan biarkan dia selalu dendam, keluarga besar kita selamanya akan terus menyambutnya."


Julietta mendengarnya sangat muak. Mereka semua melihat dai tidak bicara, maka mengira dia adalah anak yang polos yang percaya dengan semua yang dia dengar. Awalnya mama David juga ditipu seperti ini oleh mereka semua. Juliette tertawa dingin lalu bicara dengan sopan.


"Keluarga besar, saat itu David tidak punya mama, saat diusir oleh mama tirinya apakah kalian ada yang membantunya."


"Saat mamanya meninggal, ayahnya menikah dengan wanita lain, apakah kalian ada yang bicara menemaninya."


"Dulu tidak menganggap diri kalian sebagai senior, sekarang masih mau orang lain membantu kalian, kalian kira merawat kucing ya, saat senang memanggilnya, saat tidak senang menendangnya dan tidak mengizinkan dia untuk dendam."


"Hei kamu ini bicara apa."


Ucapan Julietta yang panjang cepat dan menyindir membuat muka mereka semua memerah dan menahan kesal tapi juga tidak bisa berbuat apa apa.


"Saya bicara apa".


Julietta melipat tangannya dipinggang, tidak sadar kalau David sudah mematikan teleponnya dan sedang berdiri dibelakangnya diam diam melihatnya dan mendengar semuanya.


Julietta menjawab dengan kesal "Saya menikah dengan David, saya hanya mengakui dia sebagai suami satu satunya, orang yang lainnya kalau dia akui maka saya akan akui juga, kalau dai tidak akui, maka apa hubungannya sama saya."


Kalau bukan karena sedang ada di kuburan, Julietta masih ada banyak sekali ucapan yang mau dikatakannya.


Dulu Jackson saat itu bagaimana memperlakukan David, dia selalu perduli dengan itu. Sekarang orang orang ini datang mau meminta uang, kalau dibandingkan, mereka sama sekali tidak lebih dari Marisa, setidaknya Marisa masih tahu harus bagaimana bicara dan tahu bagaimana menjaga penampilannya. Tapi mereka ini malah datang dan mengira David bodoh dan banyak uang.


Julietta masih mau lanjut bicara  tapi kerah kemeja belakangnya ditarik ke belakang dan dia tertarik mundur ke belakang David. Yang tadinya sudah mau meledak, seketika berubah menjadi kucing kecil yang tidak punya daya serang. David melindungi Julietta di belakangnya.


Muka David tidak ada ekspresi, bahkan dia saja malas melihat mereka, hanya bicara tegas.


"Karena semua sudah selesai, maka silahkan tinggalkan tempat ini, terima kasih."


"Keponakan"


"Aku rasa kata kata Eko sudah sangat jelas" David memasukan tangannya kekantong dan melihat mereka semua dengan dingin.


"Maksud aku dan dia sama, masih ingat dengan paman ketiga saat itu tidak".


Mereka semua langsung tidak bersuara. Selanjutnya mereka semua tertawa kecil dan mukanya memucat. Walaupun masih mau meminta uang David sedikit, tapi nyawanya lebih penting, tatapan mata David juga tidak seperti sedang bercanda. Mereka semua langsung pergi dengan cepat satu persatu menghilang juga dengan cepat.


Julietta yang berdiri dibelakangnya dan melihat mereka semua pergi lalu bertanya. "Paman ketiga kenapa, kenapa mereka seperti melihat hantu."


"Saat itu dia mau mendapatkan uang dari seorang gadis, lalu melakukan hal yang keterlaluan, tidak berapa lama langsung ada orang yang mencari ke rumahnya dan hampir saja dia dibuat cacat."


Julietta terkejut. "Apakah kamu juga akan melakukan hal seperti itu."


David menjawabnya singkat dan mengangguk. "Iya."


Julietta tanpa sadar mundur, David meliriknya sekilas dan berkata "Kamu juga tidak mengerti apa namanya bercanda ya, hal yang melawan aturan hukum lebih baik jangan dilakukan."


Julietta "Aku benar benar terkejut"


Sudah diduga David adalah direktur yang paling lurrus dan sangat baik.

__ADS_1


Langit mulai menggelap dan angin malam mulai berhembus, angin yang sedikit dingin berhembus melalui telinganya seperti hantu yang bernafas di telinganya, Julietta langsung merinding memikirkannya. David merangkul bahunya "Ayo pulang".


Mereka berdua jalan menuju ke mobil, Julietta bertanya pelan. "Mereka benar tidak akan datang menganggukan."


"Tidak akan" David berhenti sebentar lalu menatapnya "Seperti yang kamu bilang, kamu hanya mengakui aku sebagai suami kamu satu satunya sudah cukup."


Muka Julietta langsung memerah. Kalimat ini kalau diucapkan dirinya tidak ada yang salah, tapi kalau David yang bilang, terasa seperti Julietta yang mengungkapkan perasaanya, pipi Julietta menjadi hangat dan dia sangat ingin menutup mulut David.


"Kamu jangan bahas."


Muka David sangat serius "Itu bukannya kamu sendiri yang bilang tadi."


"Aku tidak perduli, pokoknya jangan bahas."


Julietta mengulurkan tangannya dan mau menutup mulut David, tapi tangannya malah ditarik David. Tenaganya yang kuat membuat Julietta terjatuh ke dalam pelukannya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat David yang sedang menatapnya, Julietta yang tadinya sedang memberontak seketika tidak bersuara. Pandangan David terhadapnya sangat penuh dengan rasa kasih sayang membuat hati Julietta melompat lompat.


David berbisik. "Tadi kamu bicara seperti itu membuat aku ingin mencium kamu didepan mereka."


Kalau bukan karena sedang berada di kuburan, dia benar benar mau mencumbunya. Muka Julietta merah sampai hampir mau matang. David kenapa selalu mengucapkan kata kata yang membuatnya tersentuh disaat dia belum yakin siap benar.


Julietta langsung melepaskan pelukan David dan berkata "cepat pulang."


David menggandeng tangannya dan berjalan keluar gerbang pemakaman. Terakhir matahari sudah terbenam dan langit sudah gelap, ada bintang yang menyinari langit dan menunjukan jalan untuk mereka.


Julietta menyentuh kantongnya tiba tiba dia sadar kalau ponselnya tidak ada. Dia mencari di semua tempat di bajunya juga tidak ada, aneh, tadi saat di kuburan masih ada di dalam kantong.


"Ah HP aku"


"Kemana"


"Mungkin karena tadi kamu tarik lalu aku tidak sengaja terjatuh disana, tidak apa kamu tunggu aku disini, aku kesana sebentar, tunggu aku kambali."


Disebelahnya terdengar suara wanita yang lembut. "Tidak apa, letakan seperti itu saja, yang segar dan layu, setelah dua hari juga tidak akan ada bedanya."


Julietta terkejut, kuburan yang sepi tiba tiba terdengar suara orang lain adalah hal yang sangat menegangkan, terutama karena Julietta tidak melihat ada orang di sekelilingnya. Dia mengambil HPnya dirumput lalu menegakkan badannya,


Sekita dua meter dari tempatnya berdiri sesosok wanita anggun sangat cantik, dia mengenakan gaun panjang yang sedikit kuno, rambut hitamnya tertiup angin, ditengah kegelapan malam, mukanya sedikit samar samar, hanya saja kedua matanya yang sangat indah dan unik sedikit dikenalinya. Keadaan seperti ini sangat mudah membuat Julietta berpikir macam macam.


Dia menelan salivanya dan bertanya gugup. "Kamu juga datang melihat pak Jackson."


"Bukan." Dia menggelengkan kepalanya. "Hanya lewar saja."


Melihat seorang wanita sendirian berdiri di depan batu nisan tertiup angin malam, Julietta bicara lagi.


"Sudah malam, kamu juga cepat pulang, kena angin malam tidak bagus untuk tubuh kita."


Julietta baru selesai bicara, wanita itu tersenyum dan berkata "Aku sangat suka kamu."


Tiba tiba dibilang seperti itu oleh wanita cantik, Julietta terkejut.


"Eh terima kasih,"


"Kamu juga cepat pulang." Wanita itu melambaikan tangannya.


Angin malam semakin dingin dan membuat Julietta gemetar. Dia menganggukan kepalanya dan memasukkan ponselnya ke dalam kantong lalu dia jalan ke arah David.


David sedang menelepon seseorang dan tidak tahu bicara apa saja, saat Julietta sampai disebelahnya, dia langsung mematikan teleponya. Julietta lagi lagi melihat ke belakang, wanita cantik itu sudah menghilang. David ikut melihat ke arah pandangannya. 


"Kamu sedang lihat apa."

__ADS_1


"Tidak ada, aku tadi hanya melihat seorang wanita yang aneh."


Hati Julietta menjadi bingung, kejadian aneh seperti ini membuat dia mengira kalau benar benar habis bertemu dengan hantu.


"Oh ya, kamu telepon siapa tadi."


"Tidak apa, hanya memberitahu beberapa hal yang harus diurus, ayo kita pulang."


Hal pertama yang dilakukan David sesampainya di rumah setelah mandi dan makan malam adalah berbaring di ranjang Julietta dan diam untuk menyatakan hak kekuasaannya.


Setelah lelah seharian, hati Julietta juga sedikit lelah, maka dia membiarkan David tidur lagi bersamanya, setelah cuci muka dan sikat gigi dia juga langsung tertidur lelap dengan cepat.


Jackson sudah meninggal dan meninggalkan sebuah rumah tua yang besar. Rumah dua lantai yang terlihat tua dari luar, cat tembok yang sudah sebagian mengelupas, keramiknya sudah menguning, tanaman di halaman juga tidak terawat. Di hari berikutnya, David kesana untuk merapikan beberapa barang untuk dibawanya pergi, Julietta juga bilang mau ikut pergi menemaninya.


Kemarin malam Julietta tidK begitu tidur lelap, dia memimpikan hal tentang dunia asalnya sebelumnya. Sepertinya karena kejadiaan Jackson meninggal ini membuat Julietta mengingat tentang masa lalunya kembali. 


Julietta mengusap wajahnya sendiri dengan kesal. David melihatnya dan bertanya.


"Kemarin malam kamu tidak tidur lelapkah."


"Pasti gara gara kamu menindih aku saat tidur."


Julietta menyalahkan semuanya kepada David. David hanya melamun terdiam.


David memegang kunci dan membuka pintu rumah tua itu. Halaman kosong terbengkalai yang tidak ada orang, Julietta melihat sekelilingnya dan merendahkan suaranya.


"Ah rumah sebesar ini benar benar sangat kosong."


Rumah yang besar ditambah dengan halaman depan dan belakang yang luas, orang yang tinggal hanya sedikit, malah membuat orang menjadi merasa kesepian. Jika dibandingkan Julietta lebih suka tinggal di rumah tua yang hanya ada dua kamar tidur dan ruang keluarga bersama David, membuatnya memiliki rasa aman nyaman yang cukup.


Pencahayaan rumah ini sangat bagus karena menghadap ke timur dengan banyak jendela besar, tapi karena pohon di depan jendela sudah sangat besar, ranting pohonnya menghalangi setengah jendela dan membuat cahaya yang masuk ke dalam menjadi sedikit redup.


Barang yang berharga di rumah itu sudah dipindahkan dan dijual semua oleh Marisa, bahkan TV juga sudah dijualnya. Julietta benar benar salut dengan tekadnya yang sebesar ini.


Lantai satu adalah ruang tengah, ruang keluarga dan dapur terbuka. Lantai dua adalah tiga kamar tidur, satu ruang kerja dan gudang. David langsung naik ke lantai dua dan membuka pintu gudang. Didalamnya ada setumpuk barang tua berdebu, ada beberapa buku yang kotor, ada perabotan yang tua dan beberapa barang yang berantakan.


Pandangan Julietta tertuju ke satu kardus besar, ada beberapa mainan, walaupun sudah tergeletak sangat lama, tapi terlihat seperti masih baru dalam boxnya, mungkin saat itu tidak pernah dibuka dan dimainkan sama sekali. Dia berjongkok di depan kardus dan mengeluarkan semua mainannya. 


"Aduh."


David melihat ke Julietta "Kenapa."


"Sertifikat dan piala kamu dulu masih ada semua disini, diletakkan dengan rapi disini, sepertinya memang disimpan dengan hati hati, dari SD, SMP dan SMA, dan sudah tidak ada lagi."


Tapi kalau Julietta tidak salah ingat, David sekolah di SMA yang sama dengan Tomy, sekolah itu adalah SMA Negeri favorit kota ini, kenapa saat kelas tiga sudah tidak ada sertifikat lagi. Julietta merasa di tengah tengahnya pasti ada cerita, tapi dia tidak berani tanya, takut membuat David mengingat masa kelamnya. Sambil merapikan barang barang tua itu, David bicara.


"Kelas tiga SMA aku menunda sekolah."


"Setelah mamaku meninggal, aku tidak sekolah satu tahun, tapi tetap mengikuti ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi resmi, dan tetap mendapatkan hak untuk mengikuti tes universitas negeri, Tomy yang memimpin jauh di nomor dua, mendapatkan nilai terbaik di tingkat nasional."


Kalau dia tidak menunda sekolahnya saat SMA kelas tiga itu, sepertinya dia akan langsung direkomendasikan ke universitas.


"Begitu ya." Julietta mengganti topik.


"Kebetulan sekali, saat aku mau lulus SMA, kedua orang tua aku meninggalkan aku sendirian, hampir saja aku tidak punya uang untuk kuliah, aku kira pendidikan aku akan berakhir di tingkat SMA saja, saat itu aku berencana untuk menjual lukisan di pinggir jalan, tapi siapa sangka guru aku yang baik meminjamkan aku uang untuk kuliah."


"Setelah lulus SMA aku kerja paruh waktu setahun penuh untuk menabung mengembalikan uang yang kupinjam dari guru itu."


"Saat kuliah juga aku tetap kerja sambilan, hasilnya kutabung untuk mengambalikan uang ke orang tua, bagi aku itu adalah kewajiban."

__ADS_1


__ADS_2