
Awalnya mereka saling mencintai, tapi perlahan lahan karena Erick yang semakin sibuk dan mulai semakin dikenal banyak orang, walaupun Sisca selembut apapun, tapi mereka juga sudah mulai jarang berbicara hati ke hati.
Sisca mulai khawatir, ditambah lagi mau melahirkan anak tapi tidak pernah berhasil pertengkaran kecil mulai terjadi di tengah kehidupan mereka berdua, tapi, setiap kali karena Sisca sendiri yang terlalu emosi.
Awalnya Erick bisa sabar dan tahan menghadapinya, tapi setelah itu perlahan lahan Erick menjadi dingin. Erick lebih suka menghabiskan waktu dengan pekerjaanya di Aquarius, dan bukan pulang ke rumah menghadapi berbagai kekesalan dan kecurigaan Sisca.. Ditahun ketiga setelah menikah, Erick akhirnya meminta untuk bercerai.
Sisca yang merasa sudah sangat lelah akhirnya setuju dengan keputusan ini, dia membawa koper pergi dari rumahnya, disaat dia menginjakan kakinya keluar rumah, dia tidak rela tapi juga tetap santai. Dia berdiir ditempatnya, sudah hidup beberapa tahun, ini baru pertama kalinya harus berpikir langkah selanjutnya harus bagaimana dengan hidupnya.
Bab ketiga berjudul setelah mimpi lama. Sisca yang terbangun dan menyadari dirinya di ranjang pasien, semuanya hanyalah sebuah mimpi. Erick sudah menikah beberapa tahun kemudian. David juga sudah terselamatkan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit, Saat itu Sisca baru tahu kalau ternyata David adalah bos besar Aquarius, dia membandingkan dua kehidupannya itu, khawatir apakah dia melupakan sesuatu, khawatir dengan apa yang akan hilang dan apa yang akan dia dapat, tapi terakhir tetap saja dia tidak bisa mendapatkan apa apa. Sisca melamun terbaring di ranjang pasien. Cerita masih berlanjut, hanya saja masa depan Sisca perlu dia sendiri yang putuskan bagaimana.
Jelas jelas status novelnya sudah tamat selesai, tapi penulis itu menulis satu baris kalimat di bab terakhir terbaru itu, selamanya tidak akan pernah selesai.
Penulis itu bercerita dibagian akhir, ada tiga dunia, tiga kehidupan, disini aku tidak akan kasih komentar apapaun. Kehidupan semua karakter dalam novel ini masih terus berlanjut, mereka semua memiliki cerita masing masing, aku tidak ingin kehidupan mereka berhenti karena ceritanya selesai, oleh karena itu, novel ini tidak akan ada akhirnya..
Membaca sampai sini, Julietta sangat tegang, keringat di tangannya juga tidak dapat dia rasakan. Dia merasa, kalau seperti ini maka apakah dia tidak perlu khawatir kalau dirinya suatu hari akan kembali masuk ke dunia novel itu. Disaat sedang merasa bersemangat akan ada harapan, Julietta mendekati komputernya dan mau menulis satu komentar lagi disaat dia mau mengetik, tiba tiba dia mendengar suara keributan dari telinganya yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Jantung dia berdetak sangat kencang. Julietta membesarkan matanya, melihat huruf dilayar monitor itu bertebangan keluar dan tidak terlihat dengan jelas. Kepala dia mulai pusing dia mengusap matanya sekuat tenaga, tapi kakinya tidak bisa menginjak lantai, dia merasa melayang.
Julietta yang awalnya seharusnya duduk di kursi tanpa sadar bersandar ke belakang dia berteriak dan tiba tiba dia sudah terjatuh di jalan aspal yang dingin penuh dengan salju.
Penjaga warnet sedang berkeliling memeriksa masalah komputer, tapi setelah mendengar suara teriakan itu dia langsung terkejut dan melihat ke arah meja Julietta, dia bergegas ke mejanya tapi kursinya sudah kosong hanya menyisakan jaket yang di gantung di kursi. Komputernya sudah mati dan layarnya hitam. Di lantai ada sesuatu yang bersinar, dia mengambilnya dan ternyata itu adalah sepasang anting yang berkilauan. Penjaga warnet terdiam berpikir dalam.
##
Setelah beberapa saat, Julietta tersadar dan badannya langsung gemetaran kedinginan. Dia menundukan kepalanya, kedua tangannya masuk kedalam salju yang dingin rasanya sangat nyata.
Langit yang gelap sedang menurunkan salju, yang mendarat ke rambutnya dan bajunya, tidak berapa lama Julietta kelihatan seperti orang salju. Dia melamun dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi hidungnya sangat gatal dan seluruh badannya membeku. Huatchi dia bersin. Julietta yang bersin dan seketika dia sadar, dia langsung memeluk lengannya dengan gemetar sambil terus bersin berulang kali.
Dia mengingat satu menit yang lalu masih menikmati AC sejuk dingin di warnet yang panas. Julietta melepaskan jaketnya dan menaruhnya di kursi, dia hanya tinggal mengenakan kaus lengan pendek sambil menatap komputer.
Tapi sekarang dia malah memasuki dunia yang dinginnya di musim dingin. Julietta yang tidak memeliki jaket dan hanya mengenakan kaos tipis dengan cuaca seperti ini sama saja seperti tidak pakai baju, angin yang dingin menembus bajunya dan membuat hatinya juga menjadi dingin. Tunggu, ini musim dingin dimana.
Julietta menyadari satu hal yang sangat serius, bukankah sebelumnya sudah mau musim panas, kenapa sekarang musim salju yang penuh salju. Dia mengeluarkan ponselnya dari kantongnya dan coba menyalakannya tetapi tidak bisa karna sudah tidak ada daya, dinyalakan seperti apa juga tidak berguna, Julietta memukul mukul ponselnya sekuat tenaga.
Dimalam yang sangat dingin ini , semua orang yang berjalan terlihat mengenakan baju musim dingin yang tebal, semua orang yang jalan melewatinya juga pasti akan melihat heran kearah Julietta yang hanya mengenakan baju lengan pendek sambil memukul ponselnya, mungkin dia wanita gila. Mereka menghela nafasnya, wanita secantik ini, kenapa bisa gila.
Ponselnya tidak bisa digunakan sama sekali, sekarang dia hanya bisa mencari tempat untuk mengisi baterai ponselnya dan memahami keberadaan dirinya sekarang di dunia yang mana.
Julietta sangat yakin dirinya sudah masuk kembali ke dunia novel itu, tapi yang membuat dia khawatir adalah dia pasti tidak kembali ke waktu saat dia pergi sesaat menghilang. Kalau saja bukan dunia yang dulu. Kalau saja di saat David masih belum menyukai dirinya. Kalau saja.
Julietta tidak berani memikirkan kemungkinan lainnya lagi. Dia berdiri dengan pipinya yang merah membeku, kakinya seperti menginjak es batu yang setiap langkahnya sangat sulit. Sambil berjalan pelan pelan, air matanya mulai mengalir.
Tempat ini tidak pernah dilihatnya sama sekali, sudah tidak mudah bisa kembali, kalau saja David tidak mengenali dia, dia benar benar ingin mati saja. Julietta sudah memutuskan, kalau David lupa dengannya, maka dia akan memukulnya satu kali dan akan memaksanya agar menyukai dirinya lagi. Dia merasa mereka berdua sudah terikat, siapapun tidak ada yang boleh pergi.
Air mata yang terus mengalir pun sudah mau membeku. Julietta kedinginan sampai hampir tidak bisa bergerak dan melangkah lagi, bahkan dia kesulitan menghapus air matanya.
Terlihat dari kejauhan ada satu mobil polisi yang sedang berjalan ke arah Jukietta, dia melambaikan tangannya untuk memanggil polisi itu berhenti. Polisi itu melihat Julietta lalu menghentikan mobilnya, dia berjalan menghampirinya sambil membawa satu jaket dan langsung dipakaikan ke badan Julietta.
"Nona kenapa, dirampok?"
Wanita cantik di depanya ini walaupun terlihat menyedihkan dan badannya terdapat air yang kotor, tapi bajunya rapi dan matanya bersinar, mereka sudah pernah menemui berbagai macam orang, jadi mereka tahu pasti Julietta bukan orang gila.
__ADS_1
Julietta dirangkul masuk ke dalam mobil polisi. Pemanas mobil dinyalakan dan membuatnya hangat, tapi tangan dan kakinya tetap masih merasa sakit, badannya masih belum bisa beradaptasi dengan cepat, bahkan pipinya juga masih sangat memerah.
Tenggorokannya sedikit gatal, dia batuk beberapa kali dengan kencang, polisi di kursi depannya melihatnya dan bertanya. "Kenapa"
Setiap Julietta mau mulai bicara, tapi dia tidak bisa menahan batuknya, tenggorokannya kering dan gatal, seluruh badannya panas, sepertinya mau flu. Satu polisi lainnya berkata kepada rekannya.
"Kita bawa ke kantor polisi dulu, mungkin dia kedinginan sampai sakit, kasih dia minum air hangat dulu disana."
Polisi di sebelahnya mengangguk. Kantor polisi sangat dekat, Julietta masuk ke dalam dan melihat beberapa petugas polisi yang sedang makan langsung berhenti makan dan menatap Julietta.
Julietta takut dengan tatapan mereka, dia menutup mukanya sambil terbatuk agar mereka tidak menatapnya lagi. Polisi di sebelahnya tertawa dan melambaikan tangannya.
"Lihat apa, kalian lanjutkan saja makannya."
"Hei, aku ini hanya ingin tahu tentang kasusnya, wanita ini kenapa?"
Seorang polisi muda mendekatinya dan membawakan satu kotak makanan. Julietta mengangkat kepalanya dan melihat kotak makanan yang ditangannya itu. Perutnya berbunyi kencang krucuk krucuk, dia menutupinya dengan kedua tangannya. Mereka semua terdiam beberapa saat. Setelah beberapa menit.
Di hadapan Julietta sudah ada satu kotak makanan dan segelas air hangat. Dia sedih sampai mau menangis lagi, hari ini dia merasa benar benar sangat memalukan dan menyedihkan, perutnya yang mengecewakannya membuat dia malu beberapa kali, padahal otaknya memberitahunya untuk jaga muka sedikit, tapi perutnya yang terus berbunyi tiada henti membuatnya agak malu,
Bahkan polisi tua yang duduk di seberangnya juga tersenyum "Silahkan di makan, makanannya masih banyak."
"Terima kasih."
Julietta meminjam pengisi daya HP ke polisi lainnya dan meanunggu dengan sabar, layar HPnya masih selalu hitam dan coba dinyalakan beberapa kali tetap juga tidak bisa menyala, tidak tahu ada masalah dimana. Setelah dua jam sejak kembali kesini, Julietta masih tidak mengerti dia sebenarnya berada di musim dingin tahun berapa.
"Maaf numpang tanya, sekarang ini kapan." Julietta bertanya ke polisi tua yang duduk di seberangnya itu.
"Maksud saya adalah, tanggal berapa?"
"Kenapa, apa kamu hilang ingatan?"
Saat polisi itu menjawabnya seperti itu, polisi lainnya juga ikut tertawa. Julietta tidak tahu harus berkata apa, kalau orang orang ini tahu mereka hanyalah orang yang berada di dalam satu novel, mungkin mereka akan sangat sedih.
"Bukan, hanya mau memastikan saja."
Polisi tua itu memperlihatkan ponselnya kepada Julietta. Julietta melihat waktu di layar HP itu dengan jelas dan menjadi kebingungan. Tunggu. Dia baru melewati setengah hari lebih di dunia asalnya, tapi disini sudah melewati setengah tahun. Tapi di dunia asalnya dia sudah meninggal beberapa lama.
Julietta memaksakan dirinya agar tenang, dia merasa waktu di dua dunia ini berbeda, mungkin tidak ada hubungannya dengan dia.
"Nomor telepon keluarga nona?"
"Maaf saya Tidak ingat."
Walaupun setiap hari berhubungan tapi siapa yang akan mengingat nomor telepon semua orang. Disaat ini Julietta sangat menyesal kenapa tidak ingat nomor HP David.
Kantor polisi dimana dia berada sekarang itu berjarak belasan kilometer dari kantor Aquarius dan juga rumahnya, kalau tidak mengerti keadaanya, polisi pasti tidak mau mengantarkannya pulang. Julietta memegang gelas yang hangat lalu bicara.
"Bisa tolong menghubungi kantor tidak?"
"Kantor apa?"
__ADS_1
"Aquarius, tolong hubungi Tomy atau David."
Setelah nama Tomy dan David disebut, semua orang langsung terkejut. Mereka saling melihat satu sama lain, beberapa saat ada orang yang bertanya dengan terkejut.
"Anda adalah."
"Saya istrinya David."
Sementara di gedung kantor Aquarius. Resepsionis memastikan beberapa kali, setelah ragu ragu sebentar, telepon itu dialihkan ke sekretarisnya Tomy, Weni.
Weni yang menerima teleponnya, awalnya dia kebingungan, tapi setelah mendengar suara wanita itu, dial angsung membesarkan matanya dan mendorong dorong kursinya. Asisten yang duduk disebelahnya langsung ikut terkejut.
"Ada terjadi apa?"
"Tidak apa, tidak, ada sesuatu yang sangat penting, Tomy dimana, salah cari bos saja."
Keadaan sangat darurat, Weni selama bekerja disini juga tidak pernah sepanik ini walaupun ada masalah yang sangat besar. Di dalam ruang rapat, Andi sedang memimpi rapat di depan. Saat dia mau memperlihatkan halaman selanjutnya, pintu tiba tiba dibuka, terlihat Weni berdiri di pintu, bahkan Tomy yang sedang tidak fokus pun terkejut.
"Weni?"
"Aku aku tadi menerima telepon dari kantor polisi."
"Kenapa? Kita tidak pernah tidak bayar pajak juga tidak pernah melanggar hukum." Ucap Tomy.
Weni menatapnya agar Tomy tidak bicara macam macam. Lalu dia melihat ke arah David, David yang duduk di pinggir jendela melihatnya tanpa ekspresi.
"Polsi bilang," Weni menelan Saliva nya lebih dulu dan mengatur nafasnya karena jantungnya yang berdetak kencang.
"Ada satu wanita yang bilang dia adalah istrinya David, dan sedang menunggu untuk dijemput pulang."
David langsung berdiri dan bertanya "Kasih saya alamatnya cepat"
"Bos, bos kamu pelan pelan, jangan lari, hati hati." Tomy bicara sambil mengikuti nya.
David yang sudah mendapatkan alamatnya bahkan lupa tidak mengenakan jaketnya terlebih dahulu, dia langsung membawa HPnya dan berlari keluar. Tomy sudah kenal dengannya belasan tahun ini, tapi tidak pernah melihatnya berlari selain di tempat gym dan lapangan. Dia memanggil terus David agar jangan buru buru, tapi David sudah tidak terlihat lagi.
Tempat parkir sangat sunyi. Supir sedang tidur di dalam mobil, kaca jendelanya tiba tiba diketuk dan membuatnya langsung terbangun kaget. David sedang ada diluar mobil dan berkata.
"Turun."
"Bos."
"Tidak perlu cabut kuncinya."
"Oh baik bos."
Supir langsung turun dari mobil dan melihat David masuk ke kursi pengemudi dengan cepat, mobil dinyalakan dan langsung melesat cepat keluar dari tempat parkir.
Supir itu terkejut dari jauh dia berteriak kencang. "Ingat pakai sabuk pengaman, jangan bawa terlalu cepat, hati hati."
Salju sudah menyelimuti satu kota. Walaupun Salju sudah berhenti turun, tapi jalanan masih tetap basah, mobil dijalanan juga harus dibawa pelan sedikit, tapi ada satu mobil cadilac hitam yang jalan lebih cepat dari mobil lain, dicuaca sperti ini berani beraninya menyalip mobil lain. David melajukan mobilnya
__ADS_1