Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
80


__ADS_3

Matahari sudah mulai tidak terlihat dan langit sudah mulai menggelap, Suara helikopter itu membuat suara mereka berdua menjadi samar samar, orang lain tidak bisa mendengar percakapan dengan jelas, hanya melihat mereka berdua saling bertatap tatapan, David menundukan kepalanya dan menggenggam jari Julietta.


David "Dengar dengar mempelai wanita dari dunia manusia bisa dinikahi saat siang hari, tapi kalau wanita yang berubah menjadi siluman harus ditunggu sampai matahari terbenam, agar bisa pulang bersama, aku takut kamu kabur menghilang dimalam hari"


Seketika Julietta tidak tahu harus bicara apa, dia hanya menatap David dengan bingung. Ternyata tadi David tidak menjawab karena takut dia akan menghilang seperti yang ada diceritakan film mempelai hantu wanita. Julietta lagi lagi tersentuh, tertawa dan tersenyum. Dia menatap David dan bicara sangat lembut "Sudah kubilang aku adalah peri"


David langsung mengulurkan tangannya, jari dia panjang, kedua tangan ini sudah beberapa kali diulurkan kearah dia, tapi maknanya tidak seberat seperti sekarang. Julietta mengambil cincin pria dan memakaikan ke jari David dengan hati hati,


Karena gugup, tangan Julietta sedikit gemetar, dia menarik nafas dalam dalam beberapa kali baru berani melanjutkannya. David gerakannya jauh lebih cepat dari dia langsung memegang tangan Julietta dan membantunya memakaikan cincin di jarinya. Tangan David sangat dingin, terlihat jelas tidak setenang dari yang terlihat. Setelah sudah dipakaikan sampai ujung jari.


Julietta bertanya "Sudah"


David memandunya dengan tenang "Selanjutnya jangan bergerak"


David mengeluarkan cincin wanita, di acara yang sangat penting seperti ini, Julietta tiba tiba tertawa. Dia menunjuk cincin dijari David dan bertanya,


"Bagaimana bisa ada cincin sebesar ini"


Yang dimaksud adalah batu berlian diatas cincinnya, berlian sebesar mata kelereng itu benar benar berkilau dan mau membutakan mata orang. Yang bisa membuat cincin semahal ini memang hanya seseorang. Memang bagus, tapi, benar benar terlalu besar, Julietta membayangkan apabila cincin itu masuk dalam kue.


Wajah David sedikit tidak beres seperti menemukan kesalahan dipekerjaanya. Berdasarkan riset yang dilakukannya, pemilik toko berlian akan memberikan istrinya cincin yang besar seperti ini, jangan jangan teknologi pemotongannya tidak bagus sehingga Julietta tidak suka.


Helikopter masih terus menurunkan bunga, orang lain hanya bisa mendengar suara bising dari helikopter itu, mulut mereka berdua selalu membuka dan menutup sedang berbicara tapi tidak terdengar kalau sepasang pengantin itu sedang bicara apa.


David terdiam sebentar, seperti melepaskan amarahnyam nada bicaranya terdengar murung.


 "Kamu tidak mau menikahi aku"


"Mana ada, aku juga tidak menolak kamu"


"Baiklah"


David langsung mengangkat jari tangan Julietta dan memakaikan cincinnya itu. Julietta langsung menghentikannya.


"Tunggu dulu, kamu masih belum tanya aku bersedia atau tidak"


David "Aku tidak mau tanya"


"Aku tidak mau ada kesempatan untuk mendengar kemungkinan kedua, kalau tidak, aku tidak bisa lagi bilang agar kamu jangan tinggalkan aku, kita juga sudah punya buku nikah resmi dua tahun lebih".


Julietta berpikir, kalau sudah dipakaikan cincin oleh David, mungkin sudah tidak ada cara lagi untuk bilang tidak dengannya. Julietta mengangkat kepalanya menatap David, matanya seperti ada ribuan bintang yang sedang bersinar.


"Kalau begitu kamu dengar baik baik, aku bersedia"


Jarak mereka berdua mendekat dan mendekat menempel. Semua orang sudah menantikan mempelai berciuman, kameramen melihat mereka berdua dan hampir lupa mengatur jarak fokus. Tomy dan beberapa jomblo lainnya bersemangat sampai menangis dan berteriak.


"Sudah diduga bos itu pria normal"


Melihat David yang mau mendekat, disaat ini ada satu bunga persik yang mendarat dihidung Julietta. Hidungnya jadi terasa sedikit gatal yang tidak bisa tertahan dan tiba tiba dia bersin. Hatchii.


Julietta dengan wajah tidak bersalah "Maaf"


Hujan bunga sudah selesai dan helikopter sudah pergi, seperti sebuah mimpi sudah sampai kebagian akhirnya. Julietta langsung berbisik ke David.


"Cepat cepat pakaikan cincinnya dulu" 


Ternyata pertukaran cincin mereka belum selesai. David memasangkan cincin besar itu di jari mungil Julietta, melihat cincin berlian yang besar dijarinya, Julietta tiba tiba merasa seperti orang kaya baru. David tidak berhasil menciumnya karena bersinnya tadi, saat baru mau menundukan kepala mau coba menciumnya dia  mendengar suara kembang api yang menghentikan gerakannya.


Beberapa pria yang jomblo langsung bersorak ke arah mempelai dan melempar lemparkan bunga ke arah mempelai.


"Selamat menikah"


Seluruh muka Julietta dipenuhi oleh bunga, dia langsung menolehkan mukanya menghindari kelopak bunga dan kebetulan melihat kamera yang tdaik jauh darinya, mungkin sudah merekam semua responnya keseluruhan. David menatap Tomy dengan tatapan tajam karena kesal.


Tomy dan yang lainnya saling melihat dan berkata "Sepertinya kembang apinya terlalu cepat pasangnya"


Jawaban yang menyambut mereka adalah tatapan maut dari bosnya. Julietta mengelus perutnya dan bicara "Ada makanan apa, aku lapar sekali"

__ADS_1


David "Tapi"


Julietta "Kamu mau bilang apa"


Tapi selanjutnya bukankah seharusnya masuk kekamar pengantin, David menatap Julietta dan berharap dia bisa membaca pikirannya, tapi Julietta salah paham dan bicara.


"Tidak apa, kamu hari ini makan apa bebas saja sebanyaknya terserah kamu"


David terdiam berpikir dalam. Dia seharusnya membuat acara pernikahan gaya Asia, seperti itu dia bisa langsung membawa Julietta pergi. 


Tomy dan yang lainnya sudah menyiapkan berbagai sampanye, berbagai barbekiu dan makanan ringan. Julietta dari tadi sudah sangat lapar, dia mengambil makanan dan makan dengan sangat senang, tertawa kecil bersama orang lain, dan sudah melupakan mempelai pria yang berdiri sendirian disana.


Saat Julietta baru merasa makan sampai setengah kenyang, tiba tiba dia sadar David tidak ada disebelahnya. Andi memegang bahunya dengan hati hati, Julietta menoleh kebelakang dengan bingung, lalu dia melihat David berdiri sendirian menyender dibawah pohon. David terlihat murung dan kesepian melihat ke rumput, merasa seperti sudah dibuang oleh Julietta.


Aneh, David kenapa hari ini berubah menjadi orang lain. Dia mengambil beberapa potong kue dan menghampirinya. Semua orang sedang tertawa dan senang, membuat David disini terlihat semakin kesepian.


Julietta bertanya "Kamu kenapa, kenapa tidak makan"


Rambut David yang disisir kebelakang berantakan dan mukanya terlihat sangat kecewa.


David menjawabnya "Badan aku sepertinya tidak enak, kamu bisa temani aku naik ambil obat tidak"


Julietta mengangguk "ok boleh"


Julietta menarik gaunnya yang panjang dan naik ke lantai atas bersama dengan David. Beberapa pria jomblo melihatnya dan bicara.


"Kalian lihatkan, kalian lihat ekspresi bos itu, dari serigala ganas jadi kucing kecil manja"


Weni menatap Tomi "Pria berubah demi wanita yang dicintainya, apakah itu tidak normal"


Tomy "Aku juga bisa menjadi kucing kecil untuk kamu seorang"


Weni "Jauh jauh dari aku sedikit"


Julietta mengikuti langkah kaki David naik kelantai atas dengan lift. Vila ini ada tiga lantai, setiap lantai ada tempat istirahat, David menggandeng tangannya dan membawanya ke lantai tiga, gaun pengantin yang putih berjalan diatas lantai berkarpet merah, sangat indah.


David membuka salah satu pintu ruangan dan menarik Julietta masuk kedalam, lalu pintu dia tutup dan dikuncinya. Julietta merasakan sesuatu yang tidak beres.


David "Takut orang lain masuk mengganggu"


Vila ini dia sudah beli lama sekali, ruangannya juga sudah didekorasi dari awal, siapa yang serigala dan siapa yang kucing kecil itu masih belum bisa ditentukan.


Dirak minuman dalam kamar terdapat beberapa botol anggur, Julietta mengambil dua botol anggur merah dan dua gelas, berusaha membuat dirinya menjadi tenang. Dia sudah menduga yang akan dia hadapi selanjutnya dilihat dari pandangan David, bagaimana mungkin dia tidak mengerti.


Dia melepaskan sepatu hak tingginya agar langkah kakinya lebih mudah. Dibawah cahaya lampu dua kaki Julietta yang putih menginjak karpet, semakin membuat jari kakinya terlihat imut dan putih. Pandangan David tertuju ke kakinya.


Julietta merasakan tatapan dari David, dia langung merapatkan kakinya dan duduk di karpet tebal itu. Untung saja gaun pengantinnya bisa menutupi seluruh kakinya, dia menarik David duduk dan membuka botol anggur, lalu meletakan dua gelas kosong didepan mereka berdua. Julietta menuangkan segelas penuh untuk David, penuhnya sampai hampir tumpah.


"Kamu segelas"


Dia lagi lagi menuangkan anggur setinggi seperempat gelas, sepertinya diminum satu teguk akan langsung habis.


"Aku segelas"


Hal tentang Julietta mau membuat David mabuk bisa dibilang sudah dia duga juga oleh semua orang. David duduk dilantai, satu tangan diletakkan dilantai lalu menatap Julietta.


Dia tiba tiba bertanya "Apakah kamu mau membuat aku mabuk"


Julietta tersenyum dan tertawa kecil "Bagaimana mungkin"


"Tapi aku memang sudah mabuk"


Satu kalimat David ini membuat Julietta seperti sudah minum vodka dan membuat mukanya memerah.


"Kamu bicara apa, ternyata memang sudah mabuk" ucapnya dengan pelan.


David hanya terus menatapnya dengan diam membuat Julietta sedikit tidak nyaman. Dengar dengar kalau pria minum banyak akan berbuat macam macam, Julietta mengeraskan hatinya ingin membuat David minum beberapa gelas. Dia memberikan gelas kepada David dan berkata.

__ADS_1


"Silahkan minum"


David tidak menolak, dia langsung menghabiskan gelas itu. Kerah bajunya terbuka dan membuat dia terlihat seksi, membuat Julietta sedikit haus.


Julietta membuang mukanya sambil memegang gelas ditangannya dengan keras, jari dia masih terdapat cincin yang sangat besar, ini membuat tangan dia terlihat sedikit lucu. Dia melepaskan cincinnya dan diletakan diatas meja lalu bicara.


"Kita malam ini tidak mau pulang, menginap disinikah"


"Ya"


"Kalau begitu, aku tidur dikamar ini, kamu tidur dikamar lain, aaah, kamu mau apa"


Julietta panik dan menutup matanya dengan satu tangannya dan tangan yang lain menunjuk David. David melepaskan jasnya dan membuka satu kancing lagi, lalu mengatur ukuran kerahnya karena tidak nyaman. Dia menatap Julietta dengan bingung.


"Pakai jas tidak nyaman, jadi aku lepas"


David sudah terbiasa memakai jaket, kemeja dengan bahan tipis dan dipakai dibadan dengan kencang sangat tidak nyaman, David mengerutkan alisnya dan lanjut membuka kancing dikerahnya agar membuat dia sedikit nyaman.


Julietta terus mengawasi pergerakan David dengan waspada, seperti kucing liar sedang menatap manusia yang sedang jalan menghampirinya.


David bertanya "Kamu tidak ganti baju"


"Aku buat apa ganti baju" 


Sambil bicara Julietta mundur satu langkah, tapi dia hampir saja terjatuh karena menginjak gaunya sendiri, dia langsung memegang meja agar bisa berdiri dengan stabil.  Sepertinya memang harus ganti baju, kalau saja terjatuh pasti akan memalukan,


Dia membuka lemari pakaian dan melihat ada baju tidur, Julietta mencarinya dan menemukan satu baju tidur yang agak tertutup, dia melambaikan tangannya ke David dan berkata.


"Kamu keluar, aku mau ganti baju"


David bicara dengan tenang "Aku bantu kamu"


"Siapa yang minta kamu bantu aku"


Setelah mengusir David keluar kamar, Julietta baru mulai mengganti bajunya. Saat pakai gaun ada Weni yang membantunya, Julietta tidak begitu merasa lelah, sampai sesaat mau melepas gaunnya, dia sadar kalau gaun ini sangat berat dan juga sangat sulit untuk mencapai ritsleting dipunggungnya.


Julietta kelelahan mencoba meraihnya sampai seluruh kepalanya berkeringat, tapi tetap saja tidak bisa mencapai ritsletingnya itu, dia benar benar ingin menggunting gaunnya agar dia bisa keluar. Setelah sangat lama, tapi tetap tidak ada hasilnya, dia mau tidak mau memanggil David.


"David, kamu masuk kesini bantu aku"


Pintu terbuka. David masuk dan setengah berjongkok dilantai, dia membantu Julietta untuk menarik resletingnya. Saat dia menariknya, jarinya itu menyentuh kulit punggungnya Julietta, seperti melukis satu garis lurus dari atas ke bawah. Punggung Julietta menjadi tegang dan tidak berani bergerak.


"Kamu cepat sedikit."


David hanya menjawab samar. Waktu menunggu sangat menyiksa orang, karena gugup Julietta menjadi sangat sensitif, jari yang menyentuh kulitnya sedikit saja bisa membuat dia langsung tegang. Julietta berusaha membuat dirinya terlihat tenang dan bertanya.


"Sudah belum"


David tidak menjawabnya, Julietta sudah merasakan tatapan yang panas dari belakangnya dan membuatnya tanpa sadar memegang kerah bajunya.


"Kamu tidur dikamar sebelah, aku juga mau tidur disini"


Julietta tidak berani melihat ekspresi David dibelakangnya. Disaat seperti ini dia selalu sangat takut, Julietta mencoba diam diam kabur dari pandangan David. Tangannya tiba tiba ditarik oleh David dan membuatnya tidak bisa bergerak. Julietta terdiam dan tidak berani bergerak.


Dibelakangnya terdengar suara David yang bertanya,


"Anggur juga sudah diminum, kamu masih mau kemana"


"Aku tidak mengerti maksud kamu" Julietta mulai pura pura bodoh.


"Tidak apa, nanti kamu akan mengerti"


Julietta terkejut, tangannya tiba tiba ditarik dengan kencang dan pandangan didepannya tiba tiba terbalik, saat dia belum sempat merespon, dia sudah mendapati dirinya sudah diranjang besar yang empuk, pandangannya tertuju ke lampu didalam kamar yang berwarna agak jingga. Dia mau memberontak, tapi David langsung mencium ******* bibirnya. Uh uh uh.


Bibirnya terasa aroma anggur yang pedas dan merangsangnya, Julietta memberontak beberapa kali tapi David memasukan lidahnya dan membuat ciuman ini semakain dalam. Nafas dia panas seperti api yang menyalakan saraf Julietta.


Dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan bergerak gerak beberapa kali, telinganya mendengar suara David yang serak ,mamanggil namanya agak memdesah.

__ADS_1


Julietta sudah hampir tidak bisa bernafas diciumnya, maka hanya bisa mengeluarkan suara yang seperti bisikan, tapi dianggap oleh David sebagai persetujuan. Pipi Julietta memerah, gaun putihnya sedikit berantakan dan bagian dadanya perlahan lahan terlihat, ini membuat dia terlihat sangat, mudah diserang, David menahan memegang pinggang Julietta agar dia tidak bergerak.



__ADS_2