
Julietta melihat interaksi mereka berdua tiba tiba meras sedikit iri. Jomblo bertahun tahun seperti dia juga ada beberapa detik mau pacaran semanis itu. Julietta melirik David, David sedang makan buah dengan tenang, bahkan disaat Julietta tidak fokus, dia diam diam mencomot dan memakan satu potong mangga dari piring Julietta. Apakah dia masih bisa berharap dengan David, atau berharap meteor jatuh kebumi bisa lebih mudah.
Diana mengangkat tasnya dan bertanya "Etta mau ketoilet tidak"
"Oh ok, ayo"
Mereka berdua bergandengan tangan jalan ketoilet untuk memperbaiki dandanan. Julietta dan Diana melewati koridor dan berdiri di depan cermin toilet, Julietta mengambil lipstik dari tasnya, mengenakannya dibibir, Diana disebelahnya juga memakai lipstik dan berkata. "Kemarin malam sepertinya sangat hebat ya, sampai pakai syal"
Sebenarnya ini adalah ide Julietta sesaat, daripada ditunjukan lebih baik ditutupi, kalau ditutupi Diana akan memiliki pikiran kalau mereka berdua kemarin malam memang melakukan sesuatu.
Julietta dengan tenang menjawabnya "ya lumayan hebat"
Hebat apanya, dia itu hanya dicubit tapi apapun tidak didapatkannya, mengingat semalam mereka berdua saling mencubit, Julietta semakin murung. Dia dan David mana ada terlihat seperti suami istri, siapa yang bisa seperti David yang tiba tiba mencubit orang, orang yang tidak tahu akan mengira itu kekerasan.
Diana merasa iri "wajahnya seganteng itu dan juga sekaya itu, main game juga keren, dan sangat sayang istrinya, sifatnya juga baik, sangat sederhana didunia ini, bagaimana bisa ada pria sesempurna itu"
Julietta terkejut "apakah kita sedang bahas satu pria yang sama"
"Kamu ini karena setiap hari bertemu terlalu lama, maka merasa ini semua sangat biasa"
Diana segera merapikan lipstik dan dimasukan ketasnya, lalu dia tersenyum ke Julietta "aku dan Brian melihatnya, bos David hanya selalu memperhatikan semua pergerakan kamu"
Julietta "oh ya, bagaimana mungkin"
Dipikirannya David hanya sibuk makan makanan dipiringnya, bagaimana mungkin ada waktu untuk perduli dengan hal lain.
"Tentu saja" Diana melipat tangannya dan terlihat seperti gadis remaja.
"Tatapannya itu, hahaha,mau benar benar sampai hati untuk iri saja sudah tidak ada, tapi dipikir pikir benar juga, dirumah mana yang ada wanita secantik kamu ini, semua pria juga pasti akan sangat terpikat hatinya"
Dalam pikiran Julietta, David ini benar benar tidak bisa dikategorikan sebagai pria semudah itu. Dua wanita ditoilet ini sedang mengobrol dengan panas, dua pria di meja makan dalam ruangan malah memiliki suasana yang canggung. Setelah diam beberapa menit, Julietta dan Diana pergi ketoilet membuat waktu didalam sini menjadi sulit dilewati.
Brian hanya bisa menggaruk kepalanya, kalau dulu dia berada disuasana yang dia tidak enak, dirinya akan memecahkan keheningan atau tidak langsung memainkan HPnya, tapi disaat ini yang duduk didepannya adalah David, sampai nafas saja dia hati hati, hening sangat hening.
Keheningan terus terjadi diantara mereka berdua. Brian bengong dan tidak berani memulai topik. Disaat ini David diseberangnya mengangkat kepalanya dan menatapnya.
"Aku ada satu pertanyaan"
"Apa" Brian langsung duduk dengan tegak.
"Kamu pakai cara apa untuk mengejar pacar kamu"
Saat Julietta dan Diana kembali kemeja mereka, ekspresi dua pria didalam sangat aneh. David terlihat jauh lebih tenang dan lanjut memakan buah buahan, pandangan Brian yang berkedip kedip melihat Julietta dan David dengan rumit, terlihat tidak berani bicara banyak.
Julietta penasaran "apakah kalian ada bicara sesuatau"
"Tidak tidak hanya bicara tentang gunung dan sungai"
Brian langsung berdiri dan menarik lengan Diana "ayo jalan, kita masih harus naik pesawat, barang kamu juga belum dibereskan"
Mereka berpamitan, Diana ditarik Brian jalan kedepan dan tidak lupa melambaikan tangannya ke Julietta.
"Kita pergi dulu ya, terlalu buru buru maaf ya"
"Tidak apa, kalau peswat sudah mendarat ingat kabari aku" Julietta tersenyum melihat mereka berdua pergi.
Julietta duduk dan merendahkan suaranya bertanya ke David "kalian benar benar tidak ada bicara yang aneh aneh"
David "tentang gunung dan sungai saja"
Brian yang sedang menarik Diana keluar tidak tenang, Diana akhirnya tidak tahan dan bertanya "Kalian berdua sebenarnya membicarakan apa"
Brian menggarukkan kepalanya dan berkata "Jangan dibahas, aku awalnya kira bos mau selingkuh, tapi ternyata dia mau kasih sedikit kejutan ke Julietta". "terus"
__ADS_1
"Dia tanya aku awalnya bagaimana cara mengejar kamu, menurut kamu aku bagaimana bisa mendapatkan kamu"
Muka Diana memerah. "Tidak tahu malu"
Brian awalnya bagaimana bisa mendapatkan Diana bisa dibilang sesuatu yang mengejutkan. Disaat mereka masih kuliah, disatu malam Brian mengajak Diana ke gunung kecil dan mereka berdua duduk dipuncak gunung, diperjalanan kesana Diana belum makan dan bilang lapar, Brian mengeluarkan satu kue kecil dari mobil. Belum makan kue berapa suap, gigi Diana seperti menggigigit sesuatu, saat dikeluarkan ternyata ada sebuah cincin. Disaat itu Brian berlutut dan mengangkat cincinnya, dengan lembut bertanya apakah bisa latihan sekali untuk melamar. Lalu kembang api yang cantik memenuhi langit. Melihat kembang api dilangit, Diana terkejut dan menutupi bibirnya dan bersemangat sampai air matanya keluar, setelah itu mereka berdua bermesraan.
Bahas sampai sini tiba tiba dipotong oleh David, dan juga membuat David tersadar dari ingatannya yang indah.
"Pokoknya seperti ini"
"Wah sudah beberapa tahun masih mau kasih kejutan keistrinya, aku menangis, kamu ingat dengan baik, 5tahun lagi kamu juga tetap harus baik sama aku selamanya"
"Baik baik, tidak masalah" Sambil mencium dahi Diana dan memeluknya.
Dengan pura pura gelisah, Brian berkata "Kalau begitu cepat cepat membiarkan aku melakukan tanggung jawab sebagai suami,aku mohon"
"Bikin kesal " muka Diana merah.
Suami istri yang sebenarnya memiliki pikirannya masing masing dan memiliki mimpi dari ranjang yang berbeda. Setalah main ski. Julietta mengganti baju tidur dan melipat kakinya duduk disofa memainkan HPnya. Dua setengah hari lagi baru pulang, tidak tahu aktifiitas berikutnya akan ada apa saja, kalau harus dibilang Julietta lumayan suka main ski.
"Liburan sekarang ini benar benar menarik" Julietta meregangkan pimggangnya. "Aku juga pertama kali main ski keluar"
"Jadi sebelum ini" ucap David.
"Sebelum ini aku.."
Julietta hampir menceritakan kondisinya dulu, dia langsung menelannya kembali. Dia menurunkan kedua kakinya dan lanjut berkata.
"Sebelum ini juga aku merayakannya sendiri dan tiba tiba terlewati dengan dingin"
Didunia Novel ini Julietta adalah anak tunggal, didunia aslinya dia juga tidak ada bedanya dengan anak tunggal, bilang merayakan sendiri juga tidak terasa aneh, sesuai kenyataan, berpikir sampai sini, tidak disangka ada sedikit rasa sedih, seperti kotak bumbu yang dibalik, semua rasa bercampur, rasa asam manis pahit pedas semuanya ada.
Dia yang menghilang dari dunia itu sehatusnya tidak akan ada orang yang mencari dan mengingatnya, tentu saja juga kemungkinan atasannya dari kantor dia sudah memaki karena tidak mendapat desain.
"Nanti tidak akan lagi"
"Tidak akan dingin" David memasukan tangannya kekantong dan satu tangannya lagi mengelus rambut Julietta sampai berantakan.
"Tahun depan kamu bisa buat 200 pangsit, seperti itu kamu tidak akan merasa dingin lagi"
Julietta yang tadinya tersentuh beberapa detik kemudian menahannya lagi "kamu jadi orang"
David berpikir sebentar "150 juga boleh"
David masuk kekamarnya dengan satu lemparan sendal dari Julietta.
Julietta merasa saat dirinya menghadapi David seperti satu guru kelas yang memasuki masa menopausenya, setiap hari selalu dibuat marah. Dengan sedih dia kembali kekamar dan berbaring diranjang yang empuk. Kali ini diatas ranjang tidak ada cermin, jadi membuat dia bisa tidur dengan tenang. Perlahan dia mulai merasakan kantuk, dan tertidur dengan selimut. Disaat dia tidak sadar, dia seperti memimpikan satu pelukan yang hangat, suara nafas yang sedikit berat terdengar ditelinganya.
Julietta mengangkat kepalanya tapi yang dia lihat adalah wajah David, Tampang dia lebih hangat dari biasanya dan juga ada rasa yang menggoda, kedua matanya ditundukan dan bibirnya yang tipis ada warna cerah, membuat Julietta melihatnya merasa bingung.
David menurunkan badannya dan memegang pipi Julietta, tangannya yang kasar membuat hati Julietta menjadi gatal. Dia berkata "bukannya sudah janji"
Julietta menelan salivanya dan bertanya dengan gemetar "apa"
"Bukanya sudah janji mau makan pangsit isi daging"
Julietta "hah"
Dia tiba tiba terbangun. Seluruh badannya berkeringat, membuat Julietta sedikit tidak bisa bernafas. Dia sadar dirinya terbungkus selimut dengan rapat, pantas saja otaknya kekurangan oksigen, pantas saja. Pipi Julietta memerah, jangan jangan dia tadi mimpi musim semi dan dalam mimpinya ada David. Tadi. Mimpi musim semi siapa yang akan berakhir seperti ini. Otak Julietta hanya tersisa pangsit, pangsit, dan pangsit.
"Sarapan mau makan pangsit atau dimsum" diluar pintu terdengar suara David "masih belum bangun, anjing husky saja sudah kerja setengah hari disalju"
Julietta teriak "aku bukan anjing"
__ADS_1
David "paham"
Julietta "maksudnya paham apa, jadi maksudnya kamu dulu tidak tahu"
Dia dengan jelas mendengar David menghela nafasnya diruang tengah, seperti menyatakan Julietta yang pagi pagi ribut tanpa sebab. Hari ini adalah hari yang curiga apakah David bisa berhubungan dengan wanita secara normal.
Mereka berdua selesai makan, David memberi ide sore nanti bisa keluar jalan jalan. Julietta terkejut berkata.
"Disaat seperti ini, naik gunung apa tidak bahaya, kalau saja ada longsor dan mengubur kita bagaimana, lalu kita berdua terkurung diatas gunung salju, tidak ada sumber makanan, kamu mau anggap aku makanan, sampai ada tim penyelamat datang dan kamu bohong bilang aku terkubur didalam salju"
David melirik Julietta dan menghentikan pikirannya "Hanya pergi kedataran dekat sini, tempat main ski kebanyakan salju buatan, dan juga aku tidak akan makan daging orang"
"Pakai baju tebal sedikit, kita sore berangkatnya"
"Lalu makan malam bagaimana"
"Sekitar sini ada restoran, kita bisa makan diluar"
"Seperti ini ua" Julietta mengelap mulutnya "jadi kita mau keluar main apa"
Pandangan David melayang "lihat pemandangan gunung dan sungai"
Mau lihat gunung dan sungai ya sudah, lagipula diam dihotel juga bosan, Julietta mengikuti David pergi, tidak disangka David sudah memesan satu buah mobil, Julietta duduk disamping kursi pengemudi dan membiarkan David menyetir mobil dengan pelan ketempat tujuan.
Saat makan siang tidak banyak, saat sore Julietta sedikit lapar, Dia menantikan restoran yang dibilang David dan sudah siap untuk makan enak. Salju dijalan membuat sedikit licin.
David mengendarai mobil dengan lambat mereka berdua setelah beberapa saat baru sampai kesatu dataran. Disini sangat luas dan tidak ada orang, sekelilingnya ada pepohonan yang kering diselimuti salju, lihat kejauhan, gunung yang biru puncaknya ditutupi oleh salju putih, membuat hati orang menjadi lebih tenang.
Warna langit mulai gelap dengan cepat, David menghentikan mobil didataran beberapa saat, dan bilang ada sedikit masalah dengan mobilnya, perlu diperbaiki, dan meminta Julietta untuk tunggu dimobil sebentar.
Julietta awalmya masih main game, melihat langit semakin gelap, baterai HPnya sudah tidak sampai setengah, dia turun dari monil dan bertanya "masih lama tidak, kalau tidak panggil derek mobil saja"
"Sudah selesai diperbaiki" David berdiri dibelakang mobil.
"Merepotkan sangat merepotkan, lalu kita lanjut jalan"
David tiba tiba bertanya "kamu lapar tidak"
Julietta mengedipkan matanya. Saat menunggu dia sudah sedikit melewati masa laparnya, dan malah tidak begitu lapar. Dengan jujur dia menjawab "tidak juga"
David "jadi kamu sedikit lapar"
"Sepertinya mungkin bisa dibilang sedikit lapar"
Julietta juga tidak tahu kenapa David tiba tiba memperhatikan dia lapar atau tidak. "Jadi kita pergi kerestoran, setelah makan baru main bagaimana"
David tiba tiba mengeluarkan satu kue kecil dari bagasi. Satu kue krim dan dibungkus didalam kotak kecil dengan rapat. Dia memberinya ketangan Julietta" kalau lapar makan dulu saja"
Julietta terkejut "kue ini kamu yang siapkan dari awal"
"Tidak awalnya mau dijadikan cemilan"
Tapi cemilan siapa yang diletakan di bagasi. Julietta diam diam mengejeknya. David bisa memberikan satu potong kue sudah sangat baik, ini adalah hal yang sangat jarang terlihat, dia seharusnya berterimakasih. Dia membuka kotak kue dan bertanya "kamu mau makan bareng tidak"
"Tidak mau" jawaban dia sangat cepat, membuat Julietta makin curiga, apakah kue ini sudah diletakan bertahun tahun dalam bagasi. Dia mengingat dirinya dulu pernah makan coklat yang sudah kadaluwarsa, dan pelakunya adalah David didepannya,
"Jangan jangan kuenya sudah rusak" Julietta menatap curiga ke kue ditangannya.
David menggelengkan kepalanya "makan dengan tenang"
"Baik, terima kasih yah"
Julietta mengeluarkan garpu dari kotak itu dan berkata "kita disni mau apa, apa jangan jangan ada orang yang pasang kembang api, walaupun disini bukan kota, tapi pasang kembang api tidak begitu bagus, bukan saja tidak baik terhadap polusi, tapi kalau saja membakar pepohonan akan gawat"
__ADS_1
David tiba tiba memotong perkataanya "Kamu tidak suka kembang api?"
Julietta berdiri bersandar di pintu mobil dan sedang makan sesuap kue, krim yang segar dan sangat manis, sambil mengunyah berkata "tidak juga, aku tidak begitu tertarik dengan kembang api, terlalu kekanakan"