Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
105 Ending


__ADS_3

Kedatangan mereka berdua sangat menarik perhatian membuat semua orang melihat mereka dan saling berbisik bisik. Penjaga toko itu jauh lebih tenang dan tersenyum ke arah mereka.


"Halo, kalian mau kue yang mana, silahkan."


"Aku mau."


Alex belum selesai bicara. Tiba tiba dua orang didepan memesan kue kecil itu yang sangat ingin dimakannya, tidak lama kemudian di belakang David ada beberapa orang datang yang langsung ikut mengantri juga, kebetulan juga sepasang orang dewasa dengan membawa anak kecilnya.


Dengan gugup Alex terus melihat apel pie itu yang di dalam showcase, sekarang hanya ada sisa satu, kebetulan orang didepannya tidak membeli kue itu. Alex langsung tersenyum bahagia.


Saat giliran Alex, dia langsung menunjuk apel pie itu "Halo om, saya mau apel pie yang itu."


Setelah memesan apel pie itu, dia juga memesan beberapa potong kue lagi yang disukai oleh Julietta, David disebelahnya berdiri menunggu untuk membayar di kasir.


Disaat ini, anak kecil di belakangnya menangis sambil menunjuk Alex. "Aku juga mau apel pie itu."


Penjaga toko menjawabnya "mohon maaf adik kecil, hanya sisa satu itu, kalau mau besok datang lagi saja."


Anak kecil itu lebih pendek sedikit dari Alex, mendengar sudah tidak ada lagi kue itu, dia menangis hebat sambil duduk di lantai membuat orang tuanya tidak tahu narus berbuat apa.


Alex menatap apel pie kesukannya itu yang sudah terbungkus rapi, dengan hati tidak rela dan sedikit ragu ragu dia menatap anak kecil itu agak kasihan.


"Buat aku buat aku saja." Sepertinya anak itu sudah terbiasa ribut seperti ini, anak kecil itu terus menangis, kedua orang tuanya menatap Alex dengan ekspresi sangat berharap.


Alex memingkamkan bibirnya dan memutuskan untuk memberikan kue ini kepada anak kecil itu. Kedua orang tuanya sudah mengajarinya, untuk selalu akrab dan damai kepada siapapun, tidak boleh merebut barang orang lain dan harus merawat anak yang lebih kecil darinya. Alex melihat ke arah David.


David membawa satu kantong kue dan berjalan ke arah pintu keluar, tanpa melihat ke belakang dia bicara. "Ayo kita pulang."


Alex terdiam. Anak kecil yang sedang menangis itu melamun sebentar lalu menangis lagi dengan lebih keras.


Orang tua dari anak kecil itu berkata "Jadi ayah saja tidak memberikan contoh yang baik untuk anaknya.."


Mendengar itu David berhenti melangkah, dia melirik ke arah mereka. Anak kecil itu berhenti menangis dan David yang berjalan ke arah mereka, David berjongkok sejajar Alex, lalu jarinya mengangkat topi di kepala Alex dan bicara pelan.


"Bagaimana cara ayah mengajari kamu."


Alex mengedipkan matanya dan kebingungan. David menundukan kepalanya dan suaranya terdengar sangat jelas di dalam toko kue yang sekarang hening itu.


"Walaupun terkadang tidak mengalah juga kamu jangan bersalah, kamu juga hanyalah anak kecil."


Kata kata David iti sudah sangat sopan. Maksud dia adalah, jelas jelas mereka anak kecil yang kurang lebih sama umurnya, apakah dengan tidak mengalah itu berarti tidak baik.


Setelah bicara David menggandeng tangan kecil Alex untuk melangkah bersama keluar dari toko kue dan meninggalkan kedua orang tua anak kecil yang saling melihat satu sama lain.


Anak kecil itu masih mau lanjut menangis keras, tapi tidak tahu kedua orang tuanya yang merasa sudah memakukan dan tidak senang, mereka menarik dan mengangkat anaknya lalu memukul pantatnya.


"Kenapa kamu tidak menurut, seharian hanya bisa menangis keras,"


Anak kecil itu sekarang langsung menangis lebih kencang lagi.


David dan Alex menaiki mobil mereka, Alex duduk di kursi belakang dan masih sedikit tidak menyadari dari kejadian barusan.


David mengenakan sabuk pengaman lalu bicara.


"Mengalah itu memang harus, tapi kalau ada orang yang membuat kamu merasa tidak nyaman, maka kamu tidak perlu sopan sopan mengalah."


Mata Alex bersinar, jawabannya juga sangat simpel "Aku paham ayah."

__ADS_1


Mereka berdua kembali hening beberapa saat.


David bicara lagi.


"Dulu saat ayah memenangkan hadiah di sekolah, mama ku setiap kali selalu ajak aku beli kue dulu kesitu juga."


Alex bertanya dengan hati hati "nenekku yah."


Alex tidak seperti anak orang lain yang punya kakek nenek, Alex dari kecil sudah tahu kalau mereka sudah pergi ke dunia lainnya, maka dia tidak berani membahas kakek nenek kepada orang tuanya. Dia berpikir kedua orang tuanya ini yang tidak memiliki orang tua pasti sangat tidak mudah. David menjawab dengan menganggukan kepelanya,


David bicara "Kami di sekolah harus belajar dengan baik baik, tapi juga harus senang, main, kalau ada nasalah apa saja, kamu harus kasih tahu ayah."


David dari kecil sudah mendengar kalimat ini berkali kali, dalam pikirannya dia masih bisa membayangkan wajah senyum yang lembut hangat dari mamanya itu yang selalu ada mendampinginya, menyemangatinya, setiap mendengar kalimat ini dari mamanya itu, David selalu sangat puas. Dia merasa mungkin dia juga seharusnya menyemangati Alex seperti mamanya dulu.


Wajah Alex terlihat sangat serius. Dia menganggukan kepalanya dan menjawab seperti David disaat itu. "Baiklah.


Semenjak Alex sudah bisa tidur sendiri di kamar terpisah, kamar tidur David yang lama ditempati dia dan diubah menjadi kamarnya Alex, di dalamnya ada banyak sekali stiker kartun yang aneh aneh, setiap kali David masuk ke kamar itu dan melihat kamar tidurnya yang lama yang sudah dipakainya belasan tahun itu, dia sudah memiliki niat untuk mencubit Alex.


Jangan lihat Alex yang terlihat dingin dan sok keren diluar, tapi sprei ranjangnya bergambar strawbery. Dan yang paling penting ada di kepala ranjangnya masih ada kardus box dia yang sudah lama.


Setiap kali Alex merasa tidak senang dan kesal dengan David, dia akan masuk ke dalam kardus itu menunggu Julietta datang untuk menghiburnya. Dia menganggap kardus itu sebagai barang yang paling penting, setiap dia bertanya ke Julietta kenapa bisa ada kardus seperti ini, Julietta selallu tertawa terpingkal pingkal mengingat kisah kardus itu, setelahnya dia mencium dan memeluk erat Alex. Dia bilang karena Alex adalah paket yang dikirim dari langit dengan kardus itu, maka dia juga masih menyimpan kardusnya.


Oleh karena hal ini, Alex juga menulis suatu cerita untuk tugas sekolahnya yang berjudul 'Cinta seperti kardus 'dan juga ceritanya itu mendapatkan juara satu lomba mengarang tingkat SD kelas satu di satu kotanya itu.


Julietta yang tahu kebenarannya hanya bisa terdiam. 


Alex juga tidak tahu kenapa setiap kali tante dan om dari kantor David datang ke rumah mereka selalu menahan tawa saat melihat sertifikat juara satu membuat cerita itu di tembok. Terutama paman Tomy sudah umur sebesar ini tapi masih terlihat tidak serius, sudah menjadi seorang ayah juga tapi tetap selalu dipukul dan dicubit oleh tante Weni, ini membuat Akex tiba tiba merasa ayahnya itu lebih memiliki kedudukan terhormat dibandingkan yang lainnya.


Paman Herman juga datang membawa tante yang cantik, mereka datang berkunjung beberapa kali, tapi mereka yang paling jarang datang, dengar dengar mereka tinggalnya diluar negeri.


Paman Andi tetap tidak bisa melepas masa lajangnya, setiap kali datang berkumpul makan bersama tidak ada orwngnyang membahas kejombloannya itu, kalau tidak dia akan menangis sedih dipojokan.


Alex sebenarnya hanya menginginkan permen yang manism dan tidak tertarik dengan gadis kecil, mereka mengajak Alex main rumah rumahan dan berperan sebagai suami istri, tapi ditolak mentah mentah oleh Alex. 


Julietta bilang ke Alex kalau Erick itu lebih busuk dari ayahnya, membuat Alex sama sekali tidak mengerti. Kenapa busuk bisa menjadi kata sifat untuk seseorang. Alex sekarang sudah berusia 6 tahun kelas 1 SD.


Salju mulai turun di kota ini, saat Julietta membuka jendela, dia langsung mengecilkan matanya melihat salju yang dingin ini "sudah mulai turun salju lagi."


Dia baru selesai bicara, dia langsung mendengar suara langkah kaki dari ruang tengah, sudah diduga Alex mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamar meminta pelukan dari Julietta. Alex yang sudah SD, tapi setiap saat di rumah masih sangat manja.


Siapa yang bisa menolak anak kecil yang ganteng ini, Julietta memeluknya dan mencium pipinya. "Kamu sudah bangun."


Alex menjawabnya dengan lembut "Bunda ayo kita turun buat orang orangan salju, bagaimana."


"Boleh tapi kita makan sarapan dulu baru main diluar."


Mendapat persetujuan dari bundanya, Alex langsung menciumnya dan dengan senang hati dia je kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.


David yang masih berbaring di dalam selimut itu duduk dengan lesu, selimut yang empuk lembut turun dari badannya dan memperlihatkan badannya yang hanya memakai celana tidur, di daerah bahunya masih terdapat stroberi kecil yang dibuat oleh Julietta semalam. Julietta langsung memberikannya kaos kepadanya.


"Cepat pakai baju, jangan sampai dilihat Alex."


David menarik lengan Julietta dan memeluknya, Julietta berteriak pelan lalu David mencium bibirnya lama.


"Kamu belum bilang selamat pagi sama aku."


"Bunda aku mau.."

__ADS_1


Suara Alex yang tiba tiba terdengar itu, pintu yang sudah terbuka dan Julietta tanpa sadar mendorong menekan David masuk kedalam selimut, tapi Alex melihatnya seperti Julietta mau memasukkan David ke dalam selimut pasti sangat marah dan sangat ingin mencubit memukulnya.


Alex langsung tertawa melihat itu "Semangat bunda."


Dia lebih baik sebentar lagi baru masuk kembali ke kamarnya. Julietta menatap heran anaknya yang melangkah keluar.


David yang berada di dalam selimut bicara "Aku rasa kita harus ganti ke rumah yang lebih besar dan luas."


Julietta "iya mungkin perlu."


Apartemen seluas 250sqm ini sudah tidak bisa memuat keributan mereka bertiga.


Setelah sarapan pagi, mereka mengenakan  pakaian tebal lalu turun ke bawah. Awalnya mau membuat manusia salju, tapi saljunya masih tidak cukup banyak, hasil yang dibuat juga tidak begitu bagus dan membuat Alex kecewa.


Untuk membuat dia senang, Julietta melempar satu bola salju kecil kebadannya, Alex berteriak dan seketika menjadi senang berlarian kesana kemari menghindari lemparan bola salju dari Julietta, dia juga langsung ikut melempar bola salju kecil ke Julietta. 


Mereka tertawa bahagia. Mereka berdua bermain dengan sangat senang, setelah beberapa saat, Julietta sudah sedikit lelah, dia duduk di lantai tangga dan istirahat.


"Kalian berdua juga lanjut main dengan seru." Julietta bicara.


Alex mengarahkan pandangannya ke David. Muka David tidak ada ekspresi berlebih, dia mengambil salju lalu dilempar ke arah Alex. Reflek Alex yang cepat menghindarinya lalu dia balik melempar ke David, situasi yang manis harmoni ini membuat Julietta sangat bahagia. Dia mengeluarkan ponselnya untuk merekam momen yang membahagiakan ini.


Kebetulan bola salju yang dilempar Alex mengenai tepat jaket David yang hitam, Alex langsung tertawa dan langsung kabur menjauh. David membuat bola salju yang besar di tangannya.


Di layar HP Julietta, terlihat bola salju di kedua tangan David dilempar dan mengenai tepat kepala belakangnya Alex. Seperti layangan yang putus talinya Alex yang tadi masih berlari tertawa senang langsung terjatuh ke tumpukan salju.


David "Aku menang, permainan selesai, ayo masuk."


Julietta yang sedang memegang HP mematung, dia sudah tahu David itu tidak bisa melakukan hal yang baik, dasar pria busuk.


Mereka bertiga melangkah naik dan kembali ke rumah, mengganti baju, Alex menyalakan TV, bersamaan dengan musik yang tidak asing, film animasi ditayangkan.


Yang Julietta tidak tahu adalah, Alex tidak bicara apa apa, setiap teman temannya membeli berbagai alat tulis dan membahas film animasi yang paling disukainya, hati Alex penuh dengan rasa bangga. Ini adalah film animasi yang bundanya ikut membuatnya, dia juga memiliki poster khusus yang bertanda tangan.


Dalam hati Alex, bundanya sangat ahli menggambar, masakan bundanya paling enak, bundanya adalah wanita tercantik di dunia, tidak ada yang bundanya tidak bisa lakukan.


Sementara mengenai David, ayahnya, oh dia hanya pria yang sedikit kaya raya. Dunia luar bilang kalau bosnya Aquarius sangat hebat, semua orang sangat mengidolakan ayahnya Alex, tapi di mata dia, David setiap hari hanya mengikuti di belakang Julietta dan sama sekali tidak terlihat seperti pria sejati apalagi terlihat seperti bos besar.


Sambil berpikir seperti ini, Alex meminta Julietta yang duduk di sebelahnya menciumnya. Martabat pria sejati diletakkan terlebih dahulu, nanti baru dibawa lagi, dia bisa melakukan apa saja yang dikatakannya.


David menatapnya dari sebelah, sudah diduga, pekerjaan rumah dari sekolah tidak cukup banyak untuk Alex.


Saat Alex ulang tahun yang ke 7, para paman dan tante datang merayakannya di rumahnya. Julietta memesan kue ulang tahun yang sangat besar dan membuat makanan yang banyak.


Sudah bertahun tahun lewat, jumlah orang yang datang numpang makan semakin bertambah, rumahnya sudah hampir tidak bisa memuat mereka semua. Setelah potong kue, Julietta tiba tiba merasa mual.


David langsung bertanya "kamu kenapa, tidak enak badan."


Julietta "Aku tidak tahu."


Weni di sebelahnya bertanya "Apa kamu jangan jangan mmm hamil lagi."


Julietta terdiam lalu berpikir dengan tenang sebentar, dan dia baru sadar sepertinya memang sudah dua bulan ini tidak datang bulan, tidak tahu program anti hamilnya bermasalah dimana. Dia mengangkat kepalanya, dengan gugup dan penuh penantian menatap ke arah David.


David hanya melamun di tempatnya. Setelah beberapa saat dia bicara dengan lembut kepada Julietta.


"Kita harus pindah ke rumah lebih besar untuk bayi lagi."

__ADS_1


Alex "Hore, asik rumah dengan kolam renang ayah, bunda."


Demikianlah selamanya tidak akan selesai. TAMAT.


__ADS_2