Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
52


__ADS_3

"Liburan kali ini tidak murah, penginapan saja sudah keluar banyak" keluarga Diana lumayan berada, tapi membahas biaya tetap membuatnya pusing. "Aku bilang tidak perlu mandi air panas tidak apa. Tapi orang itu terus bilang sudah tidak mudah datang kesini, harus menikmati semuanya"


Walaupun sedang komplain, tapi ucapannya sangat manis, bisa dibilang sebagai beban yang manis. 


Julietta bertanya "oh ya kalian tinggal berapa lama"


"Besok sore sudah pulang, setidaknya harus keburu makan malam bersama keluarga besar, tahun ini dua keluarga besar kami akan makan bersama"


"Berarti aku harus kasih selamat untuk kamu" julietta tertawa "nanti nikah jangan lupa undang aku"


"Tentu saja, kamu harus duduk dikursi teman dekat aku, kalau kamu belum menikah kamu pasti jadi bridesmaid tercantik aku"


Bicara sampai sini, Julietta sangat bersemangat, dia menuangkan anggur merah kegelas untuk Julietta daan bertanya "oh ya kamu kan sudah pernah menikah, ada pengalaman, bisa kasih tahu aku apa yang harus diperhatikan diacara nikah tidak"


Julietta tiba tiba menjadi canggung dan diam. Dia mana ada pengalaman membuat acara pernikahan, sebelum datang kedunia ini dia juga hanya seorang jomblo, kalau jadi bridesmaid dia pasti akan bisa menulis ratusan pengalamannya. Diana masih menunggu Julietta menyampaikan pengalamannya.


Julietta meminum anggur dan berkata dengan samar samar.


"Hal lainnya akan ada orang yang bertanggung jawab, yang paling penting kamu harus menyambut acara ini dengan gaya yang paling cantik"


"Yang kamu bilang benar" Diana mencubit perutnya dan mukanya menjadi kusam, "akhir akhir ini aku gemukan"


Melihat tampangnya yang merajuk seperti anak kecil, Julietta tertawa. Mereka berdua mengobrol sebentar, lalu Julietta melihat di daerah bahu Diana ada beberapa bekas merah, dilehernya juga ada. Dengan terkejut dia bertanya "kamu ada cacar air, kalau cacar air tidak bagus rendam air panas kan"


Muka Diana langsung merah "kamu jangan menertawakan aku, kesal, jangan bilang kamu tidak punya stroberi kecil"


Julietta terkejut dan tiba tiba mengerti maksudnya, muka dia juga menjadi merah malu dan mau mencoba mengubah topiknya, tapi dipotong oleh Diana.


Diana tiba tiba menatapnya dari atas sampai bawah, seperti polisi yang melihat penjahat dari ujung ke ujung.


"Kamu sedang lihat apa"


"Wah kalian tidak terlalu beres ya, suami istri datang liburan tidak ada kehidupan intimnya"


Julietta tentu saja harus mempertahankan status pernikahannya diluar, tanpa sadar dia membantahnya. "Bagaimana mungkin kemarin juga sudah"


"Wah dimans, dikamar mandi atau diranjang"


Untung saja ada air panas, jadi seluruh badannya yang memerah seperti udang rebus itu tidak terlihat. Julietta menghalangi Diana untuk terus membahas topiknya. "Sudah suami istrin ama, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi"


"Kamu dengar aku, kalau dua orang sudah bersama sangat lama, terkadang sudah tidak terasa segar, ini sangat normal, aku dan pasanganku walaupun belum menikah, tapi kita sudah bersama 5tahun lebih" muka Diana terlihat misterius, "terkadang harus inisiatif sedikit, aku bilang sama kamu" 


Julietta otaknya dicuci oleh Diana satu jam lebih. Sampai kulit berkeriput dan hidung gatal terasa seperti mau ada ingus yang keluar, Julieta baru bisa kabur.


Didepan pintu keluar, pikiran Julietta penuh dengan jurus pintar yang dibilang Diana, dia berpikir beberapa detik mukanya semakin merah, dia menutup mukanya dan menggoyangkan kepalanya mau mengeluarkan semua perkataan Diana. David yang menunggu dikursi tunggu, melihat Julietta yang aneh ini.


David yang biasanya diujung rambutnya keriting dan berantakan, ditambah dengan jaketnya dengan matanya yang terlihat lesu tidak bersemangat, saat ini hanya mengenakan jubah mandi dan tali pinggangnya diikat, rambutnya basah dan dirapikan kebelakang telinga, ditengah kelesuannya terlihat keseksian yang tajam, Julietta semakin tidak fokus. Dibawah tatapan Julietta, tidak disangka terlihat sedikit porno. Gawat. Mereka berdua kembali kekamar, Julietta bersin.


Dia menggaruk hidungnya dan tuang segelas air hangat, diluar jendela salju turun semakin lebat dan beterbangan mendarat ditanah, berdiri dijendela dan melihat kejauhan, warna putih terus merambat dan tidak ada ujungnya. Julietta berdiri disamping jendela melihat salju, pipinya yang sedikit merah akhirnya kembali normal setelah tenang.


"Aku hari ini ketemu Diana sikudaperang, teman yang dulu kenal dari game, calon suami dia juga sedang rendam air panas, kamu harusnya ketemu kan"


David seperti biasa menjawab dengan anggukan.


"Kalian ada ngobrol tidak, hubungan kalian bagus"

__ADS_1


David mengangguk. Julietta lanjut berkata "bagus kalau begitu, dia undang kita makan siang besok, sore mereka akan pulang, bagaimana"


David sedang serius memotong buah dan berkata "baik"


Julietta duduk disofa menyalakan TV, disaat ini film sangat banyak, dengan asal dia membuka satu drama keliarga dan menontonnya. David sudah selesai memotong buah dan memberikan setengahnya ke Julietta mereka makan buah bersama dengan harmonis disofa.


Hp Julietta berbunyi menerima pesan, Julietta meliriknya dan melihat ada pesan suara dari Diana. Dia sedang sibuk makan buah, dia menyalalannya dan menekannya dengan jari kelingkingnya dan suara Diana terdengar jelas 


"Julietta ingat cara aku, malam ini harus panas bergairah ya"


Julietta langsung batuk sekuat tenaga dan mau menutup suaranya, pesan suara yang awalnya sudah selasai jadi tertekan lagi olehnya dan terdengar ulang sekali lagi.


David menatapnya dan bertanya tanpa bersuara.


Julietta. "Tidak apa"


Julietta merasa kepalanya mau meledak. Mengingat besok Diana pasti akan menatap mereka berdua dengan pandangan yang aneh, mungkin saja dia akan menanyakan kenapa David tidak menanam stroberi, dia semakin bingung.


Julietta memegang HPnya dan melamun, bahkan buahnya lupa dimakan lagi, disaat dia tidak memperhatikan, David diam diam mengulurkan tangannya dan mengambil buah dipiring Julietta dan memakannya. "Hei"


David yang tertangkap basah "aku kembalikan ke kamu"


julietta "kamu bicara apa"


David "iya"


"Kamu sudah selesai makan buah kamu"


David melihatnya "kenapa"


"Untuk menghindari kerepotan kita bikin yang palsu bagaimana" Julietta menggeser duduknya lebih dekat ke David dan sambil menatap aneh ke David "jadi petani buah"


"Tanam buah"


Dibawah tatapan curiga dari David, Julietta tiba tiba duduk tegak, satu lengannya bersandar dibahu David, David reflek  dan punggungnya menjadi kaku tegak, dia melihat Julietta mengukurkan tangannya dan menyentuh jakunnya.


Jarinya lembut dan dingin ditambah aroma buah yang manis, jarinya meraba digesekan beberapa kali dileher David. Kedua matanya itu sangat tukus seperti gadis remaja, sama sekali tidak sadar saat ini sedang berbuat apa. Jakun David bergerak beberapa kali nafasnya menjadi rendah pelan.


"Kamu sedang apa"


Julietta sedang fokus mencari tempat yang mudah dilakukan. Badan David tidak ada banyak daging yang lembek, lehernya panjang, tulang selangkanya tidak seperti biasanya, dengan keadaan seperti ini, dicubit sekali pasti sangat sakit. Dengan ekspresi yang dalam dan serius dia berkata.


"Biarkan aku cubit kamu, anggap sebagai kontribusi untuk kita berdua"


Kuku Julietta sudah berhenti dileher sebelah kanan, tiba tiba kukunya mencubit dan diputar kekanan. Julietta pertama kali melakukan hal seperti ini, tenaga tangannya tidak besar tapi sedikit gemetar. Seperti digigit nyamuk, mencium wangi dari badan Julietta, Julietta mengangkat mukanya, bibirnya yang merah sedikit terbuka karena terlalu fokus, memperlihatkan ujung lidahnya yang pink.


David melihatnya dan tidak bisa bergerak, nafasnya juga menjadi berat. Julietta menarik tangannya kembali dan melihat kulit yang memerah tapi perlahan pudar lalu terakhir warna kulit leher David kembali menjadi putih seperti semula.


"Ah.." Julietta mendesah menghela nafasnya dengan kecewa. Sepertinya bukan hanya tidak bisa meninggalkan bekas, merah sedikit saja juga tidak ada.


"Kamu sedang apa" tanya David.


"Untuk ,menghindari rasa penasaran Diana yang selalu penasaran dengan kehidupan intim aku, jadi aku mau membuat beberapa stroberi buatan agar dia tidak penasaran lagi"


Ekspresi Julietta masih serius, sama sekali tidak memperhatikan ekspresi David yang tidak beres.

__ADS_1


Julietta "kamu masih punya cari cara lain tidak, kalau bisa besok saat makan bisa dilihatnya"


"Boleh aku coba cubit lebih keras lagi tidak, kamu tahan sedikit"


David "tidak berguna, mau efek seperti ini lebih baik baret leher aku sedikit dengan kukumu saja"


Julietta harus mengakui mungkin cara ini sepertinya lebih bagus. Dia mengulurkan tangannya kelehernya lgi dan mencari tempat yang bagus, kuku dia melewati tulang selangkanya dan mencakarnya seperti kucing kecil menggaruk, tenaganya pelan dan membuat gatal seperti sedang menggoda, dilihat David benar benar seperti sedang menggodanya.


"Lupakan aku tidak bisa" kalau saja ditekan akan keluar darah, Julietta memikirkannya saja sudah sakit. Kalau dilhat Tomy dia pasti akan memikirkan yang aneh aneh, lebih baik dia jangan mencari gara gara.


Julietta berdiri "aku lebih baik kembali kekamar dan tidur"


Baru sampai depan pintu kamar, dalam beberapa detik terdengar suara air sepertinya David sedang mandi. Julietta memutar mutar badannya diranjang dan tidak bisa tidur, pandangan dia mengarah ke lampu disamping ranjang dan tiba tiba matanya bersinar, ada satu ide.


Suara air mengalir sudah tidak ada, Julietta lompat dari ranjang dan memakai sendal, lalu dengan langkah yang cepat dia berlari kekamar  David, sambil memanggilnya dia maasuk kekamarnya.


"David, aku punya satu em cara em yang bagus em"


Tirai jendela kamar David tertutup, kamarnya hanya ada satu lampu tidur yang menyala, warnanya redup. Dia sedang pakai baju dan membelakangi Julietta, dia hanya mengenakan celana, badannya terbuka. Dilohat dari sudit Julietta, bisa melihat punggungnya yang kuat dan bergaris dan lengannya yang kekar kuat. Julietta sepertinya tidak menyangka akan melihat David yang belum pakai baju, dan tidak lebih menyangka David memiliki badan sebagus ini, sesaat dia terpana dan lupa mau bicara apa.


David memakai baju dengan pelan. Rambut dia masih meneteskan air, melewati tulang selangkanya dan terakhir menghilang dipinggangnya.


Julietta hanya merasakan mukanya hangat dan panik, hidungnya juga hangat, seperti ada darah yang mau mengalir dari hidung. Tanpa sadar dia menutup hidungnya dan digaruknya. Dia memegang sedotan dan panas dipipinya menghilang Julietta lanjut berkata.


"Aku punya cara yang lain yang bagus, mau coba tidak"


David terdiam dan memutar badannya lalu dengan pelan berjalan kedepan Julietta, mukanya tidak ada eksprsi, kedua matanya ditundukan, tidak terlihat jelas ekspresinya seperti apa. Dia membelakangi lampu yang redup, kamar seketika menjadi gelap, julietta hampir tidak bisa melihat dengan jelas mata David. David maju satu langkah.


 Julietta tanpa sadar mundur satu langkah, punggungnya menabrak tembok yang dingin, dia menjadi tenang sedikit.


"Kamu mau apa, jangan kagetkan aku, aku tidak takit hantu"


David mengerutkan alisnya, seperti sedang menahan emosinya dan sangat berbeda dari sehari harinya yang tenang dan dingin.


David "jangan masuk disaat seperti ini"


Julietta mengangkat kepalanya dengan bingung, disaat seperti ini itu apa maksudnya. David sama sekali tidak terlihat habis mandi, badan dia tidak ada uap air tapi malah sangat dingin, bahkan nafasnya yang dikeluarkan juga dingin, seperti habis kehujanan.


"Kamu mandi air dingin, musim dingin kenapa mandi air dingin tidak takut flu"


Tetes air dari ujung rambut David terjatuh ke pipi Julietta, dinginnya membuat dia gemetar. David memasukan satu tangannya kekantong celananya dan mengulurkan satu tangannya lagi mengelap tetesan air yang dipipi Julietta. Dibandingkan dengan jari Julietta yang lembut, jari David agak kasar, sedikit sakit dan geli jika tersentuh dipipi Julietta, membuat dia membuang mukanya karena risih.


"Aku bisa lap sendiri"


Dagu Julietta tiba tiba dicubit. Julietta terkejut. David ini berani beraninya mencubit dagunya, tidak mau hidup lagi ya. Disaat Julietta mau marah dia tiba tiba mengangkat kepalanya didepannya ada muka yang seperti dibesarkan. David membantu Julietta mengelap tetesan air dipipinya, tidak tahu apakah karena cahaya lampu, nafas dia sedikit lebih rendah dan juga ada rasa hasrat gairah.


"Tetesan air kalau dilap sendiri tidak akan bersih, sama seperti tanam stroberi, satu orang saja tidak bisa melakukannya"


Keadaan seperti ini sangat ambigu, badan David ada wangi aroma sabun yang ringan, badan dia semakin mendekat dan ada wewangian yang menyelimuti Julietta. Julietta terkejut. Pria ini mau cari untung, apakah harus menghindar, atau lebih baik jangan menghindar. Sudah menyetujuinya untuk berhubungan seperti kencan buta tapi progress ini terlalu cepat, dia belum siap untuk saling berpelukan malah langsung berciuman.


Apakah David setelah mencium masih mau melangkah lebih lanjut. Hati Julietta sedang berperang membuat dia semakin rumit. Julietta sama sekali tidak merasakan perubahan dari dirinya, kalau dulu David melakukan hal seperti ini pasti sudah ditampar, mana mungkin bisa David mencubit dagunya dan menciumnya.


Rambut didahinya menutupi matanya membuat perasaan dipandangan David tidak kelihatan olehnya. Dia melepaskan tangannya dan menundukan kepalanya lalu mendekat ke muka Julietta. Julietta langsung menyadari sesuatu dia langsung menghindari pandangan David itu, badannya mundur kebelakang dia gugup sampai pipinya memerah.


Hanya saja dipandangan Julietta, kepanikan itu dan tidak tahu harus berbuat apa terlihat lebih banyak dari perasaanya yang tergerak. Badan David berhenti.

__ADS_1


"Kamu mau apa lagi" Julietta seperti monster yang memberontak.


Badan David semakin mendekat, Julietta sangat ingin menempel pada tembok serapat rapatnya dan menyatu dalam tembok. Dia merasakan jari David dilehernya, hanya gesekan yang ringan membuat Julietta merinding. Telinganya gatal, sangat ingin menggaruknya sekuat tenaga, setelah itu. "aaah"


__ADS_2