
Dibagian lehernya tiba tiba terasa sangat sakit, membuat Julietta berteriak. Pelakunya tentu saja David yang tidak terkalahkan didunia ini. Bisa bisanya dia disaat Julietta tidak ada persiapan itu dia mencubit lehernya yang lembek, Julietta kesakitan dan air matanya sampai menetes. Dia menatap David dengan kesal, tidak disangka disaat ambigu seperti ini dia bisa melakukan hal seperti ini.
"Kamu sedang apa"
David menarik tangannya dan dimasukan kekantong, dia berdiri tegak dan berkata dengan santai "jadi petani buah"
Julietta semakin kesal, marah sampai dia bisa mengeluarkan akte pernikahan dan mau menarik David pergi urus cerai. Tadinya Julietta menemukan satu cara lain yang bagus, menggunakan sedotan, dua orang saling membantu menghisap, buat stroberi palsu dengan sedotan lebih mudah untuk menipu, siapa yang sangka David langsung menggunakan cara itu dan membuat otak Julietta langsung kosong dan hampir lupa dirinya sedang berbuat apa.
Disaat ini petani buah David menundukan kepalanya dan mendekati Julietta "sekarang giliran kamu"
Julietta terdiam. Sepertinya David sangat serius untuk menyelesaikan urusan petani buah ini. Menggunakan empsi kesalnya tadi, Julietta menghembuskan nafasnya, David juga bejkerja sama dengan tidak bergerak dan membiarkan Julietta mencari sudut yang bagus, mencubit didaerah bahunya dan diputarnya. Muka David tidak bergerak, dicubit juga hanya diam berdiri tegak melihatnya, hampir membuat Julietta mengira tenaganya kecil. Disaat dia melepaskan tangannya muncul satu steoberi kecil merah. Julietta lega.
"Baiklah, anggap sebagai satu banding satu"
David berkata "satu orang satu titik merah, seperti digigit nyamuk dan juga sangat simetris, tidak seperti asli"
"Lalu harus bagaimana, mau buat beberapa buah lagi"
"Seharusnya"
Kesakitan yang dirasakan saat dicubit itu, Julietta masih mengingatnya, dengan waspada dia mundur satu langkah dan berkata "jangan asal"
David dengan pelan berkata "ayo kita suit"
Kalau ada keberuntungan, Julietta lumayan bagus, dulu dari temannya sesekali suit itu jumlah menangnya dia lumayan banyak. Julietta percaya diri dan berdiri tegak.
"Suit ya, suit saja, ayo"
Kalau siapa yang menang, dia akan mencubit leher orang yang kalah total tiga ronde. Cara menanam stroberi yang kejam ini, hanya mereka berdua yang bisa melakukannya. Julietta gugup melihat gerakan tangan David, mereka berdua diam saling menatap, Julietta gugup dan mengepalkan tangannya.
"Satu dua tiga, suit"
Julieta gunting dan David Kertas.
"Yeay aku menang" mata Jukietta berbinar dan langsung membuat David menundukan kepalanya "cepat cepat aku mau tanam stroberi"
David menundukan kepalanya dan membiarkan Julietta memilih tempat dilehernya dan berhasil menyisakan satu stroberi. Julietta mengangkat tangannya dengan semangat dan siap siap untuk ronde kedua. Satu dua tiga suit.
Julietta terkejut "asik, aku menang lagi"
David tidak merasakan terkejut, dia hanya menundukan kepalanya dan membiarkan Julietta lanjut menanam stroberi kecil, Julietta mencubitnya dan melihat dileher aDavid sudah ad atiga stroberi kecil yang merah, tiba tiba hati baiknya kembali dan merasa sedikit tidak enak.
"Aku sudah cubit kamu, kamu juga cubit satunkali lagi"
David "baik"
Apakah tidak tahu apa itunamanya malu malu sedikit. Setelah diucapkan Julietta menggigit giginya dan mendekatkan kepalanya membuat David lebih mudah memilih tempat untuk menanam stroberi. Dia menutup matanya dan mengerutkan akisnya dan bersiap siap menyambut kesakitan yang akan datang tib atiba, Hening, terus hening.
Juliett tidak bisa merasakan suara nafas David diatas kepalanya yang stabil, juga tidak bisa merasakan gerakan tangannya. Dia membuka satu matanya perlahan dan melihat David sedang berjalan kearah sofa.
"Kamu mau apa" Julietta tiba tiba takut.
"Jangan jangan cari alat"
David "kamu berpikir terlalu jauh"
Dia membuka satu botol soda dan diam diam meminumnya langsung habis.
Julietta "tidak jadi tanam stroberi lagi pak petani"
__ADS_1
David menolehkan kepalanya dan dengan pelan berkata "kapan kapan saja"
Julietta kembali kekamarnya, dia duduk didepan cermin meja rias dan melihatnya dengan detil, dia melihat titik merah dilehernya memang seperti itu. Mukanya memerah dan sesaat dia merasa tidak enak. Mengingat besok Diana tidak tahu akan melihatnya seperti apa, dia semakin canggung, tina tiba dia merasa ini bukan ide yang baik dengan membohonginya. Tapi dipikir pikir hanya David yang bisa membiarkan dia ribut seperti ini.
DiPikiran dia tiba tiba muncul David berdiri didepannya dan disaat ekspresinya yang santai seperti biasanya, sepertinya ada sedikit rasa yang rumit yang berbeda dari duku, membuat dia tidak tahu sebenarnya apa itu, lupakan, lupakan.
Julietta melambaikan tangannya dan menepuk kepalanya yang berpikir macam macam. Besok masih harus bangun dan dandan, dia lebih baik tidurnlebih awal. Julietta yang berbaring diranjangnya sendirian, memutar badannya dan perlahan lahan muncul rasa kantuk yang membuatnya tidur lelap.
Sementara dikamar David. Tirai jendela ditutup sangat rapat, David berbaring diranjangnya dan sama sekali tidak ada rasa ingin tidur. Setiap menutup matanya pikirannya langsung penuh dengan kulit Julietta yang mulus halus lembut, bibirnya yang merah dan bahunya yang juga mulus, membuatnya penasaran, saat jarinya menempel diatasnya sebenarnya perasaan saat sentuhan iitu seperti apa. Pasti akan sangat indah. Dia memutar badannya dan semakin tidak bisa tidur.
Dipagi hari yang cerah itu, Julietta bangun , mandi lalu dandan dengan semangat, saat dandan dia merasa sedikit tidak beres. Wanita cantik dicermin ini kulitnya sangat bersih putih mulus, bahkan tidak ada pori pori sama sekali, hanya dandan dengan tipis alami saja sudah bisa terlihat warnanya. Tapi Julietta semakin merasa tidak beres, lalu dia berpikir dengan dalam. Sepertinya ada sesuatu yang tertinggal.
Julietta melihatnya denga serius, akhirnya dia menemukan yang tidak beres. Dengan terkejut dia menemukan,, stroberi kecilnya sudah tidak ada dilehernya, tidak ada.
"David David" Dia langsung berdiri dan memanggilnya.
David yang masih mengenakan baju tidur mengusap matanya yang masih mengantuk dan keluar dari kamarnya. Julietta memegang lengan David dan menarik kerah bajunya, dia menjijitkan kakinya untuk melihat kelehernya. David tidak memberontak, membiarkan Julietta melihatnya dan juga membantu Julietta untuk menarik kerahnya agar lebih mudah melihat.
Julietta mencarinya beberapa saat, sudah diduga, tempat yang dicubitnya sudah kembali ke awal, tidak berbekas apa apa.
"Astaga" muka Julietta terlihat murung.
"Kemarin malam aku repot repot untuk apa"
Ekspresi Julietta menjadi berat, dan dengan pelan dia berjalan kembali kekamarnya.
"Aku benar benar bodoh, benar benar bodoh"
"Bisa bisanya aku tidak tahu kalau bekas cubitan itu tidak akan bertahan sampai hari kedua, menurut kamu apakah tenaga kita terlalu kecil"
David diam beberapa detik dan dengan pelan berkata "mungkin".
Pesawat Diana dan Brian jam 5 sore, setelah mereka makan akan langsung siap siap kebandara. Julietta dan David datang tepat waktu kerestoran, mereka bicara juga lebih enak. Julietta mengenakan baju rajutan yang longgar dan rok selutut ditambah boots bulu, lehernya juga memakai syal.
Sesama wanita, Diana langsung melihatnya "syal kamu hari ini sangat bagus"
Julietta tersenyum ramah "lipstik ,kamu warna merah tomat ya"
"Ya kamu juga tahu ini, laki aku malah kira aku pakai warna merah darah pekat"
Julietta tertawa. Dibandingkan dengan mereka, Brian malah tidak tenang, dia ingat kembali, hari itu dipemandian air panas hubungannya dengan David bukan bagus seperti yang dikatakan David ke Julietta. Saat David masuk, Brian sedang mengecilkan matanya menikmati air hangat, disaat melihat David, dia bengong dan merasa gugup ditatapnya. Selanjutnya David memutar badannya dan masuk kekamar mandi, sampai Brian berendam sampai gelap, David juga tidak pernah masuk sekalipun. Siapa sangka pria itu ternyata bos Aquarius dan juga whisper, sebagai sesama pria, pikiran Brian hanya ada satu, ibu tidak disangka aku melihat whisper yang sedang telanjang.
Julietta dengan bingung melihat muka Brian yang memerah, dia berkata "kalau merasa suhu AC terlalu tinggi, turunkan sedikit saja"
"Tidak perlu,,tidak perlu"
Dibandingkan dengan itu, walaupun Diana merasa senang, tapi IQnya tetap ada dan berusaha mempertahankan ketenanganya, dia meminta Julietta untuk memilih di menu, ekspresinya seperti disaat ini aku makan rumput juga senang bersama whisper membuat Julietta merasa malu.
Brian semakin grogi!, setiap saat dia seperti gadis pemalu yang terkadang melirik David, matanya bersinar. Sesekali David kesal ditatapnya, dia meliriknya. David seperti orang yang sangat suka karena namanya disebut oleh fansnya. Bahkan Diana juga tidak tahan, dia, diam diam menendangnya dan berbisik ke Brian
"Jangan memalukan, normal sedikit"
Brian mengangguk, mereka berdua sedikit hati hati ketika berhadapan dengan David, takut dirinya salah bicara atau ekspresinya salah, membuat bos tidak senang.
Siapa sangka David sangat mudah bergaul dan mudah didekati orang, walaupun awalnya dia hanya menganggukan kepala kepada mereka berdua dan terlihat hanya duduk dan tidak suka berbicara membuat mereka berdua tertekan, mau bilang satu kalimat saja harus berpikir panjang apakah kalimatnya benar atau tidak.
Tapi dengan cepat mereka berdua sadar, David juga tidak menunjukan ketidaksenangan sama sekali atau bisa dibilang, fokus dia sama sekali tidak ada di mereka berdua, sepertinya sudah diabaikan seutuhnya.
Perlahan mereka saling kenal, mereka berdua sadar David tidak pernah memperhatikan kata kata mereka, mereka pun juga jadi santai dan tidak seserius di awal.
__ADS_1
Makan siang ini sangat damai, topik hanya berputar putar mengenai Diana dan Julietta. David hanya diam dan tidak berbicara sama sekali, Brian juga takut kalau bicara akan gemetar dan terlihat takut, maka dia hanya memasukan makanan kemulutnya untuk menahan hatinya yang ingin memeluk idolanya didepannya itu.
" kami setelah hari raya akan lamaran, pernikahan akan diadakan di Maret akhir, kebetulan setelah menikah bisa pergi bulan madu"
.Kalian mau bulan madu dimana"
"Belum dipikirkan, aku bioang mau ke Amerika Selatan, dia bilang terlalu berantakan disana"
"Hal keamanan memang harus diperhatikan" ucap Julietta sambil tertawa.
Diana berkata "tidak apa apa, bulan madu dimanapun boleh, lagipula tempat yang mau dituju semuanya sudah pernah, yang penting adalah moods ketika kita berdua bersama"
Julietta tanpa sadar menatap David mendengar kalimat itu, tapi langsung ditatap juga oleh David, dengan canggung dia mengangkat gelas dan meminum jus. Diana melihat gerakan kecil dari mereka berdua, dengan iri dia berkata "benar benar bagus ya, semoga kami setelah menikah beberapa tahun hubungan kita juga akan sebagus ini"
Uhuk uhuk, saat minum jus Julietta hampir tersedak. Dimata Diana melihat hubungan mereka berdua sangat bagus.
Pria ini kemarin masih cubit dia, Julietta hampir curiga apakah David menggunakannya untuk menutupinya, untuk menutupi kenyataan dirinya yang tidak berperasaan dan tidak ada hasrat. Setelah makan setengah porsi steak, Julietta sudah tidak bisa makan lagi, dia hanya lanjut makan salad dan lanjut mengobrol dengan Diana.
Topik Diana mulai sampai kemasalah merawat anak, Julietta tidak berpikir sejauh itu, dia melihat arah muka Diana, dia menggaruk hidungnya, tiba tiba dia merasa ini adalah pernikahan yang sebenarnya. Inisiatif dan jujur, bergandengan tangan dengan pasangan dan bersama sama melangkah kepelaminan, sejak saat ini akan bertambah masalah keluarga tapi juga sangat bahagia.
Suara David dengan pelan terdengar "kamu sudah tidak kuat makan"
Julietta terkejut, selanjutnya tanpa sadar dia melihat David menatap steak dipiringnya yang belum habis "ya tidak kuat makan lagi"
Seperti biasanya David mengambil sisa makanan dipiring Julietta dan memakannya, dibawah tatapan bengong dari Diana dan Brian, dia memotong steaknya menjadi potongan kecil dan perlahan memakannya sampai habis.
Diana astaga, semanis ini ya
Brian Bos memang bos, makan saja elegan seperti ini
Pancaran hati mereka berdua terlihat dari mukanya, hanya Julietta yang bertanya dengan bingung "kenapa" David hanya perduli dengan makanan sisa, termasuk makanan yang tidak dihabiskan Jukietta, sama sekali tidak perduli dengan air liurnya, Julietta juga sudah terbiasa dengan cara mereka berdua berhubungan.
Tidak disangka dimata orang lain bisa dilihat sebagai cinta yang dalam, tidak disangka bos bisa makan makanan sisa dari istrinya, bos setenang itu pasti sudah sering melakukan itu beberapa kali, bos makan saja sudah seganteng itu, pria ini pasti makan sampai kekenyangan.
Julietta "kalian berdua masih bisa dengar aku bicara tidak, halo Diana Brian"
Diana terlihat seperti tersadar dari mimpi, dia melihat David lalu melihat Brian disebelahnya, lalu dia menepuk Brian dan berkata kepadanya.
"Kamu terakhir masih jijik dengan air liur aku"
"Aku salah, aku mengaku salah"
Julietta sedikit tertawa, mereka mana tahu, David hanya memikiki sifat yang rakus. Biasanya dirumah dia juga suka melindungi makanannya, setiap kali tangan Julietta gatal untuk membuli David, dia akan pura pura tanpa sadar mau menyingkirkan makanannya, selanjutnya dia akan melihat David memindahkan makanannya ketempat yang lebih aman.
Satu makan siang yang sangat menyenangkan. Diana menendang Brian memintanya untuk bayar, tapi dihalangi oleh Julietta?
"Jangan jangan, anggap kita yang traktir saja"
"Sangat tidak sopan" ucap Diana
"Hotel ini punya David" ucap Julietta terang terangan.
"Oh" Diana awalnya siap siap untuk bicara lagi, tapi mendengar Julietta bicara seperti ini, sesaat dia langsung canggung dan menarik tangannya untuk kembali duduk.
Diana selalu terkejut melihat kehebatan bos David. Benar benar iri, dia juga mau suatu saat tidur dihotel miliknya sendiri, Brian disebelahnya menarik lengan Diana dan berkata.
"Kamu nanti juga akan punya, tunggu aku yang belikan"
Diana "aku sendiri juga bisa beli"
__ADS_1