
Keesokan harinya, Julietta terbangun membuka matanya, David disebelahnya sudah tidadk ada, dia menjadi lega. Untung saja, saat bangun mereka tidak saling bertatapan atau akan canggung. Julietta jadi berpikir macam macam, terdengar suara sikat gigi elektrik David, dibahunya ada handuk, baju tidurnya longgar, dengan santai dia menyembulkan kepalanya dari belakang pintu, bersamaan dengan suara sikat giiginya dan mulut yang penuh busa dia menyapa Julietta dengan samar.
"Pagi"
"Pagi juga"
Julietta terkejut, gaya David yang sangat alami itu seperti sudah tidur bersama sangat sering dan dia yang pertama bangun dan sikat gigi terlebih dahulu.
Semalam mereka berdua terbungkus rapat rapat, David saat nafsunya memuncak itu tidak bisa melepaskan selimutnya, Julietta juga menjadi tenang. Dia tidur dengan tenang sampai langit cerah dan sekarang sangat bersemangat, kecuali bibir bagian bawahnya yang sedikit bengkak.
Julietta memandangi cermin, sudah diduga bibirnya yang lembut itu lebih besar sedikit dari biasanya. Bisa bisanya bengkak, semua salah David.
Diantara mereka berdua itu yang paling murung David, semalam dia memberontak beberapa kali dari ikatan selimutnya tapi gagal, saat Julietta sudah tertidur, dia mencoba lagi dengan tenang agar Julietta tidak terbangun, tapi dia tetap tidak bisa melepaskan selimutnya, akhirnya dia menyerah. David terbungkus seperti lemper dan menatap kelangit langit sambil berpikir, sebenarnya langkah mana yang salah.
Saat terbangun waktu subuh, David melirik Julietta yang masih tertidur beberapa kali. Dia tidurnya sangat lelap dengan bibirnya yang sedikit terbuka, terlihat sangat imut. David sedikit tergerak, tapi mengingat dirinya masih terbungkus dengan kuat, lalu dia mau melepaskan dirinya dari ikatan selimutnya dulu, tapi tiba-tiba David terjatuh ke lantai, dia menghela nafas lagi dan lagi dan lagi.
Untung saja selimut yang lembut tebal itu mengurangi suaranya saat terjatuh dilantai, jadi Julietta tidak terbangun. David berbaring dilantai dan memikirkan kehidupannya dalam waktu yang lama, lalu memutuskan untuk bangun.
Rencana mereka hari ini kesupermarket bersama, sepanjang perjalanan Julietta selalu melihat sekelilingnya, kekiri, kekanan, kebelakang. Sangat bagus, dibelokan tidak ada orang yang mencurigakan, pandangannya luas, tidak akan ada orang yang tiba tiba bisa lari kearahnya.
Perilakunya yang aneh ini menarik perhatian David disebelahnya, David berpikir, mereka memangnya bukan hanya kesupermarket buat beli barang. David akhirnya tidak tahan melihatnya, dia menekan menahan kepala Julietta yang selalu celingukan itu.
"Kamu sudang apa"
Julietta yang kepalanya ditekan seperti orang bodoh dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Jangan ribut, aku sedang mengobservasi keadaan musuh"
David terdiam. Langkah kaki David berhenti, Julietta sedang berjalan dan hampir saja menabrak David. Julietta bertanya dengan gugup. Kamu sedang apa"
David mengangkat teleponnya, mendengar penelepon menjelaskan sesuatu, setelah beberapa saat dia baru bicara "Ya paham" Dia mematikan teleponnya dan melihat kearah Julietta.
"Aku harus kasih tahu satu hal yang baru aku ketahui"
"Apa"
"Marisa sudah kabur keluar negeri untuk menghindari hutang, dia seharusnya tidak akan pernah kembali lagi"
Julietta terkejut "Benar, kamu yakin dia keluar negeri, tidak akan kembali lagi"
"Kalau kembali, hutang dengan bunga tingginya itu tidak akan memaafkan dia"
"Seperti itu ya"
Mendapat informasi tentang Marisa, Julietta akhirnya menghembuskan nafas merasa lega.
"Bagus, walaupun dia tidak bayar hutang, tapi kehidupan diluar negerinya juga pasti tidak akan bahagia"
Kalau Marisa tidak kembali lagi, maka kejadian dimimpi itu tidak akan pernah terjadi. Julietta merasa memang dirinya yang terlalu khawatir maka seharian selalu berpikir macam macam.
Sebenarnya dia tidak tahu, kalau David meminta Eko mencari orang untuk berpura pura menjadi penagih hutang meneror Marisa, dan bilang akan membunuhnya kalau tidak bayar, ini semua karena Julietta selalu membahas mimpinya. Marisa yang ketakutan dan tidak berani keluar rumah, semalaman dia mencari cara untuk kabur.
Eko bilang, dia menyadari satu hari sebelum kabur, Marisa memang mencoba untuk mencari orang untuk membunuh. Hanya saja saat belum berhasil menghubungi pembunuh itu, terjadi hal yang tiba tiba ini. Dirumah dia masih ada pedang militer.
David menatap Julietta yang masih menepuk dadanya dan terlihat aneh, dia meminta David jangan terpengaruh olehnya. Kalau David mengatakan kejadian yang sebenarnya mungkin Julietta akan semakin takut. Jadi lebih baik jangan diberitahu.
Setelah Julietta tahu Marisaa tidak akan pernah muncul lagi, dia menggandeng lengan David dan langkah kakinya juga jauh lebih rileks.
"Bagus sekali, ini benar benar berita yang sangat baik, untuk dirayakan kita harus makan yang enak hari ini"
Mata David bersinar. Troli belanja sudah sangat penuh dan hampir tidak muat lagi. Dari buah, sayuran, daging dan juga beberapa makanan ringan dan buah kering.
Untungnya David makannya banyak, tenaganya juga banyak, bawa dua kantong belanja besar yang penuh ini juga terlihat sangat santai.
Julietta sebenarnya masih sedikit bingung, kenapa semalam selimutnya David tetap tidak bisa dilepaskan padahal tenaganya besar.
Belanjaanya benar benar terlalu banyak, Julietta juga membawa satu kantong sedang yang berat. Supermarket itu tidak jauh dari rumah, jalan kaki beberapa menit sudah sampai, naik mobil akan terlalu berlebihan, tapi bawa satu kantong yang berat ini jalan kerumah juga tidak mudah.
__ADS_1
Julietta lelah sampai kepalanya penuh dengan keringat, tapi David sepanjang perjalanan terlihat sangat santai dan juga masih bisa melihat beberapa toko kue beberapa kali. Benar benar tidak bisa ditolong lagi.
Disaat Julietta melihat kearah David, dia melirik satu bayangan orang yang gelap seperti yang ada dimimpinya itu sedang berlalri kearah mereka.
Julietta ingat sekali mimpi itu dan terkejut dari kejadian yang seperti pernah dilihatnya itu, tanpa sadar dia mengangkat kantong belanjaanya dengan kedua tangannnya dan melempar kearah orang itu. Brakk.
Orang itu berteriak kesakitan, terdengar suara yang tidak asing itu bersamaan dengan suara barang berat yang terjatuh kejalan berbunyi bersamaan, orang itu terjatuh dijalan.
Setelah melihat wajah orang itu, Julietta terkejut "Tomy"
Orang yang terjatuh itu ternyata Tomy, dia mengenakan baju olahraga berwarna hitam dan topi hitam, dia terlihat kesakitan dan mengelus punggungnya, benar benar tragis.
"Kaka ipar, kamu ini benar benar benci sama aku ya, hidupku sangat menyedihkan"
David hanya terdiam melihat akting Tomy dengan tatapan dingin. Julietta langsung menghampiri Tomy.
"Kamu tidak apa apakan, perlu panggil ambulans, kamu masih bisa berdiir tidak"
Tomy menikmati kehangatan dari Julietta yang memegang lengannya itu sambil melirik pandangan bosnya yang dingin, mau tidak mau dia menarik ekspresinya yang kesakitan. Punggungnya memang sedikit sakit, tapi tidak begitu parah, duduk ditrotoar sebentar maka rasa sakitnya akan hilang.
"Tidak apa, tidak apa, sebentar lagi juga tidak apa"
"Kamu sedang apa disini, kamu tahu tidak kamu yang seperti ini sangat mirip dengan orang yang mau berbuat aneh" seandainya dia pakai masker, Julietta mungkin akan langsung mematahkan kakinya.
Tomy "Aku dapat informasi, Weni suka dengan pria yang suka olahraga pagi, tempat tinggalnya tidak jauh dari sini, aku sedang berencana kesana dan seakan akan ketemu tidak sengaja, setelah melihat kalian aku langsung bersemangat dan mau lari memberi kejutan, lalu aku dilempar terkejut sampai terjatuh"
Weni adalah sekeetaris manisnya.
Julietta "Kamu seperti ini, siapa yang tidak takut dan curiga"
Tomy menatap Julietta dan tidak bergerak. Julietta bingung lalu bicara.
"Kamu sedang lihat apa, kenapa, rambut aku berantakan ya"
"Bukan, nyonya bulan ini sudah akan ada nyamuk, serangga, kamu harus cepat cepat beli obat pengusir serangga"
"Bagus kalau begitu"
"Ya sudah, tidak perlu banyak bicara lagi, aku masih harus membuat pertemuan yang tdidak disengaja dengan weni"
Tomy berdiri dan menepuk nepuk debu yang menempel dibajunya lalu berpisah dengan mereka. Dia lari dua langkah dan mencium badannya, tidak disangka dia mengeluarkan parfum kecil dari kantong celananya dan disemprotkan kebadannya sambil berlari.
Orang ini bisa berteman dengan David juga bukan tidak ada alasan, saat Julietta mengangkat kepalanya, dia melihat David sedang memperhatikannya yang masih berjongkok itu. David menundukan kepalanya dan bertanya "Tadi kamu takut"
"Aku masih terkejut lagi"Julietta menghela nafasnya dan lanjut bicara.
"Maaf berikutnya aku akan perhatikan"
David mengulurkan tangan kearahnya. Dia mengambil kantong belanjaan Julietta dan dipegang dengan tangan satunya, lalu dia mengulurkan lengannya.
"Setiap kali keluar, harus pegang lengan aku, seperti ini kamu tidak akan khawatir lagi"
David menolehkan mukanya dan matahari menyinari pipinya, terlihat cahaya yang menghangatkan. "Pulang"
Julietta tersenyum dan menggandeng lengannya. Mereka berdua jalan dengan diam beberapa saat.
"Kenapa kamu bohong, kita tidak beli obat pengusir nyamuk dan serangga"
"Kamu lebih baik diam"
Mungkin karena perkataan dari David, Julietta menjadi tenang, saat tidur juga tidak pernah mimpi buruk tentang David lagi.
David sangat keterlaluan, setiap malam mencari alasan yang berbeda beda untuk bisa tidur bersamanya, semuanya ditolak terang terangan oleh Julietta dan diusir kembali kekamarnya.
Tentu saja ada saatnya David tidak mau mendengarnya dan berbaring diranjangnya, Julietta juga tidak bisa apa apa dan mau tidak mau menyuruh David berbaring agak ke ujung diranjang.
David sangat diam saat berbaring diranjang, setiap kali bisa tidur dengan tenang. Tadinya dia berpikiran untuk menciumnya, setelah dipukul beberapa kali oleh Julietta dia berubah menjadi penurut.
__ADS_1
Dikantornya, Julietta beberapa hari ini lembur, saat pulang sudah sangat lelah dan hanya mau tidur, mana ada mood untuk berpelukan, berciuman dengan David.
Ini membuat index kebahagiaan David menurun drastis, orang lain dikantor juga terpengaruh, Tomy dan yang lainnya lembur beberapa hari. Dizaman ini dunia IT tidak lebih baik daripada jualan keripik singkong. Mereka menangis sambil lembur.
Julietta sibuk beberapa hari dan hampir lupa dengan acara pernikahan Diana. Dia meminta izin untuk membeli hadiah kecil.
Acaranya diadakan hari sabtu dihotel mewah, Julietta bangun lebih awal dan berdandan, mengenakan gaun panjang dan ujung rambutnya dikeritingkan dan dirapikan dibagian telinga, memperlihatkan telinga dan lehernya yang sangat indah, telinganya memakai anting berwarna perak sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Julietta siap siap agak lama.
Keberadaan David akan menarik perhatian, Julietta tidak mau ketahuan oleh orang lain, ditambah lagi David juga tidak suka dengan keramaian, jadi Julietta memintanya untuk tetap dirumah saja.
"Kamu terserah makan apa saja bebas, aku mau ke acara pernikahan Diana"
David mengangguk dan meminum segelas susu. Dia hari ini juga ada urusan, kebetulan bentrok dengan Julietta, dia bilang.
"Lihat dengan baik disana"
Ini pertama kalinya bagi Julietta menghadiri acara pernikahan didunia ini. Ada banyak mobil mewah ditempat parkir hotel, latar belakang keluarga Diana dan Brian sangat bagus, orang tua mereka sangat mendukung pernikahan mereka ini.
Diana datang menyapanya dan bilang akan ada orang yang menunggu Julietta dipintu, nanti dia akan dibawa keruang rias. Julietta bukan orang yang begitu bisa bersosialisasi, saat berpikir didalam ruangan itu ada beberapa orang, dia sudah memikirkan kecanggungan yang akan terjadi.
Tapi dia juga tidak bisa menolak, setelah dipikir pikir, dia tetap menyetujuinya. Pernikahan hanya ada satu kali, lebih baik mengikuti kemauan mempelai saja. Julietta diajak keruang rias.
Diana sedang duduk didepan meja rias didandani oleh penata rias. Saat Julietta masuk, Diana langsung tersenyum.
"Julietta kamu sudah datang"
Disebelahnya ada beberapa pengirinh pengantin yang cantik, pandangannya berbeda beda melihat teman asing yang baru datang ini.
Julietta tersenyum ramah "Kamu hari ini benar benar cantik"
"Aduh kamu apalagi"
Diana tertawa dan memintanya untuk mengambil kursi, ada orang yang penasaran dan bertanya.
Daiana, kamu tidak kenalkan siapa dia"
Tidak menunggu Diana menjawab, Julietta langsung berkata "Hanya teman yang kenal dari game online"
"Oh seperti itu"
Diana mengerti Julietta tidak ingin membongkar identitasnya. Dia mengedipkan matanya ke Julietta "Akhir akhir ini aku tidak melihat kamu main game lagi, sepertinya kehidupan rumah tanggamu sangat harmonis ya"
Julietta melambaikan tangannya "Mana ada, pekerjaanku terlalu banyak"
Diana "Tidak apa, aku akhir akhir ini juga tidak main lagi, nanti aku ajak kamu main pubg"
Setelah Diana bicara, beberapa wanita disebelahnya langsung tertawa, bahkan tangan penata rias juga gemetara dan menahan tawanya. Julietta melamun sebentar lalu tertawa. Dia lebih baik pura pura tidak terjadi apa apa.
Acara akan dimulai beberapa menit lagi, Julietta juga tidak bisa membantu apa apa, dia meletakakn hadiahnya diatas meja Diana lalu bilang mau duduk ditempat acara. Saat mau keluar dia hampir saja menabrak orang lain yang datang.
"Maaf maaf"
"Tidak apa, tidak tertabrrak"
Beberapa pengiring pengantin pria yang mengenakan jas tertawa. Julietta mengangkat kepalanya, beberapa pria itu langsung terdiam menatapnya dan muka mereka memerah, seluruh mukanya tertulis kata maaf.
Sepertinya karena mengira yang keluar dari ruangan rias adalah pengiring pengantin atau penata rias, siapa yang sangka ternyata adalah wanita yang sangat cantik. Julietta tersenyum sebentar lalu pergi melangkah.
Beberapa pria itu masuk keruang rias dan langsung bertanya ke Diana.
"Wanita tadi itu siapa, cantik sekali, sudah lulus kuliah belum, kalau tidak keberatan bisa kasih aku no hpnya tidak."
"Jangan mimpi, dia sudah menikah"
"Dilihat saja juga terlihat sangat masih muda"
"Sudah menikah juga tidak apa, saat cerai aku akan antri"
__ADS_1
Diana tertawa "Kalian ini, walaupun dia cerai juga tidak akan menyukai kalian anak keturunan orang kaya yang kerjanya hanya berfoya foya"