
Tomy mengantarkan mereka ke bawah gedung, Weni masih mengejek selera Tomy yang aneh, Tomy langsung bilang dua hari lagi beli mobil baru, dan meminta Weni sendiri yang memilih mobilnya. Mereka berdua tersenyum melihat Julietta dan David masuk gedung.
Tomy baru merasa lega "Bagus sekali, kalau nyonya sudah kembali lagi, aku tadinya sudah takut bos tidak bisa melewati musim dingin ini."
Weni "Iya untung saja, tapi em menurut kamu Julietta itu sebenarnya pergi kemana selama itu."
Tomy "Sepertinya Tuhan juga tidak tahan melihatnya kesepian, maka bos dikasih satu bidadari untuk menemaninya."
Weni tertawa "Mungkin juga."
Faktanya sudah tidak lagi penting bagi mereka, dan juga belum tentu semua rahasia harus dibongkar untuk diketahui. Mereka berdua saling melihat satu sama lain lalu kembali masuk ke dalam mobil. Satu batu besar yang mengganjal di hati akhirnya sudah menghilang, malam ini bisa tidur dengan baik dan nyaman.
Bagi Julietta, terakhir naik tangga rumah ini adalah kemarin, dia menggandeng tangan David, lalu membahas cerita tentang yang tidak disangka menjadi kenyataan.
Julietta bersumpah dirinya tidak akan berani bicara macam macam lagi, dia menarik tangan David jalan ke depan, tapi David tiba tiba berhenti. David bicara "Kamu yang jalan duluan."
Seperti takut mimpi buruk terulang lagi, dia jalan di belakang Julietta sambil menggandeng tangannya erat erat. Perjalanan ini sangat panjang, seperti sedang berjalan di jembatan kayu, dia tidak perlu melihat ke belakang juga sudah tahu kalau David saat ini pasti sangat tegang dan melihatnya tanpa mengedipkan matanya, karena takut Julietta menghilang lagi.
Untungnya tidak terjadi apa apa selama melangkah naik tangga, David membuka pintu dan menarik Julietta masuk ke dalam. Selama 8 bulan sudah terlewati, kamarnya masih sama seperti yang dulu, seperti benar benar dia hanya pergi selama satu hari.
"Saat aku tidak ada, kamu makan sehat dengan teratur tidak."
Julietta bertanya sambil membuka kulkas, tidak disangka didalamnya ada buah, dan satu botol yakul pun tidak ada lagi, hanya ada sisa beberapa kotak susu yang belum diminum. David berdiri di belakangnya dan menjawab pertanyaan Julietta.
"Makan tiga kali sehari dengan teratur, makanan ringan juga sudah tidak makan lagi, kalau dingin pasti akan ingat pakai baju tebal, tidur lebih sorean dan bangun pagi lalu langsung olahraga, semua pekerjaan yang harus dilakukan juga sudah diselesaikan, sesekali mengikuti kegiatan sosial."
"Jadi aku tidak akan merepotkan kamu lagi nantinya." David bicara panjang.
Julietta mengedipkan matanya dan berusaha menahan agar tidak menangis, tapi saat melihat ekspresi David yang tidak tenang, matanya pun memerah. Dia menghisap hidungnya lalu menatapnya.
"Kamu mau makan apa."
David "Apa saja boleh."
"Aku lihat dulu ada bahan apa saja dalam kulkas."
Julietta tidak menyangka adalah beras dan mie yang selalu diganti yang baru jadi tidak perlu khawatir terlalu lama dan tidak bisa dimakan. Di dalam kulkas juga ada sayuran yang segar, ada daging dan telur. Julietta terkejut, David itu tidak bisa masak, juga tidak mungkin masak, jadi ini. Sayuran dan buah buahan sesegar ini, walaupun tidak dimakan juga pasti akan diganti yang baru setiap hari oleh David. David setiap hari menunggunya selama ini.
Julietta merasa beruntung bisa mendapatkan cara untuk kembali memasuki dunia ini secepat ini belum seharian, kalau saja dia berada di dunia satunya selama belasan hari, benar benar tidak bisa dibayangkan apakah David masih hidup saat dia kembali,
Julietta membuat satu mangkuk mie kuah yang simpel dan dua buah telur rebus untuk David. Dia sudah makan cukup kenyang di kantor polisi tadi.
Mereka berdua duduk di meja makan berseberangan, David memegang garpu tapi beberapa saat tidak bergerak. Dia menundukan kepalanya menatap mangkoknya, rambutnya turun menutupi dahinya dan tidak terlihat emosi di matanya.
Julietta bicara lembut "Cepat dimakan, nanti mienya dingin."
David tiba tiba tersedu sedu, di ruang makan yang sangat sunyi ini, Julietta hampir tidak percaya, David itu sedang menangis. Julietta melamun, lalu dia melihat David yang memegang garpunya dan mulai makan mienya.
Suara menghisap mienya tidak besar tapi cukup untuk menutupi suara lainnya. Dia selesai makan mie dan telurnya, lalu menghabiskan kuah di mangkoknya sampai bersih.
Julietta bertanya "Belum kenyang yah."
David meletakkan mangkoknya ""tidak, sudah kenyang."
David sudah lama tidak makan sebanyak ini. David mencuci piring seperti biasanya dan tidak terdengar suaranya beberapa saat, tapi terkadang dia akan melihat sesekali apakah Julietta masih ada atau tidak. Walaupun Julietta sudah bilang dan janji tidak akan pergi menghilang lagi, tapi David terlihat tetap tidak tenang. Julietta ke kamar mandi pun David juga mengikutinya, tapi dihadang di luar pintu oleh Julietta.
"Aku hanya ke kamar mandi."
"Aku tidak keberatan."
__ADS_1
"Aku yang keberatan." Julietta sedikit kesal.
David berdiri diluar pintu, pintu toilet dikunci, setiap beberapa menit dia akan memanggil nama Julietta dan Julietta akan langsung menjawabnya. Saat mandi juga harus terus bicara dengan David, membuat Julietta meminum air shower mandinya sampai hampir tersedak. Dia mengerti perasaan David saat ini, oleh karena itu tidak akan keberatan dengan permintaan David itu.
Saat tidur, David memeluknya dengan pelan, hidung Julietta hanya bisa mencium wangi badan David. Mereka berdua berpelukan, David tidak melakukan apa apa, hanya memakaikan selimut dan tidur bersamanya. Mereka hanya menutup matanya tetapi tidak mengantuk.
Setelah berbaring terdiam beberapa saat, Julietta mulai merasa sedikit lelah dan akhirnya tertidur lelap di tengah malam. Dalam keadaan setengah sadar, dia mendengar suara David yang tidak tenang sedang memanggilnya.
"Julietta."
Julietta masih menutup matanya dan mencium dagu David tapi terus berada di dalam pelukannya.
"Aku sudah ngantuk diisni."
"Aku akan selalu ada disini."
Keesokan harinya, saat terbangun, langit sudah sangat cerah. Julietta mengusap matanya dan tidak menyangka dirinya tidur selama ini. Dia membuka matanya perlahan dan langsung melihat wajah David didepannya.
Kedua mata David itu sedang menatap dirinya, tidak tahu berapa lama, tapi Julietta curiga kalau David itu tidak tidur sama sekali. Julietta langsung memeluknya dan menatapnya.
"Kamu kapan bangunnya?"
"Baru saja bangun."
"Bohong, pasti tidak tidur dengan baik."
Julietta tahu tidak bisa menyalahkannya. Bagaimanapun juga dirinya hilang selama beberapa bulan, kalau David bisa tenang itu baru aneh. Julietta bertanya.
"Kamu tidak mau tanya yang sebenarnya aku pergi kemana?"
Seperti mendengar sebuah kutukan, David langsung menutup telinganya. Mereka saling bertatapan.
Kebetulan dia juga tidak perlu bilt dan bingung kalau harus menjelaskan kepada David semuanya ini. Setelah berpisah, David jadi terus menempel dengan Julietta dan menjadi penurut, sama sekali tidak akan membuat Julietta marah atau kesal.
David ini memang aneh, saat busuk dia selalu membuatnya kesal marah, tapi saat tidak busuk dia selalu membuatnya khawatir. Julietta yang kembali dari dunia satunya selalu menemani David.
Mereka berdua bergandengan tangan belanja, jalan jalan di taman, sama sama sibuk di dalam dapur, dan malam hari tidur bersama berpelukan. Kalau David tidak terus memanggil nama Julietta saat sedang ke kamar mandi akan lebih bagus.
Julietta sedang memasak di dapur, David menjadi asistennya yang sedang membantu mengupas kulit kentang. Julietta hanya mendengar suara mengupas itu yang tiada henti, lalu dia melihatnya, David yang sedan berdiri di sebelah tong sampah dan mengupas kentang tiada henti membuat ukuran kentang yang hanya tersisa sebesar buah plum dan terus dikupasnya beberapa kali.
Julietta "Kamu sedang apa."
David "ini sehat."
David diusir dari dapur dan hampir dipukul. Julietta lanjut mengupas lalu memotong kemtang yanb baru untuk dimasukkan ke dalam panci, tidak tahu kenapa, terasa ada pandangan yang terus menatapnya dari belakang membuatnya tidak nyaman.
Julietta melihat ke belakang dan tiba tiba terdiam. Seorang bos besar Aquarius. Bersandar di kulkas dan duduk di lantai, kedua tangannya dilipat di kedua kakinya, hoodie dari jaketnya yang menutup setengah wajahnya juga dipakai dan kedua matanya sedang menatapnya dengan diam.
"Kenapa kamu duduk di lantai."
"Apakah aku membuat kamu marah lagi."
"Kamu jangan berpikir terllau banyak."
Dia mau tertawa dan pasrah dia jalan ke depan kulkas untuk mengambil bahan makanan, David bergeser sedikit tetap duduk dilantai dan membantunya membuka pintu kulkas dan tetap dengan diam melihatnya. Julietta mengambil beberapa sayur hijau, setelah melihat ada satu kotak tomat chery, dia juga mengambil semuanya. Pandangan David tertuju ke tomat chery itu lalu dia membuka mulutnya. Aaa.
Julietta geli melihatnya, dia mengambil satu buah tomat chery dan langsung dimasukkan ke dalam mulut David tanpa dicuci dulu, David sama sekali tidak perduli tomat itu bersih atau tidak, dia hanya menikmati rasa manis dari tomat itu.
Mereka berdua makan dengan diam, untuk menambah nutrisi David, Julietta terus memberi dia potongan daging, sampai membuat David kekenyangan. Benar benar momen yang sangat langka.
__ADS_1
Mulut David masih sangat penuh dan bertanya dengan suara tidak jelas. "Nanti liburan malam tahun baru mau pergi keluar tidak."
Julietta "hmm pergi keluar ya, tidak ada tempat yang sangat ingin aku kunjungi."
Sebenarnya diam dirumah juga sudah sangat bagus.
"Kalau begitu tahun baru ini kita dirumah saja,"
"Baiklah."
Setelah mandi malam, Julietta sedang mengeringkan rambutnya, David langsung mengambil mesin pengering rambutnya dan membantu Julietta mengeringkan rambutnya, tidak tahu halusinasi atau bukan, Julietta seperti mencium satu bau gosong, dia terus menciumnya dan bertanya.
"Apakah rambut aku terbakar."
David diam diam menyembunyikan beberapa helai rambut ke dalam kantong celananya.
"Tidak ada."
Setelah mengeringkan rambutnya, David membantu Julietta mengoleskan minyak perawat rambut, walaupun tidak begitu handal, tapi gerakannya sangat pelan, tanpa sadar sudah membuat Julietta sedikit mengecilkan matanya. Rambut dan kepala dia yang dipijit pelan oleh David rasanya sangat nyaman, membuat dia mulai mengantuk dan menguap.
David mengelap tangannya sampai bersih lalu memeluk pinggang Julietta dari belakang. Nafas David yang hangat menyembur ke kulit leher Julietta.
"David."
"Iya."
Tangan David menggesek dengan pelan di perutnya mencoba untuk membuka bajunya. David memiringkan wajahnya dan bibirnya menyentuh leher Julietta, meninggalkan bekas ciuman satu baris. Badan Julietta menjadi tegang dan mukanya memerah. David memeluknya erat erat dan memutar badannya pelan lalu mencium bibirnya.
Julietta sedikit geli dibuatnya dan mau tertawa, kulitnya yang tersentuh menjadi geli dan mati rasa, dia ingin bergerak dan melepaskan pelukan David, tapi setelah beberapa saat dia hanya mendengar suara nafas David yang pelan. Julietta terus dicium sampai pusing oleh David, dia hanya merangkul bahunya dan jarak mereka berdua menjadi semakin menempel dekat.
David menekan kepala belakangnya dan menciumnya dalam dalam, membuat Julietta mau tidak mau mengangkat kepalanya.
"David."
"David."
Awalnya serangan ciuman David sangat lembut, seperti sedang memperlakukan satu harta karun yang mudah pecah, setiap ciumannya itu sangat hati hati. Tapi perlahan lahan gerakan dia semakin intens dan membuat Julietta mulai sedikit takut.
Semakin dia memanggil namanya, David akan semakin tidak bisa mengendalikan dirinya untuk membuat bekas merah di kulitnya. David menggigit bibirnya dan membuat Julietta kesakitan, selanjutnya kesakitan itu ditelan lagi di dalam ******* ciumannya.
Julietta seperti seekor kambing yang sedang menunggu dipotong, kulitnya yang putih semuanya terlihat dari luar jelas, suhu di dalam kamar sedikit rendah, Julietta takut dingin dan langsung memeluk David. Seluruh badan Julietta menempel di badan David. Disaat dia sudah siap siap memasuki tubuhnya untuk melakukan langkah terakhirnya. Tiba tiba. David terdiam. Pipi David berada di leher Julietta dan tidak bergerak. Julietta yang tergeletak di atas ranjang dalam pelukannya dengan muka yang memerah, setelah beberapa saat tidak melihat David lanjut, dia mulai kebingungan dan mengedipkan matanya. "David."
Bisa bisanya David melepaskannya, dia duduk dengan wajah tanpa ekspresi, matanya masih terdapat hasrat yang memuncak tadi. Dia memakai baju tergesa gesa dan terlihat seperti mau istirahat, membuat Julietta kebingungan. Julietta mulai berpikir, sebenarnya ada salah dimana. Sampai dia berpikir kalau dia sudah tidak memiliki daya tarik untuk David.
Pikiran Julietta tiba tiba memikirkan satu alasan yang memungkinkan. Dengan wajah yang mulai memucat dia bertanya.
"Apa kamu, em jangan jangan em jangan jangan sudah tidak bisa lagi."
Dipikir pikir mungkin juga benar, selama ini tidak bertemu dengannya, ditambah lagi dia depresi dan berbagai masalah lainnya, memiliki dampak seperti ini juga sudah hal yang biasa. Julietta mulai mempertimbangkannya, walaupun David tidak bisa, tapi dia akan tetap selalu cinta dan setia ddengannya. Dia tidak akan meninggalkannya hanya karena hal ini.
David terdiam, dia tiba tiba berhenti memakai baju dan menatap Julietta lalu bicara. "Karena tidak ada stok alat pengaman lagi diisni, aku pergi keluar turun beli dulu."
Julietta hanya mengangguk, maaf dia salah sangka. Disaat dingin seperti ini dan turun keluar lagi, sedikit merusak suasana. Julietta menutupi badannya dengan selimut, setelah ragu ragu dia memberikan satu saran.
"Sebenarnya tidak perlu pakai pengaman juga tidak apa."
Ekspresi David sangat keras. "Tidak boleh."
Ekspresi dia yang keras itu sedikit mengejutkannya.
__ADS_1