Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
46


__ADS_3

Julietta lega, terkadang dia juga secara  bersahabat memberikan makanan buatannya sebagai tanda terima kasih, tidak perduli bagaimana, Julietta tidak pernah ada pikiran untuk memintanya makan ditempatnya.


Akhir akhir ini Julietta mendapatkan pekerjaan, kerja paruh waktu membuatkan draf gambar untuk orang lain, mendapatkan pendapatan sedikit, kehidupannya juga mulai stabil. Erick merasa senang untuknya.


Sebelum pergi, Julietta memberikan satu kotak makanan, Erick menerimanya setelah berpamitan dia batu keluar. Dia sedikit tersenyum bahagia tanpa sadar, saat dia belok dari gedung itu, ada satu orang yang melewatinya, Erick memiliki satu pemikiran, dia merasakan orang itu terlihat tidak asing.


David melepas topinya dan melihat kebelakang, melihat bayangan Erick pergi. Dia mengangkat kepalanya melihat gedung tempat tinggal Julietta, lalu dia melihat Erick sudah menghilang di ujung jalan, dia terdiam sangat lama. Setelah itu.


David mengeluarkan HPnya dan menelepon, nada bicaranya yang datar terdengar sangat jelas di lorong jalan yang hening "panggil Erick kembali ke klub, tidak perduli alasannya apa"


Beberapa hari kemudian, Julietta berjalan pulang, beberapa hari ini Erick sudah tidak muncul dihadapannya membuatnya tenang, sudah tidak perlu berpikir keras bagaimana cara menolak Erick. Dia menenteng sekantong sayuran dan buah, kebetulan masih keburu mendapat diskon disupermarket.


Masak untuk satu orang sulit dibuat, dia sering membuat masakan satu panci besar karna kebiasaannya, jadi dia mau tidak mau makan makanan yang sama sampai lambungnya tidak enak dan tidak mau melihat makanan itu lagi. Julietta mengingat besok harus masak, dia pusing lagi.


Dia terkadang malas malan dan memesan makanan, sayuran ini masih bisa disimpan beberapa hari. Langkah kaki Julietta tidak lambat, hidup seorang diri harus memperhatikan diri baik baik, kalau saja diikuti orang akan bahaya. Tapi disaat ini dia mendapat perasaan tidak enak, membuat kepalanya mati rasa dan seluruh badannya tidak nyaman. Julietta menoleh kebelakangnya.


Beberapa hari ini dia selalu ada firasat buruk, dia takut malam hari tidur mimpi buruk. Pejalan kaki dijalan ini tidak banyak, walaupun Julietta seberani apa, dia juga tetap sedikit takut, jadi dia mempercepat langkah kakinya.


Disaat ini terdengar suara tertawa "takut apa gadis, kamu tinggal dimana, aku temani antar"


Julietta sudah siap siap mau menghajarnya dengan kantong sayurannya tapi tiba tiba ada orang yang gerakannya lebih cepat darinya, satu tonjokan mendarat dimuka orang usil itu, darah dari hidungnya mengakir, lalu satu tonjokan lagi membuatnya kesakitan teriak dan lari.


Julietta terkejut menyaksikan kejadian ini. Sampai dia melihat dengan jelas orang yang memukul itu siapa dia langsung bengong "David"


David melindungInya dibelakang badannya, dia menundukan kepalanya dan menatap pria lain yang terbaring dan berteriak dijalan. Tatapan kedua matanya itu melihat pria yang gemetar dan langsung lari kabur. Julietta ketakutan.


"Kamu kenapa tahu aku ada disini, apakah kamu sudah mengikuti aku beberapa hari"


David "kebetulan lewat"


"Aku sudah bilang jangan cari aku kan" Julietta mundur beberapa langkah.


"Terima kasih, nanti nanti aku akan perhatikan, kamu juga cepat pulang"


David terdiam tidak bicara, terus menatapnya.


"Kamu pergi pulang" ucap Julietta lagi.


David tetap terdiam. Julietta memutar badannya dan lanjut berjalan keapartemennya. David dibelakangnya seperti tidak takut kalau dia marah, David mengikutinya dari jauh dan tidak berani mendekatinya, sampai Julietta naik tangga, dia berdiri digerbang komplek apartemennya, melihat lampu kamar Julietta menyala disetiap ruangannya.


Julietta kembali keapartemennya dan mengunci pintu. Dari lubang kecil pintu, dia tidak melihat David, dia berharap David sudah pergi. Diluar mulai turun salju.


Salju mulai memenuhi tanah dan membuat semuanya menjadi putih bersih. Julietta membuka jendela sedikit untuk membiarkan angin masuk. Disaat ini dia tanpa sadar melihat disekumpulan warna putih ada satu bayangan badan berwarna hitam. Orang itu duduk dianak tangga dan tidak bergerak, badannya penuh dengan salju. Terlihat sangat kesepian.


Julietta menutup jendela dan tirainya. Dia memberitahu dirinya tidak boleh melakukan hal yang sama, tidak boleh lemah. David juga bukan anak kecil, kalau salju besar, dia pasti akan pulang tidak perlu merasa khawatir. Julietta menganggapnya tidak melihat apa apa dan ganti baju lalu mulai masak. Salju diluar semakin besar.


Itu sepertinya salju terbesar dilbulan ini, langit yang berwarna gelap menutupi cahaya merah, seluruh area tertutup oleh lautan berwarna putih. Kaca jendela luar tertutup,oleh selapis embun, sedikit tidak bisa melihat dengan jelas keluar, Julietta ragu ragu sebentar dai jalan kedepan jendela dan dia mengelap jendelanya dengan asal.


Pemandangan yang tadi buram sekarang menjadi jelas. Dia melihat kebawah dari jendela, sekilas dia hampir tidak bisa menemukan bayangan David. David masih duduk dianak tangga, selama ini dia tetap tidak bergerak, badannya tertutupi salju, seperti mau menyatu dengan salju. Julietta mengerutkan alisnya dan bergumam dia ini gila ya.


Julietta mondar mandir dalam apartemennya yang sempit, akhirnya dia tetap tidak tega. Salju ini tidak tahu akan turun sampai kapan, kalau David tetap duduk semalaman, mungkin dia akan demam tinggi. Dia dari dulu tidak pernah menyayangi badannya sendiri, seperti badannya tersiksa seperti apa juga tidak ada hubungannya dengan dia.


Julietta mengenakan jaketnya dan mengisi satu botol air panas, lalu dia turun keluar dengan cepat.


David masih duduk dianak tangga seperti batu, dilihat dari ketidakfokusannya, bisa mengenakan jaket tebal tanpa diingatkan Julietta saja sudah bagus. Julietta berdiri dibelakang David dan memanggilnya "David"


David mengangkat kepalanya, salju dibadanya jatuh ketanah. Wajah dia jauh lebih pucat dari biasanya, warna bibirnya juga pudar sampai tidak terlihat jelas, bulu matanya ada salju. Saat kedua matanya yang tadinya tidak memiliki semangat, menatap Julietta, akhirnya ada sedikit semangat.

__ADS_1


"Kamu gila ya, salju sebesar ini kenapa tidak pulang"


Hening beberapa saat. David menjawab "tidak punya rumah"


Ucapannya itu sangat menyakitkan seperti jarum yang menusuk hati Julietta, sesaat Julietta tidak tahu harus berbuat apa. Julietta menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya.


Dia jongkok disebelah David dan membuang salju dibadannya, botol air panas ditangannya diberikan kepelukann David. Saat menyentuh jari David yang sangat dingin seperti es membuatnya mengerutkan alisnya.


David tidak berkata apa apa, dia hanya melihat gerakan Julietta, sampai pandangan Julietta melihat kearahnya dia langsung menundukan kepalanya seperti takut membuat Julietta kesal marah.


"Pergi cari hotel dan istirahat"


Julietta berdiri "setelah tidur, naik pesawat pulang, jangan datang lagi kesini"


David sangat lama tidak membalas ucapannya. Dia bertanya "apakah karena aku"


"Apa"


Julietta tidak tahu kalau David datangnya jauh lebih cepat dari yang diperkirakannya. David menemukannya berdasarkan transaksi ATM dan data tiket pesawat tapi dia melihat Julietta sudah memotong pendek rambutnya seperti sudah bertekad untuk memutus hubungan dengan masa lalu. Langkah kaki dia berhenti dan tidak bisa maju, sampai Julietta hilang masuk kegedung.


"kamu tidak suka diganggu seperti ini"


Jadi untuk menghindarinya dia rencana lari kekota lain dan merubah penampilannya untuk memutuskan hubungan dengannya. Julietta tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa menghindari topik ini.


"Kamu cepat pulang, nanti langit tambah gelap susah cari taksi, aku pergi dulu"


Julietta memutar badannya, tiba tiba satu tangan menarik lengan jaket Julietta menghalanginya jalan. Tenaganya tidak besar, asal disenggol sedikit akan langsung terlepas.


"Tidak bisa pakai cara yang sama"


Bilang kata kata seperti jangan pergi, Julietta tidak mungkin akan mengalah lagi.


David duduk dianak tangga, dia kedinginan sampai kaku, nafasnya yang dikeluarkan langsung menjadi asap putih. Tapi dia menarik jaket Julietta dengan memelas kasihan. Tidak seperti sedang menyatakan perasaan, seperti sedang memohon, semoga Julietta bisa memberi David seikit perhatian sudah cukup.


Mereka berdua terdiam, hanya ada suara angin yang terus terdengar.


"Kamu pulang" suara Julietta terdengar dingin.


"Jangan datang lagi"


Julietta melepaskan tangan David dan langsung melangkah masuk gedung. Dia berpikir dia hatus menjadi dingin sedikit agar David tidak berharap apa apa padanya. Ditolak seperti itu, orang seperti David yang takut terluka pasti tidak ada pemikiran untuk menunggunya lagi.


Julietta mendengar suara botol air mengelinding dilantai. Dia belum sempat melihat kebelakang, dia langsung dipeluk David dari belakang dengan erat, seperti takut Julietta akan kabur, sesatt tidak ada maksud untuk dilepaskannya. Julietta terkejut, dia menabrak pelukan David dan tidak bisa bergerak dia pun kebingungan. Perilaku seperti ini benar benar tidak seperti David.


"Kamu"


"Aku mohon sama kamu"


Sikap dan nada suara David sangat sedih, kalau David yang memohon seperti ini dilihat Tomy dan yang lainnya, mungkin mereka akan sangat terkejut.


Julietta sangat galau untuk mengeraskan hatinya untuk memarahinya, dia hanya bisa merasakan badan David yang sangat panas, panasnya melebihi sedikit tidak normal. Apakah dia demam.


Julietta belum sempat bertanya, David melepaskan dekapannya dan terjatuh kelantai tidak sadarkan diri. David terjatuh kelapisan salju dengan keras membuat Julietta panik. "David"


David demam tinggi dan diantar kerumah sakit dengan ambulans. Julietta panik, untung sudah dipastikan David tidak ada masalah serius, hanya demam tinggi dan darah rendah karena lama tidak makan, emosinya juga tidak stabil membuat dia langsung pingsan seperti ini. Duduk dipinggir ranjang pasien, Julietta menghela nafasnya dan tidak tahu harus bagaimana.


"Kamu kenapa bosan hidup sampai sekarang, sudah dewasa seperti ini masih tidak bisa merawat diri sendiri"

__ADS_1


Julietta menatap David yang diinfus dan belum sadar. Kening dia masih panas, demamnya belum hilang, bibirnya bergumam kata kata aneh, Julietta mendekatinya baru bisa mendengar dengan jelas, dia terus bilang jangan pergi, bahkan tangannya juga mau mendekatinya tidak bertenaga.


Julietta takut jarum infusnya menusuk pembuluh darah lain, maka Julietta memegang tangan David itu. Saat jarinya menyentuh, gerakan David lebih cepat darinya, David langsung menarik tangannya dan memegangnya tidak mau melepaskan. Dia tertidur dan tidak bergumam lagi tapi tangannya itu tetap tidak mau dilepaskan.


Julietta menjadi canggung "apakah aku benar benar hutang sama kamu dikehidupan sebelumnya, sampai membuat aku datang untuk membayar hutang""


Tangan Julietta lembut dan lemas, tangan David yang besar dan kuat menutupi tangan mungil Julietta. Tangan David sedikit panas, hati Julietta gemetar dan diam diam berkata David ini benar benar tanpa sadar mencari keuntungan.


Julietta hanya bisa duduk disampingnya menatapnya, tidak tahu apakah ini mimpi, beberapa hari tidak bertemu, David sepertinya sedikit kurus dan murung. Julietta lagi lagi menghela nafasnya.


Julietta paling tidak bisa melihat orang sakit, murung dan kasihan, David seperti ini terus, Julietta terus bagaimana cara menolaknya. Setelah David terbangun, dia tetap tidak mau melepaskan tangannya, membuat perawat yang mau mengganti cairan infusnya tersenyum iri.


Julietta canggung dan wajahnya memerah, meminta David melepaskan genggamannya tapi David pura pura bodoh. 


"Em darah keluar" akhirnya David melepaskan genggamannya.


Setelah itu, Julietta kemana, pandangan David terus akan mengikutinya, kalau Julietta keluar mengambil obat, David juga pasti akan mengikutinya sambil membawa infusnya, seperti takit dia akan kabur, kejar maling saja tidak mungkin diikuti seperti ini.


Julietta merasa tertekan. Dia memotong apel untuk David, mata David tidak berkedip, orang yang tidak tahu akan mengira dia sedang nonton film atau kenapa.


"Aku pergi beli makanan"


"Jangan pergi" tanpa sadar David menarik tangan Julietta lagi.


"Kita harus makan"


David menjawabnya dengan pandangannya yang diam. Julietta tidak ada cara lain, dia hanya bisa makanan dari rumah sakit dan meminta perawat mengantarnya. David menatapnya sangat lama membuat Julietta tidak nyaman, kalu bukan karena dia sedang sakit, dia pasti akan menamparnya.


Setelah makan, Julietta baru mau berdiri, David ikut berdiri.


"Aku mau ke toilet"


"Aku ikut kamu"


Julietta menatapnya kesal "duduk"


Disaat David sedang demam dan pingsan, Julietta mengirim pesan ke Tomy. Dia memberikan lokasinya dan menunggu Tomy datang menjemput David. Saat Tomy datang, David sedang tidur, Julietta keluar dari ruang pasien tanpa suara, melihat Tomy, mata Tomy ada air mata, orang yang tidak tahu mungkin akan kira kenapa.


"Nyonya"


Julietta heran, hanya beberapa hari tidak bertemu saja, perasaan Tomy dengan Julietta sedalam ini, kenapa terlihat seperti mengalami perpisahan yang sangat sulit. Julietta mana tahu dirinya sudah dikira meninggal oleh Tomy


"Kamu rawat David baik baik"


"Nyonya mau kemana"


"Kalian jangan cari aku lagi, juga jangan panggil aku nyonya"


Melihat David seperti ini, bagaimana mungkin hati dia tidak sedih. tapi dia harus inisiatif dan bersikeras mengakhiri pemikiran David itu, membuat dia jangan memiliki perasaan apapun dengannya. Waktu akan membawa pergi semuanya.


"Tidak bisa, kamu tidak bisa pergi" Tomy bicara sangat khawatir


"Bos sudah beberapa hari tidak makan tidak tidur kalau begini terus dia bisa mati"


"Dia hanya sementara tidak bisa menerima, lewat beberapa minggu akan membaik, kalau lapar pasti akan makan, kalau mengantuk pasti tidur, tubuhnya akan mengaturnya untuk dia" Julietta membuang muka dan berkata lagi


"Dia sudah dewasa, siapa meninggalkan siapa, mana mungkin ada yang tidak bisa hidup lagi"

__ADS_1


"Bos bisa"


Tidak disangka Julietta sesaat tidak ada alasan untuk membantahnya dan merasa iba. Julietta juga tidak mengerti dirinya memiliki pemikiran seperti apa. Dia tidak bisa tegas meninggalkan David yang sedang sakit.


__ADS_2