
Diruangan kantor, David yang sedang menatap layar komputer memperlihatkan beberapa foto gaun pengantin, dan dengan cepat disimpan olehnya satu persatu.
Julietta menyelesaikan pekerjaannya dan akhirnya bisa istirahat sebentar, dia menyandarkan bahunya dikursi yang empuk dan melihat media sosialnya, dia menggeser jarinya kebawah dan semua rekomendasi yang diberikannya semuanya adalah foto gaun pengantin.
Julietta berpikir teknologi sekarang benar benar canggih, dia kemarin hanya melihat sekilas beberapa foto gaun pengantin di inetrnet, tidak disangka bisa mengirimkan data pencariannya.
Tadinya Julietta mau menghapusnya satu demi satu tapi tiba tiba dia melihat gambar satu gaun yang sangat menarik perhatiannya. Gaun putih yang bertaburan batu bening berkilauan menjepit dibagian dadanya dengan bagian pinggangnya kecil, ujung gaunnya juga sangat panjang, warna putih polos yang benar benar murni dan tidak ada cacatnya. Mata Julietta langsung bersinar dan rasa penasarannya membuat dia lanjut membuka gambar itu diperbesar. Selanjutnya adalah dia yang melihat satu gaun pengantin itu tanpa selesai selesai, dilihat dari semua sisi dan membuat Julietta berantakan. Benar benar terlalu indah, dia melihatnya sampai ingin menikah, eh salah dia sudah menikah haha, dalam hatinya.
Wajah Julietta agak murung. Tanpa sadar waktu berlalu dengan cepat saat dia melihat gambar gaun itu di laptopnya, dia terkejut dan melihat waktu sudah lewat hampir 3 jam dihabiskannya hanya untuk melihat gaun pengantin itu dilayarnya.
Dia masih ada banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Saat mau mematikan ponselnya, Julietta melihat berita di internet sekilas dan melihat satu trending topik yang tersebar. Seorang pria menganiaya memukul wanita ditempat.
Foto dan video dilokasi itu diburamkan. Orang lain mungkin tidak bisa melihatnya, tapi Julietta tidak mungkin lupa dengan wajah Marisa itu. Aneh, Marisa bukannya sedang menipu uang, kenapa tiba tiba dia dihajar pria lain dan juga dia ternyata adalah kekasih gelapnya,
Komentar dibawahnya terus bertebaran ada yang memaki pria itu, ada yang memaki wanitanya, ada yang memaki hak wanita, ada yang memaki hukum negara, lalu ada orang yang memberi informasi, pria itu sebenarnya adalah direktur perusahaan alat kebutuhan IT dan dia punya keluarga dan di video itu mulutnya terus memaki wanita murahan yang menyelingkuhinya, orang yang bisa melihat pasti akan mengerti sendirinya.
Direktur ini benar benar menyedihkan, bukan hanya diselingkuhi, tapi dirinya juga tidak tahu kalau dia masuk berita terhangat. Identitas pria itu terbongkar, banyak orang yang langsung berkomentar dan membuat banyak orang tertawa. Marisa disalam video itu dipukul beberapa kali sampai menangis, dia mau menjelaskan tapi pria itu tidak mau mendengar.
Julietta bingung melihatnya tidak mengerti sebenarnya Marisa kenapa. Julietta mengirim pesan ke David.
Marisa itu kenapa.
Tidak tahu, hanya itu Jawaban pesan David.
Julietta berpikir mungkin karena Marisa sudah melakukan banyak hal jahat maka itu adalah balasan untuk semua kejahatannya.
Marisa tidak menyangka dirinya sudah merencanakan semuanya dengan sangat baik itu tiba tiba kekasihnya datang untuk memukulnya dan memintanya untuk mengembalikan uang. Marisa sangat marah dan karena dia akan memiliki harta miliaran maka dia langsung memutuskan hubungan dengannya. Tadinya dia juga tidak ada rencana untuk mempunyai anak, sekarang kebetulan dia bisa menjadi wanita kaya raya tidak perlu khawatir dengan kehidupannya seumur hidupnya.
Untuk menghindari tidak ada bukti ayah biologis dari anak ini dikemudian hari, setelah mengatasi maslah kekasihnya dia memutuskan untuk mengaborsi anaknya. Hari berikutnya dia mendapatkan uang dan gedungnya. Marisa menerima pesan dari temannya yang bekerja diperusahaan properti.
Marisa, aku punya satu apartemen yang lebih luas, kamu mau tukar tidak, waktunya mepet, kamu hanya ada waktu beberapa jam untuk memutuskan hanya lebih mahal 5milyar, bisa mendapatkan apartemen mewah yang lebih luas dua kali lipat.
Mata Marisa bersinar dan sangat senang. Ini bukannya dewi fortuna yang datang menghampirinya, dia langsung membalasnya.
Mau mau, simpan satu buat aku.
Dirinya sekarang tidak ada beberapa milyar, hampir semuanya sudah dihabiskannya, tapi dia bisa pinjam uang dan menjual beberapa barangnya, tidak lama kemudian uang itu akan kembali lagi.
Untuk merayakan keberhasilan dirinya itu menjadi wanita kaya raya, Marisa merayakannya dengan makan bersama teman sosialitanya, dia yang traktir semua. Setelah makan dan mabuk seharian, Marisa akhirnya bangun tidur dan keluar dengan sempoyongan. Dia menelepon teman baiknya tapi tidak tersambung.
Marisa terus meneleponnya, tapi tidak lama kemudian dia mendengar suara operator nomor itu sudah tidak aktif. Marisa panik, dia langsung mandi lalu bersiap pergi keluar, naik taksi menuju gedung apartemen yang dimaksud temannya, dia yang jalan agak sempoyongan langsung menarik perhatian penjaga gedung dan langsung menghalanginya.
"Anda mau apa disini"
"Aku mau ketemu teman, aku beli apartemen disni aku pemilik gedung apartemen ini"
Para penjaga itu saling melihat satu sama lain seperti melihat orang gila.
"Maaf ibu, gedung ini adalah gedung yang belum jadi dan disegel pemerintah, sudah lama tidak ada dana lagi, dan juga sudah masalah kualitas bangunanya yang menyalahi aturan sudah terbongkar, para investor bukan hanya lari tapi juga menunggak gaji pekerja sebelumnya, bagian dalamnya sudah dibongkar para pekerja yang marah, batangan besi saja hampir dicuri semuanya oleh mereka, kita bertugas untuk patroli, pasti tidak ada yang bisa menjual gedung ini ke anda, gedung ini setidaknya sudah dibuang hampir setahun ini dan sedang dikuasai negara."
Marisa terdiam merasakan jantungnya berdetak kencang. Dia dan teman baiknya sudah menipu banyak uang bersama, mereka berdua adalah penipu yang handal, Marisa juga sangat tenang dengan teman baiknya itu. Tapi dia tidak menyangka, orang satu satunya yang dia percaya bisa menipu dia. Mata Marisa langsung buram.
__ADS_1
Mengingat beberapa waktu lalu setelah dia dan teman baiknya itu sudah berencana mendapatkan uang teman baiknya selalu memperkenalkan gedung ini kepadanya, tidak tahu dia dapat banyak orang dan informasi dari mana yang membuatnya terkejut. Dia merasa ditipu habis habisan sampai uang sedikitpun tidak tersisa.
Mengingat uangnya yang milyaran hilang begitu saja, dia sangat ingin mati saja. Dia menampar pipinya sendiri dan terjatuh duduk dijalan.
Julietta akhir akhir ini selalu melihat gaun pengantin di ponsel dan laptopnya yang terlalu sering tiba tiba muncul, Julietta selalu mendapatkan gambar tentang gaun pengantin saat membuka aplikasi apapun membuat dia curiga apakah HP dan laptopnya kena virus lagi. Julietta menjadi murung dan hatinya sangat sedih.
Dia melihat David. David dari dulu tidak pernah mengenakan jas didepannya, tidak tahu kalau dia pakai jas apalagi tuxedo akan seperti apa. Berpikiran tentang jas dia langsung berpikir tentang pernikahan, dan langsung berpikiran tentang malam pertama, dia langsung terbatuk. Dia sedang berpikir apa.
David sedang menundukan kepalanya bersandar di dinding melihat HP itu bicara "Kamu sedang melihat aku diam diam sangat lama"
"Kamu berpikir terlalu banyak" Julietta agak kikuk bicara.
Supaya kelihatan alami, dia mengambil kue krim strobery diatas meja dan dimakannya satu suap, rasa manis dan dingin dari krim itu menyentuh lidahnya, membuat Julietta memakannya sesuap lagi.Tidak tahu sejak kapan David tiba tiba sudah duduk disebelah Julietta. Julietta terkejut "Kamu mau apa"
Lengan David bersandar disandaran sofa, badannya perlahan mendekati Julietta. Pandangannya tertuju kebibir Julietta yang lembut. Tubuh Julietta menjadi tegang, pipinya merona, matanya menyipit menunggu ciuman dari David. Mau cium ya cium saja dalam hatinya.
Dipikirannya dicium oleh David yang sangat tampan seperti ini juga tidak apa. Julietta menunggu sebentar tapi tidak ada ciuman yang datang, tian tiba dia mendengar suara David yang samar samar dekat telinganya
"Kamu kenapa tutup mata"
Julietta membuka matanya dan melihat kue di garpu dan piring kecilnya sudah tidak ada. Sudah tidak ada alias habis.. Jadi David ini hanya mau mencuri kuenya.
Julietta kesal dan sangat ingin meninju David keluar angkasa. Melihat Julietta yang kesal, David menghentikan perilaku yang cari mati itu. Dia duduk menundukan kepalanya disebelahnya dan bicara perlahan.
"Maaf, berikutnya aku tidak akan makan diam diam lagi"
Mendengar itu pipi Julietta semakin memerah. David tidak menyangka kalau Julietta memiliki alasan lainnya. Julietta menahan emosinya, David yang duduk disebelahnya juga terdiam sebentar, lalu memanggil namanya pelan.
"Kenapa" Julietta menoleh menatapnya dan meninggikan suaranya.
Tatapan dari lirikan dia menghilang ditengah ciuman dari David. David masih mau maju selangkah kedepan lagi, dia menciumnya sangat lembut ini sampai terbaring disofa. Julietta berpikir agak bingung, biasanya David yang makan dengan sangat teratur dan lambat, kenapa saat berciuman dia seperti mau memakannya tergesa gesa.
Tiba tiba HP dikantongnya David berbunyi, dia langsung mematikannya, tidak lama kemudian, berbunyi lagi. Mendengar deringan HP membuat Julietta tersadar, tiba tiba dia melihat kancing bajunya sudah dibuka oleh David. Dia langsung mendorong David dan merapikan bajunya.
Saat David mengangkat teleponnya, suaranya sangat dingin dan sampai membuat Eko yang meneleponnya terkejut. Dia tidak setenang saat menghadapi Marisa lagi, dia bicara dengan hati hati.
"Bos, pa Jackson sudah siuman, katanya mau bertemu dengan anda untuk terakhir kalinya, kondisi beliau tidak terlalu baik, mungkin tidak akan bertahan sangat lama"
David terdiam. Eko bicara lagi "Mau diatur tidak" David masih terdiam.
Julietta menyadari David yang disebelahnya agak tidak beres, dia bertanya "Kenapa, apa yang terjadi"
Setelah beberapa saat, David menjawabnya "Aku mungkin harus pergi kerumah sakit"
Julietta mengedipkan matanya, pikirannya seketika langsung memikirkan Jackson. Dia tidak menanyakan lebih jauh lagi lalu bicara "Aku bisa pergi menemanimu"
David terdiam, maka itu berarti setuju. Mereka naik taksi kerumah sakit, sepanjang perjalanan David terdiam, Julietta menggenggam tangannya untuk menenangkannya. David menatapnya lalu bicara.
"Tidak apa apa, jangan khawatir"
"Aku tahu"
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit, ada seorang pria yang berdiri diluar loby utama rumah sakit sambil membawa tas, saat melihat David dan Julietta, dia langsung memberi hormat dan memanggil bos dan nyonya, membuat Julietta merasa sedikit tidak nyaman.
Sesampainya dikamar pasien, Julietta menghentikan langkahnya. David memutar badannya dan melihatnya sekilas, dia menggandeng tangan Julietta untuk menariknya ikut masuk kedalam kamar pasien.
"Tidak ada yang tidak boleh dilihat"
Julietta sedikit merasa tidak nyaman ditarik masuk kedalam kamar rawat ayahnya. Jackson yang terbaring, ranjangnya ditinggikan sedikit agar dia bisa duduk nyaman. Seperti karena ada cahaya yang menyinarinya, mata dia sedikit bersinar bersemangat dan terlihat lebih segar dari setahun yang lalu. Hanya saja saat dia bicara, suaranya yang serak memberitahukan kondisinya.
"Aku kira kamu tidak akan mau datang ketemu aku lagi"
David terdiam mendengarnya, mukanya tanpa ekspresi, dia hanya menatap ayahnya seperti melihat orang asing yang tidak ada hubungan apapun dengannya.
Jackson mengeluarkan senyuman yang lebih jelek dari tangisan.
"Dengar dengar, kamu yang bantu aku membereskan hal yang kacau"
Dia bicara dengan susah payah, baru bicara beberapa kata dia harus bernafas dalam beberapa kali, tapi dia tetap memaksa bicara walaupun terbata bata.
"Sejak kamu, sejak kamu SMA, aku sudah memiliki harapan yang besar untuk kamu, aku kira kamu bisa meneruskan bisnis keluarga, tapi tidak disangka kamu yang kelihatan tidak ada prospek ini, bisa bisanya, bisa bisanya sama sekali tidak tertarik"
"Anak yang tidak berguna, aku sudah memaki kamu belasan tahun" Jackson tertawa "belasan tahun"
Sejak mamanya David meninggal, mereka berdua sudah menjadi seperti orang asing yang tidak kenal, saat ada hari raya juga mungkin tidak ada yang menghubungi satu sama lain. Disaat ini ada suara ribut dari luar pintu, itu adalah Marisa.
Dia dihalangi dipintu karena ingin memaksa mau masuk. David langsung membuka pintu, wajah Marisa yang penuh amarah itu langsung tegang setelah melihat David, ditambah dengan pakaian dan rambutnya yang kusut dia semakin terlihat aneh.
Marisa langsung menangis dan berlutut "Maafkan aku, semua salah aku, tolong kalian maafkan aku, aku tidak sengaja"
Uang sudah habis sama sekali, bagaimana dia mau hidup. Jackson yang mendengarnya tertawa sampai batuk melihat tampangnya yang kacau mengesalkan itu.
"Kamu, kamu uhuk uhuk kamu juga bisa menjadi kacau seperti hari ini"
Marisa menahan amarahnya. "Aku akan rawat ayahmu, aku saja yang rawat dia, mohon kalian lihat aku sebagai istrinya"
David menjawabnya dengan tenang "Kembalikan uangnya dulu"
Marisa langsung terdiam. Tunggu apakah David mengetahui semuanya. Kepala dia berdengung dan membelalakan matanya, sebelum Marisa berulah lagi, beberapa penjaga dibelakangnya langsung menariknya keluar. Marisa berontak dan berteriak.
"Aku juga mama kamu, kamu tidak bisa seperti ini sama aku, David"
Para perawat dan dokter dikoridor itu mulai berkomentar.
"Wanita itu otaknya sudah bermasalah" "Mungkin stres gila"
Kamar pasien kembali menjadi tenang. Jackson sudah cukup tertawa dan batuk, suaranya menjadi serak.
"Kamu sudah dewasa sekarang, sudah bisa membereskan orang"
David terdiam dan masih tanpa ekspresi menatap ayahnya.
Jackson merasa kalau waktunya sudah akan tiba, istrinya membuangnya, anaknya tidak mengakuinya, Jackson tertawa.
__ADS_1