
Wanita itu mematikan HPnya dan mendongakkan kepalanya lalu mereka berdua bertatap tatapan terdiam sangat lama.
Julietta yang sudah berkeringat memutar badannya, lalu melihat David mengulurkan tangannya seperti mau membangunkannya.
Tanpa sadar dia langsung masuk ke pelukan David dan memeluknya erat erat. David menundukan kepalanya dan memeluknya dengan erat sambil mengelus punggungnya.
David bertanya "Mimpi buruk lagi."
Julietta mengangguk lemah, apakah ingatan juga bisa dibilang sebagai mimpi buruk. Satu mimpi buruk ini membuat Julietta selalu memikirkannya.
Dia tentu saja ingat, itu adalah situasi sesaat sebelum dia masuk ke dalam dunia novel ini. Dia bergadang untuk menghabiskan satu cerita novel, hatinya penuh dengan ejekan, tapi dia benar benar sudah mengantuk dan memutuskan untuk tidur.
Saat terbangun dia sudah masuk ke dunia novel ini, kenyataan yang aneh ajaib ini membuat dia mau tidak mau menerima kenyataan dan tinggal bersama dengan David sementara. Dan setelah itu.
"Julietta kamu sedang memikirkan apa." Tanya Marc.
Rapat sudah selesai, tapi Julietta masih duduk di kursi dan tidak bergerak dia mengetuk pelan kepalanya agar dirinya tersadar sedikit. Suara Julietta terdengar sedikit sedih. "Marc menurut kamu dunia kamu ini nyata tidak."
Mendengar topik ini Marc langsung tertarik dan menarik kursi untuk duduk di sebrang Julietta.
"Kenapa tiba tiba berpikir seperti itu, apakah pemikiran kamu sama seperti aku sebenarnya keberadaan kita ini dikendalikan oleh orang lain, mungkin kita hanyalah beberapa karakter kecil di dalam kehidupan simulasi, lalu pengaturan dan MOD dari yang berbeda dan bisa menciptakan akhir yang berbeda tapi apa." Jawab Marc.
"Lalu kalau kamu masuk ke dalam dunia game bagaimana."
"Sword Art Online?."
Julietta tertawa. "Aku bukan sedang bahas anime atau karakter."
Marc sedikit kecewa. "Baikah tapi Sword Art Online benar benar karya yang hebat."
Suasana yang awalnya serius seketika dihancurkan oelh satu kalimat terakhir Marc itu. Marc masih penasaran dan bertanya.
"Kenapa kamu memikirkan ini, apakah tentang pengaturan game yang baru, kalau ada ide yang bagus, bisa bilang ke aku."
"Ah tidak apa, hanya berpikir aneh aneh saja."
"Bagus di industri ini memang perlu berpikir aneh aneh dan penuh dengan imijinasi"
Kalau penuh dengan imajinasi maka itu pasti Marc, lagi bicara hal serius seperti ini dia mulai membahas hal lain lagi.
"Kalau masuk ke dunia game berarti dari tiga dimensi masuk ke dunia dua dimensi, mungkin saja bisa jadi dewa kalau itu aku maka.."
Marc mulai bicara aneh aneh disebelahnya, Julietta hanya mendengarkannya sebagai suara berisik. Dia bersandar dikursi dan menutup mukanya dengan telapak tangannya. "Marc."
Marc yang masih bicara dengan serius berhenti. "Ya"
"Jimat yang bisa mengusir roh jahat kamu itu, bisa diletakan di ruangan aku untuk beberapa hari tidak."
"Kenapa, kamu lihat hantu."
"Bisa dibilang begitu, aku tidak bisa tidur nyenyak, mungkin jiwa aku mau pergi atau menghilang."
Julietta bicara dengan serius, tapi Marc tidak menganggapnya serius. Dia menjadi senang mendengar Julietta bicara seperti ini, dia malah mengira Julietta akhir akhir ini terlalu sibuk dan tidak cukup istirahat.
"Tidak boleh jiwa kamu yang pergi, nanti aku akan letakkan jimat keberuntungan itu di meja kamu saja, tapi apakah dia akan setuju."
__ADS_1
Julietta terkejut "David"
Kenapa tiba tiba bahas David. Marc mengerti Julietta masih belum tahu David dulu memintanya membawa pulang semua jimat pengusir roh jahat itu. Dia tertawa dan berkata.
"Aku hanya asal bicara, tidak apa sekarang juga akan aku ambilkan, kalau tidak bisa tidur nyenyak, pakai minyak esensial sedikit mungkin efeknya akan lebih baik."
"Ya aku mengerti."
Julietta sangat berterima kasih karena Marc sangat pengertian. Sudah diduga tidak berapa lama setelah dari toilet, saat dia kembali ke ruangannya, di atas meja sudah ada satu batu kotak kecil giok. Julietta mengambil batu giok itu dan mengelusnya, sentuhannya sangat dingin dan licin. Pikiran dia kembali memikirkan kejadian di mimpinya itu.
Julietta berpikir, jangan jangan ini adalah pertanda yang seperti David bilang ada roh yang mau mengajaknya dia kembali pulang ke dunia asalnya. Julietta menjadi sangat khawatir.
Sesampainya di rumah di malam hari, Julietta tidak fokus memasak dan menjadikan garam sebagai gula dan sebaliknya, membuat masakannya sangat tidak enak. Setelah David makan satu suap dia melirik Julietta sekilas, lalu langsung lanjut makan, kalau Julietta tidak mencobanya, dia akan mengira masakan dia itu benar benar sangat enak.
Uwek, Julietta memuntahkan satu potong daging dari mulutnya. Daging ini rasanya asin dan asam, sangat tidak enak, setelah dia muntahkan dia langsung minum air putih yang banyak agar rasa aneh di mulutnya itu menghilang. Sementara David masih makan suap demi suap dengan tenang.
Julietta mengelap mulutnya dan melihat dia dengan bingung, "Kenapa kamu masih makan."
"Kalau tidak dimakan sayang."
Julietta merasa ada beberapa orangkah yang pikirannya hanya mau makan.
"Jangan dimakan lagi, garam sebanyak ini tidak bagus untuk darah, nanti kamu akan kehausan juga."
Dia mengelap sisa air di bibirnya dan menghela nafasnya.
"Kita turun saja, makan keluar, ini semua jangan dimakan lagi."
Pandangan David masih tertuju ke semua makanan di atas meja makan. Julietta curiga apakah indera perasa David mulai melemah, dan tidak bisa merasakan manis asin.
"Lalu kamu kenapa tidak bilang ke aku saat tadi makan, makanan seasin itu kamu juga masih bisa makan."
"IMasakanmu sangat enak."
"Bohong".
Mulut pria memang suka bohong. David juga tidak berdebat apakah dia berbohong atau tidak. Dia makan sesuap nasi dengan sup dan bertanya.
"Hari ini kamu kenapa."
"Dari pagi sampai sekarang selalu tidak fokus, ada apa."
Julietta diam beberapa saat. Dia sama sekali tidak yakin dirinya merasa tertekan karena halusinasi atau karena akhir akhir ini terlalu sibuk lembur. Kalau saja hanya dia yang berpikir terlalu banyak. Walaupun tidak berpikiran banyak, tapi kalau kasih tahu David juga hanya akan membuat dia tidak bisa tidur nanti malam,
David yang khawatir itu jauh lebih menakutkan dari yang dia bayangkan, kalau dia sampai seperti dulu tidak tidur beberapa hari dan hanya duduk di sofa menunggunya, Julietta mungkin akan lebih kesulitan dari sekarang. Dia memegang sendok.
Didalam restoran itu masih bisa terdengar suara ribut, suara tawa dan suara gelas bertabrakan dari sebelah, dunia ini benar benar sangat nyata, bagaimana mungkin hanya sebuah cerita novel. Tomy Marc Erick Diana Sisca, mana, siapa yang tidak hidup dengan nyata.
Nada suara Julietta sedikit mengambang. "Rasanya semuanya ini seperti mimpi."
David mengambil satu potong semangka dan di masukan ke dalam mulut Julietta, sambil bicara "Kalau begitu kamu lanjut bermimpi saja."
"Mungkin benar juga."
Kehidupan memang harus terus dijalani, dia di tahun lalu mana pernah membayangkan sekarang dia bisa menjadi istri dari suami yang sangat tampan dan kaya walaupun makannya rakus. Pipi Julietta menggembung dan terus mengunyah semangka yang dingin itu di mulutnya.
Mereka berdua makannya tidak sedikit, Julietta merasa terlalu kenyang, dia menyuruh David untuk ke kasir bayar duku, dan dirinya pergi ke toilet, dia mengangkat wajahnya menatap tembok putih di depannya berubah menjadi wallpaper yang sedikit menguning, membuat Julietta terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Dia keluar dari toilet dengan kebingungan dan melihat pemilik dari kedai mie langganannya yang sudah lama sekali tidak dilihatnya sedang menyambut tamu. Semua kursi dipenuhi oleh orang yang sedang makan mie didunianya asalnya dia, Julietta memang paling suka makan mie disini ketika perutnya sangat lapar lalu pulang tidur. Pemilik toko itu melewati Julietta dan bertanya ramah.
"Julietta sudah selesai makan belum."
"Su sudah" jawab Julietta gugup panik.
"Bagus kalau begitu."
Julietta berdiri di tengah tengah kerumunan orang, dia seperti di buat kebingungan. Kepala dia memikirkan macam macam membuatnya sangat kacau berantakan. Tunggu. Dia tiba tiba membesarkan matanya, David dimana.
"David."
Julietta langsung lari keluar dari kedai mie itu dan membuat semua tamu melihat ke arahnya dengan kebingungan. Julietta melihat sekelilingnya tapi hanya bisa melihat lampu jalan yang redup menyinari gelapnya malam dan jalanan yang sepi tidak ada orang. Ada sesaat jantung dia hampir berhenti berdetak,
Julietta mengira dirinya sudah kembali ke dunia asalnya, dan semuanya ini hanyalah satu mimpi. Tapi tiba tiba dibelakangnya terdengar suara lembut David memanggilnya. "Julietta."
Julietta terkejut dan langsung melihat ke belakang. Pandangan di depannya langsung berubah dan seketika dia berada diluar pintu restoran dan tidak ada kedai mie sama sekali. Sudah tidak ada lagi kedai mie yang tadi dia lihat, sudah tidak ada kursi di pinggir jalan, restoran juga sedang sangat ramai.
David yang mengenakan jaket hitam dan celana panjang mengerutkan alisnya lalu bertanya. "Kamu sakit perut."
Dua dunia berubah ubah dengan sangat cepat, Julietta hampir mengira pikirannya benar benar bermasalah. Dibawah tatapan David, Julietta menunjuk ke langit dan berkata dengan kesal. "Permainkan aku ya, seru tidak."
Gluduk gluduk, langit yaang hening tiba tiba mengeluarkan suara petir dan membuat Julietta ketakutan dan memeluk David. David yang terkejut terdorong itu hampir saja terjatuh ke jalan. Dia memeluk Julietta erat erat dan mengelus punggungnya yang tegang.
Satu detik sebelumnya masih memarahi langit, satu detik sesudahnya langsung ada balasan, Julietta benar benar takut Tuhan marah dan menyambarkan petir ke kepalanya, agar dia dan David langsung bisa dikubur didalam kotak tanpa perlu dikremasi karena sudah terbakar petir.
Suara Julietta seketika menjadi merendah dan berkata. "Sekarang mengeluh saja juga sudah tidak bisa."
Saat sedang bicara air hujan mulai turun membasahi jalanan, dedaunan dan tanah. Tidak tahu siapa yang teriak hujan, di atas langit langsung ada satu cahaya dan lagi lagi ada suara sambaran petir, selanjutnya adalah suara air hujan yang semakin membesar lebat, hanya dalam beberapa detik badan mereka berdua langsung basah kuyup. Dilihat dari keadaan sekarang, hujan ini akan semakin lebat.
"Cepat." Julietta langsung menarik David lari pulang.
Mereka berdua berlari ke arah rumahnya seluruh pipinya dipenuhi dengan air hujan dan membuat dunia ini menjadi buram, tangan David selalu menggandeng tangan Julietta dengan erat, di tengah hujan ini hanya keberadaan David yang terlihat paling nyata dimata Julietta.
Mereka sampai dibawah gedungnya, akhirnya ada tempat untuk berteduh, mereka berdua berhenti melangkah, Julietta bernafas dengan cepat dan kedua telapak tangannya diletakkan di lututnya agar detak jantungnya menjadi stabil.
Rambut David yang berdiri di seberangnya basah, matanya seperti ada satu lapis asap yang menutupinya, hitam dan sedikit tidak terlihat jelas. Julietta gemetaran kedinginan. Dia baru saja mau melangkah naik tangga ke atas, tapi tangannya ditarik oleh David dan membuatnya mundur dan bersandar di tembik yang dingin, Julietta terkejut dan mengangkat kepalanya. Wajah David membesar dan semakin mendekat. Lalu dunia hanya menyisakan kegelapan di mata David.
Julietta terkejut. David menciumnya dan lidahnya masuk ke dalam mulut Julietta menyusuri semua bagian dalam dan memainkan lidahnya, nafas mereka berdua panas dan Julietta hampir tidak bisa bernafas diciumnya. Jelas jelas basah karena hujan, tapi badan David terasa panas agak hangat dan bertempelan dengan badannya, membuat badannya ikut juga panas dan hatinya gemetar.
Juliett kebingungan dia hanya tahu dia sedang berjinjit dan memeluk lehernya sambil berciuman dengannya. Tidak tahu sampai berapa lama, suara hujan juga sudah mulai mengecil.
Bibirnya yang digigit pelan oleh David beberapa kali mulai terasa sakit dan membuat Julietta tidak bisa tersadar. Dia menarik nafas dalam dalam dan masih bersandar di dada David. Suara David di atas kepalanya terdengar bertanya. "Seperti mimpi."
Julietta ketakutan sejenak dan melihat matanya yang gelap, dia menyadari makna terakhir dari ciuman David yang sangat terburu buru. Mungkin David juga menyadari sesuatu, tapi mereka berdua tidak ada yang berani mengucapkannya, sepertinya ini adalah satu kutukan, asalkan ada salah satu yang mengucapkannya, maka kutukan ini akan menjadi nyata.
Julietta menggelengkan kepalanya dan tertawa. "Bukan."
Hujan di malam hari akhirnya berhenti, baju mereka berdua juga basah. Untuk menghindari akhir seperti terakhir kali, sesampainya di kamar mereka berencana llangsung mandi air hangat lalu ganti baju.
Julietta ke dapur membuat air jahe agar rasa dingin di badannya bisa keluar semua. Panci sedang memanaskan air, Julietta duduk di sofa sambil menunggu.
David yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk dipinggangnya dan memperlihatkan sebagian badannya. David itu tidak ada otot yang besar, tidak terlihat bekas bekas gym yang jelas, tapi setiap dagingnya sangat kuat keras, Julietta sebagai orang yang sering menyentuhnya menyatakan rasa sentuhan yang keras kuat itu sangat enak. Badan bagian atasnya terlihat dari luar, Julietta langsung membuang mukanya.
"Kamu sedang apa, cepat pakai baju."
Mendengar Julietta yang marah, David yang awalnya mau ke kamar tidurnya malah melangkah maju kedepan Julietta.
__ADS_1