
Julietta mengira Erick sudah bersemangat dan sudah tenang, dengan tersenyum ramah dia menatapnya.
"Bagaimana, mau masuk tidak, tapi hari ini pak Tomy tidak ada"
Erick terdiam. Dia hari ini rencananya hanya mau melohat Aquarius untuk terakhir kalinya, lalu dia mau mengucapkan selamat tinggal kepada setengah kehidupan awalnya yang konyol, sekarang bertemu Julieta tersenyum seperti ini, bertanya dia dengan suara yang santai lembut, bagaimanapun juga dia tidak bisa memberitahunya.
Julieta mengira dia sangat kuat, Erick sendiri juga awalnya juga mengira seperti ini. Melihat Julieta yang sangat bersemangat, Erick mengingat whisper, pria seperti itu memiliki jiwa yang kuat seperti apa. Dan dia juga seumuran dengannya, dan sudah berencana untuk menyerah denga kehidupannya. Benar benar sangat memalukan.
"Kenapa" julieta bertanya.
"Tidak apa"
Suara dia sedikit kering, tidak seenak suaranya yang lembut biasanya sewaktu online, tapi saat dia mengangkat kepalanya lagi, ada satu emosi yang bertambah.
"Aku tidak akan menyerah"
Erick mengulangi ya sekali lagi, seperti sedang bersumpah kepada dirinya sendiri.
Setelah bicara itu Erick pamit langsung pulang.
Julieta merasa dia sudah berubah dari yang dulu. Mungkin dia sudah mengalami banyak kejadian yang tak terduga, ditamabah dengan semangatnya menjadikan dia sangat tenang, ini adalah hal yang sangat bagus bagi Erick.
Saat makan malam dirumah, Julieta mengobrol dengan David dimeja makan, mereka berbincang harmonis dengan sangat ramah walaupun hubungan suami istri mereka itu palsu. Julieta berkata lembut sambil tersenyum.
"Sebentar lagi aku gajian, tunggu aku dapat gaji aku akan traktir kamu makan enak di restoran mewah"
Julieta bilang kalau jadi orang harus tulus dan saling balas budi. Gaji dia berapa David itu tahu dengan jelas, bagaimanapun juga angka di gaji dia itu, dia yang menentukan dikantornya. David menundukan kepalanya sambil minum kuah sup, dengan pelan dan ramah dia menjawab "baik"
Julieta berkata lagi "oh ya aku rasa aku harus belajar bawa mobil, kalau tidak kerja akan tambah repot"
David menjawab "naik taksi saja"
Ucapan dia dipotong oleh Julieta.
"Walaupun ada uang, tapi uang juga bisa turun nilainya, aku harus bisa hemat uang besin, apalagi terkadang naik taksi dipagi hari itu bekum tentu dapat"
"Kalau tidak panggil supir khusus, tapi menurut kamu setiap bulan seperti ini bisa ditanggung tidak, pasti tidak bisa"
Julieta terus berkata. Sementara David mengedipkan matanya sambil menatapnya heran. Sebenarnya David bisa dan mampu, dia mau menyewa satu tim mobil mewah untuk melindungi dan mengantar Julieta kekantor juga bisa. Hanya saja dia tidak bisa mengatakan hal seperti ini untuk menutupi identitasnya.
Kerja sibuk seperti ini, akhir akhir ini dia tidak bisa menyempatkan diri untuk pergi ke sekolah mengemudi mobil, musim dingin langit gelap dengan cepatnya, kalau malam hari memaksakan belajar mobil sendirian juga berbahaya. Julieta berpikir, mungkin dia bisa melakukan pemanasan seperti, cari game untuk melatih kemampuan menyetir : )
Julieta duduk disofa, dia melirik HP disampingnya dengan ekspresi yang serius berat, orang yang tidak tahu mungkin akan mengira terjadi sesuatu yang besar dengannya. Punggung dia sangat tegak, mukutnya terus bergumam mengucapkan beberapa poin penting untuk parkir mobil, lalu dengan gugup melanjutkannya langkah demi langkah.
David yang berjalan melewatinya melirik aneh sekilas dengan terdiam. Dia melihat Julieta sedang mengendarai sedan kecil didalam game pubg, tiap belokan dilalui dengan sangat pelan, berhenti, lalu dia berputar mundur kebelakang dengan pelan, lalu berhenti lagi, terus diulang ulang.
Julieta tidak mengaktifkan mikrofon HPnya, tapi teman satu timnya menyalakan mikrofon. Mereka saling bersuara.
"Wanita ini sedang apa"
__ADS_1
"Astaga, kamu main game kenapa malah belajar parkir mobil"
"Aku benar benar salut, bisa bisanya ada orang yang main game untuk latihan mobil"
"Kalau kamu mau belajar mobil, kamu main game balapan mobil saja"
Julieta yang mendengar semua ucapan mereka itu agak terkejut, dia tidak mengaktifkan mikrofonya, tiba tiba dia merasa yang mereka bilang itu masuk akal juga. Julieta merespon mereka "terima kasih petunjuknya"
Setelah bicara dia menabrakan mobilnya ketembok untuk bunuh diri dan keluar dari gamenya, Teman satu timnya mungkn keheranan. Benar benar tidak pernah melohat orang yang sekejam ini terhadap dirinya sendiri.
Maka setelah 10 menit, id julieta muncul di game balap mobil, orang lain mengendarai mobilnya kearah depan, hanya dia yang diam diam mundur kebelakang, seperti diam ditempat awal, belum mundur berapa jauh dia langsung dikirim lagi dititik awal garis start. Julieta menyatakan dirinya adalah orang yang sangat sabar dan determinasi. Ini membuatnya di esok harinya dia hampir tidak terbangun.
Julieta membawa dua kantong mata yang bitam dengan wajah sangat lelah, bersumpah kepada dirinya sendiri, tidak akan menggunakan game untuk menguji dirinya sendiri. Semalaman dikamarnya latihan bawa mobil di game balapan, dan dari latihan dia jadi mulai bermain serius, berbalapan terus hingga tak tereasa tiba tiba langit sudah cerah, membuat Julieta tidak bersemangat, dia rasanya hari ini ingin berbaring dan tidur saja seharian dirumah. Dia menguap terus.
Dikantornya, Marc yang melihatnya menguap sedikit terkejut dan berkata.
"Aku dulu selalu merasa kamu tidak cocok dengan kantor, sekarang akhirnya kamu menemukan tempat yang harmonis"
Julietta "tempat apa"
"Kantong mata hitam ha ha ha"
Pandangan Jukieta melihat David, kalau dideskripsikan dengan kalimat seperti kucing melihat ikan, hanya tinggal dilahap saja. Memikirkan ini Julietta sedikit kesal.
Sementara di salah satu ruangan kantor, pembicaraan dengan Tomy sudah selesai, satu bayangan pria keluar dari ruang kerjanya, dia adalah Erick. Disebelahnya adalah asisten Tomy yang mengantar Erick ke pintu lift. Erick berjalan beberapa langkah lalu tiba tiba bertanya.
Asisten menjawabnya sopan "dibawah satu lantai, kenapa"
"Tidak apa" dia tersenyum ramah, lalu mengingat fakta wanita itu sudah menikah, ekspresi wajahnya seketika langsung menjadi muram dan berkata pelan.
"Ada orang yang aku kenal disana"
Sesampainya Jukietta dirumah, langit sudah gelap. David seperti biasa berada diruang kerja dan tidak keluar, jukieta mengganti bajunya dulu, lalu dia duduk bersandar selonjoran di sofa panjang yang lembut diruang tamu, sambil bersandar dia mengupas kulit jeruk. Kedua kakinya yang selonjoran ditumpuk dan digoyang goyangkan, terlihat moodnya sedang sangat bagus.
David membuka pintu ruang kerjanya, yang dilihat pertama kali adalah Jukietta yang duduk tidak elegan, biasanya diluar dia sangat sopan dengan orang asing, kalau dirumah menjadi berbaring dengan seenaknya. Julietta menoleh kearahnya dan menyapa "hai selamat malam" David hanya menjawab dengan anggukan, lalu duduk dimsofa single sebelahnya.
Julietta sambil mengupas jeruk, tiba tiba dia bertanya dengan penasaran.
"Menurut kamu kemampuan Erick bagaimana"
Saat bertanding dengan David itu sama sekali tidak ada rasa menegangkan, membuat Julietta tidak begitu mengerti dengan kemampuan Erick. David meliriknya, dengan jelas terlihat dia tidak bersedia perduli dengan ucapan Julietta.
"Lumayan" lumayannya dia itu berarti pujian yang sangat meyakinkan.
Julietta merasa lega "kalau begitu semoga dia sukses"
Dari ucapan Julietta, David menangkap jelas kalau dia pasti tahu berita tentang Erick mau lanjut ikut kompetisi pemilihan. Tentang bagaimana dia bisa tahu beritanya, bagaimana mereka tadi bertemu berdua bisa berinteraksi, semuanya adalah hal yang David tidak tahu pasti. Disaat ini Julietta juga terlihat sangat bahagia, seperti moodnya hari ini yang bagus semua karena Erick.
Mulut dia terus membahas Erick, emosinya juga tergerak untuk Erick, bahkan masa lalu David saja dia malas tanya, tapi dia bisa inisiatif terus menyebut nama Erick, hanya ingin jelas kemampuan Erick bagaimana. Erick, Erick, Erick dan Erick.
__ADS_1
Tatapan David sehari hari yang lelah itu akhirnya ada sedikit perubahan. Disaat ini dia tidak bersedia melihat senyuman diwajah Julietta, terasa sedikit menyilaukan. Dia tiba tiba berdiri dan jalan ke ruang kerjanya.
Julietta yang di punggunginya bertanya dengan sedikit kaget "hei tidak mau makan"
"Kamu kenapa" yang merespon Julietta hanya suara pintu tertutup dengan agak keras. Hmm David kenapa.
Hanya emosinya yang rndah diri dan lucu yang datang tiba tiba mengontrolnya saja. Julietta mengira David hanya emosi sesaat, tidak disangka David tidak keluar keluar, Julietta juga ikut sedikit kesal.
Dengan marah dia kembali kekamarnya dan menutup pimtunya juga, tujuannya adalah menunjukan kepada David kalau dirinya juga tidak senang. Julietta tengkurap diranjang sambil main HP, dia rencana untuk menunggu David memanggilnya dan baikan sebentar lagi, tapi tidak terdengar pergerakan sama sekali. Dia tengkurap diranjang dan tertidur tidak tahu.
Saat dia bangun dengan samar samar, perutnya sudah terasa sangat lapar. Julietta diam diam mebuka pintunya, lalu dia menatap pintu ruang kerja David masih tertutup, dia menutup pintunya lagi dengan kesal dan hari ini tidak mau masak makan malam, agar David tetap kelaparan saja.
Suara dari perutnya membuat Julietta mengelus elus perutnya yang rata tanpa sadar. Dia diam diam membuka aplikasi pesan antar makanan, dia memutuskan makan enak, membeli lobster dan sate, Julietta sudah mulai menelan air liurnya. Saat dia mau klik bayar, tiba tiba dia mengingat kalau dirinya pesan makanan, pasti akan ketahuan David, nanti mungkin David akan kembali membahas masalah makan sendirian lagi. Jadi dia mendapatkan ide.
Dibagian keterangan dia menulis, tolong nanti jangan antar kepintu, tunggu di jendela selatan, nanti akan ada tali yang turun kebawah, ingat untuk ikat paketnya yang kencang. Juliette dengan senangnya klik bayar.
Julietta pernah lihat di TV, memutar milin dua sprei panjang menjadi tali tebal dan bisa untuk mengikat dengan kencang, dia menunggu dengan sabar tukang antar makanan datang. Tukang antar makanannya yang menerima order dia hari ini sangat kebingungan.
Dia membaca keterangan beberapa kali, dan baru memastikan cara pengantarannya yang sangat aneh. Pembeli bilang dia akan kasih uang tips, dia menggigit giginya sambil membawa motornya kesisi sebelah rumah pembeli, dikondisi malam yang gelap seperti pencuri, dia diam diam memastikan posisinya dibawah jendela yang dimaksudnya. Satu jendela terbuka, satu buah tali turun kebawah, dan digoyangkan kearah tukang antar. Dia tidak mengerti alasan kenapa harus seperti ini, tapi dia tetap juga melakukannya sesuai permintaannya.
Tukang antar mengikat kencang sesuai permintaan pemebeli agar kantongnya tidak terbuka. Kepala dia berkeringat, lalu akhirnya lega, dia mendongak kepalanya menunggu orang yang diatas menarik talinya. Tapi tukang antar itu melihat jendela satunya juga terbuka. Bersebelahan dengan jendela yang bertali, ada satu orang pria berdiri didepan jendela dan sedang melihat tali yang ada dijemdela selatan. Tukang antar kebingungan. Peringatkan atau tidak.
Angin malam sasngat dingin,mangin yang berhembus masuk melalui jendela terbuka membuat Julietta gemetaran. Ujung hidung dia jadi gatal, hampir saja dia bersin tapi ditutup oleh Julietta. Dia tidak ingin David mengetahui kalau dia memesan makanan, jadi dia harus hati hati. Dipikir seperti ini, gerakan Julietta semakin pelan hati hati.
Julietta sama sekali tidak tahu kalau beberapa meter darinya, ada tatapan maut yang menatap terus pergerakan dia yang dikiranya belum terbongkar.
Krucuk krucuk. Perutnya mengeluarkan suara lapar yang tidak tertahan,mJulietta menelan air liurnya, dia sudah membayangkan dirinya sedang makan lobster sambil nonton drama yang sangat indah.
Dia menunggu sebentar dengan sabar, tukang antar dibawah belum menggoyangkan tali sebagai kode, tapi tali ditangannya sudah terasa ada barang dibawahnya, aneh, sudah diikat atau belum yah.
Julieta menarik talinya sambil membuka jendela setengahnya, angin kencang langsung masuk kedalam kamar tanpa hambatan, hampir saja membuat muka Julietta mati rasa. Dia merapatkan lehernya, lalu menyesalkan dirinya sehatusnya memakai jaket, mumpung tidak kedengaran suara pergerakan dari kamar sebelahnya, Julietta mengeluarkan kepalanya dari jendela diam diam.
Tukang antar yang dibawah berdiri dengan tampang kebingungan, dia masih ragu peringatkan dia atau tidak. Dia juga ada etika profesional, kalau saja tidak diperingatkan, uang tipsnya jadi tidak ada, harus bagaimana.
Julietta melihat kebawah, hanya terlihat tukang antar berdiri ditempatnya dan mendongak kepalanya melihat ke Julietta, Julietta memberika kode bentuk jari OK kepada dia, dan memasukan kepalanya lagi ke kamar. Dia lalu mencoba untuk menarik tali pelan pelan, sambil melihat kantaongnya sudah dikat lumayan kencang, jadi Julietta langsung menariknya keatas. Gerakan dia sangat pelan, dia berusaha mempertahankan kecepatan sedang dan lurus, agar makanannya bisa sampai ke tujuan dengan lancar selamat.
Tali yang ditariknya ternyata lumayan berat, detik berikutnya Julietta langsung tercengang, kantong makanannya tersasngkut di pagar pembatas dibawah jendelanya. Muka Julietta langsung memerah, dia berusaha mengulurkan tangannya dan ingin menarik kantong makanannya.
Porsi makanannya tidak ringan, Julietta lelah dan mengeluarkan banyak keringat diwajahnya, lengannya juga mulai gemetaran. Pikiran dia saat ini sangat murung, mau makan sendirian kenapa sesulit ini. Tukang antarnya tiba tiba sudah diatsnya motornya dan sudah pergi tidak terlihat. HP nya tiba tiba berbunyi, ada telepon masuk. Dia tajut suara HPnya terdengar oleh David, dia lamgsung mengangkatnya sambil menarik talinya. "Halo"
Suara Julietta dipelankan sangat rendah "tenang aku sebentar lagi akan kirim kamu uang tipsnya"
"Bukan bukan masalah uang tips, aku juga orang yang profesional" suara tukang antar itu sangat tenang
"Nona, karena aku baik hati, aku sarankan anda mengeluarkan kepala lagi dan melihat jendela di arah timur, aku bantu kamu sampai disini, sampai jumpa"
tut tut tut orang itu mematikan teleponnya.
__ADS_1