
Setelah Julietta membersihkan wajahnya untuk waktu yang lama lalu dia lanjut mandi setelahnya, dia berjalan keluar dan melihat David yang sedang duduk disofa ruang tamu sedang makan ayam goreng.
"Hei, mengapa kamu minum bir"
"Tidak ada soda dilemari es"
"Oh yah"
"Kamu mau"
Julietta menggelengkan kepalanya "Tidak aku sangat kenyang"
Dia duduk disamping David. Dia mengangkat kakinya kesofa lalu main ponsel. Tenggorokan David nampak bergulung saat dia sedang meneguk bir dingin itu. Tatapan mata Julietta mengikutinya dia sudah bisa membayangkan bagaimana nikmatnya cairan dingin yang mengalir didalam tenggorokannya itu. Lebih tepatnya Julietta sedikit iri. Dia menatap David untuk beberapa saat sampai akhirnya David menyadarinya dan bertanya.
"Apa kamu lapar"
"Tidak" Julietta menegakkan tubuhnya dan bersandar dibahunya "Apakah bir itu enak"
David masih ingat kegilaan Julietta saat mabuk "Kamu tidak boleh minum"
"Biarkan aku minum seteguk, kamu tennag saja, aku yakin tidak akan mabuk, aku akan segera kembali kekamar untuk tidur setelah minum"
Besok hari libur, minum bir pasti akan menyebabkan wajahnya sedikit membengkak keesokan paginya, namun dia telah memutuskan bahwa besok dia akan tinggal dirumah seharian, jadi dia tentu saja tidak perlu khawatir akan wajah bengkaknya.
Julietta bicara lembut "aku hanya mau minum satu teguk saja"
David mengingat lagi bagaimana gilanya Julietta saat dia mabuk, matanya tersenyum, seolah olah mengingat kenangan manis. Kali ini dia tidak hanya membiarkannya, malah dia berinisiatif dan bertanya "Apa mau kubuka kaleng baru"
"Tidak perlu, aku hanya minum seteguk sisa kalengmu ini"
"Baiklah"
Kaleng bir yang dingin itu menyentuh jari Julietta dan membuatnya tanpa sadar menggigil. Dia mendongak dan minum seteguk besar. Dia merasa itu sangat segar nikmat. Dia tidak bisa menahan diri untuk minum tegukan kedua yang lebih besar lalu memberikan kembali kaleng bir kosong itu kepada David.
"Sudah ini"
David menerima kaleng bir yang seolah olah masih menyisakan kehangatan bibir Julietta. Julietta berbaring disofa dengan nyaman sambil memainkan ponselnya. David yang duduk disebelahnya itu telah selesai menyantap ayam gorengnya dan mebersihkan sisa makannya. Ketika dia melewati ruang tamu lagi, dia menatap Julietta. Julietta nampak tenang dan tidak terlihat mabuk sama sekali.
David tidak tahu kenapa dia merasa kecewa. Hari juga sudah mulai malam, setelah David membereskan sampahnya dia berjalan kesamping Julietta dan berkata "Aku tidur dulu ya, selamat malam"
Julietta menyipitkan matanya tanpa menanggapinya. David bicara lagi dengan pelan "Jangan tidur disini, kamu bisa masuk angin"
Mendengar peringatan dari David, Julietta nampak menyatukan alisnya, ujung jarinya mengelus dahinya dengan lembut. Cahaya malam menyinari tubuhnya dan membuat kulitnya terlihat lebih putih, seperti sebuah porcelain mulus tanpa cacat.
Ketika dia mengangkat tangannya, lengan bajunya yang longgar itu jatuh dan memperlihatkan lengannya yang ramping halus. Dia menjilat bibirnya dan bertanya dengan malas "Kalau begitu gendong aku kak David"
Julietta membuka matanya dan menampakan sepasang mata persik yang tersenyum menawan itu bersinar. "Kaka David"
David terdiam sejenak. Ternyata orang yang mabuk seteguk seperti yang diceritakan dalam legenda itu mungkin mirip seperti Julietta sekarang, dia tidak memiliki kesadaran tentang kemampuan alkoholnya.
Tubuhnya lemas seolah olah tidak memiliki tulang, Julietta menyipitkan mata dan melambai padanya sambil tertawa "kaka **** yang ganteng, ayo gendong aku"
Suasana yang hangat itu seketika berubah menjadi adegan pangeran sedang menggendong istrinya, namun perbedaan kedua hal ini sangat besar. David menghela nafas dan berjalan kehadapan Julietta.
Dia membiarkan Julietta bersandar kepadanya, David menggendong Julietta kekamar tidurnya dan meletakannya di atas ranjang perlahan. Kulit lembut didalam pelukannya itu sangat wangi,,namun David masih setenang air. Alasannya adalah karena awalnya Julietta menyebutnya kaka ****, hal itu membuat dia merasakan pengalaman yang sangat aneh.
Julietta mencubit lehernya tanpa ingin melepasnya "Kamu ceritakan sebuah kisah untukku, ceritakan sebuah kisah untukku cepat"
David tidak kesal, dia berkata pelan dan lembut "cerita apa"
__ADS_1
"Ceritakan, tentang kisah seribu satu malam"
David bingung, kisah ini tidak ada habisnya walaupun diceritakan beberapa malam. Julietta yang mabuk dan tidak melepaskan tangannya dari David, pipinya sedikit bengkak, tapi matanya berbinar.
Bibirnya yang merah muda itu terlihat lembut dan indah, sangat menggodanya, David yang duduk disebelahnya diranjang itu terdiam sesaat, lalu tiba tiba menyadari bahwa dia telah menggali masalah untuk dirinya sendiri.
Julieta tiba tiba tertawa "kamu benar benar tampan" lalu tersenyum sangat manis sekali.
Sejak kecil sampai sekarang, David paling benci ada orang yang menilai penampilannya. Tapi Julietta bukan orang lain. Dia menatap Julietta dengan tenang, lehernya masih terjerat oleh tangan lembut Julietta dan hanya disaat dia mabuk, barulah dia seagresif dan seaktif manja ini.
Julietta tidak bergerak untuk sementara waktu, ketika David mengira dia sudah terlelap, Julietta tiba tiba mengelus pipinya dan berkata dengan samar "Aku tidak mengizinkanmu untuk mati, siapapun, tidak boleh menyakitimu"
Sebuah emosi indah tiba tiba bergulir dalam dadanya, terasa sangat hangat dan lembut. David berbisik "tidak akan" selain Julietta tidak akan ada orang yang bisa menyakitinya.
Julietta bicara lagi dalam keadaan setengah sadar "Aku akan menemanimu selamanya, jadi jangan takut" lalu menarik David dan mencium bibirnya.
Dalam mimpinya dia melihat David yang sedang berdiri sendirian didepan pintu, seolah olah seluruh dunia ini meninggalkannya, jadi dia mengucapkan kata kata itu pada David.
Kamar tidur itu sangat sunyi. Pria yang duduk dipinggir ranjang itu menopang kasur dengan satu tangan, sambil Julietta memegang lehernya. Dia menundukan kepalanya. Rambutnya yang berantakan itu terjatuh kebawah, menutupi kelopak matanya. Ekspresi matanya tidak terlihat jelas. Dia tetap tidak bisa bergerak dan diam untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya.
Pria itu mengatakan suara yang indah secara perlahan "Kalau begitu kita sudah berjanji"
Julietta yang mabuk itu tidak bisa mendengar apa apa, dia hanya bergumam, entah bicara apa dan mimpi apa yang sedang dialaminya. David membungkuk dan menggeser tubuh Julietta lalu mencium bibirnya yang merah, kedua bibir yang bersentuhan itu membuat jantung mereka berdebar.
Pada akhirnya dia merasa itu tidak cukup, dia melanjutkan ciumannya kealis, kelopak mata, dahi, bibir dan lehernya lalu kembali kebibirnya yang lembut. Dia menggigit bibir Julietta dengan lembut, seperti seekor semut yang merayap dari bibirnya, rasa gatal ringan itu membuatnya sedikit bergumam.
Lidah mereka mulai saling bersentuhan, Julietta setengah sadar dan dia merasa bahwa udara didalam paru parunya hampir disedot habis. Dia memberontak beberapa kali, namun lengannya digenggam oleh David.
Tubuhnya terasa seperti ditindih oleh beban seberat ratusan kilo, yang membuatnya tidak bisa bergerak. Dia merasa sedikit bingung tapi tidak bisa berbuat apapun, ciuman itu menjadi tidak berarti. Ciumannya mengalir dari pipi dan mendarat dileher Julietta yang putih halus lembut.
Kulit putih sempirna, seperti sehelai kain sutera putih yang menunggu coretan tinta yang tebal mewarnainya. Petani buah David akhirnya berhasil menanam beberapa strawbery merah kecil. Ketika dia ingin melangkah lebih jauh lagi, tidak tahu sejak kapan Julietta mulai berhenti memberontak dan jatuh tertidur.
Julietta tidak bergerak, dia tidak bangun, malahan dia tiba tiba menendang David yang tidak memiliki persiapan itu hingga dia terjatuh dari ranjangnya. Julietta memang seringkali kesal saat orang lain mengganggunya tidur. Serangan mendadak dari wanita mabuk ini benar benar menghancurkan suasana saat ini.
David yang terduduk dilantai itu memalingkan wajahnya dan menatap Julietta yang tertidur dengan sangat nyenyak. David terdiam untuk waktu yang lama, dia menghela nafasnya lagi, dan lagi dan lagi. David yang gagal itu merasa sedih tak berdaya.
Keesokan harinya, ketika Julietta bangun, dia merasakan sedikit pusing dikepalanya. Dia hanya ingat terakhir sedang duduk disofa sambil bermain ponsel. Kemudian dia tidak bisa mengingat bagaimana dia bisa sampai dikamar tidurnya itu. Lalu dia ingat dia minum bir.
Julietta mengenakan sendal, mengusap matanya kemudian membuka pintu. David sedang bersandar dimeja makan. Dia sedang makan onigiri sambil bermain ponsel.
Julietta bertanya tanpa sadar "Apakah kamu sudah menghangatkan onigiri itu setelah dikeluarkan dari kulkas"
David mengangguk. "Bagus kalau begitu"
Julietta menyisir rambut dengan tangannya lalu bertanya dengan sedikit malu "Apakah aku mabuk semalam"
David terdiam lalu mengangguk.
"Aku tidak mabuk dan merepotkanmu" Julietta tidak ingat apapun, dia takut melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas seperti sebelumnya.
David menjawab perlahan "Kamu menendangku"
Melihat ucapan David yang kelihatan jujur itu, Julietta merasa canggung dan berkata "Tidak sampai yah, ke em daerah penting itu"
Mata David berhenti sejenak dan hal itu membuat Julietta semakin gugup.
"Seharusnya tidak"
"Tapi pinggangku sakit"
__ADS_1
" pinggang oh hanya pinggangkan" Julietta menghembuskan nafas lega.
David bertanya datar "Kamu pikir bagian mana"
Menanggapi pertanyaan itu, Julietta lebih memilih untuk tidak menjawabnya tapi hanya tersenyum.
Dia berbalik dan pergi kekamar mandi mencuci muka. David lanjut makan. Dalam beberapa menit terdengar suara jeritan terkejut Julietta dari dalam kamar mandi.
"Ada apa dengan leherku, kenapa ada bengkak merah"
David hampir saja tersedak onigiri. Julietta membuka pintu kamar mandi, membuka kerahnya dan menunjukan lehernya kepada David. Terdapat tanda merah dikedua sisi lehernya yang ramping putih itu. Jika dibandingkan dengan kulitnya yang putih itu, warna merah itu terlihat sangat jelas. Kedua orang itu saling menatap bengong. David menunjukan ekspresi kaku.
Julietta "Seharusnya tidak...."
Julietta "seharusnya tidak ada serangga didalam rumah bukan, gawat kalau ada, kamu harus pergi kesupermarket dan beli obat pengusir serangga"
Julietta benar benar tidak berpikir banyak, sehingga membuat petani David itu berhasil lolos dari kecurigaan.
Julietta menatap cermin untuk waktu yang sangat lama, wajahnya tampak tertekan. Benar benar tidak enak dilihat, karena gigitan itu berada ditempat yang sangat jelas. Jika bekas gigitan itu tidak bisa hilang dalam beberapa hari, maka akan menjadi gosip yang tidak baik di kantor. Dia mencari concealer dan mengoleskannyan lapis demi lapis diarea yang bengkak itu. Setelah memastikan bekas gigitan itu tidak terlihat jelas dia kembali keruang tamu.
David makan sepotong onigiri seorang diri untuk waktu yang sangat lama. Hal itu membuat Julietta bertanya tanya apakah dia memiliki masalah.
"Apakah kamu tidak tidur dengan nyenyak semalam, mengapa aku merasa kamu sangat aneh hari ini"
David menatapnya, yang muncul dipikirannya hanyalah penampilan Julietta yang lembut dan menyenangkan semalam. Dia terbaring diranjang, penuh pesona, cantik manja dan menawan juga memanggilnya dengan sebutan kakak disaat mabuk.
"Onigiri ini tidak enak" ucap David.
Julietta percaya saja "oh kalau begitu jangan beli rasa ini lagi nanti"
David membeli obat pengusir serangga, lalu menyemprotkannya kesetiap sudut rumah atas perintah Julietta. Yang membuat Julietta kecewa adalah setelah beberapa hari dia tidak melihat satu kaki seranggapun.
Mungkin efek dari obat pengusir serangga itu kurang efektif, atau mungkin serangga itu telah meramalkan bahaya yang akan terjadi lalu mereka pindah keluar rumah dari sini.
Hanya saja semenjak hari itu Julietta tidak pernah lagi digigit lagi oleh serangga, bisa dibilang bahwa dia cukup lega.
Setelah hujan musim semi, bunga sakura dan bunga aprikot ditaman kota mulai bermekaran. Muncul dahan tunas yang halus, rumput segar dan bunga berwarna warni yang menarik banyak orang untuk mampir dan bermain disana. Selagi masih belum banyak orang yang menginjak bunga bunga kecil tersebut, Julietta menemukan tempat kosong dan mengajak David untuk menikmati pemandangan indah dari bunga bunga tersebut.
Ketika menikmati aroma bunga mekar, tentu saja dia juga harus mengenakan gaun yang indah. Julietta mengenakan sehelai gaun panjang berwarna biru muda, yang membuatnya semakin terlihat anggun cantik. Matanya berbinar, dia besukacita sepanjang jalan dan bersiap siap untuk mengambil beberapa foto yang cantik. Tentu saja akan lebih baik jka David bisa diandalkan.
Julietta terus mendesak David disepanjang perjalanan "Nanti kamu harus mendengarkanku, kamu harus mengikuti bagaimana arahanku untuk memotret"
David mengangguk.
"Jika kamu memotretku dengan buruk lagi, aku akan membalasnya" Julietta memperingatkannya.
David tetap menjawabnya dengan anggukan saja.
"Kamu sangat percaya diri sekali"
David berjanji dengan sangat yakin tenang. Julietta masih saja tidak bisa mempercayainya. Dia telah mempersiapkan diri untuk hasil foto yang diambil oleh pria datar ini,
Belum ada banyak orang pada saat ini, namun penampilan keduanya masih saja menjadi pusat perhatian. Untungnya Julietta telah memperhitungkan hal ini. Dia menyiapkan dua buah kacamata hitam besar untuk mereka, untuk menghalangi sebagian wajahnya. Penampilannya saat ini tidak seperti mau menikmati taman bunga, tapi lebih mirip sedang siap naik kepanggung dengan gaunnya untuk catwalk. Jadi hal itu membuat mereka semakin menjadi pusat perhatian.
Julietta menarik David kearah hutan taman kota yang tidak ada orang. Ketika melihat keatas, kita bisa melihat bunga bunga bermekaran yang cantik dan keindahan musim semi yang mempesona. Julietta mengambil nafas dalam dalam lalu berkata dengan gembira.
"Benar benar indah, sudah lama aku tidak jalan jalan melihat pemandangan indah seperti ini"
David tiba tiba menatapnya dengan pandangan aneh agak bingung.
__ADS_1