
Hasna melihat layar ponselnya. Ada nominal angka di sana. Sebuah rekening tabungan anak-anak peninggalan seorang ayah yang sudah tidak ada di dunia lagi.
Rencananya tabungan itu digunakan untuk pendidikan putri mereka. Namun, kini fungsinya sudah berbeda. Banyak hal yang mengharuskan uang itu dipakai bukan untuk pendidikan mereka. Contohnya saja seperti sekarang ini. Semenjak suaminya meninggal, dia sudah tidak melanjutkan asuransi kesehatan anak-anak ataupun dirinya sendiri.
Jangankan untuk asuransi, untuk biaya hidup saja mereka harus menghemat dan mengandalkan sisa uang yang ada.
Mas,. berat banget hidupku gak ada kamu. Aku benar-benar butuh teman untuk berbagi duka saat ini. Aku ingin kamu hadir dan sedikit saja memikul beban ini denganku.
Air mata Hasna perlahan menetes. Kerinduannya pada sang suami membuatnya rapuh.
Dengan langkah gontai, Hasna berdiri. Dia berjalan menuju kasir untuk membayarkan dana deposito perawatan Nay.
"Mba, saya mau deposito."
"Atas nama pasien siapa, Bu?"
"Nay. Nayara Anindhita."
"Sebentar ya, Bu."
Sambil menunggu penjaga kasir memeriksa data di komputer, Hasna memalingkan wajah. Melihat ke berbagai arah meski dia tidak tahu apa yang sedang dia cari. Hatinya hanya berharap jika suaminya datang berlari menghampiri dirinya, memeluknya sambil berkata "Aku di sini, Sayang. Kamu jangan takut, ya."
Air mata Hasna kembali menetes, mengaliri pipinya yang memerah.
"Atas nama pasien Nayara."
"Iya, Mba. Berapa saya harus deposit?"
"Nayara masuk ICU, ya, Bu. Kemungkinan biayanya akan sangat besar ditambah ibu masuknya sebagai pasien umum. Gak ada asuransi, Bu?"
"Gak ada, Mba."
"Biayanya sekitar 15 juta rupiah, Bu. Itu sebagai deposito. Kalau nanti ada lebihnya akan kami kembalikan, jika kurang maka ibu harus melunasi sisanya."
"Jika dilihat dari kondisi anak saya, mungkin akan kurang ya, Mba."
Kasir itu hanya tersenyum getir mendengar dan melihat kondisi Hasna.
"Saya transfer boleh, Mba?"
__ADS_1
"Boleh, Bu. Pakai QR saja."
"Oke."
Transaksi selesai. Bukti pembayaran sudah diterima pihak rumah sakit. Hasna bergegas kembali menuju ruang ICU, tempat Nay dirawat.
Dengan alat perlindungan diri lengkap, Hasna masuk, lalu dia duduk di kursi plastik di samping Nay. Tubuh kecil itu tampak lelah dengan semua alat-alat yang menempel di tubuhnya.
Hasna membelai tangan Nay dengan lembut. Air matanya kembali menetes dengan derasnya.
Hatinya remuk melihat anak bungsunya terkulai lemas dalam kondisi tak sadarkan diri dengan bantuan alat medis yang menghiasi tubuh kecilnya.
"Nay, kamu pasti kuat. Bunda tahu kamu ini anak hebat. Kamu pasti bisa melewati ini semua kan, Nak? Kamu udah janji mau nemenin bunda terus bukan? Kamu harus menepati janji itu. Kembalilah sama bunda, Nak. Bunda masih butuh kamu, bunda mohon kembali ke pangkuan bunda, Nak. Bunda mohon ...."
Hasna membenamkan wajahnya di kasur di sisi Nay. Tidak ada yang mendengar isakan tangis seorang ibu yang sedang ketakutan ditinggal oleh buah hatinya. Tidak ada yang melihat betapa dalam Dann besar luka yang dia derita saat ini.
Lelah, gundah, dan lara diderita hati Hasna. Berjalan sendiri melewati semuanya tanpa ada yang menemani.
"Assalamualaikum warahmatullahi ...."
Hasna mengusap wajahnya, menengadahkan tangan dan mulai menangis. Di atas sajadah itu Hasna menangis semaunya. Luka yang terlalu lama tidak terobati, membuat Hasna bingung ingin mengadukan luka dan derita yang mana pada Rabb - Nya. Dia hanya menangis sambil berkata "Ya Allah, tolong hamba."
"Halo, Na."
"Ra."
"Gimana di sana? Bagaimana kondisi Nay?"
"Masih sama, Ra. Nay belum menunjukkan keinginannya untuk kembali sama aku. Mungkin, dia terlalu lelah karena memiliki ibu yang hanya memberikan beban dan kesedihan untuknya."
"Heh, eling! Dia cuma pergi sebentar. Nanti juga balik lagi. Kamu sabar aja. Jangan mikir yang aneh-aneh."
"Shaki, gimana dia? Puput gimana?"
"Aman. Shaki gak ada luka serius. Tulang dia juga baik-baik aja. Puput di rumah. Pokoknya kamu jangan mikirin di sini. Baik-baik aja di sana. Jangan lupa makan, jaga kesehatan."
"Iya, Ra. Udah dulu, ya. Aku tutup telponnya."
"Kalau ada apa-apa, langsung kasih kabar."
__ADS_1
"Hmmm."
Hasna melanjutkan perjalannya menuju kantin. Dia hanya membeli air mineral dingin untuk melepaskan dahaganya. Sementara perutnya tak dia hiraukan. Dengan kondisi anaknya yang sedang diujung tombak, selera makan Hasna langsung lenyap seketika.
Terdengar suara beberapa pria sedang berbincang. Bahkan mereka tertawa lepas. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Suara itu semakin jelas terdengar, semakin mendekat ke arah Hasna. Wanita itu hanya diam sambil melihat tutup botol air mineral.
Lamunannya buyar setelah seseorang memanggilnya.
Hasna mendongakkan kepala. Melihat siapa yang memanggil dirinya.
"Pak?"
"Ngapain kamu di sini?"
"Saya?" Hasna melihat sekeliling.
Raden menatapnya bingung.
"Saya sedang menunggu anak saya, Pak."
"Sakit? Siapa?"
"Nay. Dia di ICU sekarang."
"ICU? Kenapa? Eh, sorry. Kok bisa?"
Hasna mencoba tersenyum walaupun air matanya kembali menetes.
"Pak, sepertinya saya di sini sebentar. Maaf, saya tidak bisa mengantarkan sampai depan."
"Tidak apa-apa, Pak. Nanti sekertaris saya akan memberi kabar selanjutnya."
"Baik, Pak. Terimakasih dan ... sekali lagi saya minta maaf."
Dia pria yang bersama Raden, berpamitan lalu pergi. Sementara Raden duduk di samping Hasna. Tidak bertanya dan tidak berkata-kata sedikitpun. Raden hanya menemani Hasna yang menangis sesenggukan. Semakin lama, tangisan itu semakin terdengar jelas. Seperti beban yang lama menumpuk lalu dia keluarkan perlahan.
Raden hanya bisa melirik sesekali. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam menemani Hasna dan memastikan dia baik-baik saja.
"Jika ada yang ingin kamu ceritakan, aku akan menjadi pendengar yang baik buat kamu. Jika ada masalah yang kamu hadapi, aku akan siap menjadi solusi. Hasna."
__ADS_1