
Airlangga menyusul Raden keluar dari kamar rawat Azalea. Saat sampai di parkiran, dia mencari ponselnya yang ternyata tertinggal. Dia gegas berjalan kembali ke kamar. Namun, alangkah terkejutnya Airlangga saat mendengar percakapan bibi dan mamanya.
"Saya lelah harus terus bersandiwara. Pura-pura kemoterapi itu benar-benar menyakitkan karena tindakannya sama cuma obatnya doang yang gak pake."
"Sabar, bukankah kamu ingin Airlangga diakui? Lagi pula kamu dapat untung besar nantinya. Bayangkan, warisan yang diterima Airlangga itu gak main-main jumlahnya, dan kamu akan dapat 50% sesuai perjanjian kita."
"Hupfff! Jika bukan karena warisan itu, aku ogah banget harus diinfus, diet ketat sampe anoreksia gini. Lihat, badanku kurus kering."
"Hanya sesaat sampai Raden menikahi kamu. Sampai kakak iparku memberikan warisan Airlangga. Setelah itu kamu bisa pergi semau kamu ke manapun."
"Ck, kenapa sih bibi benci banget wanita itu menikah sama Raden? Padahal kayaknya dia baik, terus lugu gitu."
"Kakak ipar sepertinya menyukai wanita. Aku bisa melihatnya saat kami ke rumah Hasna. Itu akan sangat berbahaya. Dia tidak akan bisa diajak kerjasama seperti kamu. Kamu tau sendiri, suamiku bekerja keras memajukan rumah sakit ini tapi kami tidak punya keturunan. Warisan itu akan jatuh pada anak laki-laki Raden. Bagaimana jika Hasna hamil dan memiliki anak laki-laki? Lebih baik aku memberikannya pada Airlangga. Setidaknya aku masih bisa dapat bagian dari bagi hasil kita nanti."
"Ya, ya, ya, whatever lah."
Tangan Airlangga gemetar. Apa yang barusan dia dengar membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Azalea datang memohon dengan mengatakan bahwa dia merindukan dirinya, ingin membalas masa lalu yang buruk dengan menghabiskan waktu dengannya, menebus semua kesalahannya, dan mengatakan jika dia menyesal ternyata hanya sebuah kebohongan belaka. Semua dia lakukan demi harta.
Hati yang dulu terluka, kini semakin menganga. Belum sembuh sudah ditambah luka baru.
Niat mengambil ponsel pun dia urungkan. Dia tidak sanggup melihat Azalea dan bibinya. Airlangga takut amarahnya tidak akan terkontrol, dia memilih pulang.
Sekuat tenaga Airlangga mengendalikan emosinya yang tidak stabil. Teringat akan kecewanya Akhtia akan keputusan membuat Airlangga semakin marah. Dia marah karena Azalea yang memberikan harapan, ternyata mengkhianati hatinya yang tulus ingin berdamai.
Haus kasih sayang sejak kecil membuat dia melupakan sikap Azalea, dan mau bahkan membujuk keluarganya agar dia diterima. Namun, kenyataan ....
Berkali-kali dia memukul stir mobil meluapkan rasa kecewanya.
"Papah, papah jangan sampai menikah dengan mama. Tidak, lebih baik aku tidak mendapatkan hak waris ketimbang melihat papah menikah dengan wanita itu." Airlangga berbicara sendiri.
"Ya Allah, bunda." Airlangga menangis mengingat Hasna.
Dia menepikan mobilnya karena tidak bisa konsentrasi lagi menyetir.
__ADS_1
Dalam teriknya matahari di luar, seorang anak yang kali kedua harus menerima rasa sakit dari sang ibu, menangis sesenggukan.
...***...
Di dalam kamar, Akhtia membuka laptop. Dia menghubungi sahabat maya nya melalui email.
Akhtia yang introvet lebih suka menghabiskan waktunya berselancar di internet. Selain Puput, dia memiliki teman yang bernama Dealova. Nama pena sahabatnya.
Hai.
5 menit kemudian
Hai, ada apa cantik?
Lagi apa?
Nungguin pesan dari kamu.
Bokies.
Untung bukan boker.
Tapi lucu kan?
Lutung culun
Masa ganteng gini dibilang culun?
Ya mana aku tahu kamu ganteng, kan kita belum pernah saling melihat wajah asli satu sama lain.
Aku masih nomor wa, tapi kamu gak pernah sekalipun menghubungi. Aku ajak ketemu, kamu gak pernah mau. Aku mau kirim foto, kamu nolak.
Aku takut malah kita gak nyaman nantinya. Lebih baik seperti ini. Tidak saling mengenal tapi saling berbagi satu sama lain.
Kamu nyaman?
__ADS_1
Ya!
Aku ingin kita ketemu. Sudah aku katakan jika aku menyukaimu. Entah kenapa tapi aku merasa benar-benar menyukaimu.
Ini hanya perasaan nyaman karena kita nyambung kalau ngobrol. Belum tentu rasa itu masih sama saat kita bertemu.
Kenapa? Kamu takut aku jelek?
Bukan. Aku tidak memandang manusia hanya karena fisik. Tapi aku belum siap. Aku takut kamu yang kecewa sama aku nantinya.
Tidak akan. Ayo, kita ketemu dan bertemu dengan orang tuaku.
Tidak ada balasan.
Teman dunia maya sudah sangat lama dia kenal, saling bertukar pikiran dan rahasia. Berbagi suka maupun duka. Namun, Akhtia selalu merasa takut jika mereka akan bertemu. Akhtia takut Dealova akan kecewa karena dirinya tidak seasik di dunia maya jika berbicara.
"Puput, kamu lihat Dealova terus saja mengajak aku ketemu. Menurut kamu harus gimana?" tanya Akhtia pada layar ponselnya. Layar ponsel yang memakai wallpaper dirinya dan Puput.
Tok tok tok
Sebelum dipersilahkan masuk, pintu sudah terbuka. Dia datang dengan wajah tertunduk lesu.
"Ngapain?" tanya Akhtia ketus. Airlangga tidak peduli. Dia terus berjalan mendekat. Menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Telungkup dengan membenamkan wajah di atas bantal.
"Bang, ngapain? Keluar gih!" Akhtia yang masih kesal mengusir Airlangga.
Laki-laki itu tetap diam. Dia mengerti kenapa adiknya seperti itu. Itu karena dia kecewa dan marah. Amarahnya tidak membuat Airlangga tersinggung ataupun kecewa.
Akhtia masih cemberut melihat sikap Airlangga. Hingga raut wajah itu berubah saat melihat pundak hingga punggung Airlangga turun naik seiring dengan suara isak tangis yang memulai terdengar meski samar.
"Iiiih, ada apa?" tanya Akhtia mulai khawatir. Meski Airlangga tidak mengatakan apa-apa. Tidak memberikan alasan kenapa dia menangis, Akhtia tau jika abangnya sedang tidak baik-baik saja.
Jika air mata Airlangga sudah keluar, itu artinya dia merasa lelah dan putus asa.
Akhtia naik ke atas ranjang. Dia tidur di samping Airlangga. Memeluk tubuh itu yang sedang rapuh.
__ADS_1
Akhtia menangis. Tentu saja bukan karena dia merasa sedih atas apa yang tejadi pada abangnya. Dia hanya mencurahkan isi hatinya yang selama ini dia sembunyikan karena pertengkaran yang tejadi di antara keduanya.
Adik Kakak itu menangis bersama dengan alasan yang berbeda.