
Semua orang menunggu dengan tegang dan cemas. Melihat Puput yang belum juga sadarkan diri dengan perutnya yang besar.
"Sudah, Sayang. Puput pasti sadar sebentar lagi. Kamu jangan nangis terus." Raden berusaha menenangkan istrinya yang tidak hentinya menangis sambil meremas jemari tangan putrinya.
Tidak hanya Hasna, semua anggota keluarga pun sedih dan cemas. Pun dengan Airlangga. Dia hanya sesekali mengedipkan mata karena terus saja menatap Puput, berharap mata wanita itu akan segera terbuka.
"Assalamualaikum ...."
Semua orang menjawab.
"Puput ...." Ibu Asih dan Pak Lee mendekati ranjang Puput. Mereka menangis melihat keadaan menantunya.
"Bu ...." Hasna bangun menyambut kedatangan besannya. Mereka berpelukan. Suasana hening kini menjadi gaduh oleh tangisan kedua ibu tersebut.
Setelah semua tenang, mereka duduk di kursi.
"Memang benar, kapal yang ditumpangi Chooki mengalami kebakaran saat di tengah laut, tapi kami belum mendapatkan kabar siapa saja yang menjadi korban."
"Kami masih berusaha tegar, berharap dan percaya jika Chooki tidak termasuk daftar korban. Semoga harapan kami berbuah manis," Pak Lee menambahkan ucapan istrinya.
"Aamiin. Insya Allah Chooki ada dalam lindungan Allah. Kami selalu berdoa untuk keselamatan dia, Pak." Raden berbicara.
Namun, harap itu pupus saat Pak Lee mendapatkan telpon dan memberitahu jika Chooki termasuk ke dalam daftar korban jiwa.
Jeritan sakit seorang ibu terdengar memekakkan telinga lalu perlahan redup dan hening. Bu Asih pingsan.
Di saat yang bersamaan, Puput sadar. Airlangga yang menyadari hal itu segera menghampiri adiknya.
"Ada apa? Kenapa Ibu pingsan?" tanyanya berusaha tidak mengerti apa-apa.
"Tenang, Put. Semuanya baik-baik saja."
"A-apa ... apa anakku akan yatim sebelum dia lahir ke dunia ini? Pah ... apa anakku tidak akan melihat ayahnya? Bang? Katakan. Kenapa anakku harus mengalami hal ini? Papah?"
Semua orang menangis.
Airlangga memeluk erat tubuh Puput yang sedang meronta karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya sudah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Puput lemah, tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk bangun. Bahkan diajak bicarapun dia tidak merespon. Itu sebabnya dia tidak bisa ikut menghadiri pemakaman Chooki.
Airlangga setia menunggu dan menjaga adiknya, sementara yang lain ikut mengantar kepergian Chooki ke tempat terakhirnya.
"Put ... makan ya? Sedikit saja. Bayi kamu butuh makanan ini."
Puput masih diam.
Airlangga mengelus perut Puput sambil berbincang dengan janin yang ada di dalam rahim Puput.
"Nak, kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Kamu tidak akan merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki seorang ayah. Om akan selalu menjaga kamu, menemani kamu setiap saat, ya. Jangan sedih, apapun akan Om lakukan untuk melindungi kamu."
"Awww." Puput merintih.
"Ada apa? Mana yang sakit?" tanya Airlangga panik.
"Bukan, Bang. Tapi anakku nendang. Dia merespon obrolan Abang," ucap Puput sendu.
"Seharusnya dia berbicara dengan ayahnya ... seharusnya dia mendengar itu dari ayahnya."
Airlangga memeluk Puput yang menangis pilu.
Puput mengangguk-anggukkan kepalanya dengan air mata yang mengucur deras.
Setelahnya Puput mulai menata kehidupannya lagi. Meski kesedihan masih menyelimuti hatinya, namun dia tidak membiarkan janin dalam rahimnya kelaparan.
Sulit memang, menelan makanan saat dalam keadaan menahan air mata, tapi benar apa yang dikatakan Airlangga jika bayi itu merupakan pengganti keberadaan suaminya.
Airlangga terus merangkul adiknya saat wanita itu mengunjungi makam Chooki. Sebisa mungkin Puput tidak meneteskan air mata karena takut akan menambah beban Chooki untuk pergi ke alam berikutnya.
"Aku akan membesarkan anak kita dengan baik, Mas. Aku akan mengenalkan kamu padanya, dan bilang jika dia memiliki ayah terhebat di dunia yang menyayangi dia dengan segenap hati."
Puput menaburkan bunga di atas pusara sang suami sebelum dia pulang.
Berat langkahnya saat hendak pergi. Jika bisa, Puput ingin ikut bersama Chooki pergi untuk selamanya.
"Saat melihat film seorang istri yang sedang hamil, terus ditinggal suaminya pergi ... aku sangat sedih. Bahkan aku bisa menangis sesenggukan," ucap Puput saat mereka dalam perjalanan pulang. Airlangga melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.
__ADS_1
"Siapa sangka aku akan mengalaminya sendiri."
Tidak ada yang bisa Airlangga lakukan atau katakan. Menghiburnya pun akan sangat sia-sia. Toh, tidak semua orang bercerita karena menginginkan pendapat atau nasihat bukan?
Mereka sampai di pelataran rumah. Hasna dan Raden menyambut Puput dengan hangat. Selama Puput hamil, dia akan tinggal bersama orang tuanya.
Tidak hanya orang tuanya, Akhtia pun ikut tinggal bersama agar Puput merasa terhibur jika banyak orang yang menemaninya.
"Emmm gimana kalau kita kayak orang lagi mudik ke kampung pas idul fitri."
"Apa sih, Tia?" tanya Hasna.
"Kita tidurnya jangan di kamar masing-masing. Kita berjejer aja kayak ikan pindang di ruangan ini. Ini kan gede, kita semua pasti muat. Gimana?"
"Aku setuju." Airlangga berdiri. "Kita keluarkan semua kasur dan tidur di ruangan ini sama-sama."
Tanpa menunggu persetujuan, Airlangga pergi ke kamarnya dan mulai menarik kasur dibantu Raden, Dewa, dan juga pekerja laki-laki yang ada di rumah itu.
Suasananya sangat hangat dan ramai, ditambah dengan hadirnya anak pertama Akhtia yang cerewet dan lincah, dia bermain dengan Nay dan Shaki.
Canda dan tawa menggema di seluruh ruangan.
Hingga malam pun semakin larut. Satu persatu orang-orang mulai tertidur. Kecuali Airlangga. Dia duduk di samping Puput. Memastikan adiknya itu aman dan tidur dengan nyenyak.
"Euhmmm." Dewa menggeliat.
"Tidurlah, dia aman kok di rumah ini. Lagian kalau ada apa-apa, pasti kita semua kebangun."
Airlangga hanya tersenyum menanggapi ucapan Dewa sambil terus menatap Puput.
"Dia sedang hamil besar, pasti akan sangat tidak nyaman saat tidur, bukan?"
Dewa mengusap-usap tengkuknya.
"Ya, begitulah. Biasanya Akhtia akan menangis karena lelah, dia ingin tidur tapi tidak nyenyak. Tidak bisa bergerak bebas, dan sering terbangun untuk ke kamar mandi."
"Hmmm, aku tau meski belum memiliki istri. Setidaknya teori tentang hal itu sudah aku pelajari sangat dalam."
__ADS_1
Dewa tersenyum miris mendengar ucapan kakak iparnya. Dia merasa kasian pada Airlangga karena jatuh cinta pada wanita yang jelas-jelas tidak akan bisa dia miliki.