
Ada yang datang, dan ada yang pergi. Itulah kehidupan. Puput sudah kembali ke rumah menggantikan Angela yang sudah pergi untuk selamanya. Kini Puput sudah menginjak usia remaja, seragamnya pun sudah berganti menjadi putih abu-abu.
Kesederhanaan Puput membuatnya bersekolah di sekolah negeri unggulan, di mana di sana siswanya bersaing memakai kepintaran mereka, bukan koneksi orang tua. Masuk ke sekolah itu hanya punya satu syarat, yaitu otak yang mencukupi.
"Congrats ya, adek aku. Uuuuhhhh." Dengan gemasnya Akhtia memeluk Puput saat dia mendapatkan surat dari pihak sekolah bahwa dia di terima di sana.
"Selamat, ya. Kamu emang hebat." Dewa menjabat tangan Puput sambil memberikan kado.
"Kamu hebat, Nak. Mau apa dari papa?" tanya Raden sambil memeluk putri keduanya.
"Gak mau apa-apa, Pah. Aku udah punya semuanya. Ada Papa, Bunda, Kakak, adek-adek, Abang, dan juga Kak Dewa. Apa lagi coba?"
Raden tersenyum sambil mengelus kepala Puput.
"Ih, jangan nangis." Puput memeluk Hasna. Wanita itu menangis bahagia atas apa yang diraih oleh anaknya. Jika mengingat bagaimana dulu hidup mereka, Hasna tidak menyangka akan berada di titik sekarang ini.
"Bunda bangga sama kamu, Nak. Terimakasih ya."
Puput mengangguk pelan sambil menangis dalam pelukan bundanya. Hanya Airlangga yang saat itu tidak mengucapkan apa-apa pada Puput.
Rumah kembali hangat dan penuh dengan keceriaan. Tapi bukan berarti mereka melupakan yang sudah pergi. Setiap malam Jum'at, mereka akan mengadakan yasinan bersama dengan seluruh anggota keluarga termasuk pekerja. Hari Jum'at nya Airlangga memberikan makanan untuk dibagikan pada fakir miskin sebagai sedekah atas nama Angela dan bayinya. Hanya itu yang bisa Airlangga berikan pada Angela.
Penyesalan memang hukuman yang paling berat di dunia ini. Sebesar apapun penebusan yang kita lakukan, rasa itu tidak akan pernah hilang dan akan ada seumur hidup menemani kita. Yang lebih parah nya adalah karena kita tidak bisa memutar apa yang sudah berlalu.
Setelah ospek atau pengenalan masa sekolah selama sepekan, hari ini adalah hari pertama Puput belajar. Kelas nya pun tidak kalah nyaman dengan sekolah swasta. Bangku yang bagus dan rapi, satu bangku, satu meja, untuk satu siswa. Ruang berpendingin. Juga guru yang kompeten.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi, Pak."
Seorang guru yang masih begitu muda memasuki ruang kelas. Dia adalah Rizal, wali kelas Puput.
Jam istirahat pun tiba. Anak-anak mulai melakukan peregangan badan setelah belajar begitu serius sejak pagi. Ada diantara mereka yang masih membaca ulang pelajaran tadi, lalu berdiskusi dengan temannya yang lain. Ada yang mulai mencari teman, dan ada juga yang pergi keluar kelas.
"Hai." Seseorang menyapa Puput.
"Hai juga."
__ADS_1
Dia mengulurkan tangan, "Aku Imas, kamu Puput kan?"
Puput menyambut uluran tangan Imas sambil tersenyum.
"Aku ikut kenalan juga dong."
Imas dan Puput tersenyum.
"Aku Saodah, kamu Puput kan ya? Kamu siapa?"
"Imas."
"Oke, Imas, Puput, kita mau ngapain sekarang? Belajar lagi, atau ke kantin?"
"Ke kantin aja yuk, ngapain belajar lagi? Bisa meledak ini otak. Mending istirahat dulu aja biar fresh, kita butuh amunisi untuk menghadapi pelajaran berikutnya." Rupanya Imas adalah orang yang sangat cerewet. Bicaranya banyak.
Itu adalah awal persahabatan mereka bertiga. Sejak saat itu, Imas dan Saodah, juga Puput selalu ke mana-mana bersama. Mengerjakan tugas bersama, ke kantin bersama, juga bermain bersama.
Saat jam istirahat kedua, waktunya para siswa mengambil ponsel di sebuah ruangan khusus. Mereka harus antri seperti hendak membayar spp.
"Hp kamu bagus banget, Put. Idiiiih, iPhone ya?"
"Pah, aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Puput saat makan malam.
"Apa, sayang? Laptop? Mobil? Atau mau les di tempat yang bagus? Oh, iya. Kita panggil guru aja ke rumah biar kamu bisa lebih fokus belajarnya."
"Bukan ih papa. Buat apa coba mobil, laptop, kan udah ada semua."
"Terus mau apa?"
"Handphone baru."
"Handphone? Punya kamu rusak?" tanya Akhtia.
"Enggak, aku mau ganti aja, Kak."
"Ganti pake apa? Itu kan keluaran terbaru, Put."
__ADS_1
"Justru karena ini keluaran terbaru, makanya aku mau ganti ke handphone biasa aja. Aku malu kalau sampai temen-temen tau. Yang lain handphone nya biasa aja, malah ada yang gak punya sama sekali."
"Ih, aneh!" ucap Akhtia.
"Kalau hp biasa, Abang juga bisa beliin. Besok Abang jemput ke sekolah ya, nanti kita beli."
"Asiiik, Abang emang baik deh."
"Bunda, aku juga mau beli tempat pensil baru dong," rengek Nay.
"Emang udah rusak juga? Atau mau beli yang lebih jelek kayak kakak Puput?"
"Bukan, aku mau yang bagus. temen aku punya tempat pensil yang ada airnya tapi gak tumpah. Dalemnya ada ikannya kecil. Aku mau."
Hasna mengerutkan kening karena tidak mengerti benda seperti apa yang Nay inginkan.
"Aaaah, aku kakak tau. Itu pesannya on-line karena belinya di luar negeri, kecuali kita pergi ke sana. Nanti Kak Tia pesenin deh. Nah, Shaki mau apa?"
"Enggak mau apa-apa, aku mau fokus aja latihan taekwondo, bentar lagi kan mau kejuaraan."
Airlangga dan Akhtia tepuk tangan, disusul Puput dan yang lainnya.
"Mendali sama tropi kamu udah banyak loh, Dek," ucap Dewa.
"Kan kejuaraan kali ini di Thailand."
"What? Internasional dong? Kamu kepilih?"
Shaki mengangguk yakin.
"Ya emang udah waktunya sih masuk ke kancah internasional. Kalau cuma sekedar tingkat kabupaten atau provinsi kan udah bukan kelasnya dia lagi," ucap Airlangga bangga.
"Hebat deh pokoknya kamu, Dek."
"Emang kapan waktunya?" tanya Akhtia.
"Dua Minggu lagi. Papa dan bunda akan mengantar Shaki ke sana. Mungkin Nay juga akan kami bawa beserta suster. Kalian semua tinggal di rumah baik-baik. Harus saling menjaga satu sama lain. Terutama kamu, Airlangga. Jaga adik-adik kamu."
__ADS_1
"Siap, Pah. Aku akan menjaga mereka dan rumah," ucap Airlangga. Dia melirik Puput sambil tersenyum sumringah.