
"Bun, kok Om Raden gak ke sini-sini sih. Aku kan mau ketemu."
"Nay mau ketemu? Kenapa?"
"Aku kangen, Bun. Om Raden suka dongengin aku."
"Gimana kalau bunda aja yang baca dongen buat Nay?"
"Nggak ah, aku mau sama om aja."
"Mungkin om sedang sibuk, nanti kalau udah gak sibuk dia pasti ke sini jengukin Nay. Nay sabar ya. Sekarang bunda aja dulu yang dongeng. Mau?"
Dengan berat hati, anak itu menganggukkan kepala. Saat Hasna sedang bersiap-siap baca dongen, pintu kamar terbuka dengan cukup keras. Bukan hanya Hasna, Nay juga merasa kaget.
"Ibu?"
"Kenapa kamu nyuruh anak saya jemput anak kamu, hah! Kamu gak tau dia terluka dan celaka gara-gara jemput anak kamu!"
"Maaf, Bu. Widia sendiri yang memang mau."
"Kaki anakku sekarang sakit, tangannya penuh bekas lecet. Dia juga gak bilang jika bukan orang lain yang ngasih tau ibu. Apa kamu sengaja meminta Widia agar tutup mulut? Ya Allah, kasian banget anak bungsuku ke asrama dalam keadaan sakit. Ini semua pasti gara-gara kamu!"
"Bu, tolong jangan berteriak, ini rumah sakit."
"Anak kecil juga tau ini rumah sakit!"
"Aku bisa jelasin semuanya sama ibu. Ibu duduk dulu dengan tenang, ya."
"Permisi, maaf, Bu." Suster datang menghampiri.
"Apa?" ibu mertua Hasna membentak.
"Ini rumah sakit, tolong jangan berisik kasian pasien yang lain."
"Bagaimana saya gak berisik, lihat wanita ini? Dia yang menyebabkan anak saya meninggal, dan sekarang anak bungsu kesayangan saya pun celaka gara-gara dia."
"Maaf, Bu. Tapi ibu dilarang membuat keributan di sini. Jika ada masalah silakan selesaikan di rumah."
"Oke, ayo kita pulang. Kita selesaikan semuanya di rumah." Ibu menyeret tangan Hasna. Melihat hal itu, Nay menangis ketakutan.
"Bu, Bu, hentikan. Nay nangis, Bu." Hasna berusaha meminta ibu mertuanya melepaskan tangannya agar bisa menenangkan Nay. Tapi tidak digubris sama sekali.
"Bu, tolong. Lagi pula Widia hanya lecet."
"Hanya kamu bilang?" Mertua Hasna melepaskan tangan Hasna dengan cara membantingnya hingga Hasna jatuh ke lantai.
"Denger, ya. Kekasih Widia itu anak orang kaya. Kalau sampai Widia cacat, gimana? Kamu mau dia batal nikah?"
"Enggak, Bu. Aku mau Widia bahagia," ucap Hasna sambil bercucuran air mata di atas lantai. Di dalam sana Nay masih menangis ditenangkan oleh suster. Mendengar keributan yang terjadi, beberapa keluarga pasien pun keluar dari kamar mereka. Satpam pun datang untuk memperingatkan mertua Hasna ditemani perawat yang lain.
"Ayo bangun, Bu." Seseorang membantu Hasna untuk bangun.
"Dasar manusia pembawa sial! Setelah anakku mati, kamu berusaha mencelakakan putri ku juga." Mertua Hasna menarik rambut Hasna, memukul kepalanya dengan penuh amarah. Sementara Ana yang ikut datang berusaha melerai dibantu satpam dan perawat yang lain.
Melihat kejadian itu, seorang petugas lainnya pergi ke nurse center dan mencoba menelpon seseorang.
__ADS_1
Hasna memegang kepalanya yang terasa sakit. Sementara mertuanya masih saja mencaci.
"Cukup!"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa yang berani membuat keributan di rumah sakit saya silakan berurusan dengan pihak berwajib."
"Siapa kamu?" tanya mertua Hasna.
"Saya pemilik rumah sakit ini. Jika ibu membuat keributan di sini, saya akan menuntut ibu ke polisi," ucap Raden geram.
"Baiklah, saya juga akan melaporkan dia sekalian. Dia yang menyebabkan putri saya celaka dan kakinya lecet semua."
Raden memicingkan matanya.
"Lecet? Ibu tahu gara-gara anak ibu yang ceroboh membawa motor, anak ibu ini koma. Ibu tahu itu tidak!"
Mertua nya terdiam. Dia menelan ludah karena ketakutan.
"Buktikan jika wanita ini yang menyebabkan anak ibu celaka. Saya pun akan membuktikan bahwa putri ibu lalai menjaga keponakannya dan menyebabkan Nay koma"
"Ja-jangan. Anak saya masih remaja, masa depan dia masih panjang. Oke, baiklah, saya tidak akan melaporkan dia ke polisi, saya juga akan pergi dari sini."
"Silakan." Raden membentangkan satu tangannya mempersilahkan ibu itu pergi.
"Hasna, awas ya! Ibu akan menuntut kamu suatu hari nanti."
"Satpam!"
Suasana mulai tenang.
"Saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi siang ini. Jika ingin komplain, kami menerimanya dengan lapang dada."
"Tidak, pak. Kami baik-baik saja hanya saja kasian ibu itu, dia dijambak dan dipukul," ucap seseorang yang kebetulan berdampingan dengan kamar Nay.
"Ibu gak apa-apa? Lebih baik diperiksa saja mumpung ini rumah sakit. Tadi kenceng banget loh dia narik rambutnya. Itu lihat, sampai rontok di bawah gitu."
Raden melirik rambut yang berserakan di lantai. Hatinya bergemuruh, dadanya panas.
"Saya gak apa-apa, makasih ya, Mba."
"Ayo ikut."
Raden menarik tangan Hasna.
"Mas, mau ke mana? Nay nangis."
"Ada suster. Eh, kamu. tolong jaga anak di kamar VIP B." Raden memerintah salah satu suster perempuan untuk menjaga Nay.
"Iya, Pak."
"Mas, saya gak apa-apa. Jangan begini, sih, malu."
Raden tidak mengindahkan rengekan Hasna. Dia membawa wanita itu menuju ruangannya di lantai 2.
__ADS_1
"Duduk."
Hasna duduk di sofa, sementara Raden berjalan menuju kursi kerjanya. Dia mengambil telepon dan meminta seseorang untuk datang ke ruangannya.
Tidak lama kemudian, seseorang datang.
"Ada apa? Kenapa kamu terdengar marah di telpon tadi?"
"Periksa dia." Raden menunjuk Hasna. Hasna tersenyum ramah saat bertatapan dengan wanita yang memakai jas dokter. Mungkin jika dilihat dari wajahnya, dia seumuran dengan Raden, mungkin juga lebih.
"Eh, kamu apain itu anak orang sampe berantakan begitu?"
"Kamu mikirnya ke mana? Udah lah periksa saja secepatnya. Pastikan tidak ada yang terlewat."
"Oh, oke. Calm down, bro!"
Dokter itu mendekati Hasna, dia duduk di samping Hasna sambil tersenyum mengejek Raden. Hasna tersenyum.
"Coba, apa yang sekarang dirasakan?"
"Kenapa malah nanya, kamu periksa aja dari atas sampai bawah. MRI kalau perlu, ronsen atau apa gitu."
"Etdah, emang dia kena palu kepalanya harus di MRI segala."
"Mas, saya gak apa-apa. Kamu jangan berlebihan kayak gitu."
"Mas? kalian ...." Mata dokter itu membulat.
"Sinta, aku meminta kamu buat meriksa. Lakukan!"
"He he he, siap, Bos."
Dokter Sinta memeriksa kepala Hasna. Ada beberapa luka benjolan di sana. Ada luka bakar juga yang menyebabkan ada rembesan darah di sana.
"Aku harus turun ke bawah dan mengambil obat ke apotik. Ini tagihannya atas nam kamu kan, Den?"
"Atas nama direktur aja. Ya, atas nama aku lah!"
"Ish, ini orang lagi datang bulan apa gimana sih? Sensi banget. Hati-hati ya kamu sama dia, takut di makan."
Hasna tertawa.
Setelah Sinta pergi, Raden mendekat dan duduk di kursi yang dia tarik agar bisa berhadapan dengan Hasna.
"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Raden dengan suara yang lembut. Matanya memperlihatkan kekhawatiran dan amarah yang menggebu.
"Aku gak apa-apa, Mas. Kamu jangan terlalu cemas begini. Beneran, deh, aku berani sumpah kalau aku baik-baik saja."
Raden mengangguk-angguk kecil.
"Hasna ...."
"Ya."
"Menikahlah denganku."
__ADS_1
Mata Hasna sedikit melebar. Dia terkejut dengan apa yang barusan Raden katakan.