Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Kepergian Pak Mahmud


__ADS_3

Ratna dan temannya hanya bisa tertunduk malu dan takut di hadapan Raden. Mereka tau apa yang akan terjadi pada mereka.


"Saya yakin kalian tau kenapa kalian saya panggil ke sini bukan?" tanya Raden keesokan harinya.


Ratna dan temannya masih menunduk dalam diam.


"Seharusnya kalian tau bahwa kalian itu pelayan dalam bidang kesehatan. Siapapun yang datang wajib kalian layani terlepas mereka itu siapa dan bagaimana keadaan mereka. Intinya mereka bayar untuk mendapatkan pelayan kesehatan di rumah sakit ini. Terlebih pasien itu datang bersama istri saya. Apa yang salah? Harusnya kalian malu, istri seorang direktur rumah sakit saja mau mengurus orang yang kalian anggap gembel, kenapa kalian yang hanya karyawan biasa malah terkesan sebaliknya."


"Kami minta maaf, Pak."


"Selain karena tugas kalian sebagai pelayan kesehatan, harusnya kalian memiliki jiwa penolong. Jiwa yang peduli pada mereka yang membutuhkan ilmu kalian. Apa kalian tidak memiliki itu? Lalu untuk apa kalian kuliah dan bekerja di bidang kesehatan? apa hanya karena uang semata?"


"Kami benar-benar minta maaf, Pak. Kami berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi."


"Ini. Kalian saya beri surat peringatan pertama. Semoga ini bisa membuat kalian sadar akan profesi kalian. Sebenarnya saya ingin memecat kalian langsung, tapi istri saya melarang. Sekarang, silakan kalian keluar dari ruangan saya."


"Terimakasih, Pak. Kami permisi."


Raden menghela nafas panjang. Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Hasna.


"Gimana, sayang? Surat pindah anak-anak sudah kamu urus?"


"ini aku lagi di sekolah mereka, Mas. Tapi aku lupa."


"Tentang?"


"Sebelum pindah harus ada surat keterangan diterima dulu di sekolah tujuan."


"Tunggu lima atau sepuluh menit, saya akan kirim nanti."


"Iya, Mas."


Raden menutup telponnya dengan Hasna, lalu menelpon seseorang.


"Halo, Pras."


"Woi, bro. Apa kabar? Tumben pagi-pagi udah nelpon."


"Sorry ganggu, aku ada perlu sama kamu, Bro."


"Boleh, boleh, ada apa nih?"


"Sebentar lagi aku mau nikah, istriku mau mengurus surat pindah sekolah anak-anaknya. Dia lupa harus membawa surat keterangan dari sekolah tujuan."


"Oh, iya dong. Pihak sekolah di sana gak mau mengeluarkan siswanya sebelum ada surat keterangan diterima dari sekolah tujuan."


"Nah, itu. Rencananya aku mau pindahin anak-anak ke sekolah kamu, Bro. Bisa urus suratnya gak?"


"Gampang itu sih. Tunggu lima menit lah ya, Bro."


"Thanks banget."


"Santai. Nanti aku kirim foto suratnya ya."


"Sipp."


Hasna menunggu pesan dari Raden sambil menunggu Nay sekolah. Tidak lama kemudian ponsel Hasna berbunyi. Dia bergegas ke ruang kepala sekolah Shaki.


"Semoga betah ya Shaki di sekolah barunya."


"Iya, Pak. Terimakasih. Mungkin saya akan membawa Shaki sekarang dari kelasnya."


"Iya, Bu. Silakan."


Supir Raden sudah menunggu sejak tadi untuk membawa Hasna dan anak-anaknya pergi. Begitu surat pindah sekolah mereka selesai diurus, mereka pun pergi menuju rumah sakit tempat Raden bekerja.


Kini Raden sudah menjadi direktur rumah sakit semenjak pamannya diturunkan jabatan karena kasusnya waktu itu.


Sekitar 40 menit kurang lebih mereka sampai. Hasna dan anak-anaknya langsung menuju ruang kerja Raden.


"Kok papa gak ada, Bun?" tanya Shaki saat melihat ruangan itu kosong.


"Mungkin sedang keluar. Kita tunggu saja di sini. Ayo, kalian makan cemilan aja dulu. Itu susu sama minimnya ada di kulkas, ambil sendiri ya."


"Iya, Bun."


Tok tok


"Masuk." Hasna duduk di atas sofa.

__ADS_1


"Permisi." Seorang wanita membawa nampan masuk. "Bu, saya bawa buah dan cemilan untuk direktur."


"Iya, simpan saja di atas mejanya ya."


Perempuan itu menyimpan makanan di atas meja.


"Permisi, Bu."


"Ya, terima ya."


Perempuan itu kembali menutup pintu.


"Bun, tolong buka." Nay memberikan botol air mineral pada Hasna.


"Hati-hati ya makan sama minumnya, jangan bikin ruang kerja papa kotor."


"Iya, Bun."


Sambil menunggu Raden datang, Nay dan Shaki menikmati makanan dan minumannya sambil menonton YouTube di ponsel. Sementara Hasna menonton acara cooking.


Berkali-kali Hasna melihat jam dinding, sudah terlalu lama Raden tidak juga muncul. Hasna mematikan acara yang sedang di tonton, lalu mencoba menghubungi Raden.


"Kenapa tidak diangkat, sih?" Hasna kesal karena Raden tidak juga mengangkat panggilan darinya yang dilakukan beberapa kali.


"Coba sekali lagi deh."


Hasna kembali menelpon Raden.


"Halo, Sayang."


"Kenapa gak diangkat-angkat sih, Mas? Lagi di mana memangnya?" tanya Hasna kesal.


"Maaf, Sayang. Tadi saya sedang meeting dulu. Kamu di mana?"


"Di ruangan kamu."


"Oke, saya ke sana. Anak-anak udah makan belum?"


"Belum, tapi mereka lagi ngemil sih. Mas cepetan ke sini ya."


"Iya, Sayang. Tunggu sebentar ya."


Hasna menutup telponnya. Hasna terdiam sejenak, dia merasa bersalah karena berbicara dengan nada yang tidak enak didengar tadi.


"Duh, padahal tadi kan dia lagi meeting. Kenapa juga aku harus marah dan kesal coba? Duh, Hasna. Kamu kenapa sih?" Hasna memukul jidatnya beberapa kali.


Ceklek! Pintu terbuka.


"Halooo ...."


"Papah ...." Shaki berlari menyambut kedatangan Raden. Pria itu langsung memeluk dan menggendongnya.


"Yeaaay, papa datang." Nay bersorak di tempat.


"Kalian pasti lapar, ya kan? Ayo kita pergi makan."


"Laper banget tau, Pah. Makan ciki aja gak kenyang."


"Uluuuh, anak papa kelaparan. Maaf ya, sayang." Raden mencubit hidung Shaki yang kecil.


"Ayo, Nay."


"Bentar, aku bersihin dulu ininya." Nay merapikan makanan dan minumannya bekas dirinya dan Shaki. Raden menatap kagum.


"Beruntung sekali saya mendapatkan kamu, Na. Kamu berhasil mendidik anak-anak meski harus berjuang mencari nafkah juga untuk mereka."


"Mas beruntung mendapatkan aku, terus aku apa dong yang udah mendapatkan mas yang super duper segalanya."


"Anugerah."


"Nah, iya. Mas itu anugerah terindah yang Allah berikan."


Raden tersenyum. Setelah Nay membuang sampah dan mengelap sisa makanan di sofa, mereka pun pergi.


"Mau makan apa, Shaki sama Nay?"


"Aku pizza."


"Aku juga."

__ADS_1


"Oke, kita makan siangnya pizza ya."


"Horeee."


Nay dan Shaki yang berpegang di tangan kiri dan kanan Raden pun bersorak. Mereka berjalan sambil sesekali meloncat kecil menunjukkan jika mereka merasa senang.



"Gimana, enak gak?"


"Hmmm, enak." Nay menjawab dengan mulut penuh makanan.


Drrrttttt. Ponsel Raden bergetar.


"Saya angkat telpon dulu, ya."


Hasna mengangguk saat Raden meminta izin untuk menerima panggilan tersebut.


"Halo ...."


Hasna memperhatikan raut wajah Raden yang tiba-tiba murung. Dia tidak berani bertanya selama Raden masih bicara dengan seseorang dari sebrang sana. Hasna menunggu dengan rasa penasaran, dan Raden tau itu.


"Oke, terimakasih." Raden segera menutup pembicaraannya.


"Ada kabar dari rumah sakit," ucapnya sebelum Hasna bertanya.


"Tentang?"


"Pak Mahmud, setelah operasi waktu itu kabarnya membaik. Kamu tau sendiri bukan?"


"Iya ... lalu?"


"Barusan beliau meninggal."


"Maaf, gimana Mas?"


Raden hany diam menatap Hasna yang tidak percaya dengan kabar yang dia terima.


Dengan terpaksa, Raden membungkus makanan yang belum sempat dihabiskan. Mereka segera pergi menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan Pak Mahmud.


Sesuai dengan kabar, tubuh pria tua renta itu kini terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.


Raden memeluk Hasna dengan erat. Wanita itu menangis sedih.


"Sabar, Sayang. Setidaknya dia pulang dalam keadaan bersih. Tidak sakit lagi, tidak tidur di lantai lagi, iya kan?"


Hasna mengangguk samar.


"Bu ...." Ridwan menghampiri. Hasna menoleh.


"Terimakasih atas bantuannya, kini pak Mahmud sudah pulang. Setidaknya beliau tidak merasa sakit lagi. Beliau pergi dalam keadaan dikelilingi oleh orang-orang baik, tidak meninggal dalam keadaan sendiri. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih."


Hasna menyambut jabatan tangan dari Ridwan.


"Mau dimakamkan di mana, Pak?" tanya Raden.


"Kebetulan kami berhasil menghubungi pihak keluarga di kampung. Kami akan membawanya ke sana, ini juga cuma kerabat jauh katanya."


"Oke, bawa saja mobil jenazah rumah sakit ini biar nanti saya yang tanggung semua biayanya."


"Terimakasih, Pak. Semoga kebaikan ibu dan bapak dibalas oleh Allah SWT."


"Aamiin."


"Kalau begitu saya permisi, mau menyelesaikan administrasi dan surat-suratnya dulu."


"Ya."


Raden kembali memeluk Hasna yang masih menangis.


"Aku nyesel, Mas. Kenapa selama ini aku sibuk memikirkan diri sendiri tanpa memperdulikan sekitar. Andai saja aku tau lebih awal, mungkin pak Mahmud tidak akan menderita terlalu lama, mungkin saja beliau akan sembuh lebih cepat," ucap Hasna terbata-bata.


"Sayang ... kita ini hanya manusia biasa yang menjalani kehidupan seusai rencana-Nya. Jangan sampai ada kata andai karena itu sama saja meragukan keputusan yang sudah Allah berikan pada kita. Ini sudah jalan takdir pak Mahmud."


"Tetep aja aku nyesel, Mas."


"Jadikan penyesalan itu sebagai pelajaran untuk ke depannya, oke."


Hasna mengangguk pelan dalam dekapan Raden.

__ADS_1


__ADS_2