
Satu ruangan, satu kasur, bahkan satu selimut, tapi tidak saling bicara. Bukankah itu lebih baik tinggal berjauhan tapi masih bisa berkomunikasi.
Dewa berusaha berbaikan, berusaha menyapa tapi Akhtia selalu abai. Ibarat bicara dengan tembok. Hanya satu arah.
"Jujur, jika terus seperti ini apa sebaiknya aku tinggal di rumah orang tuaku beberapa waktu. Rasanya aneh tinggal satu atap tapi tidak saling bicara. Aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman."
Akhtia masih diam.
"Baiklah, kamu diam berarti kamu setuju."
Dewa melangkah dengan pelan berharap Akhtia menghentikannya. Atau setidaknya dia berbicara meski hanya satu kata.
Keputusan Dewa sudah bulat, akhirnya dia pulang karena Akhtia masih tidak memberikan reaksi yang bagus.
Begitu pintu tertutup, Akhtia yang semula merapikan pakaian, langsung menghentikan kegiatannya. Dia memeluk lututnya, lalu menangis.
Anggapan memiliki sodara dan ibu akan selalu bahagia, nyatanya tidak. Bahwa masalah akan selalu datang tidak dipikirkan oleh Akhtia. Tidak ada air mata yang abadi, dan tidak ada kebahagiaan yang selalu tinggal selamanya.
"Udah dua hari aku di rumah, kenapa ada yang aneh ya?" tanya Puput saat sedang sarapan. Baik Akhtia maupun Airlangga tidak ada yang menanggapi. Mereka fokus menghabiskan sarapannya.
Diabaikan, siapa yang akan kuat? Terlebih Puput sendirian di sana. Siapalah dia di rumah itu, hanya anak tiri yang menumpang hidup, pikirnya.
Kesedihan pun mulai merayapi hati Puput. Dia yang sudah bisa move on dan bisa kembali ceria setelah masuk ke dalam rumah itu, kini mulai kembali diam.
Airlangga pamit duluan, sementara Akhtia kembali ke kamarnya tanpa menghabiskan sarapannya.
"Pada kenyataannya aku memang bukan siapa-siapa di rumah ini." Puput menyeka air matanya dengan kasar. Dia kembali ke kamar untuk mengambil beberapa pakaian. Lalu pergi ke sekolah menggunakan angkutan umum.
"Mau pindah ke mana, Non?" ledek Imas.
"Aku boleh numpang hidup gak di rumah kamu? Sampai orang tua aku datang."
"Memang orang tua kamu ke mana?"
"Ke tha--"
Aduh, gak mungkin aku bilang bunda sama papa ke luar negeri.
"Ke rumah sodaranya di Tanggerang. Boleh ya aku ikut nginep, di rumah sepi banget. Takut juga tinggal sendiri."
"Boleh, sih. Tapi rumah aku jelek banget, yakin betah?"
Puput mengangguk semangat.
Paling enggak aku punya teman yang peduli. Allah selalu memiliki cara untuk membantu hambanya. Alhamdulillah.
"Bi, kok sepi amat rumah. Yang lain ke mana? Eh, iya. Semenjak bunda dan papa pergi, rumah kan emang sepi." Airlangga berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, Bi Juriah mengikuti dari belakang.
"Mas Dewa ke rumahnya karena berantem sama Neng Tia. Terus ...."
Airlangga menunda meneguk air yang kedua kalinya saat Bi Juriah mengehentikan ucapannya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ini." Bi Juriah memberikan secarik kertas pada Airlangga. "Sepertinya Neng Puput juga ikut pergi." Airlangga mulai membacanya.
"Baguslah. Kalau mereka berdua di luar rumah kan bisa lebih bebas ketemuannya." Akhtia tiba-tiba datang sambil berkata dengan nada jutek.
"Bisa gak sih kamu tuh gak usah jutek gitu?"
"Loh, kenapa? Abang gak suka? Abang lebih belain dia ketimbang aku? Pergi aja semuanya belain dia. Pergi sana."
"Kalau memangnya Dewa suka sama Puput, kenapa? Dia kan cuma suami kontrak kamu. Pernikahan kalian itu pura-pura. Bukan karena cinta."
"Setidaknya kalau mau merebut suami orang, jangan suami sodara sendiri. Gak tau malu!"
"Akhtia!"
Gadis itu terhenyak saat Airlangga membentaknya dengan kasar. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Akhtia.
"Kalau kamu suka sama Dewa, bilang aja langsung. Katakan yang sebenarnya sama suami kamu itu, jangan cuma diem terus menyalahkan wanita lain hanya karena dia dekat dengan suami kamu. Kamu cemburu? Bilang aja! Puput juga pasti ngerti."
"Abang ...." Akhtia ketakutan dan juga syok.
"Baca ini!" Airlangga melemparkan surat yang ditulis Puput pada Akhtia.
Kertas itu terjatuh.
Emosi sudah menguasai hati, rasa marah dan iri sudah membutakan hati Akhtia. Kertas itu tidak dia ambil melainkan dia injak-injak. Lalu Akhtia pergi ke kamarnya.
Saat menaiki tangga, Akhtia berpapasan dengan Airlangga yang sedang memakai jaket kulitnya.
"Mau ke mana, Bang?" tanyanya.
"Abang!" Akhtia menarik tangan Airlangga.
"Abang gak mau kehilangan bunda hanya karena kamu membenci anaknya." Ucap Airlangga sambil menatap Akhtia tajam. Airlangga menghempaskan tangan adiknya, lalu dia pergi.
Saat Airlangga keluar, Dewa masuk.
"Mau ke mana, Bro?"
"Urus saja istrimu."
"Lah, dia kenapa? Gue nanya baik-baik juga."
"Ngapain kakak ke sini?" tanya Akhtia. Dewa segera berbalik.
"Hai."
"Ada apa? Puput gak ada, dia kabur dari rumah."
"Oh, berarti Airlangga mau nyari toh?"
"Kakak gak ikut sekalian nyari Puput? Gak khawatirkan emangnya?"
"Emmm, sebagai orang yang pernah dekat sama ibunya sebagai sahabat, aku khawatir. Tapi ya udah lah, ada Airlangga juga."
__ADS_1
"Bukannya kakak suka sama Puput? Katanya kakak suka sama cewek yang ada di rumah ini."
"Ya?"
"Aku masih marah. Jangan ke rumah ini dan pergi lagi aja ke rumah mami dan papi."
"Aku ke sini justru mau ngajak kamu yang ke rumah aku. Mami sama papi mau kita nginep di sana selama papa dan bunda gak ada."
"Enggak."
"Selama ini aku menuruti apa yang kamu mau, apa susahnya sekarang balas budi."
"Oh, gak ikhlas?"
"Iya, makanya sekarang mau nagih. Pokoknya malam ini kamu kemas barang-barang kamu dan kita nginep di sana. Aku tunggu di sini," ucap Dewa sambil duduk di sofa.
Bagus lah ya, setidaknya saat Puput datang, aku gak perlu menghindar.
"Ya udah, tunggu."
Akhtia disambut hangat oleh keluarga Dewa, mami memeluk Akhtia dengan penuh kasih sayang. Dewi pun sama, menyambut gembira kakak ipar yang umurnya di bawah dia.
"Selamat datang di rumah, Nak. Gimana tadi di jalan?" tanya Papi.
"Haha. Kan deket, Pi. Jadi ya lancar-lancar aja, sih."
"syukurlah. Kamu sudah makan? Mami sudah siapkan masakan spesial untuk kamu. Ayo." Mahendra merangkul Akhtia dan mengajaknya ke meja makan.?
Mahendra tidak terlihat seperti yang dipikirkan orang-orang. Wajahnya tidak seseram sikapnya. Dia begitu baik dan hangat pada menantunya. Bahkan dia bisa tertawa lepas saat Akhtia bercerita hal yang lucu.
Di saat itulah Akhtia merasa punya keluarga baru.
Di sini hangat. Orang-orangnya baik dan ramah, aku merasa nyaman. Ya, setidaknya dewa tidak terlalu sering bertemu dengan Puput.
"Papi, Mami, kalau misalnya aku tinggal di sini saja, boleh?"
Keluarga Dewa menatap Akhtia bersamaan. Mereka ssling melirik tidak percaya.
"Kenapa tiba-tiba? Kamu sudah bicara sama papa?" tanya Dewa.
Tuh kan, dewa terlihat tidak rela aku tinggal di sini, apa karena kamu tidak ingin berpisah jauh dari adik tiri aku?
"Papi yang akan bicara pada Raden," ucap Mahendra yakin. Dia begitu senang Akhtia mau tinggal di sini. Pun dengan keluarga yang lainnya.
Selesai merapikan pakaian, Akhtia merebahkan tubuhnya di atas kasur Dewa. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada email masuk.
Dari Dealova.
Namun, saat dia hendak membuka email itu, ponselnya mati.
"Kak, pinjem charger." Akhtia mendekati Dewa yang sedang mengetik di laptopnya. Karma terlalu khusyuk, Dewa tidak mendengar Akhtia. Dia asik mengetik sesuatu.
Karena penasaran, Akhtia melihat apa yang sedang Dea tulis. Matanya terbelalak saat melihat apa yang ada di layar.
__ADS_1
"Dealova?" bisiknya.