Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Ada apa?


__ADS_3

"Put, berapa hari minta izin ke pondok?" tanya Raden saat mereka sedang menonton televisi bersama.


"Tiga hari, Pah."


"Berarti besok kamu berangkat lagi? Gak nyaksiin Abang nikah dulu kalau gitu?"


"Nanti aja izin lagi kalau Kak Tia yang nikah."


"Oh, oke. Besok Papa sama bunda anterin kamu ke pondok, jam berapa?"


"Sebelum zuhur, Pah."



"Curosnya bunda yang bikin sendiri?" tanya Airlangga.


"Iya, bunda iseng aja tadi siang. Daripada gak ada kerjaan di rumah. Ya udah coba-coba aja bikin. Enak gak?"


"Enak."


"Bun, aku pamit tidur duluan ya. Ngantuk banget, cape juga seharian keliling."


"Loh, ini masih sore tau, Put. Kok udah mau tidur."


"Ngantuk, Kak."


"Ih, bentar lagi aja sih. Sini dulu, kan besok kamu udah berangkat lagi."


Puput yang hendak pergi pun terpaksa kembali merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu yang tebal bersama Akhtia, Nay, dan Shaki. Mereka menonton bersama sambil ngemil.


"Pah, aku ke atas dulu. Bun, Abang duluan ya."


Hasna dan Raden tersenyum.


"Coba ya kalau kamu gak mondok, pasti hari-hari kita tuh asik kayak sekarang. Jalan bareng, makan bareng, nonton bareng. Uh, pokoknya seru. Besok kamu berangkat, sepi lagi deh."


"Yang sepi tuh aku nanti. Keluar mondok, SMA nya kan aku gak sambil mondok jadi otomatis di rumah. Kakak udah nikah pasti punya kehidupan sendiri, Abang juga. Lah, yang kasian mah aku kan?"


"Enggak, dong. Aku sama Abang tetep tinggal di sini meski udah nikah, justru rumah ini akan rame banget gak sih?"


Puput hanya bergumam.


"Kenapa, Put? Kamu gak suka kalau kak Dewa tinggal di sini juga?"


"Bukan Kak Dewa."


"Oh, aku tau. Pasti kamu gak suka sama calon kakak ipar kita kan? Sama. Aku juga males banget. Aku tuh tau kalau selama ini Abang punya seseorang yang dia suka, ya meski gak tau dia siapa. Jadinya kan kasian sekarang harus nikah sama wanita yang gak dia cintai."


"Suruh siapa gak bisa jaga diri."


Hasna, Raden dan Akhtia terdiam mendengar ucapan Puput. Mereka semua menoleh pada Puput yang fokus menatap layar televisi besar yang ada di hadapan mereka.


"Put ... kamu jangan gitu ah."

__ADS_1


"Iyalah, Bun. Harusnya jadi cowok itu punya prinsip yang kuat. Bisa menjaga pandangan dari lawan jenis. Ini boro-boro pandangan, nafsunya aja gak bisa dikendalikan."


"Sayang ... kakak kamu belum tentu melakukan itu kok, siapa tau wanita itu cuma menjebak Abang."


Puput yang sedang berbaring, terbangun. Dia menoleh ke samping di mana Hasna dan Raden duduk.


"Emang ini sinetron, Bun? Inget ada pepatah yang mengatakan tidak ada asap jika tidak ada api. Wanita itu juga gak mungkin tiba-tiba menuduh Abang ayah dari anaknya kalau ...."


Ucapan Puput terhenti saat matanya bertemu dengan mata Airlangga yang sudah berdiri di belakang sofa.


"Maaf, Abang sudah membuat kamu sangat kecewa, Put."


"Emang!" ucap Puput ketus. Gadis itu segera berdiri, lalu pergi menuju kamarnya melewati Airlangga begitu saja.


Suasana menjadi sangat canggung melihat kemarahan Puput yang Hasna pun baru melihatnya sejak lama.


"Nay, Shaki, ikut kakak yuk. Kita bobo aja."


"Mmmm, gak mau. Masih seru." Shaki merengek.


"Udah malam, cantik. Besok kan sekolah, iya kan? Katanya gak sabar mau ketemu sama temen baru."


"Eh, iya, ya."


Shaki dan Nay pun akhirnya mau ikut bersama Akhtia ke kamarnya untuk tidur.


Airlangga duduk di sebrang kursi Raden dan Hasna. Dia terlihat begitu sedih atas apa yang dikatakan Puput.


"Bang, bunda minta maaf ya atas nama Puput. Mungkin karena selama ini dia begitu ingin memiliki kakak laki-laki, juga karena dia mondok jadi ... ya dia tau apa yang Abang lakukan adalah dosa. Iya, bunda tau itu pun belum pasti, tapi --"


Abang minta maaf, Put. Abang udah sangat mengecewakan kamu.


Hasna melirik Raden. Pria itu mengedipkan kedua matanya sambil mengangguk pelan, meminta Hasna untuk tidak berbicara lagi.


Keesokan harinya, Raden sengaja tidak pergi bekerja karena akan mengantarkan Puput ke pondoknya. Hasna sedari pagi sibuk membuat kue dan mempersiapkan bekal untuk putri sulungnya itu.


"Bun ..."


"Bang, hari ini mau ke mana? Kalau gak ke mana-mana, nanti tolong jemput adek-adek kamu ya. Barang kali bunda gak sempet."


"Iya, Bun. Tapi Abang mau ke kampus dulu, setelah itu jemput adek."


"Iya, hati-hati ya, Bang."


Hasna masih sibuk menata kue yang akan dia berikan kepala pimpinan pondok, bekal anaknya dan juga pada penjaga pondok.


"Bun, beli cemilan pedes dulu ya nanti buat oleh-oleh. Temen-temen mintanya keripik pedas sama basreng."


"Iya. Kamu udah siap semuanya? Ada yang ketinggalan gak? Baju? Charger hp?"


"Udah semua, tinggal nunggu bunda selesai beres-beres aja sih."


"Oh, gitu. Sedikit lagi kok."

__ADS_1


"Iya."


Setelah di rasa siap, Hasna segera mengantar Puput ke pondok.


"Mau bawa apa lagi, Put? Kita ke mini market dulu beli jajanan buat kamu di sana."


"Iya, Pah."


Raden mengambil beberapa cokelat dari beberapa jenis dan merek yang ada, susu, minuman, jus, ciki dan beberapa makanan lainnya. Dia begitu antusias membelikan begitu banyak makanan untuk anaknya.


"Banyak banget, Pah."


"Gak tiap hari ini."


Hal yang belum pernah dirasakan, sesuatu yang selama ini diimpikan, dan suasana yang selalu dirindukan. Akan terasa indah dan membahagiakan saat kita berada di titik di mana kita benar-benar mencapai impian tersebut.


Sesampainya di pondok, hanya Hasna yang bisa ikut masuk ke asrama tempat Puput tidur dan beraktifitas.


"Pamit, ya, Pah." Puput mencium tangan Raden.


"Bunda udah ngasih uang jajan?"


Puput mengangguk. Ada kecanggungan yang sedikit terselip di antara Raden dan Puput. Namun, gadis itu mencairkannya dengan menghampiri Raden terlebih dahulu untuk memeluk ayah sambungnya itu.


Selama ini Puput terkesan diam, dan mungkin terlihat menjaga jarak dengan Raden. Entah apa alasannya, hanya saja hal itu membuat Raden pun enggan mendekati lebih pada anaknya karena takut akan membuat Puput tidak nyaman.


Ada rasa haru bahagia saat Puput mau memeluknya. Dia membalas pelukan putrinya secara perlahan dan sangat lembut.


"Baik-baik di sini, Sayang."


"Iya, Pah. Papa juga jaga kesehatan ya. Titip bunda sama adek-adek."


"Pasti."


Pelukan itu pun terlerai, Puput harus segera masuk asrama agar tidak tertinggal pengajian yang akan dilakukan setelah zuhur nanti. Kedatangan Puput disambut hangat oleh sembilan teman sekamarnya. Ya, satu kamar dihuni oleh sepuluh santri dengan satu pembimbing atau pengurus.


"Wah, seperti biasa ya, kamu pasti bawa makanan banyak banget. Dari kakak kamu juga?"


"Bukan, ini dari papa."


Pembicaraan yang membuat Hasna merasa tergelitik untuk bertanya.


"Memangnya ada yang suka kirim makanan ke sini, Put?" tanya Hasna.


"Ada Tante, kakak Puput yang ganteng itu. Siapa namanya, Put?" tanya teman Puput masih orang yang sama.


"Bang Airlangga."


"Abang?" tanya Hasna lagi pada putrinya.


"Iya, Tante. Biasanya Abang Puput suka kirim banyak makanan, cokelat, kadang kerudung, apa aja lah. Bikin kita semua iri pengen juga punya kakak kayak bang Airlangga."


Puput hanya tersenyum menanggapi celoteh temannya sambil menata barang-barang ke lemarinya.

__ADS_1


Airlangga sering menjenguk Puput? Kok aku gak pernah tau ya? Kenapa juga tidak ada yang memberitahuku.


__ADS_2