Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Lelah


__ADS_3

Menjalani hari pertama tanpa Puput terasa berat untuk Hasna. Hidup terbiasa berlima, lalu ber empat, dan kini bertiga.


Itulah hidup, selalu akan ada yang namanya perpisahan. Satu persatu akan pergi cepat atau lambat, sementara atau selamanya.


Mereka yang pergi akan mendapatkan tempat baru, kebiasaan baru, dan teman baru. Namun, mereka yang ditinggal harus hidup dengan kenangan, dan itu sangat menyesakkan.


Bangun pagi, memandikan Nay yang sudah masuk TK, dan Shaki yang kini kelas satu SD. Beruntung sekolah mereka masih satu lembaga, satu gerbang, jadi Hasna berangkat dalam satu waktu.


"Bunda pulang dulu, ya. Nay sama ustadzah dulu. Nanti bunda jemput lagi."


Nay yang masih belum terbiasa dengan lingkungan sekolah, terlihat enggan saat hendak ditinggal oleh Hasna. Beruntung para asatidzah di sana sangat baik dan care. Mereka membantu membujuk Nay hingga mau ditinggal oleh ibunya.


Secepat mungkin Hasan kembali pulang untuk merapikan rumah, memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga pada umumnya.


Terkadang jika ada pesanan, pekerjaan rumah akan dikerjakan lebih awal sebelum anak-anak bangun.


Selesai menjemur pakaian, Hasna siap-siap untuk kembali ke sekolah menjemput Nay.


"Nay, setelah makan main di kamar dulu ya. Bunda mau bikin bolu dulu pesanan orang."


"Iya, Bun."


Hasna mulai meracik adonan bolu. Ada pesanan bolu pandang dan dua bolu jadul. Bagi Hasna, itu sudah lumayan meski untungnya tidak seberapa.


Hasna menjemput Shaki, setelahnya mengantar bolu pada pembeli.


Saat dalam perjalanan pulang, Hasna merasa nafasnya panas. Dia juga merasa badannya dingin tapi berkeringat cukup banyak.


"Aduh, kenapa ya ini badan? Apa karena aku lupa makan."


"Ini, aku ada roti dari temen. Bunda belum makan?"


"Iya boleh. Bunda lupa tadi mau makan pas liat jam udah waktunya jemput kamu."


Shaki membuka plastik roti, dia juga memberi Hasna minum yang masih tersisa di Tumbler.


Sesampainya di rumah, Hasna mengunci pintu agar anak-anaknya tidak keluar dari rumah. Kunci itu disimpan di atas lemari agar tidak bisa digapai Shaki ataupun Nay.


Setelah minum obat, Hasna membaringkan tubuhnya untuk istirahat sejenak.


"Bunda mau tidur dulu sebentar, kalian jangan ke mana-mana."


"Iya, Bunda."


Saat Hasna tertidur, ponselnya yang sedang dipakai nonton YouTube oleh Shaki, berdering.


"Halo ...."


"Halo, ini Shaki apa Nay?"


"Shaki."

__ADS_1


"Shaki, ini Om. Bunda mana, Sayang?"


"Bunda tidur. Katanya gak enak badan sekarang lagi tidur habis minum obat."


"Sakit? Sakit apa?"


"Keningnya panas, Om."


"Oh, oke. Shaki, Nak, kamu jangan ke mana-mana. Jaga bunda di situ nanti Om ke sana, oke?"


"Iya, Om."


Setelah menutup pembicaraannya dengan Shaki, Raden segera pergi untuk menemui mereka. Selain mengkhawatirkan Hasna, Farid juga mencemaskan Shaki dan Nay. Mereka hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


"Den, Raden."


Langkah Raden yang buru-buru, terpaksa hari terhenti saat Handi memanggilnya.


"Buru-buru amat, mau ke mana?"


"Ada apa, Paman? Jika tidak ada hal penting, aku mau pergi."


"Enggak, paman hanya penasaran ke mana kamu mau pergi dengan tergesa-gesa seperti itu. Apa ada hal yang darurat?"


"Tidak ada. Kalau hanya sekedar basa-basi, aku permisi dulu."


"Raden, kenapa bicaramu selalu ketus padaku? Memangnya paman salah apa?"


"Bisa kah kita bicarakan itu nanti di rumah? Beneran, aku sedang tidak ingin bicara sekarang."


Raden mendengkus kesal, lalu dia pergi.


"Raden, Raden. Jika bukan karena kamu keponakanku. Tak sudi aku memperkejakan kamu di sini. bukan pimpinan tapi kerja semaunya sendiri."


Handi berjalan menuju ruangannya sambil menelpon seseorang.


Membutuhkan 45 menit lama perjalanan dari rumah sakit menuju rumah Hasna. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Raden membawa mobilnya.


Begitu sampai, dia langsung berlari menuju pintu depan.


"Hasna, buka. Na, buka pintunya."


Mendengar suara Raden, Shaki segera keluar dari kamar menuju pintu depan.


"Shaki buka pintunya."


"Gak bisa, kuncinya di atas lemari."


"Bangunin bunda saja, Shaki. Bilang ada om di luar."


Raden dan Shaki berbicara melalui celah jendela.

__ADS_1


Anak itu kembali ke kamar, mencoba membangunkan ibunya. Hasna bangun.


"Ada apa, Nak? Kamu lapar ya?" tanya Hasna yang masih memejamkan mata. Bukan karena ngantuk tapi menahan rasa sakit yang menjalar di kepalanya.


"Bukan, Bun. Itu di luar ada Om Raden."


"Hah? Kenapa Om Raden ada di sini?" tanya Hasna dengan suaranya yang lemah. Rambut Hasna berantakan tanpa dia kuncir. Hanya dengan memakai daster, dia mencoba berdiri meski kepalanya terasa berat.


"Mas ...."


"Na, kamu sakit apa?"


Raden mendekati Hasna. Memegang kepalanya yang ternyata sangat panas.


"Kita ke dokter ya. Badan kamu panas."


"Kepala aku sakit banget, Mas."


Tubuh Hasna sempoyongan karena kepalanya yang teras begitu berat. Hasna menarik jas Raden, lalu menyandarkan kepalanya di dada Raden.


"Na, ayo kita ke dokter ya."


"Hmmm."


Raden memapah Hasna memasuki mobil. Setelah Hasna duduk dengan nyaman, dia kembali masuk ke rumah. Mengajak Nay dan Shaki, mengecek pintu dan jendela, lalu mengunci pintu.


"Kalian duduk yang manis, ya. Kita bawa bunda ke dokter terdekat dulu."


"Iya, Om."


Raden membawa Hasna ke klinik terdekat yang mereka lewati. Hasna diperiksa, lalu diberi resep obat untuk ditebus. Dokter bilang Hasna kelelahan.


"Hasna, kamu ikut saya ke rumah ya. Di rumah kamu tidak ada orang. Kalau kamu dukat bagaimana dengan anak-anak?"?


Hasna tidak menjawab dia hanya bergumam. Melihat kondisi Hasna yang seperti itu, Raden akhirnya memutuskan membawa mereka ke rumahnya karena tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi jika mereka di rumahnya sendiri.


Raden sendiri tidak bisa ikut menemani apalagi tidur di rumah Hasna. Dia tidak ingin nama baik Hasna tercemar, mengingat perumahan itu kecil, tidak seperti rumah Raden yang jauh dari rumah-rumah lainnya.


"Tunggu, Mas." Hasna menarik tangan Raden. Kepalanya yang sakit tidak bisa diajak kompromi untuk berdiri.


Raden menggendong Hasna masuk ke dalam rumah, sementara Nay dan Shaki mengikuti dari belakang.


"Bi, tolong jaga anak-anak. Panggil Tuti juga ke sini."


"Iya, Pak." Bi Juriah mengajak Nay dan Shaki keluar kamar.


Tidak lama kemudian Tuti datang.


"Ada apa, Pak?"


"Tut, tolong ambil kompresan dan air ke sini. Bawa minum juga ya."

__ADS_1


"Iya, Pak."


Raden menyelimuti tubuh Hasna setengah badan. Memeriksa kembali kening Hasna. Masih demam.


__ADS_2