Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Batal


__ADS_3

"Kenapa tangan papa?" tanya Erlangga saat mereka sedang sarapan. Raden tidak menjawab. dia hanya fokus pada makanan yang ada di hadapannya.


"Bagaimana persiapan pernikahan kita? aku sudah memanggil penghulu? lalu kapan pernikahan kita akan dilaksanakan?" tanya Raden pada Azalea.


"Dua minggu lagi, Pa. itu tanggal yang ditentukan oleh bibi dan paman."


"bilang pada mereka lebih baik percepat saja tanggal pernikahannya."


Ucapan Raden membuat semua orang yang ada di ruang makan saat itu heran. Erlangga dan Azalea saling menatap. sementara Akhtia, terlihat diam saja tanpa memberikan respon apa-apa.


"Aku berangkat duluan." Akhtia segera pergi meninggalkan rumah menuju sekolah.


"kenapa Pah? bukankah selama ini papa menolak. Ehmmm maksudku Papa keberatan bukan? kenapa sekarang malah minta dipercepat?"


"Pertanyaan yang sama untuk kamu. Papa menerima mama di rumah ini karena kamu yang memohon. Lalu sekarang kenapa kamu terlihat tidak suka?"


Erlangga terlihat kebingungan. tidak tahu harus mengatakan apa pada Raden. Airlangga ragu haruskah dia menceritakan yang sebenarnya pada Raden sekarang atau tidak.


"Ya sudah jangan ribut di pagi hari, itu tidak baik. Habiskan sarapan kalian terlebih dahulu, nanti jika ada waktu senggang kita bicarakan lagi semuanya," ucap Azalea.


Raden pergi meninggalkan Azalea dan Airlangga. dia berjalan menuju kembali ke kamarnya. Raden tidak bisa bekerja karena tangannya terluka. dia meminta izin cuti pada rumah sakit.


Bukan luka di tangan yang membuat Raden ingin berdiam diri di kamar. tapi luka di dalam hatinya lah yang membuat dia tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun hari ini.


Entah apa yang dia rasakan saat ini. Kemarahan itu sudah hilang, rasa sedih itu sudah pergi. Penyesalan pun sudah tidak dia rasakan lagi. Hatinya kosong. Dia merasa hampa dan bingung harus melakukan apa.


Raden hanya membayangkan bahwa kini Hasna sedang berada di rumah Dewandaru. Hatinya gelisah karena memikirkan apa yang sedang dilakukan Hasna di rumah itu.


Sepanjang hari Raden hanya diam di atas tempat tidur. Berusaha memejamkan mata yang tidak mengantuk. Menutupi tubuhnya dengan selimut dan tidak melakukan apa-apa selain berdiam diri.

__ADS_1


"Mah, sekali saja pernahkah mama merasa menyesal telah meninggalkanku dan papa? pernahkah sedetik saja mama merindukanku saat aku masih kecil dulu?" tanya Airlangga pada Azalea.


Wanita itu tertawa geli.


"Airlangga, Airlangga. untuk apa menanyakan hal yang sudah lama berlalu. lebih baik kita perbaiki apa yang ada di depan. toh tidak akan ada yang berubah jika kita hanya berkutat di masa lalu."


"Aku hanya ingin tahu perasaan mama."


"Kamu ingin tahu?"


Airlangga menatap penuh harap pada Azalea.


"Dulu mama pernah merasa sedih saat berpisah dengan papa dan kamu, tapi bukan karena mama merindukan kalian. Mama sedih karena mama merasa menyesal tidak bisa bertahan di keluarga ini dan tidak bisa membalaskan perbuatan bibi dan paman papah kamu."


Harapan di mata Airlangga sirna seketika. Dia seharusnya sadar pertanyaan itu hanya akan membuat hatinya bertambah sakit. Namun tetap saja Airlangga melakukannya. dia berharap bisa mendengar kata kasih sayang dari ibunya. Bahkan dia berharap Azalea berbohong demi membahagiakan hatinya.


Namun nyatanya berbohong pun tidak Azalea lakukan.


"Maaf untuk apa?"


Airlangga menatap Azalea dengan mata nanar. dia sudah memutuskan apa yang akan dia lakukan nanti. Sungguh Airlangga ingin sekali mendengar bahwa ibunya merindukannya, menyesali perbuatannya, dan mengatakan bahwa dia mencintai anaknya.


...***...


Hari pernikahan pun tiba. hanya dihadiri oleh keluarga inti, sahabat dekat, dan kerabat. pernikahan yang sangat sederhana, tidak ada hiasan, tidak ada seserahan, hanya ada saksi, wali, dan mahar.


Azalea berdandan sangat sederhana. memakai kebaya putih dengan sanggul kecil yang dihiasi bunga melati di belakangnya.


Tidak tampak lagi wajah pucat pasi seperti orang yang sedang sakit parah. wajah Azalea terlihat berseri-seri. lain halnya dengan Raden, Akhtia, dan Airlangga. mereka bertiga terlihat tidak bahagia sama sekali.

__ADS_1


Penghulu pun datang, segala sesuatunya telah dipersiapkan.


namun semuanya berubah setelah Airlangga menghentikan penghulu untuk menikahkan Raden dan Azalea.


Airlangga memasang audio agar semua orang mendengar apa yang akan dia beritahukan. selama ini dia menyimpan rapat rekaman pembicaraan Azalea di rumah sakit. Airlangga ingin hal itu diketahui oleh banyak orang, tujuannya agar bibi Raden merasa malu di hadapan keluarga besarnya.


Beberapa orang terlihat begitu terkejut mendengar apa yang Azalea katakan. begitu pula dengan Bu asroh. selain marah dia terlihat sangat kecewa kepada adik iparnya.


tidak segan-segan di hadapan semua orang Bu asroh menampar wajah Bibi Raden.


"kurang apa selama ini aku sama kamu. aku memberikan apa yang ingin kamu miliki. Aku bahkan memberikan hak penuh atas rumah sakit kepada suami. lihat apa yang kamu lakukan, kamu bahkan tega menghancurkan kehidupan anakku. apa ini balasan yang kamu berikan untukku?" ucap Bu asroh dengan nada yang sangat marah.


semua orang terdiam.


Paman Raden segera menghampiri istrinya. dia menatap tajam pada kakaknya.


"Ini semua kesalahan Kakak seutuhnya. Bagaimana bisa kakak memberikan hak waris pada Raden yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dia bahkan memiliki anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Padahal selama ini yang membangun rumah sakit sampai maju seperti sekarang adalah aku bukan dia. Aku memang diberi kuasa penuh atas rumah sakit itu tapi hanya sebagai pengelola bukan pemilik. apakah kau pikir itu adil?"


"Paman tolong jaga sikap. jangan berani membentak ibuku di hadapan semua orang," Tarno berteriak.


"Jika ini hanya karena persoalan hak kepemilikan rumah sakit, kenapa Paman tidak bicara secara baik-baik. di ke paman ingin memiliki hak penuh atas rumah sakit, aku akan dengan senang hati memberikannya. kenapa Paman harus mempermainkan kehidupan rumah tanggaku?" tanya Raden dengan kecewa.


Paman mulai kehilangan kata-katanya. dia hanya bisa diam di bawah tatapan keluarga yang mengintimidasinya.


"Jika sudah seperti ini aku pun tidak akan tinggal diam. Paman tega menghancurkan kehidupanku, membuat luka di hati anak-anakku. maka ayo kita selesaikan hingga akhir. Aku tidak akan membiarkan Paman menang setelah menghancurkan keluargaku. aku akan mengambil kuasa atas rumah sakit itu." Raden mengancam.


"Azalea, pergilah dari sini. saya masih menghargai kamu sebagai mantan menantuku. saya tidak akan menuntut kamu apa-apa asalkan kamu pergi dan tinggalkan keluarga saya untuk selamanya. jangan pernah kembali lagi," ucap Bu Asroh.


Azalea yang merasa malu langsung pergi meninggalkan rumah Raden dengan kebaya pengantin yang masih dia kenakan.

__ADS_1


Hati Erlangga kembali merasa sakit. meski dia bukan anak kandung Raden tapi dia tetap lahir dari rahim Azalea. Erlangga tetaplah janin yang dikandung Azalea selama 9 bulan.


__ADS_2