Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Kepercayaan Hasna


__ADS_3

Hasna menggenggam tangan Raden yang sedang naik pitam, dia tidak ingin pria itu meluapkan emosinya pada Airlangga. Sementara Akhtia masih menangis. Dewa hanya bisa mengelus punggung calon istrinya.


"Ada apa? Katakan!" Suara Raden terdengar pelan namun begitu ditekan. Menandakan bahwa dia sedang berusaha keras menahan emosi.


"Pah, demi tuhan aku tidak pernah menghamili dia. Suka aja enggak, kok."


"Jujur saja, itu akan membuat papa sedikit lebih tenang. Jangan berbohong demi menutup satu kesalahan, itu hanya akan membuat dosa kamu bertambah."


"Aku harus bilang apa lagi sama papah. Sumpah, Pah."


"Katakan!" Raden menggebrak meja kaca hingga retak.


"Mas ...." Hasna memeluk Raden agar dia sedikit lebih tenang.


"Jangan begini, Mas. Kalau kamu marah, semuanya hanya akan menjadi bertambah buruk. Kita tidak tahu siapa yang sedang berbohong di sini. Siapa tau Airlangga memang jujur."


"Kamu jangan membela anak kamu itu. Bagaimana wanita itu mengaku-ngaku hamil jika mereka tidak pernah tidur bersama, Hasna!"


"Aku tahu, Mas. Tapi kamu tenang dulu. Kita bicarakan baik-baik, kita dengarkan dulu saja penjelasan dari Airlangga, ya? Ayo, kamu duduk dan diam, dengarkan dulu anak kita bicara."


Airlangga menatap Hasna dengan perasaan bangga dan bahagia. Setidaknya ada orang yang peduli dan mau mendengarkan dirinya. Meski dia sedang dihadapkan pada masalah besar, namun dia tetap bersyukur karena saat ini dia memiliki Hasna.


Dengan menghembuskan nafas kesal, Raden kembali duduk.


"Akhtia, kamu juga jangan berpikir buruk dulu sama Abang. Jangan menangis, Sayang. Bunda yakin Abang kamu tidak akan mengecewakan kita semua."


"Tia sakit hati, Bunda. Kenapa Abang bisa melakukan hal sehina itu."


"Dek, Abang gak seburuk yang kamu kira."


"Bohong! Abang memang tidur dengan wanita itu kan? Aku baca chat Abang kok. Apa harus aku katakan apa isi chat Abang waktu itu?" Akhtia berteriak.


"Apa lagi ini." Raden menghela nafas sambil mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Oke, Sekar kalian bisa tidak untuk diam mendengar apa yang akan aku katakan. Dari tadi kalian sibuk dengan penilaian masing-masing tanpa ada yang mau mendengarkan ucapanku." Kali ini Airlangga yang berteriak. Dia yang sedang tertekan oleh sikap Angela, kini harus menerima penghakiman tanpa mendengar pembelaan.


"Ya, waktu itu aku benar-benar bingung melihat sikap papa yang hanya mengurung diri di kamar karena bertengkar dengan bunda. Tugasku yang menumpuk, juga karena Akhtia yang bercerita jika dia ragu dan takut menjalani pernikahannya dengan Dewa. Semua berkumpul dalam kepalaku. Aku yang ingin bercerita, berbagai keluh kesah tapi tidak ada tempat sama sekali. Ya, saat itu aku memang salah karena pergi ke club bersama teman-teman, mereka bilang kalau minum alkohol akan membuat kita lupa pada masalah yang sedang di hadapi, dan akhirnya aku minum."


"Alkohol mungkin bisa melupakan masalah yang sedang kita hadapi, tapi sejatinya malah sebaliknya. Dia hanya akan membuat masalah baru untuk kita."


"Abang tau bunda. Abang merasa bersalah karena telah khilaf."


"Lalu bagaimana kamu bisa menghamili wanita itu?" tanya Raden.


"Aku tidak tahu, Pah. Saat itu aku yang baru pertama kali minum alkohol langsung tidak sadar. Saat bangun, aku sudah tidur di kamar hotel dengan Angela. Kami dalam keadaan seperti bayi baru lahir." Airlangga menundukkan kepalanya karena merasa malu dan juga merasa bersalah.


"Bisa saja kamu dijebak, Bang."


"Mungkin saja, Bun."


"Atau bisa saja mereka memang melakukan hubungan terlarang itu dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol." Raden tetap tidak percaya pada apa yang menjadi alibi Airlangga.


"Kita buktikan saja lewat test DNA bayi itu. Kan bisa. Iya 'kan, Om?" tanya Dewa.


"Terus, selama bayi itu belum lahir, apa yang akan kita lakukan pada wanita itu? Haruskah dia menikah dengan Abang?" tanya Akhtia.


"Ya. Laki-laki harus bertanggung jawab."


"Mas."


"Pah."


Hasna dan Airlangga kompak memanggil Raden.


"Kenapa? Kalian tidak setuju? Bagiamana bisa kalian tidak ingin bertanggung jawab pada perbuatan Airlangga? Itulah konsekuensinya karena melakukan kesalahan. Meski belum terbukti anak itu anak kamu, tapi kesalahan kamu meminum alkohol tidak bisa papa toleransi."


Raden beranjak. Dia pergi meninggalkan semuanya menuju kamar.

__ADS_1


"Bunda ...." Airlangga meminta pertolongan pada Hasna.


"Biarkan papa kamu tenang dulu, ya. Kita juga tidak bisa menyalahkan papa karena dia pasti sangat syok. Nanti kita bicarakan lagi setelah semuanya sedikit tenang."


"Ayo, kamu juga istirahat. Jangan terlalu berpikiran jauh, semuanya belum ketahuan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa tau memang Abang kamu dijebak, iya kan? Nanti aku akan bantu cari tahu." Dewa merangkul Akhtia, menenangkan gadis kecil itu agar berhenti menangis.


"Makasih, Kak. Bun, aku ke atas dulu."


"Iya, Sayang."


Akhtia ikut pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Aku akan membantu kamu jika memang kamu merasa dijebak. Pertama, kita temui dulu teman-teman yang waktu ngajak kamu ke club. Kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Itupun kalau mereka mau ngomong." Airlangga terdengar pesimis. "Angela itu anak tunggal dari orang tua yang cukup berpengaruh. Mungkin saja mereka sebenarnya diajak kerjasama untuk menjebakku."


"Kamu lupa aku siapa?" tanya Dewa dengan begitu percaya diri.


Hasna tersenyum. "Bunda percaya sama kamu, Dewa."


"Ish, bunda? Haha. Geli gak sih dengernya."


"Bagaimanapun juga, Mba akan menjadi mertua kamu nantinya. Biasakan manggil bunda, ya. Bagaimana bisa seorang menantu memanggil ibu mertuanya dengan sebutan, Mba. Apa itu hak terdengar lebih geli lagi?"


Mereka tertawa.


"Bunda, makasih ya udah mau percaya sama Abang."


"Melihat bagaimana sikap wanita itu saja bunda sudah tau jika dia bukan wanita baik-baik. Bunda pasti akan lebih percaya sama kamu daripada sama dia."


"Oke, aku akan mengajak beberapa teman untuk mencari teman-teman kamu itu. Pokoknya, kita akan tahu siapa sebenarnya yang salah. Haruskah wanita itu menjadi bagian keluarga kita, atau dia akan aku jebloskan ke penjara karena mencemarkan nama baik keluarga ini."


"Thanks, Bro."

__ADS_1


Dewa mengangguk bangga.


__ADS_2