
"Na, kamu sanggup bayar rumah sakit dengan kamar ini?" tanya Zahira berbisik saat dia menjenguk Nay yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Hasna hanya tersenyum.
"Na, jangan habiskan uang tabungan pendidikan anak-anak demi semua ini. Perjalanan mereka masih panjang. Aku tahu duit kamu mulai habis, aku gak yakin saat Shaki SMA nanti duit kamu masih ada."
Hasna hanya tersenyum sambil menggendong Shaki. Sementara Puput terlihat asik berbincang dengan Nay. Mereka saling melepas rindu dan bercerita satu sama lain meski Nya terlihat masih lesu.
Bel kamar perawatan berbunyi, semua orang yang ada di dalamnya menoleh ke pintu.
"Masuk," ucap Hasna sebelum pintu terbuka.
"Permisi."
Raden muncul dengan diikuti supirnya di belakang yang membawa parcel buah dan makanan.
Zahira menatap Hasna. Tatapan pertanyaan seperti Siapa dia?
Hasna hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Dia berjalan melewati sahabatnya begitu saja dan menghampiri Raden.
Mereka berjalan bersama menuju ranjang, mendekatkan Nya dan Puput. Raut wajah Puput berubah seketika. Dia yang ceria berbincang dengan Nay menjadi raut wajah yang datar. Hasna menyadari hal itu.
"Kenapa repot-repot, Pak."
Raden menatap Hasna heran saat mendengar kata Pak. Hasna melirik Puput samar.
Raden langsung mengerti.
"Gak apa-apa, Bu. Ini saya bawa buah dan makanan untuk Nay. Halo, Nay. Gimana? Udah enakan?"
Nay hanya diam sambil tersenyum malu-malu.
"Ini ... om bawa makanan buat Nay, Nya suka? Kalau gak suka, bilang sama om Nay mau apa?"
"Suka, Om." Nay menjawab dengan suara pelan sambil memainkan tangannya.
"Makasih, Pak, udah mau berkunjung dan membawa makanan untuk Nay. O, iya kenalkan. Ini Zahira sahabat saya."
Raden mengangguk sambil tersenyum ramah pada Zahira tanpa mengulurkan tangan. Selebihnya dia kembali mengajak Nay berbicara.
Hasna dan Zahira saling menatap, lalu mereka saling melempar senyuman entah karena apa. Hanya hati mereka yang tahu.
Tidak lama kemudian, bel pintu kembali berbunyi. Hasna mempersilahkan masuk, lalu pintu terbuka.
"Haloooo."
"Lang?"
Airlangga melambaikan tangan. Di belakang Airlangga muncul seorang anak gadis yang sangat cantik dan putih.
Sepertinya itu anak kedua Mas Raden, bisik Hasna dalam hati.
"Tante, maaf. Aku baru sempet jenguk soalnya sibuk kuliah. Gimana keadaan Nay?"
"Alhamdulillah udah baikan."
__ADS_1
"Tante kenalkan, ini adik aku. Dia ngebet banget pengen kenalan sama Tante."
Hasna tersenyum saat melihat gadis itu mencubit perut kakaknya karena merasa malu.
"Hai, nama kamu siapa?" tanya Hasna.
"Aku Akhtia, Tante."
"Cantik ya namanya. Sama kayak orangnya."
"Tante juga cantik."
"Masa? Waaah, makasih ya."
Akhtia atau hanya tersenyum. Dia melihat sekeliling seperti sedang mencari seseorang.
"Akhtia, nyari siapa?" tanya Hasna.
"Kata Abang, Tante punya anak yang udah gede juga. Mana?"
"Oh, itu Puput. Itu dia sedang duduk di sofa."
Akhtia mengikat tangan Hasna yang menunjuk Puput. Dia sedang fokus pada layar ponselnya. Sambil tersenyum, akhtia mendekati Puput.
"Hai." Akhtia mengulurkan tangannya. Puput mendongakkan kepala, lalu menatap akhtia.
"Aku Akhtia, kamu Puput kan?" ucapnya penuh kehangatan. Hasna was-was takut Puput tidak menerima uluran tangan Akhtia.
"Puput, Kak."
"Ini buat kamu."
"Apa ini, Kak?"
"Buka saja."
Puput membuka paper bag yang diberikan Akhtia.
Melihat apa yang dibawa akhtia, Puput terlihat begitu senang. Barang yang selama ini dia inginkan, akhirnya dia dapatkan. Dia melirik Hasna dengan mata berbinar dan senyum yang dia tahan-tahan.
Hasna mengangguk.
Sebuah tempat pensil merek Smiggel. Bukan hanya itu, ada juga ear phone warna pink yang sangat lucu.
"Makasih, Kak."
"Nanti kalau ada waktu kita beli sama-sama yuk, biar kamu bisa milih yang kamu suka."
Puput mengangguk cepat.
Hasna tersenyum bahagia. Selain karena Puput mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini, Hasna juga bahagia melihat Rina kebahagiaan di wajah anaknya yang selama ini memudar karena ditinggal cinta pertamanya, ayahnya.
"Mewek lagi." Zahira menyenggol lengan Hasna. Airlangga menatap Hasna, pun dengan Raden yang menoleh saat mendengar ucapan Zahira.
"Tante jelek kalau nangis."
__ADS_1
"Ishhh, kamu ini. Gak sopan tau." Hasna mendorong pelan tubuh Airlangga. Mereka tertawa.
"Aku juga punya sesuatu buat adik yang ini." Akhtia menghampiri Hasna yang sedang menggendong Shaki.
"Ini." Hasna mengeluarkan mobil remot dari tasnya. Shaki kegirangan.
"Tia, makasih ya."
Akhtia menatap Hasna. Matanya menatap haru.
"Kenapa? Gak suka ya Tante manggil kamu Tia? Maaf, ya, Akhtia."
Akhtia menggelengkan kepala.
"Dulu, kakek sering manggil nama dia Tia karena susah katanya."
"Dia paling dekat dengan almarhum bapak soalnya," Raden menambahkan.
Hasna mengangguk pelan.
"Tapi gak apa-apa kok kalau Tante mau manggil aku Tia, aku suka."
Hasna tersenyum sambil mengelus pipi Akhtia.
Suasana di sana menjadi hangat, Airlangga yang bermain bersama Shaki, memperagakan saat mereka bertanding taekwondo. Raden yang masih asik ngobrol bersama Nay, dan Akhtia yang mulai terlihat akrab dengan Puput. Bahkan mereka pergi bersama ke kantin untuk membeli minuman, mereka kembali dengan hubungan yang nampaknya semakin dekat.
"Aku udah boleh tenang gak sih?"
"Tentang apa?"
"Tentang kamu yang sepertinya sudah mendapatkan mereka yang benar-benar sayang sama kamu dan anak-anak. Selama ini aku selalu cemas dan sedih melihat kamu yang dicintai suami tapi dibenci keluarganya. Izinkan mulai saat ini aku tidak cemas lagi, oke?"
"Ra, mereka itu hanya baik, tidak lebih. Jangan berharap banyak."
"Bukan aku yang berharap terlalu banyak, kamu aja yang gak peka. Aku terharu aja saat kamu memperkenalkan dia sama aku, dia tersenyum ramah tapi tangannya dia masukkan ke saku celana, di depan kamu dia tidak berani menyentuh wanita lain."
"Di belakang gimana?" canda Hasna.
"Ishhh!" Zahira mencubit tangan sahabatnya itu. Mereka tertawa.
"Airlangga, Akhtia, papa duluan ya. Ada yang harus papa kerjakan." Raden berpamitan di tengah kehangatan yang sedang terjalin.
"Iya, Pa." Airlangga dan Akhtia menjawab kompak.
"Saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa, kasih kabar aja." Raden berpamitan pada Hasna.
"Iya, Pak. Hati-hati di jalan."
Raden mengangguk sambil mengelus lengan atas Hasna.
Zahira menahan senyum melihat sikap Raden pada sahabatnya itu.
"Kamu mah spesial, makanya dia berani menyentuh," bisik Zahira menggoda sahabatnya.
Hasna mencucu. Meski begitu, wajahnya terasa memanas. Hatinya merasakan sesuatu. Seperti musim dingin yang di dalam rumahnya dinyalakan penghangat, nyaman
__ADS_1