
Rok plisket berwarna putih tulang, dipadukan dengan kemeja cokelat bermotif polkadot, serta kerudung warna senada dengan baju membuat Hasna terlihat cantik. Dia terlihat seperti lebih muda dari usianya. Sepatu putih polos membuat dia terlihat lebih segar. Tas keluaran brand ternama membuat dia terlihat berkelas.
Sementara Nay dan Shaki memakai gaun simpel yang membuat mereka terlihat elegan. Hasna mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah Dewa. Dia tidak ingin menjadi bahan gunjingan lagi jika harus dijemput oleh Dewa.
"Ini beneran rumah dia? Apa aku salah ngikutin maps, ya? Ah, tapi bener kok. Eh, tapi kan maps juga suka menyesatkan. Tapi ... gimana ya? Aduh, gerbangnya tinggi banget lagi. Mau nanya gak ada orang."
Hasna kebingungan saat berada di depan rumah Dewa. Rumah gaya Eropa klasik itu memiliki pintu gerbang yang tinggi. Namun, kemewahan rumah Dewa bisa terlihat dari luar.
"Dewa, aku udah di depan. Kamu di mana?"
"Oh, kamu udah di depan, Sayang? Sebentar ya, aku ke sana."
"Hah, ngomong apa sih nih anak."
"Iya, Sayang. Aku ke depan sekarang, jangan ngambek ya."
"Eh, dodol. Aku gak ngambek, aku cuma nanya kamu di mana? Rumah kamu kayak benteng Takeshi, susah masuknya."
"Iya, Sayang, iya. Tunggu sebentar aja kok."
Hasna mematikan ponselnya, dia menggerutu sendiri.
Pintu gerbang itu terbuka. Dewa datang lalu mengetuk kaca mobil Hasna.
"Kamu itu--"
"Mba, inget, ini rumah aku. Kita punya misi, jangan lupa itu. Selama di sini Mba itu pacar aku yang manja dan yang paling aku sayang. Inget itu," Dewa berbisik.
"Hehehe."
"Gak usah ketawa, buruan masuk."
"Iya, iya. Bawel banget, sih!"
Dewa berjalan setengah berlari, sementara Hasna mengendarai mobil seusai arahan darinya.
Hasna menarik nafas panjang seperti orang kena serangan astma. Betapa takjubnya dia saat melihat rumah Dewa dari dekat. Megah, mewah, berkelas dan indah.
"Bun, ini rumah Om dewa? Bagus banget kayak istana."
"Aku mau rumah kayak gini juga, Bun."
__ADS_1
"Ssstttt, jangan berisik. Ingat, ya, jangan ngomong kalau gak ditanya. Nanti kena marah Om Dewa kitanya."
Kedua anak itu menganggukkan kepala. Mata mereka berbinar melihat megahnya rumah yang akan dia masuki.
Hasna keluar bersama anak-anaknya. Dewa menggandeng tangan Shaki, lalu menggandeng tangan Hasna, sementara tangan Hasna yang satunya menggandeng tangan Nay.
"Tenang, jangan tegang. Kita masuk ke rumah manusia bukan singa."
"Tetep aja aku tegang."
"Santai aja, orang tuaku baik kok."
Hasna mencoba mengatur nafasnya, mencoba untuk bersikap tenang meski sebenarnya dia gugup bukan kepalang.
Hasna seperti kehabisan nafas melihat megahnya ruang tamu rumah Dewa. Jika dibandingkan dengan rumahnya, sungguh sangat jauh berbeda. Ruang tamu Dewa jauh lebih besar dari satu rumah Hasna.
"Waaah, rumah om bagus banget ya." Shaki yang juga takjub tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Pun dengan Nay.
"Mami, Papi. Ini Hasna. Dia pacar aku."
"Halo om, Tante. Saya Hasna."
"Silakan, duduk, Nak."
Nak? Dia manggil aku atau itu ditujukan untuk Dewa?
"Ayo, Sayang." Dewa menarik tangan Hasna untuk duduk di sofa. Hasna terdiam sesaat.
Dewa memberi isyarat mata agar Hasna mengikutinya.
"Mau minum apa?" tanya Papi Dewa.
"Apa saja, Om."
Papi Dewa memanggil pelayan untuk mengambilkan minuman dan makanan.
"Jangan lupa bawa camilan untuk anak-anak."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Duduk dengan perasaan yang tegang, tidak tahu harus berkata apa. Penuh pertanyaan dalam kepala tentang bagaimana reaksi keluarga Dewa selanjutnya. Apakah mereka akan menentang hubungan 'palsu' mereka, akankah keluarganya menerima dirinya dengan kondisi sudah memiliki tiga orang putri tanpa adanya suami alias janda.
"Jadi, ke mana ayah dari anak-anak yang kamu miliki saat ini?" tanya seorang pria yang punya wajah berkharisma, tinggi dan perut buncit. Dia adalah Mahendra Aditama, ayah dari Dewandaru Aditama.
"Suami saya meninggal, Pak. Mungkin hampir dua tahun yang lalu. Awalnya mungkin Dewa juga merasa kasian pada nasib saya dengan status janda, tapi semakin ke sini, saya tahu jika anak bapak tulus mencintai saya."
Dewa langsung menoleh pada Hasna yang berbicara diluar dugaan dirinya. Dia juga merasa bangga pada Hasna yang ternyata bisa bercerita seperti itu. Hatinya sedikit lega.
"Kakak memang baik. Jangankan sama kakak yang cantik, nenek-nenek aja dia mah baik banget."
"Makanya saya menerima dia meski umur saya lebih tua darinya. Kadang, kedewasaan itu datang bukan dari seberapa tua umur mereka, tapi dari cara berpikir dan juga ketulusan hati yang mereka milik. Salah satunya Dewa."
Wanita yang ada di samping Mahendra manggut-manggut. Dia merasa senang dengan pernyataan Hasna tentang anaknya. Setidaknya rumor di luaran terbantahkan dengan adanya Hasna di sana.
Pelayan pun datang. Mereka membawa minuman dan camilan yang beranekaragam untuk anak-anak. Permen, cokelat, cookies, dan snack lainnya. Tak ayal Nay dan Shaki begitu senang. Terlebih saat mereka melihat kue bulat warna-warni. Macaron.
Melihat anak-anaknya diperlakukan dengan baik, Hasna merasa bahagia. Diperlakukan berharga membuat Hasna terharu dan mungkin berterima kasih pada Dewa.
"Terimakasih, Pak, Bu. Untuk pertama kalinya saya merasa bahagia karena anak-anak diperlukan baik. Sementara nenek dan kakeknya saja tidak peduli pada anak-anak saya. Saat anak ketiga saya sekarat pun mereka tidak peduli sama sekali."
Mata Hasna berkaca-kaca. Melihat Hasna bersedih, Dewa menggenggam erat tangan Hasna. Wanita itu sedikit terkejut, dia hampir menarik tangannya jika tidak ingat bahwa dia adalah kekasih Dewa di rumah ini.
"Terlepas siapa kamu, saya, atau siapapun di rumah ini. Kita itu manusia. Sama-sama ciptaan Allah. Lantas apa yang membuat kita. harus membedakan seksama? kita sama-sama dibuat dari tanah, makan makanan yang sama yaitu nasi. Kita kembali pun sama, ke tanah."
Hasna semakin terharu mendengar ucapan ibu Dewa, sekelas orang-orang seperti keluarga Dewa bahkan jauh lebih baik dari mertuanya yang hanya memiliki toko kelontongan kecil.
"Jadi, gimana? Apakah hubungan kami diterima? Seusai janji, jika aku membawa kekasihku ke sini maka perjodohan yang kalian lakukan, batal bukan?"
Mahendra berdehem.
"Pih? Papih gak ada niatan untuk ingkar janji bukan?"
"Papih perlu tau lebih banyak tentang dia. Tidak bisa mengambil keputusan hanya dengan satu kali pertemuan. Keputusannya nanti jika kami mengenal dia lebih dalam. Menikah itu harus memperhatikan bibit, bebet, dan bobot. Bukan cuma status sosial dan status kekayaannya. Itu semua demi kamu juga."
"Papi kamu benar. Lebih baik mereka mengenalku lebih dulu untuk memastikan jika aku layak menjadi pendamping kamu."
"Lihat, kekasihmu saja mengerti maksud papi."
__ADS_1
Dewa melipat kedua bibirnya ke dalam. Menahan rasa kesal dengan apa yang Hasna katakan barusan.